A. Excellence Keunggulan (excellence) yaitu penggambaran kemampuan institusi dan pimpinan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sehingga dapat meningkatkan citra dan nama baik institusi (Arifin, 2017). Untuk mencapai suatu pelayanan yang prima pihak perusahaan haruslah memiliki keterampilan tertentu, diantaranya berpenampilan baik dan rapi, bersikap ramah, memperlihatkan gairah kerja dan sikap selalu siap untuk melayani, tenang dalam bekerja, tidak tinggi hati karena merasa dibutuhkan, menguasai pekerjaannya baik tugas yang berkaitan pada bagian atau departemennya maupun bagian lainnya, mampu berkomunikasi dengan baik, mampu mengerti dan memahami bahasa isyarat (gesture) pelanggan serta memiliki kemampuan menangani keluhan pelanggan secara profesional (Wulandari, 2015). Pelayanan adalah perihal atau cara melayani yang berupa suatu kegiatan (upaya, tindakan) untuk menyiapkan, mengurus apa yang diperlukan orang lain dan pelanggan akan merasa senang bila dilayani dengan baik (Firmansyah, 2016). Prima (yang terbaik, yang terhebat) menunjukkan mutu suatu produk barang atau jasa yang melebihi standar baku, sehingga pelanggan merasa mendapatkan sesuatu yang melebihi harapannya (Firmansyah, 2016). Pelayanan Prima (service excellent) Pelayanan yang baik dan memuaskan pelanggan atau masyarakat atau pemangku kepentingan lainnya upaya memenuhi kebutuhan atau permintaan menyiapkan, mengurus yang diperlukan secara prima, sehingga pelanggan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapannya (Firmansyah, 2016). Pelayanan prima merupakan pelayanan terbaik atau sangat baik, disebut sangat baik atau terbaik karena sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau memiliki instansi pemberi pelayanan, akan tetapi tidak cukup hanya memberikan rasa puas dan perhatian terhadap pelanggan saja, lebih dari itu adalah bagaimana cara merespon keinginan pelanggan sehingga dapat menimbulkan kesan positif dari pelanggan (Asih, 2016). Pelayanan prima harus ditunjang oleh kualitas sumber daya manusia yang handal, mempunyai visi yang jauh ke depan dan dapat Konsekuensi customer value mengembangkan strategi dan kiat pelayanan prima yang mempunyai keunggulan (Asih, 2016). Kemampuan para petugas pelayanan agar dapat menumbuhkan dedikasi dan memberikan pelayanan sebaikbaiknya kepada pelanggan untuk tetap setia menggunakan produk barang dan jasa tanpa sempat memakai produk lain (Asih, 2016). Pelayanan Prima juga dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan yang memberikan kepada pelanggan apa yang memang mereka harapkan pada saat mereka membutuhkan, dengan cara yang mereka inginkan (Rohman, 2017). Dalam pelayanan prima terdapat dua elemen yang saling berkaitan, yaitu pelayanan dan kualitas. Kedua elemen tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh tenaga pelayanan, konsep pelayanan prima dapat diterapkan pada berbagai organisasi, instansi, pemerintah, ataupun perusahaan bisnis (Rohman, 2017). Kepedulian kepada pelanggan dengan memberikan pelayanan yang terbaik dan memenuhi standar kualitas untuk memfasilitasi kemudahan pemenuhan kebutuhan dengan terus mengupayakan penyelarasan kemampuan, sikap, penampilan, perhatian, tindakan dan tanggungjawab guna mewujudkan kepuasan pelanggan agar mereka selalu loyal kepada perusahaan dengan cara yang mereka inginkan (Rohman, 2017). B. Efficiency Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas (Perdanawati et al., 2014). Suatu ukuran dari pada hasil kerja atau kinerja seseorang dengan proses input sebagai masukan dan output sebagai keluarannya yang merupakan indikator daripada kinerja karyawan dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai produktifitas yang tinggi dalam suatu organisasi (Almigo, 2004). Efisiensi pemasaran merupakan maksimisasi rasio antara luaran dan masukan yang digunakan dalam kegiatan pemasaran (Irawan, 2007). Semua dituntut agar serba cepat dan tepat karena semakin lama orang akan sangat menghargai waktu, tuntutan kebutuhan konsumen dari kualitas maupun kuantitas yang menyebabkan perusahaan harus meningkatkan pelayanan yang efisien (Oktaviani, 2015). Memberikan fasilitas yang nyaman untuk pelanggan saat mengantri, melayani pelanggan dengan cepat sehingga pelanggan tidak dibiarkan mengantri terlalu lama (Oktaviani, 2015). Konsekuensi customer value C. Entertainment Mengacu pada desain lingkungan melalui komunikasi visual, pencahayaan warna, musik, dan bau untuk merangsang respon perseptual dan emosional pelanggan dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku pembelian, yang akan menimbulkan kesan menarik, membuat konsumen merasa nyaman dan membantu memperbaiki citra sebuah toko dalam persepsi pelanggan, yang tentunya akan mendorong keputusan pembelian (Levy dan Weitz 2001, dalam Anggraeni et al., 2016). Suasana toko yang menyenangkan, menarik, nyaman dan mampu menciptakan satu atmosphere yang secara positif dapat mempengaruhi perilaku konsumen, sehingga menimbulkan minat mereka memasuki toko dan kemudian melihat-lihat ke dalam serta akhirnya melakukan pembelian (Rusdan, 2015). Rancangan dan suatu desain lingkungan pembelian pada suatu toko melalui pemilihan dan pengaturan fasilitas fisik toko dan aktivitas barang dagangan. Sehingga menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan bagi konsumen untuk melakukan pembelian (Rahmadana, 2016). Konsekuensi customer value D. Aesthetics Kemampuan melihat dengan mata yang digambarkan dalam pikiran membentuk suatu gambaran fenomena keindahan dan image tentang produk/sesuatu yang dijual dari sebuah cara penataan barang (Wardhana et al., 2012). Logika konsumen yang meliputi cara berfikir dan perilaku konsumen yang mempengaruhi konsumen saat berbelanja (Wardhana et al., 2012). Pada dewasa ini ada kecenderungan berubahnya motif seseorang untuk berbelanja, dimana kegiatan berbelanja tidak hanya sebagai kegiatan fungsional untuk membeli barang-barang saja, tetapi juga kegiatan untuk mengisi waktu, rekreasi, hiburan (Wardhana et al., 2012). Menata barang atau dikenal dengan istilah display merupakan salah satu hal penting untuk menarik pelanggan pada toko dan kemudian dapat mendorong keinginan pelanggan yang datang ke toko untuk membeli suatu produk melalui daya tarik penglihatan pada suatu produk (Rahmadana, 2016). Toko harus menciptakan daya tarik penataan ruang dan penyusunan produk sehingga konsumen atau pelanggan merasa nyaman dalam berbelanja (Rahmadana, 2016). Merupakan suatu alat untuk mengomunikasikan produk suatu perusahaan kepada konsumen agar konsumen dapat mengamati, meneliti dan melakukan pilihan di mana hal ini dilakukan konsumen karena terdorong oleh daya tarik penglihatan atau pun rasa-rasa tertentu karena adanya peragaan atau penyusunan produk yang menarik memajangkan barang di dalam toko dan di etalase, mempunyai pengaruh besar terhadap penjualan (Rahmadana, 2016).
