Hubungan Kebisingan dan Kelelahan Kerja (skripsi dan tesis)

Suara dari lingkungan akan diterima daun telinga dan liang
telinga yang merupakan bagian telinga luar. Semua bunyi yang mencapai
telinga kita sebenarnya merupakan tenaga suatu gelombang suara.
Selanjutnya gelombang suara akan menggetarkan gendang telinga
(membrane tympani) yang merupakan selaput tipis dan transparan.
Selanjutnya getaran-tersebut mulai sampai ke telinga tengah yang berisi
tulang-tulang pendengaran. Tulang tersebut antara lain tulang-tulang
malleus, incus dan stapes.Sebagian tulang malleus melekat pada sisi dalam
gendang telinga dan akan bergetar bila membran tympani bergetar. Tulang
stapes berhubugan dengan selaput oval window (tingkat oval) yaitu telinga
bagian dalam. Karena ketiga tulang pendengaran saling bersendi satu sama
lain maka akan menjembatani getaran dari gendang telinga, memperkeras
dan menyampaikan ke telinga dalam(Watson, 2002).
Suara yang terlalu bising dan berlangsung lama dapat
menimbulkan stimulasi daerah di dekat area penerimaan pendengaran
primer yang akan menyebabkan sensasi suara gemuruh dan berdenging
(suma’mur,2009)
Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan
pusing/sakit kepala. Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi
vestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan efek
pusing/vertigo. Perasaan mual, susah tidur dan sesak napas disebabkan
oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ dan
keseimbangan elektrolit. Melalui makanisme hormonal adrenalin, yang
dapat meningkatkan frekuensi detak jantung dan tekanan darah.
Suara yang terlalu bising dan berlangsung lama dapat
menimbulkan stimulasi daerah di dekat area penerimaan pendengaran
primer yang akan menyebabkan sensasi suara gemuruh dan berdenging.
Timbulnya sensasi suara ini akan menyebabkan pula stimulasi nucleus
ventralateralis thalamus yang akan menimbulkan inhibisi implus dari
umparan otot (musclespindle) dengan kata lain akan menggerakkan atau
menguatkan system inhibisi atau penghambat yang berada pada thalamus
(Chusid, J. G, 1992).
Konsep kelelahan merupakan hasil penelitian terhadap
manusia. Konsep tersebut menyatakan bahwa keadaan dan perasaan lelah
adalah reaksi fungsional pusat kesadaran yaitu otak (cortex cerebri), yang
dipengaruhi oleh dua sistem antagonisis yaitu sistem penghambat
(inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem penghambat bekerja
terhadap thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia
bereaksi dan menyebabkan kecenderungan untuk tidur. Adapun sistem
penggerak terdapat dalam formasio retikularis (formatio reticularis) yang
dapat merangsang pusat vegetatif untuk konversi ergrotopis dari organ
dalam tubuh ke arah kegiatan bekerja. Maka berdasarkan konsep tersebut,
keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung kepada hasil kerja
antara dua sistem antagonistis yang dimaksud. Apabila sistem penghambat
berada pada posisi lebih kuat daripada system penggerak, berarti seseorang
berada dalam kondisi lelah. Sebaliknya, jika sistem penggerak lebih kuat
dari sistem penghambat, maka seseorang berada dalam keadaan bugar
untuk aktif dalam kegiatan termasuk bekerja. Konsep ini dapat dipakai
untuk menerangkan peristiwa yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan.
Misalnya pada peristiwa dimana seseorang yang lelah kemudian secara
tiba-tiba kelelahannya hilang karena terjadi suatu peristiwa yang tidak
diduga atau terjadi tegangan emosi. Dalam hal itu, sistem penggerak tiba-
tiba terangsang dan dapat menghilangkan pengaruh dari sistem
penghambat. Demikian pula pada peristiwa monotoni, kelelahan terjadi
karena kuatnya hambatan dari sistem penghambat, walaupun sebenarnya
beban kerja tidak terlalu berat (Suma’mur, 2009).