Sebagai sebuah bentuk komunikasi satu arah, iklan mengandung pesan atau
informasi di dalamnya. Pesan iklan ini dapat bercermin pada suatu kondisi sosial
atau budaya masyarakat. Iklan yang bercermin pada kondisi masyarakat ini juga
membuat pesan iklan lebih efektif. Menurut Kriyantono (2015:30), dalam bukunya
manajemen periklanan, mengungkapkan bahwa pesan iklan harus efektif, syarat
pertama agar efektif adalah mudah dimengerti oleh khalayak. Salah satu cara agar
pesan mudah dimengerti adalah dengan menampilkan kondisi sosial atau budaya
masyarakatnya. Dengan fungsi replikasinya ini, iklan mampu menggambarkan
realitas ketidakadilan gender (seksisme) ataupun keadilan gender (kesetaraan
gender) ke dalam psikologis khalayaknya (Kusumastutie dan Faturochman, 2004).
Iklan kecap ABC dengan judul “Suami Sejati Mau Masak, Terima Kasih
Kecap ABC” ini juga bercermin pada kondisi sosial masyarakatnya. Pada
masyarakat Indonesia yang mayoritas patriarki, perempuan lekat dan identik
dengan peran domestik yang meliputi 3M memasak, merias, melahirkan
(Handayani & Sugiarti, 2006:10). Dalam iklan ini penggambaran seorang
perempuan yang bekerja atau menikmati peran produktifnya, tetap saja tidak dapat
lepas dari peran reproduktif. Adegan dalam iklan ini perempuan masih saja
mengurusi area domestik yaitu bangun pagi dan memasak. Hal tersebut
menandakan meskipun sudah bekerja, pihak perempuan tidak dapat lepas peran
domestiknya. Berbeda dengan penggambaran laki-laki dalam iklan yang
ditampilkan peran produktifnya yang hanya bekerja, serta tidak ikut dalam peran
domestik. Sehingga perempuan dalam iklan ini semakin menanggung ketidakadilan
gender beban ganda, dengan penggambaran lekatnya peran domestik pada
perempuan
