Kepemilikan Manajerial (skripsi dan tesis)

Teori Keagenan (agency theory) memunculkan argumentasi terhadap adanya konflik Antara pemilik yaitu pemegang saham dengan para manajer. Konflik tersebut muncul sebagai akibat perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak. Menurut Gideon (2005) dalam Indahningrum dan Handayani (2009), pengertian kepemilikan manajerial adalah: Jumlah kepemlikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola. Sedangkan menurut Pithaloka (2009:20), menjelaskan bahwa: Kepemilikan manajerial menunjukan adanya peran ganda seorang manajer, yakni manajer bertindak juga sebagai pemegang saham. Sebagai seorang manajer sekaligus pemegang saham tidak ingin perusahaan dalam keadaan kesulitan bahkan mengalami kebangkrutan. Keadaan ini akan merugikan baik sebagai manajer atau sebagai pemegang saham. Sebagai manajer akan kehilangan insentif dan sebagai pemegang saham akan kehilangan return ataupun dana yang diinvestasikannya. Christiawan dan Josua (2007) dalam Tjeleni (2013), menyatakan bahwa: kepemilikan manajerial adalah situasi dimana memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham. Menurut Wahidahwati (2002:5) dalam Wahyu S A (2011), yang dimaksud dengan kepemilikan manajerial adalah: Tingkat kepemilikan saham pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengembilan keputusan perusahaan, misalkan direktur dan komisaris. Menurut Sofiana (2009) dalam Pithaloka (2009), peran struktur kepemilikan manajerial dapat dilihat dari dua sudut panadang, yaitu: Pendekatan keagenan (agency approach) dan pendekatan informasi asimetri atau ketidakseimbangan informasi (asymmetric information approach). Dimana pendekatan keagenan menganggap struktur kepemilikan manajerial sebagai sebuah instrumen atau alat untuk mengurangi konflik keagenan diantara berbagai klaim (claim holder) terhadap perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan meningkatkan kepemilikan manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan adanya peningkatan persentase kepemilikan akan mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham maka manajer termotivasi meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Sedangkan menurut pendekatan kedua, informasi asimetri menganggap setruktur kepemilikan manajerial sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal. Dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak insider, maka insider akan ikut memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan yang diambilnya, selain itu para manajer juga akan semakin hati-hati dalam menentukan hutang perusahaan karena mereka akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan yang mereka ambil serta akan menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Sehingga kebangkrutan perusahaan bukan lagi menjadi tanggung jawab pemilik utama. Berdasarkan beberapa definisi di atas menunjukan bahwa kepemilikan manajerial merupakan persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajemen perusahaan seperti direksi dan dewan komisaris maupun setiap pihak yang terlibat secara langsung dalam pembuatan keputusan perusahaan.