Umumnya, seorang pembicara dipilih karena pengetahuan, pengalaman, serta keahliannya dalam bidang produk atau layanan tertentu(Belch & Belch, 2003). Keahlian tersebut merupakan sejauh mana seorang pembicara dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman atau keterampilan yang mencukupi untuk mempromosikan sebuah produk (Van der Waldt et al., 2009).
Konsumen yang merasakan keahlian dari sumber pembicara, secara langsung dapat memengaruhi perilakunya (Clarke et al., 2016). Dalam survey yang dilakukan oleh Thomson (2006), menunjukkan bahwa konsumen menghargai keahlian seorang pembicara dan menganggap mereka sebagai orang yang peduli tentang mereka serta meningkatkan rasa aman dengan keahliannya melakukan pekerjaan seperti saat bekerja sama dengan sebuah brand. Penelitian lainnya dilakukan oleh Sertoglu et al., (2014) terkait pengaruh keahlian selebriti/influencerterhadap niat beli konsumen, ditemukan bahwa kedua variabel tersebut saling berhubungan. Sehingga adanya keahlian dari influencerdapat memengaruhi niat beli konsumen. Maka dari itu, saat seorang pembicara yang mengiklankan atau menyarankan sebuah produk memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kuat, maka pada akhirnya seorang pembicara tersebut akan memiliki kekuatan yang berbeda untuk melanjutkan hal tersebut karena telah memiliki kepercayaan yang kuat (Jamil & Ramez, 2014). Adanya perbedaan tingkat profesionalisme setiap sumber pembicara dapat memengaruhi penentuan jenis disclosure apa yang akan digunakan serta persepsi keahlian yang akan diberikan oleh konsumen, seperti halnya influenceryang menggunakan media sosialnya untuk bisnis sehingga akan lebih memilih mencantumkan profil untuk bisnis dibandingkan untuk pribadi (Weismuller et al.,2020). Dalam penelitiannya terkait hubungan antara pernyataan advertising disclosuredengan kenaikan keahlian, ditemukan bahwa hubungan tersebut berdampak negatif (Weismuller et al., 2020). Maka dengan kata lain, adanya disclosuretidak memberikan dampak apapun dalam keahlian. Penelitian terkait keahlian lainnya juga dilakukan oleh Gupta et al. (2015) yang menguji mengenai keahlian artis tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi konsumen terhadap iklan. Penelitian ini menggunakan lima faktor yang berkaitan dengan keahlian, yaitu experienced (memiliki pengalaman), knowledgeable (memiliki pengetahuan), qualified (memiliki kualifikasi), skilled (memiliki kemampuan), danexpert (ahli). Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa expertiseselebriti memiliki dampak pada persepsi konsumen terhadap iklan (Gupta et al., 2015). Adapun De Jans et al. (2020), yang melakukan penelitian mengenai pernyataan iklan berbayar dapat menunjukkan kredibilitas brand(termasuk di dalamnya expertiseatau keahlian) daripadaiklan yang diunggah influencer. Dalam penelitian ini, De Jans et al. (2020) menggunakan dua macam bentuk iklan, yaitu iklan yang diunggah oleh brand itu sendiri (brand post) dan iklan yang diunggah oleh influencer(influencer post). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kredibilitas untuk brand postlebih tinggi daripada influencer post. Menurut De Jans et al. (2020), responden merasa ketika sebuah brandmengunggah iklan berbayar/bersponsor maka akan lebih dianggap mereka lebih mengetahui produk yang sedang diunggah daripada menggunakan influencer untuk mengiklankan brand tersebut. Namun, berbanding terbalik jika keahlian dihubungkan dengan kepuasan dan persepsi konsumen. Gilal et al., (2020) melakukan penelitian terkait variabel keahlian seorang seperti artis/ influencerterhadap keterkaitan kebutuhan akan kepuasan di bidang perjalanan menggunakan transportasi udara. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan positif terkait keahlian artis/influencerdengan kebutuhan akan kepuasan (Gilal et al., 2020). Ishak (2008) melakukan penelitian terkait keahlian selebriti/influencerterhadap sikap konsumen terhadap iklan. Dalam penelitiannya, Ishak (2008) menggunakan iklan salah satu sepeda motor yang masuk ke dalamtiga besar di pasar Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keahlian selebriti/influencerdapat berpengaruh positif terhadap sikap konsumen terhadap iklan. Penelitian ini menunjukkan bahwa respondenmenganggap selebriti/influencertersebut memiliki keahlian komunikasi dalam meningkatkan perasaan suka terhadap iklan (Ishak, 2008).
