Impresson Management Theory atau teori pengelolaan kesan merupakan teori yang fokus membahas bagaimana seseorang atau institusi berusaha untuk membangun sebuah kesan yang baik dalam lingkungan sosial melalui interaksi. Ketika para ahli berbicara tentang pengeloaan kesan, mereka tidak membahas hal-hal yang terkesan kompleks, tetapi hal yang lebih sederhana, hanya sebatas melihat bagaimana penggambaran diri seseorang ketika sedang menampilkan dirinya ketika sedang berinteraksi. Para ahli menggunakan istilah social self dan private self untuk membedakan identitas sosial dengan diri pribadi (Littlejohn & Foss, 2009).
Ketika seseorang sedang berinteraksi dengan orang lain, maka secara otomatis kita terikat dengan beberapa hal, seperti kebiasaan, sopan santun, nilai, norma, latar belakang keluarga, dan sebagainya. Dengan demikian, ketika sedang berinteraksi pada ranah sosial, maka kita tidak bisa menunjukkan semua aspek yang ada pada diri kita secara apa adanya. Kita harus bisa memilah mana yang akan kita tunjukkan kepada orang lain yang dapat menggambarkan citra diri yang ingin kita bangun. Hal-hal tersebut perlu dilakukan dalam berbagai momen yang memang membutuhkan sebuah pencitraan diri yang baik. Tetapi tidak masalah jika kita juga melakukan pengelolaan pesan pada setiap saat dan kepada siapapun kita berinteraksi.
Menurut Littejohn dan Foss (2009) seseorang yang tidak melakukan pengelolaan kesan ketika sedang berinteraksi dalam ranah sosial, maka komunikasi yang terjadi tidak akan baik dan maksimal. Misal, jika seseorang berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkannya saja, tanpa memandang nilai dan norma yang berlaku maka akan menciptakan kesan yang tidak baik kepada lawan bicara dan komunikasi yang terjadi tidak akan membuahkan hasil yang baik pula.
Teori ini berakar dari dua bahasan utama, yaitu (1) self-presentation, melihat bagaimana tingkah laku seseorang ketika menampilkan dirinya di ranah publik dan motif apa yang yang ia punya dibalik perilaku yang ia lakukan tersebut. (2) Situated social identity, pembahasan ini berfokus kepada prinsip pengorganisasian semua jenis interaksi adalah mengkoordinasikan pengelolaan identitas sosial. Pembahasan kedua ini digunakan oleh Goffman sebagai dasar konsep “panggung depan” dan “panggung belakang” dalam dramaturgi (John & Foss, 2009).
Alasan peneliti memilih teori ini adalah karena pada saat melakukan pra penelitian, peneliti menemukan adanya praktik pengelolaan kesan pada masing-masing informan. Mereka berpendapat bahwa apa yang ditampilkan melaui foto dan video yang diunggah di Instagram merupakan hasil dari pengelolaan kesan yang mereka lakukan agar mendapatkan respon yang baik dari pengguna Instagram yang lainnya. Tidak semua sisi private self mereka ditunjukkan dalam Instagram.
