Kemampuan membaca melalui beberapa tahap, tetapi setiap anak memiliki
laju pencapaian tertulisnya sendiri. Proses belajar membaca anak usia dini ada
tiga proses yakni dengan melihat orang dewasa membaca, kolaborasi dalam
menjalin kerjasama dengan individu yang memberikan dorongan motivasi dan
bantuan, dalam hal ini adalah kolaborasi dengan guru atau orang tua, proses yang
terakhir yakni anak mencobakan sendiri apa yang sudah dipelajari dan mencari
pengakuan dari orang dewasa.
Mengajarkan kemampuan membaca di taman kanak-kanak lebih efektif jika
guru memberikan dorongan atau motivasi. Motivasi dapat berasal dari dalam
maupun dari luar, dalam penelitian ini pemberian motivasi melalui penggunaan
media kartu bergambar untuk merangsang kemampuan membaca awal. Dalam
belajar membaca anak usia dini, terdiri dari beberapa proses yang merupakan
proses penerimaan buku untuk dibaca dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi
bagian dari aktivitasnya. Proses membaca awal yang dilakukan oleh anak melalui
beberapa tahap. Menurut Dwi Sunar Prasetyono (2008: 55) tahap proses
membaca awal tersebut meliputi:
b. Kesadaran. Anak menyadari tentang kegunaan membaca yang sangat penting
dalam mengembangkan kemampuannya sebagai bekal untuk pendidikan
selanjutnya.
c. Minat. Adanya keinginan atau dorongan anak untuk membaca, dengan anak
menjadi minat membaca maka anak akan berusaha mengumpulkan fakta
tentang kegunaan membaca.
d. Evaluasi. Anak akan menguji mental dengan menerapkan pengalaman yang
dilaluinya ke dalam kondisi pribadinya, misalnya anak mampu membaca
sebuah kata kemudian dia menemukan sebuah kata baru, dan anak akan
menguji mental dengan menggabungkan kata tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.
e. Percobaan. Anak akan membaca buku dan memanfaatkannya dalam berbagai
hal, pada saat itu anak telah menyadari manfaat membaca buku.
f. Keputusan. Jika dalam tahap evaluasi dan percobaan anak merasa puas atas
manfaat membaca buku maka kemungkinan besar ia akan mengadopsi buku
untuk di baca dalam kehidupan sehari-hari.
g. Konfirmasi. Meskipun anak telah mengambil keputusan untuk menerima
buku menjadi bagian dari aktivitasnya, maka ia akan terus
mempertimbangkan kembali keputusannya dan berusaha mencari yang dapat
memperkuat keputusannya.
Membaca merupakan proses rumit yang melibatkan indera pendengaran dan
indera penglihatan dalam menerjemahkan makna dari simbol tulisan. Aktivitas
membaca menurut Aulia (2011: 36) pada dasarnya meliputi dua proses yakni:
a. Proses Membaca Teknis. Membaca secara teknis mengandung pengertian
bahwa membaca merupakan proses memahami hubungan antara huruf
dengan bunyi atau suara dengan mengubah simbol-simbol tertulis berupa
huruf atau kata menjadi sistem bunyi.
b. Proses Memahami sebuah Bacaan yakni kemampuan anak dalam menangkap
makna kata yang tercetak..
Kemampuan membaca meliputi dua proses yakni proses adopsi membaca
dan proses membaca. Proses adopsi membaca merupakan proses anak untuk
dapat menerima dan mengadopsi buku untuk di baca dalam kehidupan seharihari, proses tersebut meliputi beberapa tahap yakni: tahap kesadaran, tahap minat,
tahap evaluasi, tahap percobaan, tahap keputusan dan tahap konfirmasi.
Ahmad Susanto (2011: 90) mengungkapkan bahwa kemampuan membaca
anak usia dini dibagi menjadi empat tahap perkembangan, yaitu: tahap timbulnya
kesadaran terhadap tulisan, tahap membaca gambar, tahap pengenalan bacaan,
dan tahap membaca lancar. Berdasarkan tahap perkembangan membaca, anak
usia 5-6 tahun berada pada tahap pengenalan bacaan. Anak sudah mulai tertarik
pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti
membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain. Anak yang sudah tertarik pada
bahan bacaan dan mulai mengingat kembali bentuk huruf dan konteksnya, pada
tahap ini anak juga sudah mulai mengenal abjad dan pada akhirnya anak
memahami bahwa setiap huruf memiliki bentuk dan makna yang berbeda.
Indikator yang digunakan sebagai acuan dalam pembuatan perencanaan
pembelajaran dalam penelitian ini ialah menyebutkan simbol-simbol huruf yang
dikenal, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi atau huruf awal
yang sama, dan membaca nama sendiri. Martini Jamaris (2006: 53),
mengemukakan bahwa karakteristik kemampuan dasar membaca anak usia
Taman kanak-kanak antara lain:
a. Kemampuan dalam melakukan koordinasi gerakan visual dan koordinasi
gerakan motorik. Gerakan ini secara khusus dapat dilihat pada waktu anak
menggerakan bola matanya bersamaan dengan tangan dalam membalik buku
gambar atau buku lainnya.
b. Kemampuan dasar membaca dapat dilihat dari kemampuan anak tersebut
dalam melakukan diskriminasi secara visual. Kemampuan ini sebagai dasar
untuk dapat membedakan bentuk-bentuk huruf.
c. Kemampuan dalam kosa kata. Anak usia Taman kanak-kanak telah memiliki
kosa kata yang cukup luas.
d. Kemampuan diskriminasi auditoria atau kemampuan membedakan suara
yang didengar. Kemampuan ini berguna untuk membedakan suara atau bunyi
huruf. Kemampuan dasar membaca ini merupakan fondasi yang melandasi
pengembangan kemampuan membaca.
Kemampuan membaca anak usia taman kanak-kanak dapat ditegaskan
bahwa anak usia taman kanak-kanak memiliki potensi dalam mengembangkan
kemampuan membaca. Berdasarkan tahap perkembangan yang dialami, yakni
pada tahap praoperasional diketahui bahwa unsur yang menonjol pada tahap ini
adalah mulai digunakannya bahasa simbolis yang berupa gambaran dan bahasa
ucapan. Karakteristik anak usia 5-6 tahun pada umumnya mereka sudah
menunjukan minat dalam membaca dari ketertarikannya terhadap buku,
umumnya mereka mulai mengenal simbol-simbol huruf untuk persiapan
membaca.
Slamet Suyanto (2010: 161), menyatakan bahwa pembelajaran bahasa untuk
anak Taman kanak-kanak untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi
oral, mengenal huruf dan membaca, mendengar dan memahami perintah, menulis
dan menggunakan literatur. Belajar bahasa dibagi menjadi dua bagian yaitu
belajar bahasa untuk komunikasi dan belajar literasi, yaitu membaca dan menulis.
