Penilaian Etis (skripsi dan tesis)

Menurut Chiu (2002), penilaian atau pertimbangan etis adalah suatu pemikiran seorang individu secara utuh tentang suatu permasalahan yang sulit. Ketika keputusan etis dan tujuan perilaku akan diaplikasikan dalam masalah whistleblowing, tentunya memiliki makna yang khusus. Keputusan etis dapat muncul dan mengarah kepada evaluasi subyektif dari individu secara etis pada pengungkapan whistleblowing. Sedangkan tujuan perilaku merupakan sebuah kemungkinan seorang individu memilih untuk mengungkapkan skandal dibawah lingkungan organisasi (Zhang, Chiu, & Wei, 2009). Dalam Model Rest (1986) menggambarkan proses psikologis yang mendasari tindakan moral. Model ini menyediakan mekanisme yang berguna untuk mengintegrasikan proses penilaian etis yang kompleks dengan perilaku etis (Zhang et. al., 2009). Menurut Rest (1986) ada empat langkah dasar yang mengarah pada perilaku etis yaitu:  Kepekaan etis, yaitu menemukan bahwa adanya dilema etis.  Penalaran etis, yaitu sampai pada sebuah keputusan preskriptif terhadap dilema etis.  Niat etis, yaitu merumuskan niat untuk mematuhi atau tidak mematuhi keputusan etisnya.  Perilaku etis merupakan pilihan atas dilema etis dalam pengambil keputusan dan karakter etis pribadi. Dalam model Rest (1986) dan Trevino (1986), pengembangan moral kognitif adalah elemen penting dalam tahap penilaian etis. Dalam model Dubinsky dan Loken (1989), pengembangan moral kognitif merupakan elemen penting dalam tahap penilaian etis dan evaluasi moral yang digunakan dalam penilaian etis tersebut. Oleh karena itu, evaluasi individu tentang etika pengungkapan fakta mempengaruhi keputusannya tentang apakah akan terlibat dalam praktik atau tidak (Chiu, 2002). Dalam keputusan etis, penilaian etis menempati peran sangat penting bagi pembuatan keputusan etis (Pan & Sparks, 2012). Oleh sebab itu dalam pengambilan keputusan, orang sering merasakan dilema karena etis menurut setiap orang berbeda-beda. Belum tentu etis menurut seseorang maka etis juga menurut orang lain.