Terdapat beberapa penyebab kondisi krisis keuangan perusahaan (financial
distress) yang bisa dijabarkan dalam trinitas atau tiga penyebab terjadi financial
distress (Munawarah, 2019)sebagai berikut :
1. Neoclassical model
Perusahaan dapat mengalami krisis keuangan hingga kebangkrutan apabila
alokasi sumber daya yang dimiliki tidak dikelola dengan baik dan benar.
Memprediksi dan mencari solusi dari kesulitan tersebut dilakukan dengan cara
menganalisa laporan posisi keuangan serta laba rugi perusahaan.
2. Financial model
Susunan asset dikelola secara tepat, namun perbandingan dalam struktur modal
tidak dilakukan secara tepat dapat menyebabkan liquidity constraints. Hal tersebut
menunjukkan bahwa apabila perusahaan dapat mengelola asset dengan tepat,
namun proporsi struktur modal yang diambil tidak tepat, maka perusahaan bisa
saja bertahan dalam jangka Panjang namun ia mengalami krisis keuangan dalam
jangka pendek.
3. Corporate Governance Model
Dalam model ini, kondisi kebangkrutan memiliki kombinasi asset dan struktur
keuangan yang bagus, namun pengelolaannya sangat buruk. Hal tersebut memicu
perusahaan menjadi out of the market sebagai akibat dari masalah dalam tata Kelola
perusahaan yang tidak terpecahkan.
Walau pada akhirnya perusahaan dapat menemukan solusi tersebut, perusahaan
belum bisa dikatakan dapat terhindar dari potensi kebangkrutan secara sepenuhnya
karena masih terdapat faktor eksternal perusahaan yang dapat memicu kembali
potensi financial distress.
Secara garis besar, penyebab financial distress terdiri dari dua faktor yaitu
faktor internal dan eksternal perusahaan (Bilondatu & Dungga, 2019)
Faktor eksternal merupakan faktor yang terjadi diluar lingkup perusahaan.
Menurut (SHOME & VERMA, 2020)faktor eksternal perusahaan cenderung
bersifat makro yang memiliki ruang lingkupnya lebih luas. seperti langka nya bahan
baku karena supplier tidak dapat memasok kebutuh bahan baku dalam
memproduksi, kebijakan pemerintah, kondisi pasar, tarif pajak yang dan suku
bunga pinjaman yang meningkat menyebabkan beban perusahaan yang harus
dikeluarkan mengalami peningkatan. Lalu, kemudian untuk faktor internal dapat
dilihat dari kondisi keuangan perusahaan, seperti profitabilitas yang menurun dari
kuartal 1-4 bahkan dari tahun ke tahun, liabilitas meningkat secara drastis serta
modal kerja bernilai negatif. Hal tersebut menyebabkan likuiditas perusahaan tidak
mampu terpenuhi.
