Kesejahteraan didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
sebagai keselamatan, keamanan dan kemakmuran. Sebaliknya,
kesejahteraan adalah ketika seseorang merasa sejahtera dalam hidupnya.
Meskipun demikian, menyebut “kehidupan yang kaya” atau “masyarakat”
akan mendekatkan pengertian ini dengan perasaan orang-orang yang hidup
dalam masyarakat tersebut. Tidak adanya rasa takut, tekanan, kemiskinan,
dan berbagai bentuk energi menyebabkan perasaan kesejahteraan. Jika ada
cukup barang, jasa, dan peluang di masyarakat, efeknya akan lebih besar
(Departemen Pendidikan Nasional 2005).
Kesejahteraan pada dasarnya menuntut terpenuhinya kebutuhan
manusia, termasuk kebutuhan dasar, sekunder, dan tersier, seperti makanan,
pendidikan, dan kesehatan, sedangkan aspek negatif dari kesejahteraan
adalah kesedihan (tragedi) kehidupan. Sandang, pangan, papan, kesehatan,
dan keamanan yang memadai adalah kebutuhan dasar. Kebutuhan sekunder
meliputi ketersediaan sarana transportasi (sepeda, mobil, bus, dll.),
informasi dan komunikasi (radio, televisi, telepon, handphone, internet,
dll.). Sebagai tempat rekreasi dan hiburan, fungsinya sangat penting. Semua
kebutuhan yang disebutkan di atas bersifat material, dan karenanya
kesejahteraan yang diciptakan juga bersifat material. (Sarbini, 2004: 86)
Masyarakat miskin umumnya tidak merasakan kesejahteraan ini,
karena pendapatan hariannya yang rendah, sehingga tidak mampu
menghidupi dirinya sendiri. Keluarga miskin akan sering menggunakan
pendapatan mereka untuk membeli makanan dan tempat tinggal untuk
kebutuhan dasar mereka. (Samuelson & William, 2004: 104)
Masyarakat di seluruh dunia mengharapkan kesejahteraan. Tidak
hanya sulit untuk memahami konsep kesejahteraan yang sebenarnya, tetapi
juga sulit untuk mengejarnya. Menurutnya, karena pertimbangan nilai tidak
dapat diukur, kebutuhan spiritual biasanya diabaikan dalam ilmu ekonomi
nonklasik. Memenuhi kebutuhan material sebenarnya sama pentingnya
dengan mencapai kesejahteraan, kemulian moral, kesejahteraan sosial
ekonomi, kedamaian mental, kebahagian dalam rumah tangga dan
masyarakat, dan hilangnya kriminalitas. (Chapra, 2008: 106)
Islam mengajarkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Konsep
kesejahteraan dalam Islam tidak terbatas pada kehidupan duniawi, karena
Allah SWT meminta umat Islam untuk mempelajari alam dan
mengeksplorasi sumber dayanya untuk membantu pertumbuhan umat
manusia. Islam sangat menekankan upaya spiritual dan material dan
menciptakan keharmonisan lahir dan batin individu dan kelompok. Oleh
karena itu, Islam mendukung aspek spiritual dan material kehidupan
manusia sebagai sumber kekuatan bersama dan menjadikannya pilar
kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Islam juga menganggap bahwa
meningkatkan spiritualitas manusia sama pentingnya dengan memenuhi
kebutuhan dasar manusia. (Shihab, 1996: 68)
