Asimetri informasi adalah suatu kondisi dimana terdapat ketidak
seimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai penyedia
informasi dengan pihak pemegang saham dan stakeholder yang pada umumnya
sebagai pengguna informasi (Ramadani, 2017). Manajemen sebagai pengelola
perusahaan akan memiliki informasi atas kinerja perusahaan dan prospek
perusahaan lebih banyak dibandingankan dengan pemilik modal sebagai prinsipal,
karena hal tersebut agen yang bekerja untuk kepentingan prinsipal seharusnya
memberikan sinyal yang sebenarnya tentang kondisi perusahaan kepada prinsipal.
Sinyal yang diberikan dapat berupa laporan keuangan yang digunakan sebagai
bentuk pertanggungjawaban kinerja agen kepada prinsipal. Informasi yang
diberikan agen sering kali tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, sedangkan
disisi lain prinsipal sangat bergantung dengan informasi yang diberikan agen untuk
pengambilan keputusan maupun kepentingan investasi, dikarenakan prinsipal
memiliki keterbatasan informasi dalam perusahaan. Disisi lain asimetri informasi
mendorong investor melakukan pencarian non publik secara individu yang dimana
membuat informasi yang diperoleh setiap investor berbeda-beda. Scott (2015)
menjelaskan tentang dua macam asimetri informasi, yaitu:
1. Adverse selection adalah jenis asimetri informasi dimana satu pihak atau lebih
yang sedang melangsungkan atau akan melangsungkan suatu transaksi usaha,
atau transaksi usaha potensial memiliki informasi lebih atas pihak lain. Adverse
selection akan terjadi ketika pihak manajer atau pihak internal dalam suatu
perusahaan mengetahui lebih banyak informasi mengenai keadaan dan prospek
perusahaan dibandingkan dengan pemegang saham atau pihak luar.
2. Moral hazard adalah kegiatan yang dilakukan oleh manajer tidak semuanya
diketahui oleh investor, sehingga pihak manajer dapat melakukan tindakan
diluar sepengetahuan pemegang saham.
