Fraud Triangle (skripsi dan tesis)

Cressey (1953) menemukan ada 3 (tiga) elemen yang dapat mendorong seseorang melakukan kecurangan, yaitu tekanan yang dirasakan (pressure), peluang atau kesempatan yang dimiliki (opportunity) dan pembenaran atas tindakannya (rationalization). Ketiga faktor ini dikenal sebagai Fraud Triangle atau segitiga kecurangan, yang ditunjukkan pada Gambar 2.1. Model Fraud Triangle dapat menjelaskan kenapa seseorang melakukan fraud (Free dan Murphy, 2014; Morales et. al., 2014; Murphy, 2012; Murphy dan Dacin, 2011) Semakin besar peluang yang dimiliki atau semakin kuat tekanan yang dirasakan, maka semakin sedikit rasionalisasi yang dibutuhkan untuk memotivasi seseorang melakukan kecurangan. Sebaliknya, semakin tidak jujur seorang pelaku, semakin sedikit kesempatan atau tekanan yang diperlukan untuk melakukan kecurangan (Zimbelman, 2014). Peluang adalah elemen penting bagi seorang fraudster. Fraudster sangat berkeinginan melakukan kecurangan, namun tanpa peluang hal tersebut sulit Kecurangan Tekanan Rasionalisasi Gambar 2.1 Segitiga Kecurangan Peluang diwujudkan. Cressey (1953) menyatakan ada 2 (dua) elemen mendasar dari peluang untuk melakukan kecurangan. Pertama adalah general information yang dimiliki setiap pegawai. Setiap orang dalam organisasi memiliki pengetahuan atas organisasi tempatnya bekerja, sehingga mampu untuk mengambil keuntungan atas jabatannya dalam organisasi. Elemen yang kedua adalah technical skill, yaitu keterampilan dan kemampuan teknis seseorang yang dapat memperbesar peluangnya melakukan kecurangan. Pegawai dengan keterampilan dan kemampuan di bidang akuntansi berpeluang lebih besar untuk melakukan kecurangan dan menyembunyikannya dibanding orang dengan kemampuan non-akuntansi. Tekanan adalah elemen kedua dari segitiga kecurangan. Tekanan yang dimaksud Cressey (1953) lebih spesifik kepada tekanan keuangan. Gaya hidup mewah dan upaya meningkatkan status di masyarakat dapat memotivasi seseorang melakukan kecurangan. Tekanan keuangan biasanya terkait langsung dengan pelaku, seperti sifat serakah, gaya hidup mewah, tagihan dan utang yang tinggi, kerugian keuangan pribadi serta kebutuhan keuangan yang tak terduga (Zimbelman, 2014). Rasionalisasi adalah elemen ketiga dari segitiga kecurangan. Cohen et al. (2010) menyatakan rasionalisasi terkait dengan attitude, yaitu bagaimana seorang fraudster menyikapi perbuatannya. Rasionalisasi terkait dengan perilaku, karakter, atau seperangkat nilai etis yang mengijinkan pegawai untuk melakukan tindakan tidak jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang membenarkan tindakan tidak jujur tersebut (Jusup, 2014). Pelaku kecurangan berusaha mencari pembenaran untuk menjustifikasi bahwa kecurangan yang dilakukannya adalah benar (Cressey, 1953). Beberapa contoh rasionalisasi seperti fraudster yang meyakinkan dirinya bahwa tindakannya tidak akan merugikan orang lain; tidak apa-apa mencuri untuk kebaikan; organisasi tidak menggaji saya dengan pantas; atau saya hanya meminjam dan nanti akan saya kembalikan