Menurut Farzin dan Fattahi (2018), intensi pembelian adalah konsumen untuk
membeli suatu produk barang, jasa, dan merek. Younus et al. (2015) berpendapat
intensi pembelian merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu produk
atau layanan. Dengan kata lain, konsumen akan membeli suatu produk atau layanan
setelah melakukan evaluasi terlebih dahulu. Intensi pembelian dapat diartikan
sebagai kemungkinan bahwa konsumen akan melakukan pembelian produk tertentu.
Kesediaan pelanggan untuk membeli memiliki probabilitas yang lebih tinggi,
walaupun pelanggan belum tentu benar-benar membelinya. Intensi pembelian
ditentukan oleh manfaat dan nilai yang dirasakan oleh konsumen ( Wang dan Tsai,
2014). Menurut Rahman et al (2012), intensi pembelian dapat diukur menggunakan
indicator sebagai berikut :
- Kesedian konsumen yang akan melakukan pembelian.
- Keinginan konsumen untuk melakukan pembelian di masa depan.
- Keinginan konsumen untuk melakukan pembelian ulang.
Dachyar dan Banjarnahor (2017) berpendapat bahwa intensi pembelian online
didasarkan pada hubungan antara intensi perilaku dan perilaku aktual. Artinya,
intensi perilaku individu untuk melakukan tindakan akan menentukan perilaku
individu yang sebenarnya. Menurut Busler (dalam Irvan, 2013), intensi berperilaku
mempunyai 3 dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur intensi membeli
seorang konsumen. 3 dimensi tersebut: - Likely yaitu rencana pembelian konsumen terhadap suatu produk
- Definitely would yang mengacu pada kepastian konsumen dalam suatu produk.
- Probable yang mengacu pada kemungkinan konsumen dalam membeli suatu
produk.
Suhari (2011) dalam So et al, (2015) menjelaskan intensi pembelian adalah rencana
pembelian produk barang atau jasa di masa depan, peningkatan intensi pembelian
terjadi karena beberapa elemen berikut: - Stimulant, yaitu adanya faktor-faktor tertentu yang mendorong seseorang untuk
bertindak. - Awareness, yaitu sesuatu yang masuk ke benak konsumen akibat pengaruh produk
yang ditawarkan. - Information seeker, yaitu pencarian informasi yang dilakukan dari dua sumber,
yaitu pencarian secara mandiri atau melalui rekomendasi orang lain.
Hal ini akan berlanjut hingga konsumen mendapatkan produk tersebut, bahkan lebih
jauh lagi. Konsumen akan merekomendasikan produk tersebut pada orang lain untuk
ikut mengonsumsi produk tersebut (Soderlund & Ohman 2003). Intensi pembelian
juga diartikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli merek yang disukai.
Setelah konsumen melakukan evaluasi terhadap beberapa merek, pada akhirnya
pilihan akan tertuju pada satu merek yang paling sesuai dengan keinginan konsumen
(Dharmmesta dan Handoko, 2000).
Intensi merupakan prediktor yang baikmeramalkansuatuperilaku yang akan
dilakukan olehindividu. Dengan demikian intensi pembelian adalah preferensi
konsumen untuk membeli produk atau layanan(Younus, Rasheed, & Zia, 2015). Jika
seorang konsumen memiliki intensi pembelian akan suatu produk atau jasa, tahapan
selanjutnya akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian (Wibowo, 2009).
