Pengertian Psychological Capital (skripsi dan tesis)

Psychological capital atau modal psikologis secara singkat telah
disebutkan dalam berbagai karya tentang ekonomi, investasi, dan
sosiologi, namun istilah PsyCap dalam bidang psikologi positif cenderung
baru (Luthans, Luthans, & Luthans, 2004).
Hal ini dimulai beberapa tahun yang lalu ketika psikolog Martin
Seligman melakukan penelitian yang menantang lapangan untuk
mengubah dari keasyikan dengan apa yang salah dan disfungsional pada
orang-orang, dengan apa yang benar dan baik tentang mereka. Secara
khusus, berfokus pada kekuatan daripada kelemahan, kesehatan dan
vitalitas, bukan penyakit dan patologi. Dalam buku terbarunya yang
berjudul Authentic Happiness, Seligman (2002) pertama mengajukan
pertanyaan “apakah ada modal psikologis?”, “dan jika demikian, apa
itu?”, “dan bagaimana kita mendapatkannya?”. Melalui pertanyaan
tersebut dia menunjukkan bahwa “ketika kita terlibat (hanyut dalam
aliran), mungkin kita berinvestasi, membangun modal psikologi untuk
masa depan kita” (Luthans, Luthans, & Luthans, 2004).
Psychological capital berbeda halnya dengan modal ekonomi
tradisional (traditional economic capital), modal manusia (human
capital), dan modal sosial (social capital). Modal ekonomi tradisional
mencakup keuangan dan aset berwujud. Modal manusia mencakup
pengalaman, pendidikan, keterampilan, pengetahuan, dan ide-ide. Modal
sosial menekankan hubungan, jaringan kontak, dan pertemanan.
Sedangkan Modal psikologis (Psychological capital) yang positif
menekankan pada kepercayaan, harapan, optimisme, dan ketahanan
(Luthans, Luthans, & Luthans, 2004).
Psychological capital atau Modal psikologis ini menyangkut tentang
‘siapa Anda’, dan lebih penting lagi, ‘siapa Anda menjadi’. Modal
psikologis didefinisikan di sini sebagai “keadaan psikologis yang positif
pada diri individu yang ditandai dengan: 1) memiliki kepercayaan (selfefficacy) untuk mengambil dan meletakkan upaya yang diperlukan untuk
sukses dalam tugas yang menantang; 2) membuat atribusi positif
(optimisme) tentang sukses sekarang dan di masa depan; 3) tekun
menggapai tujuan dan bila perlu, mengarahkan jalan agar tujuan (harapan)
berhasil; dan 4) ketika dilanda masalah dan kesulitan, mempertahankan
dan melenting kembali untuk mencapai keberhasilan” (Luthans, dkk,
2007).