Personal Branding Selebgram (skripsi dan tesis)

Selebgram atau selebriti Instagram pada saat ini menjadi sebuah fenomena bisnis yang sangat menjanjikan. Ketika diri sendiri dapat menjadi sebuah komoditi dan mendatangkan banyak keuntungan. Bukan hanya keuntungan dari segi materi saja, tetapi juga non materil seperti ketenaran, popularitas, citra diri, status sosial, dan sebagainya. Tetapi, menjadi selebgram tidak serta merta dilakukan dengan cara yang mudah. Hal tersebut terlihat bahwa dari 800 juta orang pengguna Instagram, tidak semuanya bisa menjadi selebgram yang ditandai dengan memiliki minimal 20 ribu orang pengikut di akun Instagram miliknya. Penyebabnya adalah terletak pada personal branding yang dibangun oleh para selebgram.
Dalam tulisan Hubert K. Rampersad yang berjudul “A New Blueprint for Powerful and Authentic Personal Branding” dikatakan bahwa setiap orang memiliki brand, namun sebagian besar orang tidak menyadarinya dan tidak mengelolanya secara strategis, konsisten, dan efektif. Setiap orang harus mengambil alih kendali atas brand dan pesan-pesan yang disampaikan, karena hal tersebut mempengaruhi bagaimana orang lain memandangnya. Berbeda dengan pengguna Instagram non selebgram, para selebgram secara langsung maupun tidak langsung menyadari hal tersebut. Mereka menyadari potensi diri yang mereka miliki, kemudian mengaktualisasikannya melalui Instagram kemudian melakukan branding terhadap dirinya. Oleh karena itu mereka memiliki sesuatu yang unik dan menarik yang dapat memikat pengguna Instagram lainnya untuk menjadi pengikut akun Instagram mereka.
Personal Branding adalah proses dimana individu dipandang sebagai sebuah brand oleh sasaran pasarnya, dengan tujuan untuk menarik lebih banyak klien dengan secara aktif membentuk persepsi publik. Dapat dikatakan bahwa manusia bisa mengendalikan cara bagaimana manusia itu sendiri dipersepsikan oleh target market yang ia tentukan (Rampersad, 2009). Menurut Timothy O‟Brien dalam (Haroen,2014:13) personal branding adalah identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan menurut Thomas Gad, personal branding adalah cara yang menyenangkan dan sistematis sebagai upaya untuk menjadikan diri semakin jelas dan semakin pasti sebagai seseorang, tidak hanya berdasarkan orang lain, tetapi juga menurut pemikiran diri sendiri. Dengan kata lain, Personal Branding adalah suatu proses membentuk persepsi positif pada masyarakat terhadap aspek-aspek yang dimiliki oleh seseorang , seperti kepribadian, kemampuan, nilai-nilai dan sebagainya yang pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alat pemasaran diri untuk meningkatkan potensi dan karir yang dimiliki.
Dalam membangun sebuah personal branding, maka seseorang akan dihadapkan dengan real reality dan perceived reality. Menurut Immanuel Kant, mengklaim bahwa di dunia ini hanya terdapat personally perceived reality. Dimana yang dianggap sebagai realitas adalah apa yang dirasakan dan diterima oleh masing-masing individu. Segala hal yang kita lihat, dengar, rasakan, dan cium, dan sebagainya, itulah realitas versi kita. Oleh karena itu, bagaimanapun kita berusaha untuk bersikap terhadap orang lain, terkadang orang lain akan mengartikan hal tersebut secara berbeda dengan apa yang kita maksud. Karena mereka menginterpretasikan berdasarkan dirinya sendiri, berdasarkan pengalaman yang telah ia peroleh. Dengan demikian, masing-masing individu dalam membangun personal branding, haruslah merasa aware dengan hal tersebut. Tidak masalah jika menjadi diri sendiri, melakukan apapun yang kita mau dan kita inginkan, tetapi ingat, bahwa setiap orang memiliki perceived reality masing-masing (Gad dan Rosencreutz, 2002).
Menurut Thomas dan Anette (2002), yang terpenting dari membangun sebuah personal branding adalah bagaimana kita bisa menciptakan sebuah diferensiasi. Dalam menciptakan sebuah diferensiasi, maka dibutuhkan sebuah Brand Me Code. Jika DNA membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya dari segi fisik, maka Brand Me Code membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya dari segi personality. Dalam hal tersebut, bagaimana seseorang ingin dirasakan secara berbeda oleh orang lain. Oleh karena itu, Thomas dan Anette menjelaskan bahwa, untuk membangun personal brand yang kuat, diperlukan dua cara, yaitu diferentiation dan dramatization. Dalam melakukan diferensiasi memang sangatlah sulit, karena hal tersebut merupakan kombinasi dari beberapa kemampuan-kemampuan yang kita miliki yang dilakukan secara halus. Sedangkan dramatization bagaimana seseorang berusaha untuk memperbesar perbedaan-perbedaan kecil yang ia miliki sampai pada tahap hal tersebut dirasa cukup penting untuk membuat sebuah kesan di benak orang lain.
Dramatiasasi haruslah dilakukan jika seseorang tidak memiliki diferensisi atau keunikan yang „besar‟ dibandingkan dengan yang lainnya. Misal, pesulap Uri
Geller yang memiliki kekuatan magis dapat membengkokkan sendok tanpa perlu disentuh, ia tidak perlu melakukan dramatisasi, karena ia memiliki sebuah diferensiasi yang „besar‟ yang secara otomatis dapat menarik perhatian dan kesan orang lain. Karena kebanyakan orang tidak memiliki hal yang demikian, maka haruslah melakukan banyak dramatisasi agar personal brand yang dibangun kuat. Namun, yang menjadi kendala adalah, pada saat ini orang-orang sangat sulit untuk melakukan dramatisasi, membuat perbedaan-perbedaan kecil yang ia miliki menjadi sebuah keunikan yang besar. Kebanyakan orang cenderung merasa malu ketika harus melebih-lebihkan dirinya sendiri. Mendengar diri sendiri mengulangi hal yang sama, mendramatisir cerita tentang diri sendiri, seringkali membuat orang tersebut merasa lelah. Pada saat seperti ini, diri sendirilah yang memegang kendali, memilih untuk tetap bertahan dan mendapatkan hasil yang memuaskan atau memperoleh kegagalan karena tertahan oleh rasa lelah, bosan, dan muak dengan cerita diri sendiri.
Selain itu, menurut Montoya (Haroen, 2014) ada delapan konsep yang perlu diperhatikan oleh para selebgram dalam membangun sebuah personal branding di Instagram. (1) Spesialsasi, terfokus pada sebuah keahlian, kekuatan, atau pencapaian tertentu. (2) Kepemimpinan, sosok yang dapat memutuskan sesuatu dalam suasana penuh ketidakpastian dan memberikan suatu arahan yang jelas. (3) Kepribadian, mampu menggambarkan kepribadian yang baik dan apa adanya, tidak harus sempurna. (4) Perbedaan, menampilkan sosok yang berbeda dengan orang lain. (5) Terlihat, seseorang perlu memproosikan dirinya dan menggunakan setiap kesempatan untuk membuat dirinya terlihat. (6) Kesatuan, kehidupan pribadi menjadi cerminan dan citra yang diinginkan. (7) Keteguhan, mengikuti proses yang dilakukan sera memperhatikan setiap tahapan yang terjadi. (8) Nama baik, seseorang harus diaanggap memiliki citra yang positif dan sesuai dengan nilai yang diakui secara umum positif dan bermanfaat.
Sebagai sebuah produk, maka personal branding sangatlah penting dilakukan oleh para selebgram. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Agustina, Purnama, dan Abdurrahman (2017) ditemukan bahwa personal branding sangat penting bagi selebgram, dimana semakin banyak bermunculan individu dengan keahlian yang sama, personal branding dapat membantu seorang selebgram untuk memperkenalkan keahlian pribadi dan membuatnya lebih menonjol diantara yang lainnya. Selain itu, hal tersebut dapat membantu selebgram dalam membentuk koneksi dengan banyak orang yang memiliki ketertarikan yang sama akan sesuatu, sehingga hal tersebut akan memunculkan kemudahan untuk prospek karir ke depannya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana selebgram membangun personal branding di akun Instagram miliknya. Serta bagaimana proses diferensiasi dan dramatisasi yang dilakukan oleh para selebgram melalui akun Instagram miliknya.