Faktor-faktor yang dapat memengaruhi konflik interaktif menurut
Wirawan (2010), yaitu:
- Emosi
Emosi seseorang dapat bersifat destruktif dan menimbulkan konflik. Orang
yang emosional akan menilai segala sesuatu berdasarkan persepsinya dan
tidak/kurang memperhatikan persepsi orang lain. - Marah
Dalam menghadapi situasi konflik, tujuan yang tidak tercapai karena
terhalang oleh lawannya akan menyebabkan pihak yang terlibat konflik
bisa marah. Kemarahan bukan saja mengubah sifat dan perilaku pihak
yang terlibat konflik, tetapi mengubah proses interaksi konflik. - Stres
Orang yang menghadapi konflik, terutama orang yang belum memiliki
pengalaman yang cukup dalam menghadapi konflik, bisa mengalami stres
yang buruk. Ketika pihak yang terlibat konflik mengalami stres, interaksi
konfliknya bisa meningkat dan melakukan agresi. Akan tetapi, interaksi
konfliknya juga bisa menurun jika pihak yang terlibat tidak tahan dengan
stres yang dialaminya. Ia akan keluar dari interaksi untuk menghindari
konflik. - Agresi
Dalam konflik, agresi adalah perilaku kekerasan yang dilakukan dengan
sengaja untuk melukai, menimbulkan rasa kesakitan, kematian, atau
kerugian pada orang lain. - Muka – Menyelamatkan Muka (Face Saving)
Fenomena ini sering timbul dalam situasi konflik. Istilah lainnya yang
berkaitan dengan muka adalah kehilangan muka yang artinya
dipermalukan, kehilangan kepercayaan, kehilangan nama baik atau
kehilangan reputasi. Seseorang yang menghadapi situasi konflik dan
mengetahui kesalahannya, tetapi ia tidak mau mengakui bahwa ia salah.
Menyelamatkan muka merupakan upaya dari pihak yang terlibat konflik
untuk melindungi atau memperbaiki citranya karena potensi kerusakan
sebagai akibat interaksi konflik dengan lawan konfliknya. - Humor
Humor bisa mengembangkan konflik, meningkatkan dan menurunkan
interaksi konflik, dengan memengaruhi perilaku pihak-pihak yang terlibat
dalam konflik, baik dengan menantang maupun mengkritiknya. Humor
bisa digunakan untuk mempertahankan diri, di mana pihak yang terlibat
konflik menghindar untuk mengemukakan informasi yang menyudutkan
dirinya atau membelokkan suatu serangan yang memalukan dari lawan
konfliknya. - Whistle blowers (peniup peluit)
Dalam situasi konflik antara whistle blowers dan pelanggar (orang yang
melakukan perbuatan yang melanggar etika, hukum, atau melakukan
perbuatan yang tidak sepatutnya), whistle blowers membeberkan rahasia
pelanggar, perilaku yang melanggar hukum, kode etik, agama atau moral
etika sebagainya, yang ditutupinya kepada pihak ketiga. Pihak ketiga bisa
berupa anggota organisasi, atasan, penegak hukum atau masyarakat.
Whistle blowers banyak terjadi dalam konflik di lembaga pemerintah dan
bisnis disamping konflik individu
