Unsur Quality of Work Life

Hadari Nawawi mengemukakan terdapat sembilan
unsur bidang program QWL sebagai berikut:13
a. Partisipasi Pekerja
Manajemen pada semua bidang harus bersedia
dan berusaha mengikutsertakan SDM di lingkungannya
secara optimal, terutama yang potensial/berkualitas.
Pengikutsertaan itu dapat dilakukan dengan cara
memberikan kesempatan untuk menyampaikan
gagasan, saran, kritik, pendapat, kreativitas, inisiatif,
dalam rangka mengembangkan dan memajukan
organisasi/perusahaan, yang dapat disampaikan di
dalam dan di luar rapat. Pengikutsertaan itu akan
menimbulkan perasaan diterima dan dihargai yang
berdampak pada timbulnya perasaan ikut memiliki
(sense of belonging) dan perasaan ikut bertanggung
jawab (sense of responsibility) pada keberhasilan atau
kegagalan organisasi/perusahaan. Dengan kedua
perasaan itu akan tampil perasaan atau keinginan untuk
ikut berpartisipasi (sense of partisipation) dalam usaha
mencapai tujuan organisasi, sebagai manifestasi dari
kesediaan bekerja dengan kinerja yang tinggi dalam
melaksanakan tugas, wewenang dan tanggung jawab
masing-masing.
b. Pembinaan Karir
Setiap manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang harus menaruh perhatian pada
pembinaan karier para pekerja yang potensial dan
berprestasi. Untuk itu pembinaan karier dapat dilakukan
melalui pemberian kesempatan yang sama untuk
mengikuti program pelatihan dan pengembangan SDM,
melaksanakan penilaian kinerja secara jujur dan
obyektif sebagai dasar dalam memberikan bonus,
insentif, melaksanakan konsultasi karier,
mempromosikan karyawan untuk suatu jabatan yang lebih tinggi berdasarkan prestasi kerja,
pekerja/karyawan yang mendapat perhatian dalam
pembinaan kariernya cenderung akan bekerja dengan
kinerja yang tinggi.
c. Penyelesaian Konflik
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang harus menaruh perhatian yang serius
dalam menyelesaikan konflik, baik yang terjadi antar
pekerja, pekerja dengan manajer suatu tingkat tertentu,
antar manajer setingkat, dll. konflik yang tidak
fungsional dapat berdampak kinerja menjadi rendah.
Sebaliknya konflik fungsional perlu dikelola
(manajemen konflik) dengan mendorong untuk
meningkatkan prestasi agar berlangsung persaingan
secara sportif dan jujur sangat besar pengaruhnya pada
peningkatan kinerja para pekerja/karyawan. Disamping
itu untuk mencegah terjadinya konflik yang dapat
menurunkan kinerja, perlu ditetapkan prosedur
penyelesaian konflik dengan menunjuk kepada siapa
dan bagaimana cara penyampaian keluhan dan masalah
sebelum menjadi konflik. Disamping itu harus
ditetapkan juga siapa yang berkewajiban dan
berwenang menyelesaikan setiap terjadi konflik sesuai
jenjang jabatan manajerial yang ada di
perusahaan/organisasi, agar tidak berpengaruh negatif
pada kinerja karyawan.
d. Komunikasi
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang harus menciptakan dan
mengembangkan komunikasi yang efektif sebagai
proses pertukaran informasi untuk meningkatkan
kinerjanya, baik dalam bekerja secara individu, atau
antara individu dengan tim kerja atau unit kerja bahkan
antar unit kerja, memerlukan komunikasi secara intensif
karena sangat besar peranannya dalam meningkatkan
kinerja karyawan.
e. Kesehatan Kerja
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang harus memberikan perhatian yang serius
terhadap kesehatan para karyawan/pekerja dan
keluarganya. Organisasi yang memiliki kemampuan
tinggi dalam mewujudkan kesehatan kerja dapat
melaksanakannya dengan menyelenggarakannya
poliklinik atau rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan bagi para karyawan beserta keluarganya. Di
samping itu dapat juga diperluas untuk memberikan
pelayanan pada masyarakat sekitar. Bagi perusahaan
yang tingkat kemampuannya masih terbatas sekurangkurangnya dapat melaksanakannya dengan
menyediakan dana kesehatan untuk mengganti biaya
pengobatan karyawan/pekerja yang merasa mendapat
perlindungan kesehatan dengan atau tanpa keluarganya
cenderung akan memberikan kontribusi dengan kinerja
yang terbaik dalam melaksanakan tugas-tugas
pokoknya di perusahaan.
f. Kesehatan Lingkungan dan Keselamatan Kerja
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang perlu memberikan perhatian pada
kondisi lingkungan kerja, agar tidak terjadi kecelakaan
kerja, baik yang mengakibatkan cacat tubuh, maupun
yang terberat berupa kehilangan nyawa (meninggal
dunia). Untuk itu perlu melakukan pemberian
perlindungan terhadap kemungkinan-kemungkinan
terjadinya kecelakaan kerja seperti tersebut di atas
dengan pengikutsertaan pekerja dalam asuransi cacat
tubuh atau asuransi jiwa. Perhatian dan pelaksanaan
kesehatan lingkungan kerja yang memuaskan akan
meningkatkan kinerja karena pekerja/karyawan
mengetahui bahwa diri dan keluarganya mendapat
perlindungan yang layak dalam bekerja.
g. Keamanan Kerja
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang perlu menaruh perhatian pada jaminan
dan perlindungan kerja, agar para karyawan bekerja
dengan kinerja yang tinggi. Program jaminan dan
perlindungan kerja antara lain dilakukan dengan
menghindarkan rasa takut akan mengalami pemutusan
hubungan kerja secara sepihak (jaminan tidak ada PHK)
dan penyelenggaraan program pensiun.
h. Kompensasi
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang untuk menciptakan kinerja yang tinggi
di lingkungan para karyawan/pekerja, tidak
mengabaikan masalah upah, baik berupa kompensasi
langsung maupun kompensasi tidak langsung. Dengan
kata lain sistem upah yang menjadi kewenagan
organisasi/ perusahaan masing-masing harus mampu
memberikan upah tetap (kompensasi langsung) dan
insentif, bonus, dll (kompensasi tidak langsung) yang
layak manusiawi dan layak produksi untuk memberikan
ketenangan dalam bekerja dan kesediaan untuk bekerja
dengan kinerja terbaik sebagai kontribusi dalam
mencapai tujuan organisasi/perusahaan.
i. Kebanggaan
Manajemen pada semua bidang dan
tingkat/jenjang harus berusaha melakukan kegiatan
untuk menimbulkan rasa bangga pada pekerja/karyawan
terhadap organisasi/perusahaan tempatnya bekerja.
Kebanggaan terhadap organisasi/perusahaan antara lain
dapat dapat timbul karena keikutsertaan
organisasi/perusahaan dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan dan berbagai kegiatan untuk
kepentingan masyarakat sekitarnya. Misalnya
keikutsertaan organisasi/ perusahaan dalam
membangaun rumah ibadah, jalan umum, mengatasi
kemiskinan, dan bencana alam