Tim (team) adalah kelompok yang cukup matang dengan derajat
ketergantungan tertentu di antara anggotanya dan diwarnai dengan adanya
motivasi untuk mencapai sebuah sasaran bersama. Tim mungkin saja berawal
dari kelompok, tetapi tidak semua kelompok akan berkembang menjadi matang
dan menciptakan rasa saling ketergantungan (Ivancevich, et al., 2007). Tim adalah
kumpulan beberapa orang dengan keahlian tertentu yang memiliki komitmen yang
sama terhadap tujuan, fungsi dan pendekatan kerja, yang saling menguntungkan
(Zenun, et al., 2007, dalam Mulyani, 2016). Ivancevich, et al., (2007), sebuah tim
maya (virtual team) didefinisikan sebagai sejumlah orang yang secara geografis
terpisah yang bersatu sebagai sebuah kelompok melalui penggunaan sejumlah
teknologi guna menyelesaikan tugas-tugas spesifik. Tim maya (virtual) jarang
melakukan pertemuan tatap muka. Anggota-anggota tim dapat menggunakan
jembatan komunikasi yang ada untuk melakukan pekerjaan mereka, tugas-tugas
individual dan tim.
Menurut Robins dan Judge (2013), tim virtual adalah tim yang
menggunakan teknologi media sosial untuk menyatukan anggota-anggota yang
terpisah secara fisik guna mencapai tujuan bersama. Tim virtual bisa melakukan
semua hal yang lain, berbagi informasi, membuat berbagai keputusan, dan
menyelesaikan tugas. Tim virtual merupakan kelompok yang terdiri dari individu-
individu yang tesebar untuk bekerja dengan tujuan bersama dengan memanfaatkan
teknologi untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Komunikasi elektronik
membantu dalam menjaga ketersediaan dan informasi data pada rekan kerja tim
untuk membangun saluran komunikasi terus-menerus antar anggota tim yang
tersebar diberbagai tempat.
Didukung oleh Curseu, et al., (2008) mendefinisikan tim virtual sebagai
socio-technical system yang tediri atas dua atau lebih orang yang bekerja secara
interktif untuk mencapai suatu tujuan sekurang-kurangnya satu dari anggotanya
berada dilokasi yang berbeda, organisasi dan waktu yang berbeda sehingga
komunikasi dan kondisi didomisili oleh komunikasi menggunakan media
elektronik (e-mail, fax, telepon, video conference, dll). Beberapa peneliti
menemukan berdasarkan fakta yang dijumpainya di lapangan telah terjadi
pergeseran konteks dari penafsiran keberadaan anggota tim. Sebelumnya tim
virtual adalah tim yang anggotanya terpisahkan oleh benua, berdasarkan faktanya
tim yang anggotanya berada berjauhan setidaknya 50 kaki disebut sebagai tim
virtual (Johnson, et al., 2001, dalam Mulyani, 2016). Didukung oleh peneliti
lainnya, berpendapat bagaimana cara anggota tim berinteraksi itulah yang
seharusnya mendefinisikan sebuah tim sebagai tim virtual dibandingkan lokasi
fisik anggota tim. Pendapat tersebut didasarkan pada pemikiran sebuah tim tetap
dapat bekerja secara virtual bahkan ketika mereka berada dalam satu gedung,
lantai, dan ruang yang sama (Miller & Arnison 2002, dalam Mulyani, 2016).
Berdasarkan beragam definisi dan konteks diatas maka dapat ditarik suatu
kesimpulan, yang dirangkum dari pengertian yang ada tim virtual secara umum
dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu-individu yang bekerjasama dengan
suatu tujuan tertentu, yang terdiri dari tenaga kerja dan tenaga ahli
(expert/knowledge worker), dimana secara geografis mereka berada dilokasi yang
mungkin memiliki perbedaan waktu, sehingga untuk dapat berkomunikasi dan
bekerjasama digunakan suatu perangkat media teknologi komunikasi modern
(Mulyani, 2016).
Hasil penelitian Powell, et al., (2004; dalam Mulyani, 2016),
mengungkapkan adanya perbedaan tingkat kepuasan antara tim tradisional dan
virtual. Anggota tim tradisional lebih merasa puas terhadap proses kerja mereka,
sedangkan tim virtual mengalami ketidakpuasan terhadap proses kerja. Didukung
oleh hasil penelitian Curseu, et al., (2008) mengungkapkan penemuan yang
serupa, yaitu terdapat perbedaan tingkat kepuasan antara kelompok yang
berkomunikasi dengan menggunakan media komputer (computer mediated
communication/CMC) dengan kelompok tim (face to face/FTF). Hal ini terjadi
karena tim CMC membutuhkan waktu lebih banyak untuk membuat suatu
keputusan dibandingkan dengan tim FTF. Adanya penundaan komunikasi dan
feedback ini disebabkan faktor geografis dan waktu sebagai salah satu kendalanya.
Perbedaan tingkat ketidakpuasan ini adalah pada saat dimana mereka harus
mengerjakan pekerjaan dengan batasan waktu yang mendesak. Secara umum,
beberapa perbedaan antara tim virtual dan tim tradisional yang dicermati oleh para
peneliti sebelumnya diantaranya adalah penggunaan teknologi sebagai poin
mendasar, kahadiran fisik, struktur organisasi, tingkat kepuasan serta proses kerja
dan aktivitas (Curseu, et al., 2008; Arnison & Miller, 2002; Johnson, et al., 2001;
Krater, et al., 2005; Peter & Manz, 2007; Pawar & Sharifi, 1997; Rice, et al.,
2007; dalam Mulyani, 2016).
Era kemajuan teknologi memunculkan tantangan baru dalam organisasi
yaitu adanya tuntutan akan fleksibilitas dari bentuk organisasi yang juga responsif
terhadap perubahan, situasi dan kondisi lingkungan organisasi. Dalam hal ini tim
virtual menjadi bentuk yang dianggap mempresentasikan bentuk baru dari
organisasi yang fleksibel dan responsif (Piccoli, et al., 2004). Tim virtual juga
biasanya bersifat sementara dan menciptakan pada dasar yang dibutuhkan untuk
bekerja sama dalam mencapai kiriman pekerjaan tertentu atau untuk menghadiri
kebutuhan khusus (Stough, et al., 2000; dan Powell, et al., 2004; dalam Watanuki
& Moreas, 2016). Oleh karena itu, menurut Saunders dan Ahuja (2006 dalam
Watanuki & Moreas, 2016), mereka berkumpul untuk melaksanakan tugas yang
unik dan spesifik (atau beberapa tugas) untuk mencapai tujuan tertentu. Tugas-
tugas seperti yang terbatas, dan tim virtual diberhentikan setelah tujuan telah
dicapai.
