Mini theory determinasi diri (skripsi dan tesis)

 

Terdapat empat dasar komponen mini teori yang merupakan bagian determinasi diri dan terkoordinasi dengan semua domain jenis perilaku manusia dalam memenuhi basic needs. Berikut empat mini teori dari determinasi diri (Deci dan Ryan, 2002): 1. Cognitive evalution theory Cognitive evaluation theory adalah motivasi instrinsik yang terdapat dalam aktivitas determinasi diri. Dalam melakukan tindakan, individu dapat bertindak secara bebas, berkelanjutan dan mendapatkan pengalaman yang menarik dan menyenangkan. Terdapat 2 tipe motivasi didalamnya: a. motivasi ekstrinsik yang berasal dari luar diri individu. b. motivasi instrinsik yang berasal dari diri sendiri individu. Fokus utama dalam hal ini adalah penghargaan eksternal yang dapat merusak motivasi instrinsik. Penelitian yang sudah dilakukan, penghargaan dalam bentuk barang atau benda berwujud dapat merusak motivasi instrinsik seseorang, sedangkan penghargaan secara verbal cenderung meningkatkan motivasi instrinsik seseorang. Dua hal utama yang mempengaruhi proses kognitif dari motivasi intrinsik seseorang adalah a. Perceived causality, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kebebasan; ketika individu cenderung menggunakan lokus eksternal dan tidak diberikan pilihan, maka akan merusak motivasi instrinsik. Sedangkan ketika individu fokus terhadap lokus internal dan bertindak sesuai pilihannya, maka itu dapat meningkatkan motivasi intrinsiknya. b. Perceived competence, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kompetensi, dimana ketika seseorang meningkatkan kebutuhan akan kompetensi nya maka kompetensi seseorang itu akan dapat ditingkatkan, sedangkan ketika seseorang mengurangi kebutuhan akan kompetensi nya maka motivasi intrinsiknya pun akan berkurang. Dua konteks dari CET dapat bersifat kontrol dan informasional. Bila sebuah kejadian bersifat controlling, maka kejadian itu akan menekan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu, maka siswa akan merasa memiliki kontrol dan motivasi instrinsik mereka akan hilang. Bila di pihak lain, kejadian itu memberikan informasi yang meningkatkan sense of competence, maka motivasi instrinsik akan meningkat, tetapi sebaliknya bila informasi yang diberikan membuat siswa merasa kurang kompeten, maka kemungkinan besar motivasi akan menurun. Terdapat 2 hal penting di dalam konteks ini yaitu: 1. Positive feedback sebenarnya bersifat informational tetapi jika diberikan dalam tekanan, seperti “should do well” maka positive feedback menjadi bersifat mengontrol , sedangkan Ryan, Mims, Koester (dalam Deci & Ryan, 2002) mengatakan “meskipun penghargaan bersifat mengontrol, tetapi jika diberikan dengan tidak mengevaluasi, maka dapat mendukung kebebasan. 2. Tindakan yang berasal dari dalam diri dan tidak dipengaruhi dari faktor eksternal, itu akan membuat individu lebih mempunyai harga diri sehingga akan meningkatkan competence nya. Salah satu bagian dari cognitive evaluation theory yaitu relatedness yang merupakan keinginan untuk membangun pertalian emosional dengan orang lain. Bila guru dan orang tua bersikap responsive dan menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap kesejahteraan anak mereka, maka anak tersebut dapat menunjukkan motivasi instrinsik, begitu juga sebaliknya. 2. Organismic integration theory Untuk menangani berbagai perilaku yang termotivasi secara ekstrinsik. Deci & Ryan (2002) mengonsepkan motivasi, dimulai dari tidak termotivasi, motivasi ekstrinsik, lalu motivasi instrinsik. Mereka melabelkan jenis-jenis motivasi yang berbeda sebagai gaya pengaturan diri. Motivasi instrinsik menyangkut aktifitas yang bersifat autotelic, dimana aktifitas tersebut merupakan tujuan akhir dan kesenangan individu yang telah secara bebas memilih aktivitas tersebut. Motivasi ekstrinsik menyangkut empat jenis perilaku yang termotivasi, yang dimulai dari perilaku yang awalnya sepenuhnya termotivasi secara ekstrinsik, namun kemudian dihayati dan akhirnya merasakan determinasi diri. Pada saat yang bersamaan juga, tidak semua aktivitas atau perilaku termotivasi secara instrinsik. Di sekolah terdapat struktur, kontrol, dan juga penghargaan yang sifatnya ekstrinsik, yang mungkin tidak cocok dengan determinasi diri dan motivasi instrinsik, namun dapat membantu menghasilkan perilaku yang baik dan fungsi sosial yang diinginkan. Para motivator ekstrinsik kemudian menjadikannya sebagai bagian dari proses pengaturan diri dan mengembangkan sebuah subteori yang termasuk di dalam teori determinasi diri yang lebih besar, yang dilabelkan sebagai teori integrasi organisme. Dalam teori organisme ini mengonsepkan motivasi, yang dimulai dari yang tidak termotivasi, lalu motivasi ekstrinsik, kemudian motivasi instrinsik (determinasi diri) yang merupakan sebagai dari proses pengaturan diri. penjelasan mengenai empat proses pengaturan diri di dalam
organismic integration theory:
1. Pengaturan eksternal
Pengaturan eksternal adalah perilaku yang ditunjukkan hanya untuk
menghindari hukuman dan mendapatkan penghargaan. Ketika para murid
awalnya tidak ingin mengerjakan sebuah tugas yang diberikan, namun siswa
itu akan mengerjakannya untuk mendapatkan penghargan dan menghindari
hukuman. Para murid ini sangat bereaksi terhadap ancaman hukuman dan
penghargaan ekstrinsik, dan cenderung memenuhi perintah. Mereka tidak
termotivasi secara instrinsik, dan tidak menunjukkan minat yang tinggi,
namun mereka cenderung bertingkah laku dan berusaha untuk mengerjakan
tugasnya agar dapat memperoleh penghargaan eksternal dan juga menghindari
hukuman. Dalam hal ini, kontrol bersifat eksternal dan tidak ada determinasi
diri dalam diri siswa (dalam Schonk et al, 2002, hal 381). Pengaturan eksternal
merupakan teori sentral dari operant, dimana seseorang melakukan sesuatu
karena permintaan rewards dan untuk menghindari hukuman (Skinner &
deCharms dalam Deci & Ryan, 2002).
Eksternal Introjeksi Identifikasi Integrasi
2. Pengaturan introjeksi
Pengaturan introjeksi adalah perilaku yang ditunjukkan untuk
menyenangkan orang lain dan adanya keterpaksaan dalam melakukan suatu
aktifitas. Para murid mengerjakan sebuah tugas karena mereka merasa bahwa
harus melakukannya dan mungkin merasa bersalah apabila mereka tidak
melakukannya (misalnya: belajar untuk menghadapi ujian). Dalam pengaturan
introjeksi ini terdapat perasaan tepat, wajib, dan bersalah, sehingga tidak ada
determinasi diri dalam diri siswa. Dimana siswa ini hanya mengerjakan tugas
karena perasaan “harus” sesungguhnya bersifat internal bagi individu tersebut,
namun sumbernya agak eksternal, karena mereka mungkin mengerjakan tugas
untuk menyenangkan individu lain (orang tua, guru) (dalam Schonk et al,
2002, hal 381). Jika ego terlibat sebagai salah satu hasil, itu dapat
menghilangkan motivasi instrinik dan tujuan aktifitas mereka, sehingga dapat
mengindikasikan bahwa pengaturan introjeksi ini bersifat kontrol (Deci &
Ryan, 2002).
3. Pengaturan identifikasi
Pengaturan identifikasi adalah perilaku yang didasarkan pada
kepentingan personal. Para murid melakukan sebuah aktivitas atau
mengerjakan sebuah aktivitas karena aktivitas itu secara personal penting bagi
diri mereka. Sebagai contoh, seorang murid belajar berjam-jam untuk
mendapatkan nilai akademis yang bagus dan dapat mengikuti suatu tes agar
dapat diterima di perguruan tinggi. Perilaku ini menggambarkan tujuan murid
ini sendiri dan secara sadar dipilih oleh individu, sehingga lokus
kausalitasnnya lebih bersifat internal bagi murid ini, karena ia secara personal
merasa bahwa tujuan tersebut sangat penting bagi diri sendiri bukan hanya
penting bagi orang lain (orang tua, guru) (Wigfield & Eccles dalam Schonk et
al, 2002)
4. Pengaturan integrasi
Pengaturan intergrasi adalah perilaku yang menunjukkan bentuk paling
bebas dari motivasi ekstrinsik, dimana kebutuhan, nilai, dan tujuan didukung
dari diri sendiri. Individu mengintegrasikan berbagai sumber informasi baik
yang internal maupun eksternal ke dalam skema diri mereka sendiri, serta
menjalankan pemahaman tentang diri mereka sendiri. Pengaturan integrasi ini
merupakan suatu bentuk determinasi diri dan bersifat otonomi. Dengan
demikian, motivasi instrinsik dan pengaturan integrasi menyebabkan lebih
banyak keterlibatan kognitif dan pembelajaran dibandingkan dengan
pengaturan eksternal dan juga introjeksi (Ryan & Deci dalam Schonk et al,
2002)