Pengertian Preferensi Konsumen
Preferensi konsumen diartikan sebagai pilihan untuk memiliki
atau tidak oleh seseorang terhadap suatu produk barang atau jasa yang
dikonsumsi. Menurut Kotler (2002), preferensi konsumen menunjukkan
kesukaan konsumen dari berbagai pilihan produk yang ada. Teori
preferensi ini digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan dari
konsumen. Misalnya, seseorang ingin mengkonsumsi produk dengan
sumber daya terbatas maka ia harus memilih alternatif sehingga nilai
guna atau utilitas yang diperoleh menjadi optimal. Preferensi konsumen
berhubungan erat dengan permasalahan penetapan pilihan. Hubungan
preferensi ini diasumsikan memiliki tiga sifat dasar, yaitu :
a. Lengkap (Completeness): Konsumen dapat membandingkan dan
memperingkat (meranking) semua kemungkinan kombinasi
konsumsinya. Dari dua kombinasi A dan B misalnya, konsumen
mungkin lebih suka (prefer) A daripada B, atau B daripada A, atau
memiliki preferensi yang sama (indifferent) terhadap keduanya.
Dengan preferensi yang sama, dimaksudkan konsumen akan
memperoleh kepuasan yang sama dari kedua kombinasi tersebut.
Perhatikan bahwa preferensi mengabaikan biaya. Seorang
konsumen mungkin lebih suka steak daripada hamburger karena
lebih murah.
b. Transitip (Transitivity): Transitip berarti jika seorang konsumen
lebih menyukai A daripada B, dan B daripada C, maka ia juga akan
lebih suka A daripada C. Dengan kata lain, transitip menekankan
pada konsistensi konsumen.
c. Banyak lebih baik daripada sedikit: Barang diasumsikan selalu
dibutuhkan, sehingga konsumen selalu lebih menyukai banyak
barang daripada sedikit barang. Dengan kata lain, konsumen tidak
pernah terpuaskan; banyak selalu lebih baik, bahkan meski hanya
sedikit lebih baik.
