Piutang Tak Tertagih (skripsi dan tesis)

Penjualan barang atau jasa, secara kredit akan menguntungkan perusahaan
karena lebih menarik pembeli, sehingga volume penjualan meningkat dan
menaikkan pendapatan perusahaan. Dipihak lain penjualan barang atau jasa secara
kredit sering kali mendatangkan kerugian yaitu apabila si debitur tidak mau atau
tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Bila suatu barang atau jasa dijual
secara kredit, biasanya sebagian dari piutang langganan tidak dapat ditagih. Hal
ini sudah merupakan gejala umum dan resiko yang harus ditanggung oleh
perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit. Betapapun telah
teliti didalam mengevaluasi kondisi pelanggan dalam pembelian kredit dan sangat
efesien prosedur penagihan piutang, namun kenyataannya masih terdapat
sejumlah pelanggan yang tidak dapat memenuhi kewajibannya. Seperti yang telah
dijelaskan, piutang tak tertagih timbul karena adanya resiko piutang yang tidak
dapat terbayar oleh debitur perusahaan karena berbagai alasan, misalnya
pailit/bangkrut, force major, karakteristik pelanggan. Semakin banyak piutang
usaha yang diberikan maka semakin banyak pula jumlah piutang yang tak
terbayar.
Menurut Stice (2009:417), yang diterjemahkan oleh Syam Setya, “Piutang
yang nyata-nyata tidak dapat ditagih karena penjualan secara kredit, yang
merupakan kerugian bagi kreditur”. Sedangkan menurut Kieso (2008:350), yang
diterjemahkan oleh Emil Salim, bahwa “Kerugian pendapatan memerlukan ayat
jurnal pencatatan yang tepat pada akun, penurunan aktiva piutang usaha serta
penurunan yang berkaitan dengan laba”. Selanjutnya menurut Herry (2009:269),
“Jika perusahaan tidak mampu menagih piutang dari pelanggan sehingga
menciptakan beban, maka disebut dengan beban piutang tak tertagih”.
Maka penulis menyatakan bahwa piutang tak tertagih adalah piutang yang
tidak terbayarkan oleh konsumen atau pelanggan karena adanya resiko piutang
yang tidak dapat terbayar oleh debitur perusahaan karena berbagai alasan,
misalnya pailit/bangkrut, force major, maupun karakteristik dari konsumen atau
pelanggan tersebut. Piutang yang telah ditetapkan sebagai piutang tak tertagih
bukan merupakan aktiva lagi, oleh karena itu harus dikeluarkan dari pos piutang
dalam neraca.
Piutang tak tertagih merupakan suatu kerugian, dan kerugian ini harus
dicatat sebagai beban (expense), yaitu beban piutang tak tertagih (bad debt
expense), yang disajikan dalam laporan laba rugi. Semua penghapusan ini harus
dicatat dengan tepat dan teliti karena berhubungan langsung dengan laporan
keuangan yang digunakan manajemen dalam pengambilan keputusan.