Kontrak psikologis adalah serangkaian ekspektasi yang dimiliki seorang
individu menyangkut apa yang akan dia kontribusikan untuk organisasi dan apa
yang akan diberikan oleh organisasi sebagai balas jasa. (Griffin 2004). Jadi,
kontrak psikologis tidak tertulis di atas kertas dan tidak semua ketentuannya
dinegosiasikan secara eksplisit antara individu dengan organisasi.
Menurut Rousseau (2000), mendefinisikan kontrak psikologi sebagai
persepsi karyawan tentang perwujudan dan kewajiban timbal balik terhadap
perusahaan dan saling menguntungkan. Menurut Schein (2010) menyatakan
kontrak psikologis adalah suatu harapan yang dimiliki masing-masing pihak,
karyawan dan perusahaan, terhadap yang lainnya dan kewajiban yang dimiliki
oleh dan kepada satu pihak dengan pihak lain. Kontrak psikologis ini sering
dipahami dari sudut pandang karyawan bukan dari sudut pandang perusahaan.
Kontrak psikologis yaitu suatu kesepakatan tidak tertulis antara seorang
karyawan dan organisasi yang merinci apa yang diharapkan oleh masing-masing
pihak untuk diberikan dan diterima dari pihak lainnya. Ivancevich (2006).
Beberapa aspek dari hubungan ketenagakerjaan, seperti gaji, mungkin dinyatakan
secara eksplisit, namun ada kesepakatan implisit yang berfokus pada pertukaran
yang melibatkan kepuasan, pekerjaan yang menantang, perlakuan yang adil,
kesetiaan dan kesempatan untuk menjadi kreatif, mungkin dinyatakan secara tidak
langsung diatas kesepakatan tertulis.
Karyawan memiliki harapan kepada organisasi mereka dalam kaitannya
dengan faktor seperti promosi, gaji, dan pengembangan karir. Di sisi lain,
perusahaan mengharapkan kemauan untuk bekerja, loyalitas, dan keterlibatan
kerja dari karyawan. Sehingga ada hubungan timbal balik antara karyawan dan
perusahaan tersebut, apabila karyawan bekerja dengan baik dan mendukung
kemajuan perusahaan maka perusahaan juga akan memenuhi harapan karyawan
berkaitan dengan pemberian gaji.
Menurut Mathis (2006) kontrak psikologis didefinisikan sebagai harapan
tidak tertulis bahwa tenaga kerja dan pemberi kerja mempunyai sifat alamiah dari
hubungan kerja mereka. Karena kontrak psikologis ini bersifat individual dan
subyektif serta berfokus pada harapan akan keadilan yang tidak dapat
didefinisikan secara jelas oleh tenaga kerja. Kesepakatan baik barang nyata
(seperti upah, benefit, produktivitas tenaga kerja, dan kehadiran) maupun barang
tidak nyata (seperti kesetiaan, perlakuan adil, dan keamanan kerja) tercakup dalam
kontrak psikologis antara tenaga kerja dan pemberi kerja. Banyak perusahaan
berusaha menjelaskan dengan rinci harapan mereka melalui buku pedoman tenaga
kerja dan pedoman kebijakan, namun materi tersebut hanyalah sebagian dari
hubungan kontraktual secara keseluruhan
