Permainan Sebagai Metode Pembelajaran

Siti Partini Suardiman (2013:16) juga mengungkapkan bahwa metode
adalah cara untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran didefinisikan sebagai
cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran ini diperlukan oleh
seorang pendidik dalam menyampaikan informasi kepada perserta didiknya agar
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu guru
sebagai pendidik harus memiliki alasan yang kuat dalam memilih metode agar
tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan tidak bertentangan dengan
karakteristik anak sebagai peserta didik.
Moeslichatoen (2012: 9) menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini
bertujuan untuk mengembangkan kreativitas, bahasa, emosi, motorik serta
pengembangan nilai dan sikap dengan tetap memperhatikan karakteristik anak
yang meliputi selalu ingin bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
senang bereksperimen dan menguji, mampu mengekspresikan diri secara kreatif
serta mempunyai imajinasi dan senang berbicara. Karakteristik-karakteristik
tersebut dapat dijadikan acuan dalam memilih sebuah metode pembelajaran.
Slamet Suyanto (2010: 39) mengungkapkan bahwa metode pembelajaran
untuk anak usia dini hendaknya menantang dan menyenangkan, melibatkan unsur
bermain, bergerak, bernyanyi dan belajar. Beberapa metode yang biasa
digunakan yaitu circle time, sistem kalender, show and tell, small project,
kelompok besar (big team), kunjungan, permainan, dan bercerita. Bagi anak
Taman kanak-kanak belajar adalah bermain dan bermain adalah belajar
(Moeslichatoen, 2012: 25).
Slamet Suyanto (2010: 26) menambahkan bahwa pendidikan anak usia
dini lebih menekankan pada kegiatan bermain sambil belajar yang mengandung
arti bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus menyenangkan, gembira, aktif,
dan demokratis. Konsep bermain sambil belajar ini memberikan arah bahwa
dalam melaksanakan pembelajaran perlu dan penting untuk memperhatikan
bahwa kegiatan harus dibuat sedemikian rupa agar anak tertarik, berperan aktif
dan tidak terbebani sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan mencapai
tujuan pembelajaran. Kegiatan bermain mendorong anak memperoleh banyak
konsep dasar dan pengetahuan seperti konsep dasar seperti warna, ukuran,
bentuk, dan arah yang merupakan dasar belajar membaca, menulis, berhitung,
dan pengetahuan lainnya, oleh karena itu metode bermain merupakan metode
yang memiliki banyak manfaat.
Terdapat lima kriteria bermain (Moeslichatoen, 2012: 31) yaitu motivasi
instrinsik, pengaruh positif, bersifat pura-pura, lebih menekankan pada cara
daripada tujuan, serta kelenturan. Suatu aktivitas dikatakan bermain apabila
aktivitas tersebut muncul dari dalam diri anak (motivasi instrinsik) sehingga tidak
ada pihak luar yang dapat memberikan tekanan atau paksaan, memiliki pengaruh
positif, bersifat pura-pura dan menekankan pada cara daripada tujuan serta
memiliki kelenturan yaitu kegiatan tersebut bersifat fleksibel, dan aturan yang
ada dibuat sendiri oleh para pemainnya. Penelitian ini menggunakan metode
permainan karena merujuk pada kriteria bermain bahwa suatu aktivitas dapat
dikatakan bermain apabila memiliki pengaruh yang positif yaitu merupakan
aktivitas atau tingkah laku yang menyenangkan atau menggembirakan untuk
dilakukan, sehingga memiliki efek atau pengaruh positif terhadap orang yang
melakukannya.
Bermain dapat meningkatkan daya ingat anak karena aktifitas ini menarik
dan menyenangkan, oleh karena itu apabila pembelajaran menggunakan metode
bermain maka akan dapat efektif untuk mengembangkan potensi anak tidak
terkecuali kemampuan berbahasa anak, yaitu misalnya melalui metode permainan
kartu huruf. Karakteristik bermain pada anak usia dini yang merujuk pada
pendapat di atas dapat kita lihat bahwa bermain merupakan aktivitas yang
dilakukan secara sukarela, bebas, spontan yang menimbulkan rasa kesenangan
dan kepuasan bagi pemainnya, sehingga bermain ini tidak memiliki batasan/
aturan yang mengikat.
Bermain selain memiliki banyak fungsi juga memiliki berbagi manfaat, hal
ini dikemukakan oleh Sofia Hartati (2011: 94) yaitu dapat mengembangkan fisik
anak baik motorik kasar maupun motorik halus, mengembangkan sosial
emosional anak, mengembangkan daya pikir anak, mempertajam kepekaan anak
serta bermanfaat sebagai media terapi dan intervensi terhadap beberapa gangguan
tumbuh kembang anak. Aktivitas bermain sangat mendukung pertumbuhan dan
perkembangan anak, mulai dari aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, fisik
jasmani, serta perkembangan pengenalan huruf (literasi).