Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Menurut Sudana, I.M (2009:8) Nilai perusahaan merupakan nilai sekarang
dari arus pendapatan atau kas yang diharapkan diterima pada masa yang akan datang.
Menurut Ahmad Rodoni (2010:3) Nilai perusahaan adalah nilai pasar hutang
ditambah dengan nilai pasar ekuiti. Hutang merupakan sebuah janji dari perusahaan
peminjam untuk membayar kembali sejumlah uang pada tanggal tertentu. Klaim hak
pemegang saham terhadap nilai perusahaan merupakan nilai sisa setelah hak
pemegang surat hutang dibayarkan. Jika nilai perusahaan kurang dari jumlah yang
dijanjikan kepada pemegang surat hutang, maka pemegang saham tidak akan
mendapatkan apa-apa.
Dalam realitanya, tidak semua perusahaan menginginkan harga saham tinggi
(mahal), karena takut tidak laku dijual atau tidak menarik investor untuk
membelinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perusahaan-perusahaan yang
go public di BEI melakukan stock split di bursa efek (ICMD, 2008) itulah sebabnya,
harga saham harus dapat dibuat seoptimal mungkin. Artinya, harga saham tidak
boleh terlalu tinggi (mahal) atau tidak boleh terlalu rendah (murah). Harga saham
yang terlalu murah dapat berdampak buruk bagi citra perusahaan di pemandangan
para investor. Harga saham yang optimal bisa dicapai melalui penarikan simpulan
dari serangkaian pengalaman perusahaan dalam menjual saham di bursa efek.
Artinya, bila pasar sangat tertarik dengan saham yang diperdagangkan, maka
perusahaan dapat menaikkan harga saham, demikian juga sebaliknya.
Memaksimumkan nilai perusahaan (harga saham) tidak identik dengan
memaksimumkan laba per lembar saham (EPS). Hal ini karena disebabkan oleh :
1. Memaksimumkan EPS mungkin memusatkan pada EPS saat ini.
2. Memaksimumkan EPS mengabaikan nilai mata uang.
3. Tidak memperhatikan faktor risiko.
Perusahaan mungkin memperoleh EPS yang tinggi pada saat ini, tetapi apabila
pertumbuhannya diharapkan rendah, maka dapat saja harga sahamnya lebih rendah
apabila dibandingkan dengan perusahaan yang saat ini mempunyai EPS yang lebih
kecil. Dengan demikian memaksimumkan nilai perusahaan juga tidak identik dengan
memaksimumkan laba, apabila laba diartikan sebagai laba akuntansi. Sebaliknya
memaksimumkan nilai perusahaan identik dengan memaksimumkan laba dalam
pengertian ekonomi. Hal ini disebabkan karena laba ekonomi diartikan sebagai
jumlah kekayaan yang bisa dikonsumsikan tanpa membuat pemilik kekayaan
tersebut menjadi lebih miskin.
Untuk dapat menciptakan nilai bagi perusahaan, manajer keuangan harus :
1. Mencoba untuk membuat keputusan investasi yang tepat.
2. Mencoba untuk membuat keputusan pendanaan yang tepat.
3. Keputusan dividen yang tepat dan juga keputusan investasi modal kerja
bersih.
Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007) dalam Sri Hermuningsih (2009) nilai
perusahaan merupakam persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan
yang terkait erat dengan harga sahamnya. Harga saham yang tinggi membuat nilai
perusahaan juga tinggi, dan meningkatnya kepercayaan pasar tidak hanya terhadap
kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa mendatang.
Harga saham yang digunakan umumnya mengacu pada harga penutupan (clossing
price), dan merupakan harga yang terjadi pada saat saham diperdagangkan di pasar.
Penilaian perusahaan mengandung unsur proyeksi, asuransi, perkiraan dan
judgement. Ada beberapa konsep dasar penilaian, yaitu :
1. Nilai ditentukan oleh suatu waktu atau periode tertentu.
2. Nilai harus ditentukan pada harga yang wajar.
3. Penilaian tidak dipengaruhi oleh sekelompok pembeli tertentu