Dimensi keputusan investasi (skripsi dan tesis)

Pengukuran keputusan investasi dalam studi terdahulu seperti Smith dan
Watts (1992); Gaver dan Gaver (1995); Kallapur dan Trombley (1999) membuat
empat klasifikasi, yaitu:
1) Berhasis harga (price based proxies)
Proksi ini berdasarkan perbedaan antara aset dan nilai perusahaan. Proksi
ini sangat tergantung pada harga saham sebagai manifestasi dari nilai
perusahaan. Perusahaan yang tumbuh akan memiliki harga saham relatif
yang lebih tinggi dibandingkan dengan asset yang dimiliki. Proksi berbasis
harga tercermin dari tingginya rasio yang berhubungan dengan harga
saham dan asset yang dimiliki. Semakin tinggi harga saham berarti akan
semakin tinggi dan akan semakin rendah asset yang dimiliki perusahaan.
Proksi berbasis harga adalah: Market value of equity plus book value of
debt, Ratio of book to market value of asset, Ratio of book to market value
of equity, Ratio of book value of property, plant, and equipment to firm
value, Ratio of replacement value of assets to market value, Ratio of
depreciation expense to value dan Earning Price ratio.
2) Berbasis investasi (investment based proxies)
Proksi ini berdasarkan pada tingkat aktivitas investasi terhadap hasil
operasi perusahaan. Semakin tinggi tingkat aktivitas investasi
mencerminkan semakin luasnya kesempatan investasi dan semakin
meningkat hasil operasi perusahaan. Hasil operasi perusahaan tampak
pada kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba usaha dalam suatu
periode tertentu. Laba usaha yang tinggi mencerminkan kemampuan yang
dihasilkan dengan sejumlah assets yang dimiliki. Proksi berbasis investasi
terdiri dari: Ratio R&D expense to firm value, Ratio of R&D expense to
total assets, Ratio of R&D expense to sales, Ratio of capital addition to
firm value, dan Ratio of capital addition to asset book value.
3) Berbasis varian (variance measure)
Proksi berbasis varian mendasarkan pada ide pilihan akan menjadi lebih
bernilai sebagai variabilitas dari return dengan dasar pada peningkatan
asset. Untuk proksi varians beberapa peneliti keuangan menggunakan total
return atau ada juga yang mengukur dengan market model beta. Varian
total return pada perhitungannya mendasarkan pada perkembangan harga
saham yang dihitung berdasarkan tahun dasar.
4) Berbasis ukuran-ukuran gabungan (composite measures)
Proksi ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalkan measurement
error yang ada pada proksi dengan rasio individual. Berbagai alternatif
proksi gabungan dapat dilakukan dengan cara:
a) Analisis sensitivitas
Analisis ini dilakukan dengan cara mensubstitusikan setiap proksi satu
per satu ke dalam model untuk mendapatkan satu proksi terbaik.
b) Common Factor Analysis (CFA)
CFA digunakan untuk memperoleh factor score sebagai indeks umum
untuk pengukuran keputusan investasi.
c) Structural Equation Model (SEM)
SEM dilakukan dengan mengkombinasikan proksi individual pada
masing-masing klasifikasi karena besaran keputusan investasi tidak
dapat diobservasi secara langsung (laten). Variabel-variabel terukur
dari proksi ini digabung menjadi satu variabel laten menggunakan
SEM dengan pendekatan CFA akan diperoleh proksi dominan yang
menjadi manifestasi dari variabel laten keputusan investasi.
Kahneman dan Tversky (1979) menjelaskan bahwa saat menentukan
keputusan, investor tidak bersikap rasional. Rationality bias pada keputusan
investasi disebabkan oleh perilaku investor yang lebih banyak terfokus kepada
strategi mendapatkan keuntungan atau menderita kerugian dibandingkan dengan
upaya mewujudkan kualitas produk properti. Sikap prilaku menyimpang dari pola
prilaku investor normatif di sektor properti mencakup, antara lain sebagai berikut.
1) Odean (1999) yang menyatakan adanya keputusan investasi yang
overconfidence, yaitu dimana keputusan investasi yang cenderung menunda
penjualan produk dengan operasional pembiayaan yang relatif tinggi dalam
mempertahankan asset (Barber dan Odean, 2000). Over confidence adalah
sikap yang cendrung untuk terlalu yakin atas kemampuan dan prediksi yang
berhasil. Contohnya seorang investor yang belum berpengalaman bisa saja
dapat menjual propertinya dengan harga tinggi, sehingga dia percaya diri
untuk mencari properti lain dan membelinya denga harga mahal atau
kehilangan kesempatan investai yang lebih bagus (Beracha dan Skiba, 2014
dalam Gozalie dan Anastasia, 2015). Tapia dan Yermo (2007) menyampaikan
hal yang sama. Perilaku investor dengan ekspektasi pasar yang
menguntungkan di masa datang, dengan mempergunakan basis data di masa
lalu, sehingga berusaha mendapatkan proyeksi laba di masa depan dengan
pembiayaan suku bunga perbankan relatif tinggi.
2) Frazzini, (2006) menyatakan keputusan investasi cenderung bias disposition
effect (Barberis dan Xiong, 2009), dimana terdapat kecenderungan investor
dalam bersikap untuk menggeser kerugian dalam mendapatkan strategi laba,
dengan menjual asset yang memiliki nilai pasar tinggi dan mempertahankan
asset yang diperkirakan tidak memiliki nilai pasar, merupakan keyakinan yang
salah, dimana sesuatu yang terjadi lebih sering dalam beberapa periode
biasanya akan lebih jarang terjadi dimasa depan atau sebaliknya (Kudryavtsev,
et al., 2013).
3) Lee et al., (2004) menyatakan adanya tipe perilaku herding bias, dimana
investor cenderung bersikap tidak rasional, dimana proses pengambilan
keputusan berdasarkan pertimbangan untuk membeli asset berdasarkan
emosional agar menjadi pengusaha terpandang, dengan risiko biaya dan
perhitungan proyeksi laba yang tidak rasional. Grinblatt et al. (1995)
pandangan yang serupa juga disampaikan oleh Wermers (1999). Herding
adalah prilaku yang cenderung meniru orang lain daripada mengikuti
keyakinannya atau informasi yang dimiliki (Hirshleifer dan Teoh, 2003).
Perilaku investor ini cenderung mengikuti keputusan investasi yang dilakukan
oleh mayoritas. Herding termasuk perilaku yang tidak independent.
4) Coval and Moskowitz (1999), menyatakan adanya sikap prilaku home bias,
yaitu sikap investor yang cenderung menjual asset yang memiliki nilai pasar
internasional dengan mempertahankan asset yang hanya memiliki pasar
domestik. Pola prilaku bias yang akan menghambat peluang laba di masa
depan (Ahearne et al., 2004). Tversky and Kahneman (1997) menyebutkan
fenomena ini sebagai Availabilty bias yaitu cenderung berhubungan dengan
ketersediaan informasi yang dimiliki. Salah satu contoh availability bias yaitu
investor lebih memilih berinvestasi properti didalam negeri karena investor
lebih memiliki informasi di dalam negeri dibandingkan informasi diluar
negeri.
Berdasarkan uraian hasil penelitian terdahulu tentang keputusan investasi
maka indikator variabel penelitian ini merujuk kepada apa yang dikemukakan
oleh Odean (1999), Frazzini (2006), Lee et al. (2004), Coval dan Moskowitz
(1999) yaitu: (1) perilaku overconfidence; (2) perilaku disposition effect; (3)
perilaku herding bias; (4) perilaku home bias.