Kepemimpinan Etis (skripsi dan tesis)

Studi tentang etika merupakan hal yang penting dalam rangka pengembangan dan peningkatan peran profesi akuntan terhadap perilaku tidak etis di dalam bisnis (Widiastuti, 2003). Perilaku yang beretika dalam organisasi adalah melaksanakan tindakan secara fair sesuai hukum konstitusional dan peraturan pemerintah yang dapat diaplikasikan (Steiner dalam Reiss dan Mitra, 1998). Suseno (dalam Ludigdo, 1999) mengungkapkan bahwa etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Mengutip pendapat Madjid (dalam Ludigdo, 1999) mengungkapkan bahwa etika (ethos) adalah sebanding dengan moral (mos), yang mana keduanya merupakan filsafat tentang adat kebiasaan (sitten). Sitten dalam perkataan Jerman menunjukkan arti moda (mode) tingkah laku manusia, satu konstansi tindakan manusia. Karenanya secara umum etika atau moral adalah filsafat, ilmu atau disiplin tentang moda-moda tingkah laku manusia atau konstansi-konstansi tindakan manusia.

Brown, Trevino, dan Harrison (2005) didefinisikan kepemimpinan etis sebagai demonstrasi perilaku normative yang tepat melalui tindakan pribadi dan hubungan interpersonal. Studi tentang kepemimpinan etis dibangun atas dasar pembelajaran sosial. Sosial pembelajaran mengusulkan bahwa para pemimpin akan mempengaruhi perilaku etis dari orang lain melalui pemodelan (Brown, Trevino, & Harrison, 2005). Ini adalah tanggung jawab pemimpin untuk model perilaku etis yang mereka inginkan dari pengikut. Wimbush dan Shepard (1994) menemukan bahwa bawahan meniru perilaku supervisor ‘karena pengawas yang memegang bawahan jawab atas tindakan mereka.

Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa seseorang mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana seseorang harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1987). Menurut Robbins dan Coulter (1999:150), istilah etika lazimnya merujuk pada aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang merumuskan perilaku benar dan salah. Artinya etika menjadi faktor penentu keberhasilan suatu kepemimpinan. Dalam organisasi,kepemimpinan yang dinilai baik apabila fungsi-fungsi kepemimpinan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip beretika sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi.Kepemimpinan beretika akan menciptakan suasana kerja dalam organisasi lebih nyaman, produktivitas lebih tinggi, dan menyelesaikan konflik yang ada di dalam organisasi

Etika biasanya mengacu pada ” bagian atau hak standar perilaku antara individu-individu dalam situasi tertentu ‘‟(Fraedrich 1993). Standar ini dapat didefinisikan sebagai prinsip-prinsip sosial yang melibatkan keadilan dan kewajaran (Browning dan Zabriskie 1983). etika melibatkan hubungan manusia yang mendasar antara pihak dalam proses pertukaran, yaitu, anggota organisasi (atasan, rekan-rekan, dan bawahan), pesaing, pelanggan, dan masyarakat umum. Masing-masing pihak dalam proses pertukaran adalah berhutang tugas dan tanggung jawab (Akaah 1992)..

Menurut Nurcholish Madjid (1995) etika ialah karakter dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Sebagaimana dikatakan Amundsen and de Andrade (2009), etika kepemimpinan berkaitan dengan interaksi dan tanggungjawab pemimpin publik terhadap masyarakat luas, sektor bisnis, luar negeri, atau terhadap instansi publik itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin perlu menjalin hubungan baik dengan siapa saja berdasarkan standar etika tertentu yang dianggap baik, khususnya dalam konteks Indonesia.

Di antara etika yang dikembangkan adalah jujur, tanggung jawab, tidak menipu, menepati janji, murah hati, dan tidak melupakan akhirat (At Tamimi, 1992). Kejujuran diartikan secara luas seperti tidak berbohong, tidak mengada-adakan fakta, tidak berkhianat dan tidak pernah mengingkari janji. Senada dengan pernyataan tersebut, hubungan antara etika individu dengan etika organisasi khususnya antara atasan dengan pegawainya dapat dikembangkan dengan nilai-nilai etika yang tinggi. Dalam operasionalisasi program organisasi diperlukan kesamaan perilaku (conduct) untuk memperoleh tujuan kolektif. Kesemuanya itu harus direpresentasikan dalam perilaku seperti kejujuran (honest), keterbukaan (open), penghormatan (respectful), sepenuh hati (conscientious) dan bersungguh mengabdikan diri kepada organisasi tempatnya bekerja (loyal toward the organization) (Ladd,1992).

Etika kepemimpinan harus fokus pada usaha menciptakan kondisi yang tepat pada budaya organisasi untuk membantu perkembangan perilaku yang beretika dari pada membangun kepatuhan infrastruktur. Dengan kata lain, mereka harus membuat landasan etika untuk melakukan bisnis dengan berlatih berperilaku etis dalam kehidupan pribadi mereka, dalam bisnis mereka, dan dalam hubungan mereka (Sims & Brinkmann 2002).