Penilaian kinerja karyawan


Penilaian kinerja (performance appraisal), yang dikenal juga dengan
istilah evaluasi kinerja (performance evaluation) pada dasarnya merupakan proses
yang digunakan perusahaan untuk mengvaluasi job performance (kinerja).
Menurut Robbins (2003), ada lima pihak yang dapat melakukan penilaian kinerja
pegawai, yaitu:
1) Atasan langsung
Sekitar 96% dari semua evalusi kinerja pada tingkat bawah dan menengah dari
organisasi dijalankan oleh atasan langsung pegawai itu karena atasan langsung
yang memberikan pekerjaan dan paling tahu kinerja pegawainya.
2) Rekan sekerja
Penilaian kinerja yang dilakukan oleh rekan sekerja dilaksanakan dengan
pertimbangan. Pertama, rekan sekerja dekat dengan tindakan. Interaksi seharihari memberikan kepada pegawai pandangan menyeluruh terhadap kinerja
seseorang pegawai dalam pekerjaan. Kedua, dengan menggunakan rekan
sekerja sebagai penilai menghasilkan sejumlah penilaian yang independen.
3) Evaluasi diri
Evaluasi ini cenderung mengurangi sifat pembelaan defensif para pegawai
mengenai proses penilaian, dan evaluasi ini merupakan sarana yang unggul
untuk merangsang pembahasan kinerja pegawai dan atasan pegawai.
4) Bawahan langsung
Penilaian kinerja pegawai oleh bawahan langsung dapat memberikan informasi
yang tepat dan rinci mengenai perilaku seorang atasan karena lazimnya penilai
mempunyai kontak yang sering dengan yang dinilai.
5) Pendekatan menyeluruh: 360 derajat penilaian kinerja pegawai dilakukan oleh
atasan, pelanggan, rekan sekerja, dan bawahan. Penilaian kinerja ini cocok di
dalam organisasi yang memperkenalkan tim.
Dari hasil studi Lazer dan Wikstrom yang dikutif oleh Rivai (2004) bahwa
aspek-aspek yang dinilai dari penilaian kinerja adalah :
a) Kemampuan teknis. Kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik,
dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta pengalaman
dan pelatihan yang diperolehnya.
b) Kemampuan konseptual. Kemampuan untuk memahami kompleksitas
perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam
bidang operasional perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya individual tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggung jawabnya sebagai
seorang karyawan.
c) Kemampuan hubungan interpersonal. Kemampuan untuk bekerja sama dengan
orang lain, memotivasi karyawan, melakukan negosiasi, dan lain-lain.