Menurut Argyle, Diener, Lucas, dan Smith, Myres, dan Compton (2000) faktor yang mempengaruhi Subjective Well-being seseorang yaitu optimisme, relasi sosial yang positif, harga diri, lokus kontrol internal, ekatraversi, A sense of meaning and purpose to life (Pemahaman tentang arti dan tujuan hidup) a. Optimism (Optimisme) Myers (dalam Ghurfron & Risnawita, 2013) mengatakan bahwa optimisme menunjukkan arah dan tujuan hidup yang positif, menyambut datanganya pagi dengan sukacita, membangkitkan kembali rasa percaya diri kearah yang lebih realistik, dan menghilangkan rasa takut yang selalu menyertai individu. Pemikiran optimis menentukan individu dalam menjalani kehidupan, memecahkan masalah, dan penerimaan terhadap perubahan baik dalam menghadapi kesuksesan maupun kesulitan. Türküm (Brandt, 2011) optimisme dianggap mampu meningkatkan well being. Selain itu Lucas (Diener, Oishi, Lucas, 2003) menyatakan bahwa optimisme pula berhubungan dengan subjective well being. b. Relasi sosial yang positif Menurut Hinde (dalam Dutton dan Ragins, 2006) relasi sosial yang positif merupakan serangkaian interaksi antara dua orang yang sedikit banyak melibatkan diri satu sama lain, dimana perilaku salah satu anggota dapat berakibat pada perilaku orang lain. Pratt dan Dirks (dalam Dutton dan Ragins, 2006) menyatakan bahwa dalam interaksi sosial yang positif ditawarkan dukungan yang diberikan tidak hanya saat dalam keadaan baik, namun juga ketika sedang dalam kesulitan. c. Harga diri Harga diri merupakan prediktor terkuat dari Subjective well-being ini didukung oleh Campbell (dalam Compton, 2000) yang menyatakan bahwa harga diri merupakan prediktor yang menentukan well being. Harga diri positif yang tinggi akan menyebabkan seseorang memiliki kontrol yang baik terhadap rasa marah, mempunyai hubungan yang intim dan baik dengan orang lain. Demikian, hal ini akan menolong individu untuk mengembangkan kemampuan hubungan interpersonal yang baik dan menciptakan kepribadian yang sehat (Ariati, 2010). Self esteem yang tinggi memberikan sejumlah keuntungan bagi individu meliputi perasaan bermakna dan berharga. d. Lokus kontrol internal Lokus kontrol merupakan sebuah kontruksi yang digunakan untuk mengkategorikan orientasi motivasi dan persepsi dasar orang tentang seberapa besar kendali yang mereka miliki terhadap kondisi-kondisi tersebut. Lokus kontrol terbagi menjadi dua yaitu lokus kontrol internal dan lokus kontrol eksternal. Individu dengan lokus kontrol internal cenderung menaggapi keadaan internal dengan menunjukkan kepuasan terhadap hasil yang diperoleh karena kemampuan yang mereka miliki sendiri (VandenBos, 2013). e. Ekstraversi Vandenbos (2013) individu dengan kepribadian ekstravert akan tertarik dan lebih semangat pada hal-hal yang terjadi di luar dirinya dibandingkan dunia dalam pengalaman subjektifnya. Argyle dan Diener (dalam Compton, 2013) menyatakan ekstraversi telah disarankan sebagai prediktor terpenting karena ekstraversi berkolerasi dengan well being dan kemampuan untuk memprediksi well being pada 30 tahun ketas. f. A sense of meaning and purpose to life (Pemahaman tentang arti dan tujuan hidup) Compton (2000) menyatakan memiliki arti dan tujuan dalam hidup merupakan mediator yang signifikan atau konstrak integrasi pusat diantara variabel-variabel utama yang berhubungan dengan subjective well-being.
