Investasi dan Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Investasi merupakan kegiatan di mana orang menginvestasikan uang
untuk tujuan mendapatkan tambahan uang di masa depan (Ullah et al,
2017). Kegiatan investasi bertujuan untuk memperoleh tingkat
pengembalian atau pendapatan dimasa mendatang (Puspitaningtyas dan
Kurniawan, 2012). Untuk memperoleh penghasilan dalam bentuk dividen
dan nilainya diharapkan meningkat dimasa mendatang investor dapat
melakukan pembelian saham yang merupakan salah satu kegiatan investasi.
Capital gain dan dividen yield merupakan tingkat pengembalian investasi
pada saham. Tingkat pengembalian ini menjadi indikator untuk
meningkatkan kesejahteraan bagi para investor. Investor mengharapkan
investasi yang dilakukan dapat memperoleh tingkat pengembalian sebesar-
besarnya dengan tingkat risiko tertentu dari waktu ke waktu
(Puspitaningtyas, 2012). Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan

investor berkepentingan untuk mempertimbangkan segala informasi yang
diterima.
Seperti telah disebutkan, keuntungan (return) yang diperoleh dari
kegiatan investasi pada umumnya berupa capital gain dan dividend.
Dividend yang diperoleh ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba. Sedangkan, capital gain dipengaruhi oleh fluktuasi harga
saham. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dipengaruhi oleh
faktor mikro dan makro yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap
fluktuasi harga saham, serta akan memunculkan risiko investasi (Rahadjeng,
2011).
Keputusan investasi yang optimal hanya dapat dicapai apabila
investor mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah
keputusan yang sesuai dengan pengaruh peristiwa terhadap nilai perusahaan.
Pengambilan keputusan heuristik merupakan aturan efisien yang diikuti oleh
orang-orang untuk membentuk penilaian dan membuat keputusan yang
biasanya melibatkan dan berfokus pada satu aspek dari masalah yang
kompleks dan mengabaikan aspek lainnya. Aturan-aturan ini bekerja dengan
baik dalam berbagai situasi, tetapi mungkin berbeda dari logika umum,
probabilitas atau teori pilihan rasional. Pada kenyataannya, investor
mengumpulkan informasi yang relevan dan rasional untuk dievaluasi, di
mana faktor-faktor mental dan emosional yang terlibat sulit untuk
dipisahkan. Faktor-faktor ini termasuk overconfidence, representativeness,
anchoring, herd behavior dan hindsight bias 

Berdasarkan teori keputusan heuristik, proses pengambilan keputusan
investor akan dipengaruhi oleh lima bias yang berbeda berdasarkan pada
ketidakpastian dan risiko (Virigineni dan Rao, 2017) yaitu:
1. Overconfidencemenunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki
(Virigineni dan Rao, 2017).Bias ini dapat berakibat investor
meremehkan risiko yang diambil karena terlalu yakin akan
memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar.
2. Representativeness menggambarkan suatu kesuksesan atas keputusan
yang di buat manajer cenderung akan berlanjut di masa depan juga.
Kecenderungan manajer dalam membuat keputusanberdasarkan
pengalaman masa lalu dikenal sebagai stereotip/perwakilan
(Kannadhasan, 2009).
3. Anchoringterjadi ketika menggunakan sedikit data pengantar untuk
membuat penilaian yang dihasilkan. Pada situasi yang sama, penilaian
yang berbeda dibuat dan menyesuaikan pada anchor, dan ada
kecenderungan ke arah mengartikan data lain di sekitar anchor. Dalam
prediksi numerik, ketika sebuah nilai yang relevan tersedia, orang
membuat perkiraan mulai dari nilai awal yang disesuaikan untuk
menghasilkan jawaban akhir (Rekik dan Boujelbene 2014).
4. Herd behaviordisebabkan oleh kecenderungan individu yang menyalin
tindakan dari kelompok besar terlepas dari apakah mereka akan
membuat keputusan individual (Virigineni dan Rao, 2017). Tidak

adanya perbedaan dalam pembuatan pilihan, investor mengikuti pilihan
yang berbeda tanpa membuat masalah besar tentang konsekuensi dari
pemeriksaan khusus dan dasar spesialis di lapangan. Herd dapat
dianggap sebagai kecenderungan berlawanan dengan overconfidence
mengenai efisiensi informasi.
5. Hindsight biasdapat mengganggu kemampuan untuk membandingkan
informasi baru dengan harapan sebelumnya, sehingga akan
membingungkan harapan individu sebelumnya dengan informasi baru.
Karena hindsight bias, investor mungkin menderita overconfidence
sehingga merasa sebagai peramal yang lebih baik daripada yang
sebenarnya (Virigineni dan Rao, 2017).
Terdapat 2 klasifikasi investor pada saham yaitu (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Investor Individu
Investor individu merupakan investor yang memiliki jumlah saham
yang relatif kecil sehingga dapat memenuhi tujuan investasi pribadi.
2. Investor Institusional
Investor institusional merupakan investasi profesional seperti bank,
perusahaan asuransi, reksadana dan dana pensiun yang dibayar untuk
mengelola dan menyimpan surat berharga dalam jumlah besar atas
nama orang lain.
Terdapat 3 kelompok individu yang memiliki kepentingan
langsung/tidak langsung terhadap behaviral finance (Ricciardi dan Simon,
2000) :

1. Individual, yang terdiri dari small investor dan portfolio manager
2. Group, yang terdiri dari investor reksadana (portfolio)
3. Organization, misalnya financial institution dan non-profit entity
(Universitas)