Salah satu kelemahan dari konsep modal sosial adalah
ketiadaan kesepakatan untuk pengukurannya. Francis Fukuyama
(1999) mengajukan tiga pendekatan untuk mengukur modal
sosial, yaitu :
- melakukan sensus kelompok dan keanggotaan kelompok di
masyarakat; - menggunakan data survei tentang tingkat kepercayaan dan
partisipasi warga; - mengukur modal sosial dalam skala kecil (perusahaan swasta).
Pertama, mengukur modal sosial dengan menghitung
kelompok-kelompok dalam masyarakat, untuk mengetahui ukuran
atau jumlah anggota dalam perkumpulan — olahraga, politik, dll –
- yang bervariasi dengan waktu dan meliputi daerah geografis
yang berlainan. Dalam kenyataannya ada banyak kelompok dalam
masyarakat, dan tidak mudah menghitungnya. Namun, ukuran
pertama untuk total modal sosial di sebuah masyarakat adalah
jumlah anggota dari seluruh kelompok. Hal ini pun nyaris mustahil
untuk dilakukan, karena sensus demikian akan melibatkan
pengkalian angka-angka yang diperkirakan secara subjektif atau
bahkan angka-angka itu tidak ada.
Kedua, menggunakan data survei tentang tingkat
kepercayaan dan partisipasi warga, sebagai sampel modal sosial.
Tentu ada masalah dengan data survei, yaitu respon atau jawaban
akan bervariasi sesuai dengan bagaimana pertanyaan itu disusun
dan siapa yang menanyakannya, serta akibat ketiadaan data yang
konsisten untuk banyak negara dan dalam banyak periode waktu.
Ketiga, untuk mengukur modal sosial dalam organisasi
adalah dengan cara melihat perubahan dalam penilaian pasar
perusahaan sebelum dan setelah tawaran pengambil-alihan
(takeover). Permodalan pasar perusahaan merepresentasikan
jumlah harta nyata dan tak nyata; harta tak nyata itu antara lain
berupa modal sosial yang tertanam dalam diri pekerja dan
manajemen perusahaan. Tidak ada metodologi yang sahih untuk
memisahkan komponen modal sosial dari harta tak nyata, yang
meliputi hal-hal lain seperti nama merek, kemauan baik (good
will), ekspektasi kondisi pasar mendatang, dan sejenisnya. Akan
tetapi, perusahaan yang diambil-alih oleh perusahaan lain
biasanya dibeli sebesar premi pada harga pra-pengambil-alihan.
Dalam situasi demikian, kita bisa berasumsi bahwa bagian premi
yang ditawarkan merupakan ukuran sejauh mana para pemilik
baru percaya bahwa mereka dapat mengelola perusahaan dengan
lebih baik daripada pemilik lama, dengan semua faktor lain seperti
harta nyata, ekspektasi tentang kondisi pasar, dsb dipertahankan
konstan. Dalam banyak kasus, bagian premi yang ditawarkan
merepresentasikan penghematan biaya yang ingin dicapai pemilik
baru melalui realisasi penghematan skala.
