Di dalam media sosial, terdapat sebuah konsep atau model perencanaan dalam proses komunikasi yang dilakukan melalui media sosial, termasuk pada Instagram. Model tersebut dikenal dengan sebutan the Circular Model of SoMe for Social Communication. Model ini didasari pada pemikiran fundamental dari Cluetrain Manifesto and Grunig’s two way symmetrical model of communication (Lutrell, 2015).
Poin pertama dalam model tersebut adalah Share atau berbagi. Berbagi yang dimaksud disini adalah media sosial melalui jaringan sosial membantu menghubungkan seseorang dengan orang lain yang juga membagikan hal yang sama dengan apa yang ia bagikan. Misalnya kesamaan ketertarikan, passion, kepercayaan, dan sebagainya. Sebuah instansi yang menggunakan strategi jaringan tersebut, biasanya memungkinkan para konsumennya untuk berpartisipasi dalam percakapan dengan orang lain yang juga termasuk ke dalam sasaran instansi tersebut. Dalam setiap situs jaringan seperti ini, tingkat kepercayaan diantara pengguna akan terbentuk. Dari sinilah akan muncul pengguna yang dapat mempengaruhi konsumen, atau yang disebut dengan influencer. Karena faktanya, 90% pengguna Internet mempercayai rekomendasi dari orang yang mereka kenal, dan 70% percaya pada orang yang tidak dikenal. Oleh karena itu, orang atau instansi yang melakukan strategi ini harus memahami konsumen agar bisa mempengaruhinya.
Kedua, Optimize atau mengoptimalisasikan pesan yang akan disampaikan kepada audiens. Untuk mengoptimalisasikan pesan tersebut, maka pelaku dituntut untuk bisa mendengarkan dan belajar dari percakapan yang dilakukan oleh audiens. Namun, percakapan yang terjadi akan lebih maksimal apabila praktisi atau pelaku turut berpartisipasi dalam percakapan tersebut (Lutrell, 2015). Dalam hal ini, seorang selebgram ketika hendak menyampaikan pesan melalui akun Instagram miliknya baik berupa foto atau video haruslah terlebih dahulu melihat respon dari para pengikutnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melihat banyaknya like dan view pada unggahan sebelumnya, serta membaca dan membalas percakapan yang terjadi di kolom komentar dan direct message.
Ketiga, Manage atau mengelola komunikasi yang terjadi. Dalam hal ini, praktisi dituntut agar dapat mengelola komunikasi yang terjadi pada media sosial secara cepat. Karena dalam percakapan yang terjadi pada sebuah situs sosial, biasanya konsumen atau audiens mengharapkan sebuah tanggapan yang cepat dari pihak praktisi, baik itu peroragan atau instansi. Jika tanggapan terhadap audiens diberikan secara cepat dan intens, maka akan memudahkan praktisi untuk menciptakan sebuah engagement dan mempengaruhi audiens tersebut. selebgram selaku praktisi dituntut untuk dapat memberikan balasan atau tanggapan secepat mungkin terhadap respon yang diberikan oleh pengikutnya. Karena jika hal ini tidak dilakukan, maka biasanya selebgram tersebut akan dinilai “sombong” dan ada kemungkinan bahwa pengikut Instagramnya akan berhenti untuk mengikutinya.
Keempat, Engage dapat diartikan sebagai keterlibatan atau keterikatan dalam komunikasi dengan audiens. Praktisi haruslah aktif terlibat dalam percakapan yang dilakukan oleh audiens. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menciptakan sebuah kedekatan antara praktisi dengan audiens. Jika kedekatan sudah terbangun, maka audiens pun cenderung akan menjadi loyal dengan praktisi. Dalam hal ini, keterlibatan selebgram dalam percakapan yang dilakukan oleh para pengikutnya akan menciptakan kedekatan tersendiri antara selebgram dengan pengikut. Dengan adanya kedekatan tersebut, maka pengikutnya akan merasa dikenal dan dihargai oleh selebgram tersebut sehingga memungkinkan pengikut untuk tetap aktif menjadi follower Instagram selebgram tersebut.
Dengan demikian, dalam melakukan pengelolaan akun Instagram, selebgram haruslah menjalankan keempat poin yang terdapat dalam the Circular Model of SoMe for Social Communication. Hal-hal tersebut dijalankan tak lain untuk mendapatkan dan juga mempertahankan jumlah pengikut di akun Instagram miliknya
