Kebijakan Dividen (skripsi tesis dan disertasi)

Indikator untuk mengukur kebijakan dividen yang secara luas digunakan adalah dividend yield dan dividend payout ratio. Dividen yieldadalah suatu rasio yang menghubungkan suatu dividen yang dibayar dengan harga saham. Dividen yield menyediakan suatu ukuran pengembalian total yang dihasilkan dividen, dengan menambahkan apresiasi harga yang ada. Investor akan menggunakan dividen yieldsebagai suatu penyaringan investasi, yaitu mereka akan berusaha menginvestasikan dananya dalam saham yang menghasilkan dividen yieldyang tinggi, akibatnya perubahan dari tingkat dividen yield ini akan mempengaruhi pergerakan harga saham. Sedangkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) merupakan hasil perbandingan dividen dengan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa. Rasio ini menggambarkan persentase jumlah dividen yang dibayarkan kepada investor yang akan mempengaruhi pasar sehingga berdampak kepada naik-turunnya harga saham. a.Teori kebijakan dividen 1)Teori dividen tidak relevan Teori dividen tidak relevan pertama sekali dicetuskan oleh Modigliani dan Miller (1961) dalam artikel Dividend Policy, Growth, and The Valuation of Shares. Miller dan Mogdiliani (MM) berpendapat bahwa nilai perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya dividen, tetapi ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba sebesar –besarnya. MM berasumsi bahwa : a)Terdapat pasar modal yang sempurna, tanpa pajak atau biaya transaksi, harga pasar tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pembeli atau seorang penjual, dan akses gratis dan tanpa biaya untuk mendapatkan informasi tentang pasar. b)Investor berpikir rasional dan mereka menghargai surat berharga berdasarkan nilai diskonto arus kas masa depan untuk investor. c)Manajer bertindak sebagai agen terbaik dari pengguna saham. d)Ada kepastian mengenai kebijakan investasi perusahaan, dan pengetahuan tentang arus kas masa depan. Miller dan Mogdiliani (MM) mengemukakan bahwa kebijakan dividen tidak relevan terhadap kemakmuran pemegang saham karena pembayaran dividen berarti mengurangi laba ditahan yang seharusnya untuk investasi, sehingga perusahaan akan mencari dana baru untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut. Dengan demikian kenaikan pembayaran dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham sebagai akibat penjualan saham baru atau penerbitan hutang. Dengan demikian laba yang dibagikan sebagai dividen atau ditahan untuk investasi tidak
16ditentukan oleh besar kecilnya dividen, tetapi ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba sebesar –besarnya. MM berasumsi bahwa : a)Terdapat pasar modal yang sempurna, tanpa pajak atau biaya transaksi, harga pasar tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pembeli atau seorang penjual, dan akses gratis dan tanpa biaya untuk mendapatkan informasi tentang pasar. b)Investor berpikir rasional dan mereka menghargai surat berharga berdasarkan nilai diskonto arus kas masa depan untuk investor. c)Manajer bertindak sebagai agen terbaik dari pengguna saham. d)Ada kepastian mengenai kebijakan investasi perusahaan, dan pengetahuan tentang arus kas masa depan. Miller dan Mogdiliani (MM) mengemukakan bahwa kebijakan dividen tidak relevan terhadap kemakmuran pemegang saham karena pembayaran dividen berarti mengurangi laba ditahan yang seharusnya untuk investasi, sehingga perusahaan akan mencari dana baru untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut. Dengan demikian kenaikan pembayaran dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham sebagai akibat penjualan saham baru atau penerbitan hutang. Dengan demikian laba yang dibagikan sebagai dividen atau ditahan untuk investasi tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham (Surbakti dan Salim, 2013).2)Bird in the Hand TheoryMyron Gordon dan John Linter berpendapat biaya modal sendiri akan meningkat sebagai akibat adanya penurunan harga dividen. Investor merasa lebih aman memperoleh pendapatan berupa dividen daripada menunggu capital gain. Kemungkinan capital gain yang diharapkan mempunyai resiko yang lebih besar dibandingkan dividend yield yang pasti. MM menganggap bahwa argumen Gordon dan Lintner ini merupakan suatu kesalahan. Menurut MM pada akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen yang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki risiko yang hamper sama (Purwidianti, 2012). 3)Dividen dibagi sebesar-besarnyaMenurut Husnan dan Enny (2015) berpendapat bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Argumentasi tersebut mempunyai kesalahan dalam hal bahwa peningkatan pembayaran dividen hanya dimungkinkan apabila laba yang diperoleh oleh perusahaan juga meningkat. Perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar apabila laba yang diperoleh tidak meningkat. Memang benar kalau perusahaan mampu meningkatkan pembayaran dividen karena peningkatan laba, harga saham akan naik. Meskipun demikian kenaikan harga saham tersebut adalah disebabkan karena kenaikan laba dan bukan kenaikan pembayaran dividen. Juga tidak benar kalau perusahaan harus membagikan semua laba sebagai dividen, hanya karena perusahaan harus membagikan dividen sebesar-besarnya. Laba dibenarkan untuk ditahan, kalau dana tersebut bisa diinvestasikan dan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih besar dari biaya modalnya.