Keperluan jenis dan pengendalian kualitas pada perusahaan memiliki
beberapa keragaman yang pada umumnya sering digunakan tergantung kebutuhan,
namun memiliki tujuan yang sama yaitu memenuhi keluaran dan melampaui
harapan konsumen, berikut merupakan beberapa jenis metode dalam pengendalian
kualitas yang sering digunakan yaitu sebagai berikut:
- TQM (Total Quality Management)
Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalakan
usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya
(Nasution, 2015: 17).
Menurut Dipietro dalam Rusdiana (2014: 229) Total quality management
didefinisikan sebagai konsep perbaikan yang dilakukan secara terus-menerus, yang
melibatkan semua karyawan di setiap level organisasi untuk mencapai kualitas yang
exellent dalam semua aspek organisasi melalui proses manajemen.
TQM adalah kegaiatan mengelola organisasi sebagai sebuah keseluruhan
yang meletakan kepada seluruh pegawai Hutton (2017: 149) menyatakan beberapa
ciri-ciri dari TQM, yaitu
a. Memfokuskan pada memuaskan kebutuhan pelanggan
b. mengembangkan dan memberdayakan potensi sumber daya manusia secara
sempurna;
c. Melibatkan semua personil organisasi untuk menemukan cara terbaikdalam
melaksanakan peran atau fungsinya
d. Mengelola proses bisnis, bukan hanya fungsi atau departemen,
e. pengelolaan berdasarkan fakta, menggunakan data dan informasi yang sahih;
f. menyerahkan nilai tambah ke masyarakat, sekaligus mencapai sasaran
finansial.
Menurut Miranda dan Amih Widjaya Tunggal dalam Hamming (2019: 236)
TQM mempunyai beberapa kelemahan sehingga perusahaan kela dunia beralih ke
Six Sigma. Kelemahan TQM meliputi:
a. TQM dinilai kurang integratif, walaupun secara konsepsional, TQM
mempersyaratkan integrasi lintas fungsi, namun dalam aplikasinya, tanggung
jawab mutu diserahkan kepada tim kecil yang tidak dali langsung terhadap
departemen yang berkompeten.memiliki kendali langsung terhadap
departemen yang berkompeten.
b. Keberhasilan tergantung penuh pada komitmen manajemen puncak selama
manajemen puncak memiliki kepedulian yang tinggi, usaha menciptakan
produk atau jasa yang bermutu tinggi tidak menghadapi masalah. Akan tetapi,
apabila manajemen puncak mulai melemah komitmennya, mutu keluaran akan
merosot.
c. Konsepsinya dapat membingungkan. Definisi mutu sering tidak tegas sehingga
sulit diimplementasikan dan diukur kinerjanya.
d. Tujuan untuk memuaskan pelanggan biasanya tidak diikuti suatu cetak biru
mengenai cara mencapainya.
e. Cenderung mempertahankan sikap dan metode kerja yang lama.
f. Umumnya gagal menghilangkan kendala internal untuk mewujudkan kerja
sama lintas fungsi yang integratif. Semua divisi sibuk mengurusiproyek dan
tugas pokok divisinya masing-masing.
g. Perbaikan mutu dicapai secara gradual. Tidak ada terobosan dramatis
yangmemberikan perubahan yang radikal.
h. Pelatihan kepada karyawan umumnya tidak efektif. - Statistical Quality Control
Statistical quality control (SQC) refers to the application of statistical
methods to monitor and evaluate systems and to determine whether changing key
input variable (KIV) settings is appropriate. Specifically, SQC is associated with
Shewhart’s statistical process charting (SPC) methods. These SPC methods include
several charting procedures for visually evaluating the consistency of key process
outputs (KOVs) and identifying unusual circumstances that might merit attention,
Allen (2019: 40). Pengendalian kualitas statistik menurut pandangan Allen yaitu
suatu metode untuk mengevaluasi sistem dan mengubah key input variable. Secara
khusus pengendalian kualitas statistik dikaitkan dengan statistical proses control
(SPC), yang meliputi beberapa prosedur Chart untuk mngevaluasi secara visual
konsistensi dari key process outputs (KOVs) dan keadaan yang tidak biasa
diperhatikan.
