Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Menurut Brigham dan Houston (2011 : 188), perusahaan pada umumnya
akan mempertimbangkan faktor-faktor berikut ini ketika melakukan keputusan
struktur modal :
1. Stabilitas penjualan
Suatu perusahaan yang penjualannya relatif stabil dapat secara aman
mengambil utang dalam jumlah yang lebih besar dan mengeluarkan beban
tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya
tidak stabil.
2. Struktur aset
Perusahaan yang asetnya memadai untuk digunakan sebagai jaminan
pinjaman cenderung akan cukup banyak menggunakan utang. Aset umum
yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan dapat menjadi jaminan yang
baik, sementara tidak untuk aset dengan tujuan khusus. Jadi, perusahaan real
estate biasanya memiliki leverage yang tinggi sementara pada perusahaan
yang terlibat dalam bidang penelitian teknologi, hal seperti ini tidak berlaku.
3. Leverage operasi
Jika hal lain dianggap sama, perusahaan dengan leverage operasi yang
lebih rendah akan lebih mampu menerapkan leverage keuangan karena
perusahaan tersebut akan memiliki risiko usaha yang lebih rendah.
4. Tingkat pertumbuhan
Jika hal lain dianggap sama, maka perusahaan yang memiliki
pertumbuhan lebih cepat harus mengandalkan diri pada modal eksternal.
Selain itu, biaya emisi yang berkaitan dengan penjualan saham biasa akan
melebihi biaya emisi yang terjadi ketika perusahaan menjual utang,
mendorong pada utang. Namun, pada waktu yang bersamaan, perusahaan
tersebut sering kali menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi, cenderung
akan menurunkan keinginan mereka untuk menggunakan utang.
5. Profitabilitas
Sering kali diamati bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian
atas investasi yang sangat tinggi ternyata menggunakan utang dalam jumlah
yang relatif sedikit. Meskipun tidak ada pembenaran teoritis atas fakta ini,
salah satu penjelasan praktisnya adalah perusahaan yang sangat
menguntungkan, seperti misalnya Intel, Microsoft, dan Coca-Cola tidak
membutuhkan pendanaan utang terlalu banyak. Tingkat pengembalian yang
tinggi memungkinkan perusahaan tersebut melakukan sebagian besar
pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara internal.
6. Pajak
Bunga merupakan suatu beban pengurang pajak dan pengurangan ini
lebih bernilai bagi perusahaan dengan tarif pajak yang tinggi. Jadi, makin
tinggi tarif pajak suatu perusahaan, maka makin besar keunggulan dari
utang.
7. Kendali
Pengaruh utang dibandingkan saham pada posisi kendali suatu
perusahaan dapat mempengaruhi struktur modal. Jika manajemen saat ini
memiliki kendali hak suara (lebih dari 50% saham) tetapi tidak berada
dalam posisi untuk membeli saham tambahan lagi, maka manajemen
mungkin akan memilih utang sebagai pendanaan baru. Di lain pihak,
manajemen mungkin memutuskan untuk menggunakan ekuitas jika situasi
keuangan perusahaan begitu lemah sehingga penggunaan utang mungkin
dapat membuat perusahaan menghadapi risiko gagal bayar, karena jika
perusahaan gagal bayar, manajer kemungkinan akan kehilangan
pekerjaannya. Akan tetapi, jika utang yang digunakan terlalu sedikit,
manajemen menghadapi risiko pengambilalihan. Jadi, pertimbangan kendali
dapat mengarah pada penggunaan baik itu utang maupun ekuitas karena
jenis modal yang memberikan perlindungan terbaik kepada manajemen akan
bervariasi dari satu situasi ke situasi lain. Apapun kondisinya, jika
manajemen merasa tidak aman maka manajemen akan mempertimbangkan
situasi kendali.
8. Sikap manajemen
Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa satu struktur modal akan
mengarah pada harga saham yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur
yang lain. Manajemen dapat melaksanakan pertimbangannya sendiri tentang
struktur modal yang tepat. Beberapa manajemen cenderung lebih
konservatif dibandingkan dengan yang lain, dan menggunakan utang dalam
jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata perusahaan di dalam
industrinya, sementara manajemen yang agresif menggunakan lebih banyak
utang dalam usaha mereka untuk mendapat laba yang lebih tinggi.
9. Sikap pemberi pinjaman dan lembaga pemeringkat
Tanpa mempertimbangkan analisis manajemen sendiri atas faktor
leverage yang tepat bagi perusahaan, sikap pemberi pinjaman dan lembaga
pemeringkat seringkali akan mempengaruhi keputusan struktur keuangan.
Perusahaan seringkali membahas struktur modalnya dengan pihak pemberi
pinjaman dan lembaga pemeringkat serta sangat memperhatikan saran
mereka.
10. Kondisi pasar
Kondisi pasar saham dan obligasi mengalami perubahan dalam jangka
panjang maupun jangka pendek yang dapat memberikan arah penting pada
struktur modal optimal suatu perusahaan. Misalnya, selama terjadi
kebijakan uang ketat, pasar obligasi sampah menjadi sepi, dan sama sekali
“w ”
panjang baru dengan peringkat di bawah BBB. Jadi, perusahaan
berperingkat rendah yang membutuhkan modal terpaksa pergi ke pasar
saham atau pasar utang jangka pendek, tanpa melihat sasaran struktur
modalnya. Namun, ketika kondisi melonggar, perusahaan-perusahaan ini
menjual obligasi jangka panjang untuk mengembalikan struktur modalnya
kembali pada sasaran.
11. Kondisi internal perusahaan
Kondisi internal suatu perusahaan sendiri juga dapat berpengaruh pada
sasaran struktur modalnya. Misalnya, suatu perusahaan baru saja berhasil
menyelesaikan suatu program litbang, dan perusahaan meramalkan laba
yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang tidak lama lagi. Namun, laba
yang baru ini belum diantisipasi oleh investor, sehingga tidak tercermin
dalam harga sahamnya. Perusahaan tersebut tidak akan menerbitkan saham
perusahaan lebih memilih melakukan pendanaan dengan utang sampai
laba yang lebih tinggi terwujud dan tercermin pada harga saham.
Selanjutnya, perusahaan dapat menjual penerbitan saham biasa,
menggunakan hasilnya untuk melunasi utang dan kembali pada sasaran
struktur modalnya.
12. Fleksibilitas keuangan
Kemampuan untuk menghimpun modal dengan persyaratan yang
wajar dalam kondisi yang buruk. Bendahara perusahaan tahu bahwa
pasokan modal yang lancar dibutuhkan oleh operasi yang stabil, selanjutnya
menjadi arti yang sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang. Mereka
juga tahu bahwa ketika terjadi pengetatan uang dalam perekonomian atau
ketika suatu perusahaan sedang mengalami kesulitan operasional, akan lebih
mudah untuk menghimpun utang dibandingkan modal ekuitas, dan pihak
pemberi pinjaman lebih bersedia untuk mengakomodasi perusahaan yang
memiliki neraca kuat