Welvin (2010) menyatakan “manajemen laba merupakan tindakan yang dapat mempengaruhi angka laba yang dilaporkan”. Manajemen laba adalah aktifitas manajemen dalam perusahaan dalam mempengauhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenai keuangan perusahaan namun laporan tersebut tidak sesuai dengan kondisi perusahaan. Aset =utang+ekuitas Sulistyanto (2014 : 33) menyatakan ada tujuh permainan manajerial : a. Mencatat pendapatan terlalu cepat. b. Mencatat pendapatan palsu. c. Mengakui pendapatan lebih cepat satu periode. d. Mengakui biaya periode berjalan menjadi biaya periode sebelum atau sesudahnya. e. Tidak mengungkapkan semua kewajibanya. f. Mengakui pendapatan periode berjalan menjadi pendapatan periode sebelumnya. g. Mengakui pendapatan masa depan menjadi pendapatan periode berjalan. Banyak pandangan tentang manajemen laba, pandangan antara paraktisis dan akademisi yang mendasar dalam memahami manajemen laba. Manajemen laba dianggap sebagai rekayasa dalam sumber informasi yang sangat berdampak negatif dan sangat merugukan, apalagi secara empiris telah terbukti bahwa manajemen laba merupakan salah satunya kehancuran dalam tatanan perekonomian etika dan moral suatu bangsa, manajemen laba juga membuat kesulitan suatu perusahaan dan juga secara makro manajemenn laba juga membuat semua pihak merasa dirugikan. Aktifitas rekayasa manajer tentunya mempengaruhi besar kecilnya laba yang di informasikan oleh perusahaan dalam pelaporan keuangan. Namun para akademisi memandang manajemen laba bukanlah suatu kecurangan, sebab rekayasa manajemen laba adalah sebagian dari dampak spektrum prinsip akuntansi yang berterima umum dan luas. Beragam metode dan prosedur dalam akuntansi yang bebas di gunakan perusahaan sesuai dengan keinginannya. Selain itu perusahaan di perbolehkan mengganti metode atau prosedur yang slama ini digunakan dengan akuntansi yang lain, bahkan akuntansi juga mengijinkan menyajikan ulang (restatement) laporan keuangan periode lalu. Dalam artian laporan keuangan dapat di tarik kembali untuk digantikan dengn laporan keuangan yang baru dan metodde dan prinsip yang digunakan berbeda dengan yang di pakai sebelumnya. Oleh sebeb itu dapat dikatakan bahwa pemahaman yang berbeda terhadapa manajemen laba dikarenakan perbedaan sudut pandang. Sulistyanto (2014:4) menyatakan bahwa sampai saat ini masih ada kontroversi dalam memandang dan memahami manajemen laba. Secara umum kontroversi ini terjadi antara praktisi dan akademisi yang pada dasarnya apakah manjemen laba dapat dikategorikan sebagai kecurangan (fraud) atau tidak. Adapun alasan mendasar dalam melakukan manajer melakukan manajemen laba: 1. Manjemen laba dapat meningkatkan kepercayan pemegang saham terhadap amanejemen.hal ni juga karena tingkat keuntungan atau laba yang dikaitkan dengan prestasi manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer. 2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang terancam tidak dapat memenuhi pembayaran utang pada waktunya, perusahaan dapat menghindarinya denagn membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. 3. Manajemen laba dapat menarik infestor untuk menanamkan modalnya.
