Pelatihan dan Pengembangan

Wexley dan Yukl (1976) seperti dikutip Kambel dan Suhartono (2013:2)
mengemukakan bahwa pelatihan dan pengembangan merupakan istilah-istilah
yang berhubungan dengan usaha-usaha terencana, yang diselenggarakan untuk
mencapai penguasaan ketrampilan, pengetahuan, dan sikap-sikap pegawai atau
anggota organisasi. Organisasi menerapkan pelatihan dan pengembangan dalam
bentuk program–program terencana. Dengan memilih jenis yang tepat dari
pelatihan dan juga pengembangan, organisasi dapat memastikan bahwa karyawan
telah memiliki ketrampilan yang tepat. Hal ini akan menjadi kebutuhan yang
selalu bagi organisasi untuk terus menerus diperbarui dalam tindak lanjut dari
praktek-praktek SDM.
Bernardin dan Russell seperti dikutip Gomes (2000:32) menyatakan bahwa
pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki kinerja pekerja pada pekerjaan
tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada
kaitannya dengan pekerjaannya. Pelatihan cenderung berkaitan dengan
peningkatan ketrampilan karyawan / pekerja yang sudah menduduki suatu
pekerjaan tertentu sehingga lebih menekankan pada ketrampilan (skill). Pelatihan
juga diartikan sebuah proses yang direncanakan untuk memodifikasi perilaku
sikap, pengetahuan atau ketrampilan melalui pengalaman belajar untuk mencapai
kinerja yang efektif dalam setiap kegiatan atau berbagai kegiatan. Tujuannya,
dalam situasi kerja, adalah untuk mengembangkan kemampuan individu dan
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja saat ini dan masa depan.
Secara umum pelatihan dibutuhkan karyawan untuk dapat memenuhi
tuntutan pekerjaan dalam organisasi sehinggga karyawan dapat memberikan
kinerja dengan maksimal sesuai dengan cara kerja yang benar. Dalam pelaksanaan
program pelatihan ada beberapa alternatif metode yang dapat digunakan, yaitu
(Mathis dan Jackson, 2008:7):
1. On the job training / pelatihan di tempat kerja. Bentuk pelatihan yang
sering digunakan antara lain adalah pelatihan instruksi kerja. Atasan
melatih karyawan untuk melakukan tugas atau pekerjaan tertentu,
sehingga karyawan tersebut memahami tugas atau pekerjaan yang harus
mereka lakukan.
2. Simulasi. Salah satu jenis simulasi yang sering digunakan adalah
vestibule training, yaitu suatu jenis pelatihan dengan menggunakan
fasilitas khusus untuk mendeskripsikan suatu tugas atau pekerjaan yang
harus dilakukan oleh karyawan.
3. Pelatihan kerjasama. Metode yang sering digunakan dalam pelatihan
kerjasama ini adalah magang dan kerja praktik. Banyak organisasi yang
menerapkan sistem magang bagi karyawannya. Magang dapat
diselenggarakan dalam berbagai bentuk dan sifatnya situasional.
Pelatihan diadakan sesuai dengan jenis kebutuhan pelatihan dalam
organisasi.