Hubungan Antara Percieved Usefulness terhadap Minat Penggunaan


Konsep mengenai percieved usefulness yang disampaikan oleh Tyas &
Darma (2017) adalah bahwa percieved usefulness adalah sebuah tingkat seberapa
tinggi seseorang mempercayai dengan menggunakan sebuah sistem atau teknologi
akan mendapatkan sebuah manfaat. Konsep tersebut searah dengan pendapat yang
diungkapkan oleh Davis (1989) bahwasanya percieved usefulness atau manfaat
memiliki hubungan yang kuat dengan minat penggunaan, karena jika seseorang
hendak menggunakan sebuah sistem teknologi seseorang tersebut harus dapat
mempercayai bahwa sistem yang digunakan bisa memberikan manfaat dalam
membantu pekerjaan sehingga dapat dilakukan lebih cepat dan mudah dan akan
menimbulkan minat untuk melakukan sebuah penggunaan terhadap sistem
teknologi apabila seseorang mengetahui manfaat positif yang akan didapatkan jika
menggunakan sistem tersebut. Jogiyanto (2008) berpendapat bahwasanya
percieved usefulness merupaka variabel yang memiliki signifikansi paling tinggi
dalam mempengaruhi minat seseorang dalam keputusan menggunakan sebuah
teknologi jika dibandingan dengan variabel yang lain.
Perceived usefulness (percieved usefulness) memiliki hubungan positif dan
signifikan terhadap minat penggunaan. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Afifah dan Widyanesti (2017) yang mendapatkan hasil
bahwa percieved usefulness memiliki pengaruh signifikan terhadap minat
penggunaan mobile banking. Hasil penelitian tersebut relevan dengan hasil
penelitian Ardiyanti (2015) yang menunjukan bahwa percieved usefulness dapat
mempengaruhi variabel minat penggunaan secara positif dan signifikan. Di mana
semakin tinggi manfaat yang dirasakan oleh seseorang mengenai penggunaan
sebuah sistem teknologi, akan semakin tinggi pula minat seseorang tersebut untuk
menggunakan sistem tersebut