Teori-teori Motivasi


1) Teori Hierarki Kebutuhan – Abraham Maslow
Menurut Abraham Maslow dalam Usmara (2006: 18), manusia memiliki lima
tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang
masa hidupnya. Lima tingkatan ini dapat membedakan setiap manusia dari sisi
kesejahteraan hidupnya. Teori motivasi dari Abraham H. Maslow disebut juga
teori hierarki kebutuhan. Teori ini diperkenalkan dalam artikelnya a theory of
human motivation yang menyatakan bahwa orang memiliki kebutuhan yang
mereka perjuangkan untuk dipenuhi, bahwa kebutuhan manusia adalah
kompleks dan terus berubah.
Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai berikut:

  • Kebutuhan Fisiologis
    Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah,
    kebutuhan biologis, dan lain sebagainya.
  • Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
    Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa
    sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
  • Kebutuhan Sosial
    Misalnya adalah : Memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari
    lawan jenis, dan lain-lain.
  • Kebutuhan Penghargaan
    Dalam kategori ini dibagi menjadi dua jenis, Eksternal dan Internal.
    Sub kategori eksternal meliputi : Pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan
    banyak lagi lainnya.
    Sub kategori internal sudah lebih tinggi dari eksternal, pribadi tingkat ini
    tidak memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk merasakan
    kepuasan dalam hidupnya.
  • Kebutuhan Aktualisasi Diri
    Tingkat kelima atau yang tertinggi ini diartikan sebagai perkembangan yang
    paling tinggi dan penggunaan semua bakat, potensi, serta penggunaan
    semua kualitas dan kapasitas secara penuh.
    2) Teori Motivasi Dua faktor
    Penelitian Herzberg memperkuat teori Abraham Maslow untuk menspesifikkan
    teori hierarki kebutuhan dalam lingkungan kerja (Usmara 2006: 36). Teori ini
    menegaskan bahwa pekerjaan itu sendiri dapat memberikan motivasi bagi
    seorang karyawan. Teori yang dikenal dengan nama Motivation-Hygiene Theory
    mengemukakan dua faktor yang mempengaruhi motivasi, yaitu faktor pemuas
    (motivation factor) atau disebut juga intrinsic motivation dan faktor pemelihara
    (atau disebut juga extrinsic factor/disatisfier)
    Faktor pemuas (intrinsic motivator) disebutkan merupakan pendorong seseorang
    untuk terus berprestasi yang bersumber dari dalam diri seseorang. Bentuk
    pertama ini menghasilkan kepuasan ketika faktor-faktornya terpenuhi. Faktor
    faktor itu meliputi:
  • Prestasi kerja
  • Penghargaan Kerja
  • Pekerjaan itu sendiri
  • Tanggung Jawab terhadap Pekerjaan
  • Pertumbuhan atau kemajuan
    Faktor motivasi merupakan faktor yang mendorong semangat guna mencapai
    kinerja yang lebih tinggi. Jadi karyawan terdorong secara intrinsik mereka akan
    menyukai pekerjaan yang memungkinnya menggunakan kreaktivitas dan
    inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang tinggi dan tidak perlu diawasi
    dengan ketat. Kepuasan disini tidak terutama dikaitkan dengan perolehan hal-hal
    yang bersifat materi. Sebaliknya, mereka yang lebih terdorong oleh faktor-faktor
    ekstrinsik cenderung melihat kepada apa yang diberikan oleh organisasi kepada
    mereka dan kinerjanya diarahkan kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya
    dari organisasi. Jadi pemuasan terhadap kebutuhan tingkat tinggi (faktor
    motivasi) lebih memungkinkan seseorang untuk berforma tinggi daripada
    pemuasan kebutuhan lebih rendah (hygienis) Sementara faktor pemelihara
    kepuasan (extrinsic factor/disastisfier) meliputi
  • Kebijakan dan administrasi perusahaan
  • Pengawasan, teknis
    25
  • Gaji
  • Hubungan antar pribadi, penyelia
  • Kondisi kerja
  • Status
  • Rasa aman (Usmara 2006: 36)
    Menurut Herzberg faktor hygienis/extrinsic factor tidak akan mendorong
    minat para pegawai untuk berforma baik, akan tetapi jika faktor-faktor ini
    dianggap tidak dapat memuaskan dalam berbagai hal seperti gaji tidak memadai,
    kondisi kerja tidak menyenangkan, faktor-faktor itu dapat menjadi sumber
    ketidakpuasan potensial (Cushway & Lodge, 1999 : 139).
    Motivasi intrinsik sebagaimana motivasi ektrinsik mempengaruhi perilaku
    seseorang. Keduanya sebagai sumber dari perilaku seseorang juga dipengaruhi
    oleh faktor-faktor yang menjadi harapannya. Taufik (2007: 51) mengemukakan
    adanya faktor-faktor pembentuk motivasi intrinsik yaitu:
  • Kebutuhan (need)
    Seseorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktor
    kebutuhan baik biologis maupun psikologis, misalnya ibu melakukan
    mobilisasi dini karena ibu ingin cepat sehat pasca operasi.
  • Harapan (expentancy)
    Seseorang dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan
    keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga
    diri meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian tujuan.
  • Minat
    Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal
    tanpa ada yang menyuruh (tanpa adanya pengaruh dari orang lain).
    Berdasarkan pendapat diatas dapat dikatakan motivasi dirangsang dengan
    adanya suatu tujuan, jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons
    dari suatu aksi atau keadaan tertentu. Motivasi memang dapat timbul dari dalam
    diri manusia tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya
    unsur lain yakni tujuan ketika satu individu mempunyai tujuan tertentu. Dalam
    hal motivasi intrinsik, kebutuhan, harapan dan minat kemudian menjadi faktor
    kemunculannya.
    Hierarki kebutuhan dari Maslow dan diberi batasan pada motivasi intrinsik dari
    Herzberg kemudian akan dipakai untuk membatasi penelitian mengenai variabel
    motivasi kerja. Dalam penelitian ini, motivasi dengan lima faktor yang
    dikemukakan diatas akan diistilahkan dengan motivasi intrinsik.