Faktor – Faktor yang meningkatkan Kemampuan Manajerial (skripsi dan tesis)

Menurut hasil pengamatan Drs.Supadi dalam jurnal Kemampuan
Manajerial Penting dalam Membentuk Team Kerja yang Produktif. Ada 10
faktor yang mempengaruhi kemampuan manajerial antara lain :
1. Pekerjaan yang menarik
Pemimpin hendaknya mampu meyakinkan bawahannya
pekerjaannya sangat menarik. Suatu pekerjaan dikatakan
menarik bila orang yang mengerjakannya senang dalam
melakukannya. Berawal dari rasa senang itu pula diharapkan
dapat meningkatkan mutu suatu hasil kerja. Juga tak kalah
pentingnya agar pimpinan bisa mengetahui jenis pekerjaan
yang cocok dan disenangi bawahannya.
2. Kesejahteraan yang memedahi
Pemimpin harus bisa membuktikan bahwa dia mampu
menentukan dan memberikan kesejahteraan yang wajar pada
bawahannya secara obyektif. Ini penting dalam membangkitkan
dan memelihara gairah kerja yang baik.
3. Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan
Pemimpin hendaknya mampu memberikan pengarahan atau
training yang memadai sebelum suatu pekerjaan dilakukan.
Dengan demikian bisa mengurangi rasa kuatir bila gagal dalam
melakukan pekerjaan itu, sehingga terlalu hati-hati. Karena
terlalu berhati-berhati akibatnya akan sama bila tidak berhati-
hati.
4. Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan
Pemimpin mampu membimbing bawahannya agar dapat
menghayati atas maksud dan makna pekerjaan. Dengan begitu
dia akan tahu kegunaan dari pekerjaannya. Bila dia telah tahu
betapa sangat pentingnya pekerjaan itu, maka dalam
mengerjakan pekerjaan itu, dia akan lebih meningkatkan
kinerjanya.
5. Suasana atau lingkungan kerja yang baik
Pimpinan wajib mengetahui cara agar membuat tempat kerja
tenang dan hubungan antar personal yang harmonis. Dari
lingkungan kerja yang baik itu diharapkan akan mampu
membawa pengaruh yang baik pula dari semua pihak baik dari
bawahan, atasan ataupun hasil pekerjaannya.
6. Promosi dan perkembangan diri mereka sejalan dengan
kompetensi dan kontribusi
Seorang bawahan akan merasa bangga bila team kerjanya
meraih kemajuan dalam kinerjanya. Lebih-lebih lagi bila
promosi dan perkembangan diri mereka dihargai secara fair
berdasarkan pada kompetensi dan kontribusinya. Dengan
kebanggaan itu pula dia akan selalu menjaga prestasi dan citra
team kerjanya.
7. Merasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan team kerja
Sense of belonging bawahan terhadap team kerjanya harus
senantiasa ditumbuh kembangkan melalui keterlibatan yang
aktif dan tulus. Dengan demikian bawahan akan merasa bahwa
dirinya benar-benar dibutuhkan dalam team kerjanya. Dengan
timbulnya kecintaan dalam dirinya terhadap team kerjanya,
maka ia akan selalu termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya.
8. Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi
Seorang pemimpin harus mampu menjalin hubungan emosional
dengan sikap dan batas perilakunya yang bijaksana terhadap
bawahan. Jika diperlukan dengan batas-batas tertentu dia akan
memperhatikan bawahannya sampai pada urusan pribadinya
tanpa mengesankan turut campur. Dengan demikian hubungan
kerja tidak terbatas pada pendekatan formal legalistik, namun
juga mempunyai pendekatan kekeluargaan atau dari hati kehati
antara pimpinan dan bawahannya.
9. Kesetiaan Pimpinan pada bawahan
Tidak hanya bawahan yang perlu memberikan loyalitas pada
pimpinan, namun penting juga sebaliknya. Loyalitas demikian
akan menjadi dasar rasa kepercayaan bawahan terhadap
pimpinannya, sehingga mau memberikan dukungan yang penuh
terhadap team kerjanya. Hal ini dapat juga mendatangkan
wibawa terhadap atasan. Apabila jika dia sanggup
menyampaikan realita secara arif dan bijaksana. Tidak
mengobral janji-janji kosong hanya untuk meningkatkan
kinerja sesaat yang berbuntut pada rasa kesal pada diri
bawahan. Hingga bawahan berpendapat dia bukan pimpinan
yang pantas dipercaya dan didukungnya
10. Disiplin kerja
Penerapan disiplin kerja dengan pendekatan legalitas formal
hendaknya diminimasi sekecil mungkim. Pimpinan yang hanya
berbicara tentang sangsi atau hukuman dalam membenahi
bawahannya hanya akan memberikan indikasi ketidakmampuan
memimpin. Hal demikian juga tidak selalu efektif. Adalah
sudah menjadi sifat manusia yang biasanya ber ego tinggi,
sehingga pendekatan diatas akan sering menstimulasi bawahan
untuk bersikap defensive dan boleh jadi akan membalas
tindakan itu dengan diam-diam menurunkan kinerjanya dalam
team dengan mengurangi keterlibatan dan dukungan terhadap
tim kerjanya.