Komitmen Nasabah (skripsi dan tesis)

Menurut J. Supranto dan Limakrisna (2011 : 243) pelanggan yang berkomitmen kemungkinan besar tidak memerlukan lagi tambahan informasi sewaktu melakukan pembelian. Pelanggan juga tidak mudah terpengaruh pada rayuan atau bujukan dari pihak pesaing seperti pemberian kupon. Pelanggan yang berkomitmen akan lebih menguntungkan dari pada pelanggan yang hanya membeli berulang – ulang, dan yang terakhir ini masih lebih menguntungkan dari pada konsumen yang membeli hanya kadang – kadang. Pelanggan yang loyal kepada suatu merek (toko/jasa) atau pelanggan yang komitmen mempunyai ikatan  emosional pada merek atau perusahaan. Akhirnya, pelanggan yang berkomitmen merupakan sumber komunikasi dari mulut kemulut yang efektif, hal ini merupakan promosi yang gratis bagi perusahaan dan sangat efektif, oleh karena apa yang dikatakan oleh kawan akan lebih dipercaya dari pada jenis iklan lainnya.
Menurut Geykens et.,al 1996 (dalam Luh Kadek (2013 : 12)) secara general konsumen bisa membedakan antara calculative commitment, affective commitment, dan normative commitment adalah sebagai berikut: pertama, Calculative commitment, Individu akan menjadi komitmen dalam hal relationship karena nilai-nilai yang bersumber dari investasi dalam relationship dan memilki potensi penurunan jika individu tersebut memilih untuk mengakhiri hubungan dan memulainya dengan orang lain. Kedua, Affective commitment, kondisi ini muncul karena perasaan emosional dan akan keluar sebagai bagian yang sudah terbentuk. Ketiga, Normative Commitment adalah komitmen yang timbul karena konsumen merasa bahwa ia wajib menjalankan suatu bisnis usaha dengan perasaan tertentu. Berkomitmen dengan nasabahnya merupakan awal dari terbentuknya hubungan yang baik dengan nasabah yang lain.
Menurut Stern 1997 (dalam Luh Kadek (2013 : 12)) affective commitment dikembangkan sepanjang waktu, karena faktanya konsumen dapat menggunakan respon emosionalnya secara positif dan dampaknya, sehingga lebih banyak melahirkan rasa aman dalalm hal relationship. Menurut Buttle 2004 (dalam Ika Riskiyati (2012 : 242)) komitmen pelanggan merupakan modal yang amat penting dalam membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan. Komitmen dalam konsep long term 22 relationship memegang peranan sangat penting karena pengaruh jangka panjang paling banyak didasarkan pada komitmen kedua belah pihak. Dengan kata lain didalam komitmen terdapat suatu pengaruh yang berharga yang mampu membuat pelanggan tetap loyal dan hal tersebut perlu dipertahankan terus di mana masing – masing pihak bersedia berkerja sama untuk mempertahankan pengaruh ini. Menurut Jasfar (2005 : 179) (dalam Media Febrianingtyas et.,al (2014 : 4)) komitmen adalah rasa saling percaya diantara pihak-pihak yang menjalin hubungan, baik secara tersirat (implisit) maupun yang tidak tersirat (eksplisit) bahwa hubungan mereka akan berlangsung terus-menerus dan masing-masing menjaga agar janji di antara mereka tetap terpelihara. Salah satu janji yang dijaga oleh perusahaan adalah kesungguhan bank untuk memberikan kualitas yang terbaik pada perusahaan misalnya kualitas pelayanan. Komitmen adalah salah satu hal yang penting dalam mewujudkan hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pelanggannya. Dengan tidak adanya komitmen yang tercipta akan sulit bagi kedua belah pihak tersebut untuk menjalin hubungan jangka panjang. Menurut Morgan dan Hunt (1994) dalam Hatene Semuel (2012 : 34), menjelaskan bahwa komitmen pelanggan pada dasarnya adalah keinginan yang berlangsung lama dalam diri pelanggan untuk mempertahankan hubungan yang berharga atau hubungan yang memberikan manfaat (valued relationship), bahwa pelanggan akan memiliki komitmen yang kuat atau tinggi jika hubungan yang dilakukan dianggap penting. Menurut Bilal Afsar et.,al (2010) faktor komitmen lebih berkolerasi dari faktor lainnya berarti bahwa nasabah berkomitmen untuk bank maka kepercayaan nasabah terhadap bank akan meningkat. Ini berarti bahwa komitmen nasabah terhadap loyalitas nasabah mempunyai pengaruh terhadap loyalitas nasabah. Komitmen dapat digambarkan sebagai orientasi nasabah yang jangka panjang terhadap hubungan bisnis yang didasarkan pada keterikatan emosional. Menurut Yunita (2011 : 119) komitmen merupakan faktor yang penting dalam pemasaran hubungan dan variabel yang berguna untuk mengukur kecenderungan pelanggan yang akan loyal dan memprediksi frekuensi pembelian yang akan terjadi di masa depan. Moorman (1995) dalam Yunita (2011 : 119) dalam konteks pemasaran mendefinisikan komitmen sebagai keinginan untuk mempertahankan hubungan yang bernilai. Komitmen akan menjadi lebih tinggi bagi individu yang percaya bahwa mereka menerima nilai lebih dari adanya sebuah hubungan. Ndubisi (2007 : 100) dalam Yunita (2011 : 119) menyebutkan bahwa pelanggan yang memiliki komitmen tinggi akan secara terus menerus dapat menikmati keuntungan dari hubungan yang terjalin.