Pembangunan Pertanian (skripsi dan tesis)

Paradigma pembangunan pertanian berkelanjutan dapat menjadi solusi
alternatif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa mengabaikan
kelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan akan
makin optimal jika disinergikan dengan komitmen untuk membangun kemitraan
di antara pelaku agribisnis. Pembangunan berkelanjutan melalui kemitraan usaha
dapat menjamin terciptanya efisiensi dan pertumbuhan, keadilan dan pemerataan,
serta berwawasan lingkungan. Untuk mendukung upaya ini diperlukan
konsolidasi kelembagaan yang mantap, baik di tingkat petani, pihak swasta
maupun pemerintah (Septana dan Ashari, 2007).
Menurut Priyono (2010), dimensi ekonomi berkaitan dengan konsep
maksimalisasi aliran pendapatan yang dapat diperoleh dengan setidaknya
mempertahankan asset produktif yang menjadi basis dalam memperoleh
pendapatan tersebut. Indikator utama dimensi ekonomi ini ialah tingkat efisiensi,
dan daya saing, besaran dan pertumbuhan nilai tambah (termasuk laba), dan
stabilitas ekonomi. Dimensi ekonomi menekankan aspek pemenuhan kebutuhan
ekonomi (material) manusia baik untuk generasi sekarang maupun generasi
mendatang. Dimensi sosial adalah orientasi kerakyatan, berkaitan dengan
kebutuhan akan kesejahteraan sosial yang dicerminkan oleh kehidupan sosial
yang harmonis (termasuk tercegahnya konflik sosial), preservasi keragaman
budaya dan modal sosio-kebudayaan, termasuk perlindungan terhadap suku
minoritas. Untuk itu, pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan berusaha
dan pendapatan, partisipasi sosial politik dan stabilitas sosial-budaya merupakan
indikator-indikator penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
pembangunan.
Pengembangan agribisnis dalam perspektif pembangunan pertanian yang
berkelanjutan, perlu memperhatikan beberapa aspek penting berikut (Asriani,
2003) :
Pertama, aspek sumberdaya (resource endowment). Memperhatikan aspek
resource endowment adalah penting termasuk di dalamnya menjaga
kelestariannya, yang meliputi :
1. Meningkatkan produktivitas pertanian (productivity) dengan rekayasa teknis
atau sosial ekonomi.
2. Meningkatkan kestabilan produktivitas (stability)
3. Mempertahankan aspek kesinambungan (sustainability) dari pengusahaan
pertanian
4. Mempertahankan dan meningkatkan pemerataan (equitability).
Kedua, aspek teknologi (technological endowment). Produksi pertanian
tidak dapat meningkat bila pelaksananya tidak menguasai teknologi. Oleh karena
itu proses adopsi inovasi terhadap teknologi baru sangat penting, dan dalam hal
ini peranan penyuluh pertanian menjadi sangat strategis.
Ketiga, aspek kelembagaan (institutional endowment). Di dalam
mengembangkan konsep agribisnis, sebaiknya produsen atau juga petani mampu
untuk mengusahakan sendiri produksi pertaniannya, mengolah hasilnya dan
sekaligus memasarkannya pada kondisi harga yang menguntungkan. Keempat,
aspek yang berkaitan dengan kebudayaan (cultural endowment). Aspek ini sering
dilupakan orang dan oleh karenanya banyak analis yang mengasumsikan masalah
culture adalah konstan. Padahal justru aspek ini berkembang secara dinamis.
Menurut Notohaprawiro (2006) pertanian rakyat hendaknya dijadikan
sasaran inti karena sektor ini akan dapat menjadi piranti perangkai globalisasi
dengan demokratisasi ekonomi. Pertanian rakyat yang kuat juga mampu
menangkis krisis ekonomi. Untuk menyusun strategi baru yang andal menuju ke
intensifikasi berkelanjutan diperlukan pengenalan lengkap faktor-faktor yang
menentukan atau mempengaruhi kinerja pertanian rakyat dengan menggunakan
usahatani selaku satuan pantau. Faktor-faktor tersebut mencakup komponenkomponen lingkungan biofisik, sosial,ekonomi, budaya dan politik.