Kinerja Karyawan

Cascio (dalam Rahman et al., 2017) mendefinisikan kinerja sebagai cara
seseorang melakukan pekerjaan yang dinilai dari efektivitasnya. Menurut Hasibuan
(dalam Titisari, 2014) kinerja atau prestasi kerja merupakan kemampuan seseorang
dalam usaha mencapai hasil kerja yang lebih baik atau menonjol ke arah tercapainya
tujuan organisasi. Mangkunegara (dalam Titisari, 2014) menyatakan bahwa kinerja
atau prestasi kerja merupakan hasil kerja orang secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya dalam kurun waktu yang ditetapkan.
Sutrisno (2009) mendefinisikan prestasi kerja adalah hasil kerja yang telah
dicapai seseorang dari tingkah laku kerjanya dalam melaksanakan aktivitas kerja.
Informasi tentang tinggi rendahnya prestasi kerja seseorang diperoleh melalui proses
penilaian prestasi kerja karyawan.
Bintoro (2017) menyatakan kinerja merupakan hasil kerja karyawan, berapa
pun hasilnya, tidak dimaknai dengan baik atau buruk, atau tinggi rendahnya hasil
kerja seseorang. Seorang karyawan tentunya menginginkan agar hasil kerjanya
secara kuantitas lebih banyak dan secara kualitas lebih baik. Keinginan karyawan ini
sebenarnya merupakan keinginan perusahaan pula, oleh karena itu perusahaan perlu
menselaraskan antara keinginan karyawan dan keinginan perusahaan, agar keduanya
dapat tercapai dengan baik.
Agar perusahaan dapat mengetahui seberapa baik kinerja dari karyawannya,
perusahaan perlu melakukan penilaian kinerja secara rutin. Penilaian kinerja adalah
suatu proses mengevaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaan mereka
ketika dibandingkan dengan satu set standar, dan kemudian mengkomunikasikan
informasi tersebut. (Mathis dan Jackson dalam Fahmi, 2016).
Manfaat dari penilaian kinerja (Mulyadi dalam Fahmi, 2016) adalah
mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien. Cara untuk mengelolanya
yaitu pemotivasian karyawan secara maksimum, membantu pengambilan keputusan
yang bersangkutan dengan karyawan (seperti promosi, transfer, dan pemberhentian),
mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk
menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan, menyediakan
umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja
mereka, dan menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
Menurut Bintoro (2017), ada tiga faktor yang dapat memengaruhi pencapaian
kinerja, yaitu:
1. Faktor individual: kemampuan dan keahlian, latar belakang, dan demografi.
2. Faktor psikologis: persepsi, attitude (sikap), personality (kepribadian),
pembelajaran, dan motivasi.
3. Faktor organisasi: sumber daya, kepemimpinan, penghargaan, struktur, dan
pekerjaan.
Smith (dalam Rahman et al., 2017) menyatakan bahwa adanya praktik
keragaman tenaga kerja yang baik di bidang sumber daya manusia dapat
meningkatkan kinerja karyawan dan organisasi. Secara spesifik, faktor-faktor
keragaman tenaga kerja yang dapat memengaruhi kinerja karyawan dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Keragaman jenis kelamin
Menurut Kochan, Bezrukova, Ely, Jackson, Joshi, Jehn, Leonard, Levine,
dan Thomas (dalam Rahman et al., 2017) memberikan kesempatan kerja yang
setara bagi perempuan sangat penting, karena dapat meningkatkan kinerja
karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Selain itu, penelitian
Wentling dan Palma Rivas (dalam Rahman et al., 2017) menyatakan bahwa
tenaga kerja yang beragam berdasarkan jenis kelamin dapat memberikan layanan
yang unggul bagi para pelanggan, karena baik karyawan pria maupun wanita
dapat memahami pelanggan dengan lebih baik (Kundu dalam Rahman et al.,
2017).
2. Keragaman usia
Adanya kelompok yang terdiri dari karyawan muda dan karyawan senior
yang memiliki kemampuan yang berbeda dapat meningkatkan pembentukan
inovasi dibanding kelompok karyawan yang seumuran (Winnie dalam Kerga dan
Asefa, 2018).
3. Keragaman etnis
Menurut Kyalo dan Gachuga (2015), ada hubungan yang signifikan positif
antara keragaman etnis dan kinerja karyawan. Bentuk keragaman etnis yang
dapat memengaruhi kinerja karyawan adalah budaya, adat istiadat, bahasa dan
suku.
4. Keragaman latar belakang pendidikan
Daniel dalam Rahman et al. (2017) menyatakan bahwa individu akan lebih
produktif tergantung pada tingkat pendidikannya. Menurut Choi dan Rainey
(dalam Shrestha dan Parajuli, 2021), para staff yang terlatih dapat menghasilkan
kinerja yang lebih baik.