Komitmen organisasi dijelaskan oleh Jafri (2010) sebagai bentuk rasa ingin dan harus tetap menjadi bagian dari organisasi karena keyakinan dan kesetiaan pada organisasi dan telah bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi, apabila meninggalkan akan sangat merugikan. Karyawan dengan tingkat komitmen organisasi yang tinggi diperkirakan akan mencapai kinerja pekerjaan yang lebih tinggi (Tsai et al., 2010). Komitmen organisasi juga berdampak terhadap perilaku karyawan dan keberhasilan organisasi (Jafri, 2010).
Dengan adanya sikap komitmen organisasi dapat membantu manajemen dalam meningkatkan kinerja dan pengembangan perilaku-perilaku yang terkait dengan pekerjaan (Hung dan Hsu, 2011).
Dalam kaitannya dengan komitmen organisasional Meyer dan Allen (1990) mengidentifikasikan tiga tema berbeda, sebagai berikut:
- Affective commitment
Adalah tingkat keterikatan secara psikologis dengan organisasi berdasarkan seberapa baik perasaan mengenai organisasi. Komitmen ini muncul karena adanya kenyamanan, keamanan, dan manfaat lain yang dirasakan dalam suatu organisasi yang tidak diperolehnya dari organisasi lain.
- Continuance commitment
Adalah keterikatan anggota secara psikologis pada organisasi karena biaya yang dia tanggung sebagai konsekuensi keluar organisasi. Dalam hal ini anggota akan menghitung manfaat dan pengorbanannya atas keterlibatan dalam organisasi, sehingga ia akan cenderung memiliki komitmen yang tinggi.
- Normative commitment
Adalah keterikatan anggota secara psikologis dengan organisasi karena kewajiban moral untuk memelihara hubungan dengan organisasi. Ini berkaitan dengan mendorong anggota untuk tetap berada dan memberikan sumbangan pada suatu organisasi, baik materi, maupun non materi.
