Perkembangan Konsep Modal Sosial


Istilah modal sosial dikemukakan pertamakali oleh Lyda
Judson Hanifan (1916) yang meneliti sebab-sebab keberhasilan
seorang kepala sekolah dalam mengembangkan pendidikan di
Amerika Serikat. Kepala sekolah ini bisa sukses karena dia
mempunyai modal sosial yang cukup. Modal sosial, seperti ditulis
Hanifan dalam buku berjudul The Rural School Community Centre,
bukanlah kekayaan atau uang, tetapi berupa kemauan baik, rasa
bersahabat dan kerjasama erat yang membentuk kelompok sosial,
baik di dalam sekolah maupun lingkungan sekitar sekolah.
Hasilnya, kemajuan tidak hanya dicapai oleh anak didik dalam
bidang akademik tetapi juga oleh warga di sekitar sekolah dalam
berbagai aspek kehidupan. Sayang istilah modal sosial kemudian
dilupakan orang selama 70 tahun.
Baru pada dua dekade terakhir ini, konsep modal sosial
menjadi pembicaraan hangat, ketika Pierre Bourdieu (1986)
membuat tulisan berjudul The Forms of Capital. Bourdieu
menyatakan bahwa struktur dan fungsi sosial hanya bisa dipahami
lewat modal sosial, disamping juga modal ekonomi. Pada setiap
transaksi ekonomi yang bersifat material selalu disertai transaksi
non-ekonomi yang bersifat immaterial berbentuk modal sosial,
yaitu berupa hubungan interpersonal di antara pelaku transaksi,
misalnya, hubungan antara tenaga penjualan dengan konsumen.
Selain itu, perbedaan modal ekonomi dan modal sosial terlihat
pada konversi. Modal ekonomi mudah dikonversi dalam bentuk
uang atau pemilikan. Modal sosial (seperti gelar pendidikan) bisa
juga dikonversi menjadi modal ekonomi (nilai jual ekonomi).
James Coleman (1988) membuat tulisan dengan judul Social
Capital in The Creation of Human Capital. Coleman menganalisis
proses sosial dengan menggunakan teori pilihan rasional yang
sarat dengan prinsip ekonomi. Kesimpulannya, modal sosial
berperan menciptakan modal manusia. Jadi, modal sosial bersifat
produktif. Tanpa modal sosial, seseorang tidak mungkin
memperoleh keuntungan material atau keberhasilan yang optimal.
Namun, modal sosial hanya memberi manfaat pada situasi
tertentu saja. Contoh kerjasama yang positif dengan seorang
pejabat merupakan modal sosial ketika yang bersangkutan
berkuasa, tapi bisa juga terjadi sebaliknya.
Sementara itu, Francis Fukuyama (1995) dalam buku Trust :
The Social Virtues and The Creations of Prosperity menyatakan
bahwa kondisi kesejahteraan, demokrasi dan daya saing suatu
masyarakat ditentukan oleh tingkat kepercayaan antara sesama
warga. Tingkat kepercayaan bertalian dengan akar budaya, etika
dan moral, yang diwujudnyatakan dalam perilaku saling bantu dan
kerjasama. Keberhasilan ekonomi suatu negara bangsa setara
dengan perpaduan yang harmonis antara organisasi ekonomi
skala besar, korporasi yang demokratis, dan nilai budaya seperti
resiprositas, tanggungjawab moral dan kepercayaan.
Modal sosial mencapai puncak ketenarannya ketika Robert
Putnam (2000) menulis bukunya yang monumental berjudul
Bowling Alone : America’s Declining Social Capital. Lewat Bowling
Alone, Putnam telah memukul syaraf yang amat penting dan amat
peka tentang kemerosotan partisipasi warga di Amerika Serikat
akibat hancurnya kepercayaan terhadap penguasa publik.
Bukti mengenai berkurangnya partisipasi warga di Amerika
dewasa ini seperti dinyatakan Putnam dalam karyanya Bowling
Alone adalah :
Dewasa ini semakin banyak warga Amerika bermain bowling
bila dibanding dengan masa sebelumnya. Tapi dalam
kenyataannya, sebagian besar dari mereka bermain bowling
sendirian (dari sinilah judul karya ini bermula; Bowling Alone,
artinya bermain bowling sendirian) karena sulitnya mencari teman
bermain. Bukan itu saja, kegiatan liga bowling yang terorganisir
sedang terjerembab dalam satu atau dua dekade terakhir. Antara
1980 dan 1993, total jumlah pemain bowling di Amerika
meningkat 10%, sedang liga bowling turun sebesar 40%. Tercatat
80 juta warga Amerika bermain bowling sedikitnya sekali selama

  1. Hampir lebih dari sepertiga warga memberikan suaranya
    dalam pemilihan Kongres 1994, dan jumlah yang sama mengaku
    pergi ke Gereja secara teratur. Tapi menjelang 2000, hanya tiga
    persen warga dewasa Amerika bermain bowling dalam liga.