Faktor Empati (skripsi dan tesis)

Hoffman (dalam D. Goleman, 2007) mengemukakan bahwa, faktor-faktor
yang mempengaruhi empati adalah sebagai berikut:
a. Sosialisasi
Sosialisasi dapat mempengaruhi empati melalui permainan-permainan
yang memberikan peluang kepada anak untuk mengalami sejumlah emosi,
membantu untuk lebih berpikir dan memberikan perhatian kepada oraang
lain, serta lebih terbuka terhadap kebutuhan orang lain sehingga akan
meningkatkan kemampuan berempatinya.
b. Mood dan feeling
Apabila seseorang dalam situasi perasaan yang baik, maka dalam
berinteraksi dan menghadapi orang lain akan lebih baik dalam menerima
keadaan orang lain.
c. Proses belajar dan identifikasi
Dalam proses belajar, seorang anak membutuhkan respon-respon khas,
dari situasi yang khas, disesuaikan dengan peraturan yang dibuat oleh
orang tua atau penguasa lainnya. Apa yang telah dipelajari pada situasi
tertentu, diharapkan dapat pula diterapkan olehnya pada waktu yang lebih
luas di kemudian hari.
d. Situasi atau tempat
Pada situasi tertentu seseorang dapat berempati lebih baik dibandingkan
dengan situasi yang lain. Hal ini disebabkan situasi dan tempat yang
berbeda dapat memberikan suasana yang berbeda pula. Suasana yang
berbeda inilah yang dapat meninggi-rendahkan empati seseorang.
e. Komunikasi dan bahasa
Komunikasi dan bahasa sangat mempengaruhi seseorang dalam
mengungkapkan dan menerima empati. Ini terbukti dalam penyampaian
atau penerimaan bahasa yang disampaikan dan diterima olehnya. Bahasa
yang baik akan memunculkan empati yang baik. Sedangkan komukasi dan
bahasa yang buruk akan menyebabkan lahirnya empati yang buruk.
f. Pengasuhan
Lingkungan yang berempati dari suatu keluarga sangat membantu anak
dalam menumbuhkan empati dalam dirinya. Seorang anak yang
dibesarkan dalam lingkungan yang broken home atau dibesarkan dalam
kehidupan rumah yang penuh cacian dan makian dan persoalan dapat
dipastikan akan menumbuhkan empati buruk pula dalam diri si anak.
Sebaliknya, pengasuhan dalam suasana rumah yang baik akan
menyebabkan empati anak tumbuh dengan baik pula.
Menurut Siwi (1992) (dalam Taufiq, 2012) beberapa faktor yang
mempengaruhi empati, yaitu:
a. Pola asuh
Perkembangan empati lebih banyak terjadi pada lingkungan keluarga yang
memberikan kepuasan pada kebutuhan emosional anak dan tidak terlalu
mementingkan kepentingan sendiri, mendorong anak untuk mengalami
dan mengekspresikan emosi-emosinya dan memberikan kesempatan
kepada anak untuk mengobservasi dan berinteraksi dengan orang lain
sehingga mendorong kepekaan dan kemampuan emosinya.
b. Kepribadian
Faktor kepribadian berpengaruh terhadap tingkat empati seseorang.
Pribadi yang tenang dan sering berintrospeksi diri dipastikan akan
memiliki kepekaan yang tinggi ketika berbagi dengan orang lain.
Kepekaan ini yang kemudian menumbuhkan empatinya terhadap orang
lain.
c. Usia
Tingkat empati seseorang yang semakin meningkat dengan bertambahnya
usia, karena kemampuan pemahaman perspektif juga meningkat
bersamaan dengan usia. Ketika usia bertambah, pengalaman hidup pun
bertambah. Pengalaman hidup ini pula yang akan menumbuhkan empati
individu terhadap orang lain dan lingkungannya.
d. Derajat kematangan
Empati banyak dipengaruhi oleh derajat kematangan seseorang. Derajat
kematangan adalah besarnya kemampuan dalam memandang suatu hal
secara proporsional.
e. Sosialisasi
Sosialisasi yang dilakukan seseorang sangat berpengaruh terhadap tingkat
empatinya. Dengan bersosialisasi, disadari atau tidak akan mengetahui apa
yang sedang dirasakan orang lain. Pengetahuannya terhadap perasaan atau
pikiran orang lain akan menumbuhkan rasa empati secara langsung, meski
ukuran tinggi rendah empatinya tidak bisa diindra.
f. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan salah satu penentu kemampuan empati
seseorang. Empati perempuan dengan laki-laki jelas berbeda, begitu pun
sebaliknya. Meskipun perbedaannya tetap tak terlalu jauh.
Faktor yang mempengaruhi empati adalah sosialisasi, mood, proses belajar,
situasi, komunikasi, pengasuhan, pola asuh, kepribadian, usia, derajat kematangan,
jenis kelamin.