Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konflik


Faktor-faktor yang dapat memengaruhi konflik interaktif menurut
Wirawan (2010), yaitu:

  1. Emosi
    Emosi seseorang dapat bersifat destruktif dan menimbulkan konflik. Orang
    yang emosional akan menilai segala sesuatu berdasarkan persepsinya dan
    tidak/kurang memperhatikan persepsi orang lain.
  2. Marah
    Dalam menghadapi situasi konflik, tujuan yang tidak tercapai karena
    terhalang oleh lawannya akan menyebabkan pihak yang terlibat konflik
    bisa marah. Kemarahan bukan saja mengubah sifat dan perilaku pihak
    yang terlibat konflik, tetapi mengubah proses interaksi konflik.
  3. Stres
    Orang yang menghadapi konflik, terutama orang yang belum memiliki
    pengalaman yang cukup dalam menghadapi konflik, bisa mengalami stres
    yang buruk. Ketika pihak yang terlibat konflik mengalami stres, interaksi
    konfliknya bisa meningkat dan melakukan agresi. Akan tetapi, interaksi
    konfliknya juga bisa menurun jika pihak yang terlibat tidak tahan dengan
    stres yang dialaminya. Ia akan keluar dari interaksi untuk menghindari
    konflik.
  4. Agresi
    Dalam konflik, agresi adalah perilaku kekerasan yang dilakukan dengan
    sengaja untuk melukai, menimbulkan rasa kesakitan, kematian, atau
    kerugian pada orang lain.
  5. Muka – Menyelamatkan Muka (Face Saving)
    Fenomena ini sering timbul dalam situasi konflik. Istilah lainnya yang
    berkaitan dengan muka adalah kehilangan muka yang artinya
    dipermalukan, kehilangan kepercayaan, kehilangan nama baik atau
    kehilangan reputasi. Seseorang yang menghadapi situasi konflik dan
    mengetahui kesalahannya, tetapi ia tidak mau mengakui bahwa ia salah.
    Menyelamatkan muka merupakan upaya dari pihak yang terlibat konflik
    untuk melindungi atau memperbaiki citranya karena potensi kerusakan
    sebagai akibat interaksi konflik dengan lawan konfliknya.
  6. Humor
    Humor bisa mengembangkan konflik, meningkatkan dan menurunkan
    interaksi konflik, dengan memengaruhi perilaku pihak-pihak yang terlibat
    dalam konflik, baik dengan menantang maupun mengkritiknya. Humor
    bisa digunakan untuk mempertahankan diri, di mana pihak yang terlibat
    konflik menghindar untuk mengemukakan informasi yang menyudutkan
    dirinya atau membelokkan suatu serangan yang memalukan dari lawan
    konfliknya.
  7. Whistle blowers (peniup peluit)
    Dalam situasi konflik antara whistle blowers dan pelanggar (orang yang
    melakukan perbuatan yang melanggar etika, hukum, atau melakukan
    perbuatan yang tidak sepatutnya), whistle blowers membeberkan rahasia
    pelanggar, perilaku yang melanggar hukum, kode etik, agama atau moral
    etika sebagainya, yang ditutupinya kepada pihak ketiga. Pihak ketiga bisa
    berupa anggota organisasi, atasan, penegak hukum atau masyarakat.
    Whistle blowers banyak terjadi dalam konflik di lembaga pemerintah dan
    bisnis disamping konflik individu