Pembelajaran Taman Kanak-kanak

Pendidikan tidak terlepas dari istilah belajar dan pembelajaran. Belajar
didefinisikan sebagai proses perubahan manusia ke arah tujuan yang lebih baik
dan bermanfaat bagi dirinya maupun oranglain (Baharuddin & Esa, 2010: 15).
Sedangkan pembelajaran adalah membelajarkan anak menggunakan asas
pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan
pendidikan (Syaiful Sagala, 2006: 61). Menurut Martinis Yamin & Jamilah (2012:
18), pembelajaran adalah suatu proses membangun situasi serta kondisi belajar
melalui penataan pelaksanaan komponen tujuan pembelajaran, materi, metode,
kondisi, media, waktu, dan evaluasi yang tujuannya adalah pencapaian hasil
belajar anak.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan sumber belajar pada suatu lingkungan. Pengertian
pembelajaran yang lain juga disampaikan Nasution (dalam Sugihartono dkk.,
2007: 80), pembelajaran merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga
terjadi proses belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses interaksi yang membantu peserta didik
memiliki pengalaman belajar dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori
belajar melalui penataan lingkungan dan komponen pembelajaran.
Tianto (2011:25) memaparkan bahwa pembelajaran Taman Kanak-kanak
hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
a. Berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini membutuhkan upaya
pendidikan untuk mencapai optimalisasi seluruh aspek perkembangannya.
b. Belajar melalui bermain. Bermain dapat dijadikan sarana belajar anak usia dini.
Melalui bermain, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan,
dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
c. Lingkungan yang kondusif. Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa
sehingga menarik, menyenangkan, aman, dan nyaman sehingga mendukung
kegiatan belajar anak.
d. Menggunakan pembelajaran terpadu. Pembelajaran anak usia dini harus
menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema.
Tema yang digunakan harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak
dan bersifat kontekstual.
e. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup. Mengembangkan keterampilan
hidup seperti menolong diri sendiri, mandiri, dan bertanggung jawab, serta
memiliki disiplin diri.
f. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar. Media dan sumber
pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekita atau bahan-bahan yang
sengaja disiapkan oleh guru.
g. Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang. Pembelajaran bagi anak usia
dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana
dan dekat dengan anak.
h. Aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Proses pembelajaran yang
aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak
yang disipakan oleh guru melalui kegiatan-kegiatan yang menarik dan
menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan
menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan
secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses
pembelajaran.
i. Pemanfaatan teknologi informasi. Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini
dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran kegiatan, misalnya tape,
radio, televisi, komputer.
Menurut Masitoh dkk., (2005: 6), pembelajaran anak usia dini perlu
memperhatikan prinsip belajar yang berorientasi perkembangan dan bermain yang
menyenangkan, didasarkan pada minat dan pengalaman anak, mendorong
terjadinya komunikasi baik individual maupun kelompok, dan bersifat fleksibel,
sehingga peran guru lebih bersifat sebagai pembimbing, motivator, dan fasilitator
Lebih lanjut, Masitoh dkk. (2005:13) menjelaskan bahwa dalam
pembelajaran yang berorientasi perkembangan, guru harus memberikan dorongan
kepada anak untuk dapat melalui setiap tahap perkembangannya secara bermakna,
optimal, dan belajar dalam situasi yang menyenangkan, atraktif, serta relevan
dengan pengalaman anak. Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dengan cara-cara
yang tepat, misalnya melalui pengalaman riil, melakukan eksplorasi serta kegiatan
lain yang bermakna.
Secara implisit, Pemendiknas Nomor 58 Tahun 2009 menjelaskan tahapan
pembelajaran Taman Kanak-kanak, antara lain perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi (penilaian) pembelajaran. Tahapan
tersebut dijabarkan sebagai berikut:
a. Perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran sebagai proses persiapan proses kegiatan
meliputi Perencanaan Semester, Rencana Kegiatan Mingguan (RKM), dan
Rencana Kegiatan Harian (RKH). Perencanaan Semester dikembangkan oleh
satuan pendidikan berdasarkan Satuan Tingkat Perkembangan Anak serta
pedoman pelaksanaan. RKM dan RKH merupakan jabaran dari Perencanaan
Semester. Setiap guru TK berkewajiban menyusun RKM atau RKH secara
lengkap dan sistematis agar kegiatan pembelajaran seraya bermain berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi perserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik.
b. Pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran pada anak usia dini meliputi pembukaan, inti,
dan penutup. Pembukaan merupakan kegiatan awal pembelajaran yang ditujukan
untuk memfokuskan perhatian dan membangkitkan motivasi anak. Inti merupakan
proses untuk mencapai indikator yang dilakukan secara interaktif, menyenangkan,
menantang, dan partisipatif. Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi,
eksperimen, elaborasi, dan konfirmasi. Sedangkan kegiatan penutup adalah
kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran. Bentuk
kegiatan penutup berupa menyimpulkan, umpan balik, dan tindak lanjut.
Pelaksanaan pembelajaran anak usia dini harus memperhatikan beberapa
hal, antara lain: (1) menciptakan suasana yang nyaman, aman, bersih, dan
menarik; (2) berpusat pada anak; (3) sesuai dengan tahap perkembangan dan
kebutuhan anak; (4) memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan
anak; (5) mengintegrasikan kebutuhan anak terhadap kesehatan, gizi, stimulasi
psikososial, dan memperhatikan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya anak;
(6) pembelajaran dilaksanakan melalui bermain, memilih metode dan alat bermain
yang tepat dan bervariasi, serta memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada
di lingkungan; (7) pembelajaran dilakukan secara bertahap, berkesinambungan,
dan bersifat pembiasaan; (8) pemilihan teknik dan alat penilaian sesuai dengan
kegiatan ang dilaksanakan; serta (9) kegiatan yang diberikan sesuai dengan
karakteristik dan perkembangan anak.
Metode yang cocok untuk pembelajaran PAUD menurut Trianto (2011:
94) adalah metode bercerita, metode bercakap-cakap, metode tanya jawab, metode
karya wisata, metode demonstrasi, metode sosiodrama atau bermain peran, dan
metode eksperimen.
c. Evaluasi pembelajaran (penilaian)
Penilaian atau evaluasi perkembangan anak usia dini dapat dilakukan
melalui pengamatan, penugasan, unjuk kerja, pencatatan annecdot,
percakapan/dialog, laporan orangtua, dan dokumentasi hasil karya (portofolio
anak), serta deskripsi hasil karya. Penilaian harus mencakup seluruh tingkat
percapaian perkembangan peserta didik dan mencakup data tentang status
kesehatan, pengasuhan, dan pendidikan.
Penilaian anak usia dini harus dilakukan secara (1) berkala, intensif,
bermakna, menyeluruh, dan berkelanjutan; (2) pengamatan dilakukan saat anak
beraktifitas; (3) mengakaji ulang catatan perkembangan anak; (4) melakukan
komunikasi dengan orangtua tentang perkembangan anak; (5) dilakukan secara
sistematis, terpercaya, dan konsisten; (6) memonitor semua aspek perkembangan;
(7) mengutamakan proses, dampak, hasil; serta (8) pembelajaran melalui bermain
dengan benda konkrit.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
anak usia dini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi/penilaian
pembelajaran. Pembelajaran anak usia dini harus memperhatikan prisnsi-prinsip
belajar anak usia dini, berorientasi pada perkembangan, dan dilakukan melalui
bermain.
C. Contextual Teaching and Learning
Contextual Teaching and Learning (CTL) berkembang dari paham
konstruktivisme. CTL menekankan adanya keterkaitan antara kegiatan
pembelajaran dengan konteks keseharian anak. Teori belajar bermakna
(meaningful learning) dari David Ausubel menyarankan anak belajar dari
persoalan kesehariannya agar lebih bermanfaat bagi kehidupannya (Slamet
Suyanto, 2005:151). Ausubel (dalam Ratna Wilis, 2006:95) juga menyatakan
bahwa belajar merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsepkonsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Sejalan dengan pendapat Ausubel, John Dewey (dalam Sugihartono., dkk,
2007: 108) mengemukakan bahwa belajar tergantung pada pengalaman dan minat
anak sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya saling terintegrasi bukan
terpisah atau tidak mempunyai kaitan satu sama lain. Belajar harus bersifat aktif,
terlibat langsung, berpusat pada anak, dan dalam konteks pengalaman sosial.
Pendapat di atas menggambarkan bahwa pembelajaran akan lebih
bermakna apabila pembelajaran melibatkan anak secara langsung dan di kaitkan
dengan pengalaman sehari-hari. Pembelajaran juga harus terintegrasi atau
pembelajaran mempunyai kaitan satu sama lain, sehingga anak dapat lebih mudah
mengaitkan pengetahuan/pengalaman yang dimiliki dengan pengetahuan dan
pengalaman baru.
Jean Piaget (dalam Sugihartono dkk., 2007:109) menyatakan bahwa
“pengamatan sangat penting dan menjadi dasar dalam menuntun proses berpikir
anak, berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata,
pengamatan melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan lebih lama dan
menimbulkan sensasi yang membekas pada anak”. Oleh karena itu, dalam belajar
diupayakan agar anak harus mengalami sendiri dan terlibat langsung secara
realistik obyek yang dipelajarinya.
Piaget dalam buku “Psikologi Pendidikan” (Sugihartono dkk., 2007: 109),
menyatakan bahwa pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema.
Dengan menggunakan skema itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi
lingkungannya sehingga terbentuk skema baru, yaitu melalui proses asimilasi,
akomodasi, dan equilibrium. Proses asimilasi adalah suatu proses dimana anak
menyatukan pengetahuan yang baru diterima ke struktur kognitif yang sudah ada
dalam benak anak. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam
situasi yang baru, sedangkan equilibrium adalah proses penyesuaian antara
asimilasi dan akomodasi. Implikasi pandangan piaget dalam praktek pembelajaran
adalah guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran dengan tahapantahapan kognitif yang dimiliki anak. Untuk anak TK, sebaiknya pembelajaran
bersifat konkrit dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Lev Vygotsky dengan teori konstruktivistik sosialnya menjelaskan bahwa
belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun
fisik. Penemuan dalam belajar akan lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial
seseorang (Sugihartono dkk., 2007:113). Pada intinya, proses belajar akan lebih
bermakna apabila didasarkan pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial anak.