Dalam teori kebutuhan Maslow, manusia memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Menurut Maslow, aktualisasi dirin digambarkan sebagai kebutuhan seseorang untuk mencapai apa yang ingin dia lakukan. Selain itu, menurut Maslow, aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik yang dimiliki idividu. Misal, seorang musisi harus bermusik, seorang pelukis harus melukis, dan sebagainya. Bentuk aktualisasi diri seseorang haruslah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Jika kebutuhan tersebut tidak tercapai, maka akan mucul kegelisahan, ketegangan, tidak tenang, dan orang tersebut merasa kurang harga diri (Arinanto, 2009).
Pada saat ini, aktualisasi diri bukan hanya dilakukan manusia di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Media sosial menjadi salah satu wadah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri seseorang. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan bebas menunjukkan siapa dirinya, apa saja yang ia lakukan, bagaimana kehidupannya, dan sebagainya dengan tujuan untuk diketahui oleh orang lain secara luas. Salah satunya dengan menggunakan media sosial Instagram.
Instagram telah menyediakan berbagai macam fitur yang dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi diri seseorang. Misalnya saja pada fitur galeri dan Insta
Story, para pemilik akun dapat dengan mudah dan bebas mengungah foto maupun video kesehariannya yang dapat menunjukkan siapa dirinya dan apa kemampuan serta potensi yang ia miliki. Dimana unggahan tersebut secara otomatis akan dilihat oleh para penguna Instagram lainnya, sehingga mereka mengetahui siapa dia, bagaimana kehidupannya, apa kemampuan yang dimilikinya, dan sebagainya. Jika penggambaran diri yang ia tunjukkan melalui akun Instagram miliknya dapat diterima oleh para pengguna Instagram lain, maka ia akan diakui keberadaannya.
Begitu pula dengan yang dilakukan oleh para selebgram. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan cara mengaktualisasikan dirinya melalui akun Instagram miliknya. Semakin sering ia mengaktualisasikan diri melalui akun Instagram miliknya, maka keberadaannya akan semakin diakui di kalangan pengguna Instagram, dengan kata lain eksistensi dirinya akan semakin meningkat. Jika eksistensinya semakin meningkat, maka ia akan mendapatkan popularitas dengan banyaknya orang yang menjadi pengikut akun Instagram miliknya dan membuatnya mendapatkan status sebagai selebgram. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Laksita (2016),ditemukan bahwa personal branding yang dibangun oleh seseorang tidak serta merta menimbulkan asosiasi dan harapan kepada masyarakat, tetapi melalui proses aktualisasi diri yang nyata. Dengan kata lain, aktualisasi diri inilah yang menjadi pemicu selebgram unuk membangun sebuah personal branding. Karena untuk mempertahankan apa yang sudah ia dapat, dibutuhkan sebuah branding yang kuat pada dirinya.
