Karakteristik DAS (skripsi dan tesis)

 

Karakteristik DAS yang berpengaruh besar pada aliran permukaan meliputi:

  1. a) Luas dan Bentuk DAS

Luas dan volume aliran permukaan makin bertambah besar dengan bertambahnya luas DAS. Tetapi, apabila aliran permukaan tidak dinyatakan sebagai laju dan volume persatuan luas, besarnya akan berkurang dengan bertambahnya luas DAS. Ini berkaitan dengan waktu yang diperlukan air untuk mengalir dari titik terjauh sampai ke titik kontrol (waktu konsentrasi) dan juga penyebaran atau intensitas hujan.

  1. b) Topografi

Tampakan rupa muka bumi atau topografi seperti kemiringan lahan, keadaan dan kerapatan parit atau saluran, dan bentuk-bentuk cekungan lainnya mempunyai pengaruh pada laju dan volume aliran permukaan.

  1. c) Tata Guna lahan

pengaruh tata guna lahan pada aliran permukaan dinyatakan dalam koefisien aliran permukaan (C), yaitu bilangan yang menunjukkan perbandingan antara besarnya aliran permukaan dan besarnya curah hujan (Suripin, 2003)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Limpasan (skripsi dan tesis)

 

Aliran pada saluran atau sungai tergantung dari berbagai faktor secara bersamaan. Dalam kaitannya dengan limpasan, faktor yang berpengaruh secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu faktor meteorologi dan karakteristik daerah tangkapan saluran atau daerah aliran sungan (DAS).

1)  Faktor Meteorologi

Faktor-faktor meteorologi yang berpengaruh pada limpasan terutama  adalah karakteristik hujan, yang meliputi:

  1. Intensitas Hujan

Pengaruh intensitas hujan terhadap limpasan permukaan sangat tergantung pada laju Infiltrasi. Jika intensitas hujan melebihi laju Infiltrasi, maka terjadi limpasan permukaan sejalan dengan peningkatan intensitas curah hujan. Intensitas hujan berpengaruh pada debit maupun volume limpasan.

 

  1. Durasi Hujan

Total limpasan dari suatu hujan berkaitan dengan durasi hujan dnegan intensitas tertentu. Jika hujan yang terjadi lamanya kurang dari lama hujan kritis, maka lamanya limpasan akan sama dan tidak tergantung pada intensitas hujan.

 

  1. c) Distribusi Curah Hujan

Laju dan volume limpasan dipengaruhi oleh distribusi dan intensitas hujan di seluruh DAS

Air Limpasan (Run Off) (skripsi dan tesis)

 

Sebagaimana telah diuraikan dalam siklus hidrologi, bahwa air hujan yang turun dari atmosfer jika tidak ditangkap oleh vegetasi atau oleh permukaan-permukaan buatan seperti atap bangunan atau lapisan kedap air lainnya, maka akan jatuh ke permukaan bumi dan sebagian akan menguap, berInfiltrasi, atau tersimpan dalam cekungan-cekungan. Bila kehilangan dengan cara-cara tersebut telah terpenuhi, maka sisa air hujan akan mengalir langsung di atas permukaan (surface run off), sedangkan untuk pengendalian banjir tidak hanya aliran permukaan, tetapi limpasan (run off). Limpasan merupakan gabungan antara aliran permukaan, aliran-aliran yang tertunda pada cekungan-cekungan, dan aliran bawah permukaan (subsuface flow). (Suripin, 2003)

 

Kapasitas Aliran Akibat Air Hujan (skripsi dan tesis)

 

Hujan yang terjadi menyebabkan adanya kemungkinan genangan dan aliran di permukaan tanah (run off) dan sebagian meresap (Infiltrasi) ke dalam lapisan tanah. Jika pada permukaan tanah terjadi genangan lebih besar dari Infiltrasi, maka untuk pengaliran air digunakan drainase muka tanah.

Kapasitas (debit) aliran maksimum dianalisis berdasarkan metode rasional

Q            =             x       0,2772    x    It      x       A

Keterangan:

Q               =    Debit aliran (m3/dt)

               =    Koefisien run off

0,2772       =    Faktor konversi debit puncak ke satuan

It               =    Intensitas hujan

A               =    Luas area hujan (Hasmar, 2002)

Siklus Hidrologi (skripsi dan tesis)

 

Air di alam terjadi dari hasil proses siklus hidrologi, yaitu suatu proses terjadinya penguapan air permukaan, pembasahan kulit bumi oleh air atau tengkapan air berbentuk embun. Sebagai molekul air yang ringan menjadi awan di udara. Berkumpulnya molekul air yang didinginkan di awan menjadi molekul air semakin besar dan membentuk kristal air yang berat dan akibat grafitasi jatuh kembali ke permukaan bumi yang kemudian disebut hujan. Proses yang terjadi adalah proses penguapan (evaporasi) dan transpirasi. Air hujan kembali ke permukaan tanah, mengalir ke sungai dan teresap ke dalam perut bumi menjadi air tanah. Air yang mengalir di permukaan tanah ini disebut ”run-off water” atau limpasan (Tjokrokusumo, 1998).

Siklus hidrologi adalah suatu proses yang diawali oleh evaporasi/penguapan kemudian terjadinya kondensasi dari awan hasil evaporasi. Awan terus terproses, sehingga terjadi hujan yang jatuh kepermukaan tanah. Pada saat air hujan jatuh ke permukaan tanah, sebagai air run off meresap ke dalam lapisan tanah. Limpasan air permukaan mengalir kepermukaan air di laut, danau, dan sungai. Air infiltrasi meresap kedalam lapisan tanah, menambah tinggi muka air tanah (Hasmar, 2002).

Bagian dari air yang sampai ke permukaan tanah disebut persediaan air permukaan, yang akan mengalir ke permukaan atau masuk ke dalam tanah. Peristiwa masuknya air ke dalam tanah disebut infiltrasi. Aliran permukaan akan terkumpul di dalam danau dan reservoir atau sungai kemudian ke laut. Air yang masuk ke dalam tanah dapat kembali ke udara dengan penguapan langsung dari permukaan tanah melalui transpirasi oleh tumbuhan atau penguapan dari permukaan sungai setelah air tersebut sampai ke dalam sungai melalui aliran bawah tanah.

Pengendalian Pencemaran Air (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air dan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008 Pasal 49 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, kegiatan konservasi sumberdaya air diarahkan melalui kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) dengan maksud untuk menjaga kelangsungan, keberadaan, daya dukung, saya tampung, dan fungsi sumberdaya air. Untuk mencapai tujuan konservasi sumberdaya air tersebut, dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu:

  1. Perlindungan dan pelestarian sumber air;
  2. Pengawetan air;
  3. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Kementerian Pekerjaan Umum (2010) menjelaskan bahwa kondisi lingkungan dan permasalahan konservasi sumber daya air di Wilayah Kabupaten sleman terkait dengan pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, yaitu :

  1. Semakin menurunnya kualitas air akibat pertumbuhan penduduk beserta aktifitasnya yang menjadi sumber pencemar baik pertanian, domestik, maupun non-domestik (industri, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan lainnya);
  2. Kualitas air sungai di hampir semua sungai berada di bawah baku mutu kelas kualitas air yang sudah ditetapkan;
  3. Belum tercukupinya jumlah IPAL komunal/terpusat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang membutuhkan;
  4. Masih adanya industri, rumah sakit, hotel, restoran, yang belum mempunyai IPAL secara mandiri untuk mengolah limbahnya masing-masing;
  5. Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya IPAL terpusat/komunal dan belum tegasnya sanksi hukum terhadap para pelanggaran.

Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air pada pasal 1 (3) menyebutkan bahwa pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.

Sumber dan Komponen Air Buangan Industri (skripsi dan tesis)

 

Perkembangan industri memberikan dampak positif dan negatif, antara lain berupa kenaikan devisa negara, transfer teknologi, dan penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, perkembangan industri juga menyebabkan pencemaran limbah industri yang bila tidak dikelola dengan baik dan benar akan mengganggu keseimbangan lingkungan, sehingga pembangunan yang berwawasan lingkungan tidak dapat tercapai (Hamid & Pramudyanto, 2007).

Pengamatan terhadap sumber pencemar dapat dilakukan pada masukan, proses, maupun pada keluarannya dengan melihat spesifikasi dan jenis limbah yang dihasilkan.

Gambar 2.9  Skema Sistem Input Output dalam Proses Industri

Sumber : Kristanto, 2002

 

 

 

 

 

 

 

Kandungan zat-zat yang berasal dari setiap industri ditentukan oleh jenis industri itu sendiri. Tabel berikut menunjukkan perkiraan komposisi air limbah beberapa jenis industri.

Tabel 2.9  Perkiraan Komposisi Air Limbah Beberapa Jenis Industri

Sumber : Puslitbang Pengairan, Prasurvei Polusi di Pulau Jawa, 1974 dalam Mahbub dkk., 1990

Jenis Industri Perkiraan Jenis Pencemar dalam Limbah
Industri logam  
Industri baja Zat tersuspensi, minyak, asam, kapur, logam berat, soda
Industri pengecoran Sianida, NaOH, Cl2, Cu, Cr, F, Pb, Na, Zn, zat tersuspensi, Ca(OH)2, H2SO4, NaCO3, dan lainnya.
Pabrikasi Metal Asam, basa, sianida, logam, dan lainnya.
Industri kimia  
Industri bahan kimia Bahan-bahan kimia organik dan anorganik.
iIndustri kertas Selulosa, fiber, lignin, soda, Na2S, H2SO4, NaHCO3, dan lainnya.
Industri Petrokimia Amoniak, soda, asam sulfida, arsen, dan lainnya
Industri gas Fenol, ammonia, sianida.
Industri sabun NaOH, gliserin, asam-asam organik
Industri spiritus/alcohol Alkohol, karbohidrat.
Industri Tekstil  
Drying/finishing NaOH, Na2CO3, detergen, zat warna, kanji, malam, petins, alkohol, asam-asam, zat organik, dan lainnya.
Batik Nila, FeSO4, CaO, tawas, NaOH, Na2CO3, zat organik (asam tannin dan zat warna) dan lainnya.
Industri bahan makanan  
Pabrik gula Zat tersuspensi, glukosa, ampas, malam, tebu, CaCO3, Ca-oksalat, garam fosfat, SiO2, garam Ca dan lainnya.
Pengolahan susu makanan-minuman Zat organik (protein, lemak, laktosa dan lainnya)
Industri Farmasi Bahan kimia organik dan anorganik
Penyamakan Kulit Zat tersuspensi protein, CaCO3, Ca(OH)2, CaSo4, NaS, asam tannin, zat warna, H2SO4, Cr dan lainnya.
Agro industri tapioca Zat organik, sianida

 

Kualitas Air (skripsi dan tesis)

 

Karakteristik sumberdaya air sangat dipengaruhi oleh aspek topografi dan geologi, keragaman penggunaannya, keterkaitannya (hulu-hilir, instream-offstream, kuantitas-kualitas), waktu, serta siklus alaminya. Oleh karena faktor topografi dan geologi, maka sumberdaya air dapat bersifat lintas wilayah administrasi sehingga air sering kali disebut sebagai sumberdaya dinamis yang mengalir (dynamic flowing resources ) (Sunaryo  dkk, 2004). Air merupakan bagian dari siklus hidrologi yang alami, dimana batas-batas hidrologis tidak selalu sama dengan batas-batas administrative (Masjhudi, 2002). Hal ini secara langsung mengakibatkan ketersediaan air tidak merata, baik dari aspek waktu, tempat, jumlah, maupun mutu.

Menurut Notoarmodjo (1997), air yang sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Syarat Fisik

Persyaratan fisik untuk air konsumsi yang sehat adalah bening (tidak berwarna), tidak berasa, suhu di bawah suhu udara luarnya, sehingga dalam kehidupan sehari-hari cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

  1. Syarat Kimia

Air konsumsi yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia dalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.

  1. Syarat Bakteriologis

Air untuk keperluan berbagai macam kegaiatan konsumsi terutama air minum harus bebas dari segala mikroba terlebih bakteri pathogen.

Kualitas air merupakan karakteristik atau sifat yang digambarkan oleh parameter kimia organik, kimia anorganik, fisik, biotik, dan radioaktif bagi perlidungan dan pengembangan air untuk peruntukan tertentu (Wardhana, 2004). Kualitas air dapat berubah-ubah karena ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu faktor alami dan non-alami. Faktor alam yang mempengaruhi kualitas air diantaranya adalah proses geologi, seperti kegiatan gunung api, pembentukan tanah humus atau perbedaan litologi batuan, sedangkan kegiatan manusia yang mempengaruhi kualitas air diantaranya adalah permukiman, industri, pertambangan, dan pertanian (Siregar dkk., 2004).

Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, unsure, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air (PP No. 82 Tahun 2001).

INDUSTRI PERTAMBANGAN (skripsi dan tesis)

Pertambangan adalah suatu industri dimana bahan galian mineral diproses dan dipisahkan dari material pengikut yang tidak di perlukan. Dalam industri mineral, proses untuk mendapatkan mineral-mineral yang ekonomis biasanya menggunakan mineral pengikut yang tidak di perlukan. Akan menjadi limbah indutri pertambangan dan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan pada pencamaran dan dagradasi lingkungan. Industri pertambangan sebagai industri yang menghasilkan sumberdaya dan merupakan sumber bahan baku bagi industri yang diperlukan oleh manusia (Noor Dalam Sulto 2011). Sementara sumber daya mineral itu sendiri dapat diartikan sebagai sumberdaya yang yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. Adapun jenis dan manfaat sumberdaya mineral bagi kehidupan manusia modern semakin tinggi dan semakin meningkat sesuai dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara ( Noor Dalam Sulto 2011).

Jenis Bahan Tambang Sesuai UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

  1. Mineral/Unsur Radioaktif
  • Radium
  • Trorium
  • Uranium
  • Bahan-bahan galian radioaktif lainnya
  1. Mineral/Unsur Logam
  • Litium
  • Berilium
  • Magnesium/monasit
  • Kalium
  • Kalsium
  • Emas
  • Wolfram
  • Titanium
  • Barit
  • Vanadium
  • Kromit
  • Antimoni
  • Kobalt
  • Tantalum
  • Air raksa
  • Besi
  • Perak
  • Tembaga
  • Timah
  • Seng
  1. Mineral/Unsur Bukan Logam
  • Intan
  • Korundum
  • Grafit
  • Arsen
  • Kuarsa
  • Klonit
  • Asbes
  • Halit
  • Mika
  • Rijang (SiO2)
  • Gipsum
  1. Batuan
  • Pumice
  • Tras
  • Toseki
  • Obsidian
  • Perlit
  • Tanah diatoe
  • Tanah serap
  • Opal
  • Batu kapur
  • Basalt
  • Tanah liat
  • Batu apung
  • Tanah urung
  • Pasir sepanjang tidak mengandung unsur unsur mineral logam.
  1. Batubara
  • Bitumen padat
  • Batuan aspal
  • Batubara

Bengkel (skripsi dan tesis)

 

Bengkel adalah sebuah bangunan yang dilengkapi alat pengaturan dan menyediakan ruang dan peralatan untuk melakukan konstruksi atau manufaktur, dan/atau memperbaiki benda mekanik. Perbengkelan  adalah  pengetahuan dan keterampilan tentang peralatan dan metode untuk membuat, membentuk, mengubah bentuk, merakit, ataupun memperbaiki suatu benda menjadi bentuk yang baru atau kondisi yang lebih baik secara manfaat maupun estetika. Pada umumnya bengkel mempunyai spesifikasi tertentu menurut jenis pekerjaan jasa yang dapat dilayani, missal bengkel bubut, bengkel las, bengkel listrik, bengkel mobil dan lain-lain.

  1. Bengkel bubut adalah bengkel yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan benda-benda mekanik seperti sekrup, mur/baut, as serta membuat suatu alat dengan spesifikasi tertentu yang terkadang ukurannya tidak standar di pasaran.
  2. Bengkel listrik adalah bengkel yang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki peralatan-peralatan yang berhubungan dengan penggunaan tenaga listrik, seperti dynamo, coil, rangkaian dalam peraatan listrik lainnya.
  3. Bengkel las adalah bengkel yang mempunyai kemampuan untuk melakukan penyambungan berbagai jenis logam yang terpisah.
  4. Bengkel umum kendaraan bermotor adalah bengkel umum kendaraan bermotor yang berfungsi untuk memperbaiki, dan merawat kendaraan bermotor agar tetap memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan, yang selanjutnya dalam buku panduan ini disebut bengkel. Sedangkan kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. Untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan jasa yang lebih baik, pelayanann jasa di bengkel juga dikembangkan. Berbagai bengkel sekarang juga melayani jasa cuci kendaraan yang lebih modern lagi membuka jasa salon kendaraan.

KEPMEN Perindustrian dan Perdagangan No. 551/MPP/Kep/10/1999 mengklasifikasikan tipe bengkel sebagaimana didasarkan atas jenis pekerjaan yang dilakukan, yaitu :

  1. Bengkel tipe A, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil, perbaikan besar, perbaikan chassis dan body.
  2. Bengkel tipe B, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil dan perbaikan besar, atau jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil serta perbaikan chassis dan body.
  3. Bengkel tipe C, merupakan bengkel yang mampu melakukan jenis pekerjaan perawatan berkala, perbaikan kecil.

Limbah cair dari usaha perbengkelan dapat berupa oli bekas, bahan ceceran, pelarut/pembersih dan air. Bahan pelarut/ pembersih pada umumnya mudah sekali menguap, sehingga keberadaannya dapat menimbulkan pencemaran terhadap udara. Terhurpnya bahan pelarut juga dapat menimbulkan gangguan terhadap pernapasan para pekerja. Air limbah dari usaha perbengkelan banyak terkontaminasi oleh oli (minyak pelumas), gemuk dan bahan bakar. Air yang sudah terkontaminasi akan mengalir mengikuti saluran yang ada, sehingga air ini mudah sekali untuk menyebarkan bahan-bahan kontaminan yang terbawa olehnya. Oli bekas jika tidak dikelola dengan baik dpaat menimbulkan kesan kotor dan sulit dalam pembersihannya, selain itu oli bekas dapat membuat kondisi lantai licin yang dapat berakibat mudahnya terjadi kecelakaan kerja. Oli yang sudah lama tidak diganti, kotoran mengumpul dan berubah jadi lumpur (sludge).

Pengelolaan bahan-bahan B3 yang berasal dari kegiatan perbengkelan dilakukan dengan cara dikumpul kemudian dilakukan kerjasama antar bengkel maupun dengan para pengumpul limbah B3 kemudian diserahkan ke pihak ketiga

Industri (skripsi dan tesis)

Industrialisasi merupakan sentral dalam ekonomi masyarakat modern dan merupakan motor penggerak yang memberikan dasar bagi peningkatan kemakmuran rakyat. Industri sangat esensial untuk memperluas landasan pembangunan dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat (Kristanto, 2002). Pengertian industri menurut Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasa industri.

Zona industri merupakan suatu kawasan peruntukan industri, yang menurut PP RI Nomor 24 Tahun 2009 tentang kawasan industri, didefinisikan sebagai bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan industri berdasarkan RTRW yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kawasan industri didefinisikan sebagai kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri.

Menurut Kristanto (2002), industri secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Industri dasar atau hulu, memiliki sifat padat modal, berskala besar, menggunakan teknologi maju dan teruji.
  2. Industri hilir, merupakan perpanjangan proses industri hulu, yaitu mengolah bahan setengah jadi menjadi barang jadi.
  3. Industri kecil, banyak berkembang di pedesaan dan perkotaan dengan peralatan sederhana.

Selain pengelompokkan di atas, industri juga diklasifikasikan secara konvensional sebagai berikut (Kristanto, 2002) :

  • Industri primer, yaitu industri yang mengubah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi.
  • Industri sekunder, yaitu industri yang mengubah barang setengah jadi menjadi barang jadi.
  • Industri tersier, yaitu industri yang sebagian besar meliputi industri jasa dan perdagangan atau industri yang mengolah bahan industri sekunder.

Air Permukaan (Surface Water) (skripsi dan tesis)

 

Air permukaan adalah air yang berada di sungai, danau, waduk, rawa dan badan air lainnya yang tidak mengalami infiltrasi ke bawah tanah. Areal tanah yang mengalirkan air ke suatu badan air disebut watersheds. Air yang mengalir dari daratan menuju suatu badan air disebut limpasan permukaan (surface run off). Sekitar 69% air yang masuk ke sungai berasal dari air hujan, pencairan es/salju, dan sisanya berasal dari air tanah. Wilayah di sekitar aliran sungai yang menjadi tangkapan air disebut catchment basin.

Air hujan yang jatuh ke bumi dan menjadi air air permukaan memiliki karakteristik bahan-bahan terlarut atau unsur hara yang sangat sedikit. Air hujan biasanya bersifat asam, dengan nilai pH sekitar 4,2. Hal ini disebabkan hujan melarutkan gas-gas yang terdapat di atmosfer, misalnya gas karbondioksida (CO2), sulfur (S), nitrogen oksida (NO2) yang dapat membentuk asam lemah (Novotny dan Olem, 1994). Setelah jatuh ke permukaan bumi air hujan mengalami kontak dengan tanah dan melarutkan bahan-bahan yang terkandung di dalam tanah.

Perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu, badan air tergenang (lentik) dan badan air mengalir (lotik).

Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya (skripsi dan tesis)

Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Sifat air sangat berbeda dibandingkan dengan sumberdaya lainnya, sebab air merupakan sumberdaya yang mengalir (flowing resources), tidak mengenal batas administrasi, dan dibutuhkannya sangat bergantung pada waktu, ruang, jumlah, dan mutu. Permasalahn air secara garis besar dapat dibagi menjadi :

  1. Terlalu banyak air (too much), umumnya terjadi pada musim hujan dan kerap kali menyebabkan bencana banjir;
  2. Air terlalu kotor (too dirty), yaitu terjadinya pencemaran air, banyak terjadi akibat limbah industry, rumah tangga dan pertanian;
  3. Air terlalu sedikit (too little), kekurangan air ini menimbulkan bencana kekeringan. Hal ini juga menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest) antar pengguna air, seperti yang kerap terjadi di musim kemarau (Hatmoko & Wahyudi, 2011).

Sumberdaya air memiliki fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras (UU No. 7 Tahun 2004 Pasal 4 tentang Sumberdaya Air). Penggunaan air oleh masyarakat ditentukan berdasarkan hak guna air. Hak guna air adalah hak untuk memenuhi keperluan pokok sehari-hari untuk mendukung kehidupan dan penghidupannya, misal penggunaan untuk konsumsi minum, memasak, mandi, mencuci, peribadatan, dan pertanian rakyat di dalam sistem irigasi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Air Pasal 40 (3) menyebutkan bahwa studi kelayakan pengelolaan sumberdaya air mencakup:

  1. Kelayakan teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan;
  2. Kesiapan masyarakat untuk menerima rencana kegiatan;
  3. Keterpaduan antarsektor;
  4. Kesiapan pembiayaan; dan
  5. Kesiapan kelembagaan.

Pencemaran Air (skripsi dan tesis)

 

Pencemaran air diakibatkan oleh dimasukkannya secara sengaja atau tidak disengaja bahan pencemar (polutan) yang dapat berupa gas, bahan-bahan terlarut, dan partikulat ke dalam air. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

Sedangkan menurut PP No. 82 Tahun 2001 tentang Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menjelaskan bahwa pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Pencemar memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan (run off) pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, limbah kegiatan non domestik, dan lainnya.

Bahan pencemar merupakan bahan-bahan yang bersifat asing bagi alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki suatu tatanan ekosistem sehingga mengganggu peruntukan ekosistem tersebut (Effendi, 2009). Berdasarkan cara masuknya ke lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi dua, yaitu polutan alamiah dan polutan antropogenik. Polutan alamiah adalah polutan yang memasuki lingkungan (misalnya badan air) secara alami, misalnya akibat letusan gunug berapi, tanah longsor, banjir, dan fenomena alam lainnya. Polutan antropogenik adalah polutan yang masuk ke badan air akibat aktivitas manusia, misalnya kegiatan domestik (rumah tangga), kegiatan urban (perkotaan), maupun kegiatan non-domestik (industri dan lainnya). Berdasarkan sifat toksiknya, polutan dibedakan menjadi dua yaitu toksik dan tidak toksik.

Sumber pencemar dapat berupa suatu lokasi tertentu (point source) atau tersebar (diffuse source). Sumber pencemar tersebar dapat berupa point source dalam jumlah banyak dan menyebar. Misalnya, limpasan dari daerah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk, limpasan dari daerah pemukiman (domestik), limpasan dari daerah perkotaan, limbah cair dari kegiatan industri dan non-domestik lainnya. Polutan toksik dapat mengakibatkan kematian maupun bukan kematian pada organisme tergantuk jenis, konsentrasi dan besarnya kandungan toksik pada polutan tersebut. Misalnya, terganggunya pertumbuhan, tingkah laku, dan karakteristik morfologi berbagai organisme. Polutan toksik pada umumnya bukan berupa bahan-bahan alami, misalnya pestisida, detergen, dan bahan artificial lainnya.

Rao (1991) mengelompokkan bahan pencemar di perairan menjadi beberapa kelompok, yaitu limbah yang mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut, limbah yang mengakibatkan munculnya penyakit, senyawa organik sintesis, nutrien tumbuhan, senyawa anorganik dan mineral, sedimen, redioaktif, panas (thermal discharge) dan minyak. Bahan pencemar (polutan) yang masuk ke badan air biasanya merupakan kombinasi dari beberapa jenis pencemar yang saling berinteraksi.

  1. Senyawa Organik

Penyusun utama bahan organik biasanya berupa polisakarida (karbohidrat), polipeptida (protein), lemak (fats), dan asam nukleat (nucleid acid). Setiap bahan organik memiliki karakteristik fisik, kimia dan toksisitas yang berbeda. Tabel 2.1 menunjukkan komponen penyusun limbah bahan organik.

Tabel 2.1  Komposisi Limbah Organik

            Jenis Bahan Organik Persentase (%)
Lemak 30
Protein 25
Abu 21
Asam Amin, Kanji (starch)                                8
Lignin 6
Selulosa 4
Hemiselulosa 3
Alkohol 3

(Sumber : Higgins dan Burns, 1975 dalam Abel 1989)

 

Selain jenis-jenis bahan organik tersebut, limbah organik juga mengandung bahan-bahan organik sintetis yang toksik. Beberapa contoh bahan organik yang bersifat toksik terhadap organisme akuatik adalah minyak, fenol, pestisida, surfaktan, Polychlorinated biphenyl (PCB’s). Senyawa organik sintesis pada umumnya tidak mudah didegradasi secara biologi. Senyawa organik sintesis juga bersifat persisten atau bertahan dalam waktu yang lama didalam badan air dan juga bersifat kumulatif.

Jenis-jenis bahan organik dibedakan menjadi oil dan grease. Istilah grease diterapkan pada beberapa jenis bahan organik yang dapat diekstraksi dari larutan atau suspensi, dengan menggunakan pelarut heksana atau triklhloro trifluoro etana (Freon). Grease terdiri atas hidrokarbon, ester, oli, lemak, waxes, dan asam lemak dengan berat molekul besar.

Istilah oil mewakili sejumlah bahan yang berupa hidrokarbon dengan berat molekul kecil hingga besar, gasoline hingga yang berupa pelumas. Selain itu, gliserida dalam bentuk larutan yang berasal dari hewan dan tumbuhan juga dikategorikan sebagai oil.

 

 

  1. Minyak Mineral dan Hidrokarbon

Terdapat sekitar 800 jenis senyawa minyak mineral yang terdiri atas hidrokarbon alifatik, aromatic, resin,dan aspal (tabel 2.9.2). Minyak tersebuar dalam bentuk terlarut, laposan film yang tipis yang terdapat di permukaan, emulsi, dan fraksi terserap. Pada perairan, interaksi dari bentuk minyak ini sangat kompleks, dipengaruhi oleeh nilai specific gravity, titik didih, tekanan permukaan, viskositas, kelarutan dan penyerapan.

Tabel 2.2. Komponen Utama Senyawa Mineral

Senyawa Persentase (%)
Parafinik 10-70
Naftenik (Mono dan polisiklik) 25-75
Aromatik (mono dan polisiklik) 6-40
Naftenon-aromatik 30-70
Resin 1-40
Aspal 0-80

(Sumber : UNESCO/WHO/UNEP, 1992)

Kadar minyak mineral dan produk-produk petroleum yang diperkenankan terdapat pada air minum berkisar 0,01-0,1 mg/liter. Kadar melebihi 0,3 mg/liter bersifat toksik terhadap bebebrapa jenis ikan air tawar (UNESCO/WHO/UNEP, 1992).

 

  1. Surfaktan

Surfaktan merupakan bahan organik yang berperan sebagai bahan aktif pada detergen, sabun dan sampo. Surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga memungkinkan partikel-partikel yang menempel pada bahan-bahan yang dicuci terlepas dan mengapung atau terlarut didalam air. Surfaktan dikelompokkan menjadi empat, yaitu surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan nonionik, dan surfaktan amphoteric.

Selain digunakan sebagai sabun, surfaktan juga digunakan dalam industri tekstil dan pertambangan, baik sebagai lubrikan, emulsi maupun flokulan (Effendi, 2009). Komposisi surfaktan dalam detergen berkisar 10%-30% disamping polifosfat dan pemutih. Kadar surfaktan 1 mg/liter dapat mengakibatkan terbentuknya busa di perairan. Meskipun tidak bersifat toksik, keberadaan surfaktan dapat menimbulkan rasa pada air dan dapat menurunkan absorbs oksigen.

 

  1. Senyawa Anorganik

Senyawa anorganik terdiri dari logam berat yang pada umumnya bersifat toksik. Bahan anorganik yang bersifat toksik adalah arsen (As), barium (Ba), timbal (Pb), Zinc (Zn), Kadmium (Cd), Kromium (Cr), lead (Pb), Merkuri (Hg), selenium (Se) dan Silver (Ag).

Logam berat mengalami biokonsentrasi dan bioakumulasi sehingga kadar timbal di dalam tubuh makhluk hidup yang lebih besar daripada di lingkungan perairan. Logam berat menyebabkan gangguan pada proses fisiologis organisme akuatik. Effendi (2009) mengemukakan bahwa tumbuhan air dan algae dapat menyerap logam berat.

 

  1. Radioaktif

Radioaktif dalam waktu paruh pendek akan melepaskan radiasi dalam jumlah yang besar dan berbahaya bagi makhluk hidup, sedangkan radioaktif dalam waktu paruh panjang melepaskan radiasi dalam jumlah sedikit dan relatif lebih tidak berbahaya bagi makhluk hidup.

Pengaruh radioaktif dapat bersifat akut atau kronis. Pada kadar yang tinggi, pengaruh radioaktif terhadap makhluk hidup bersifat akut, yakni mengganggu proses pembelahan sel dan mengakibatkan rusaknya kromosom. Setiap organ tubuh memperlihatkan respon yang berbeda terhadap radioaktif. Radiasi sinar X dapat mengakibatkan defisiensi sel darah putih dalam waktu dua hari setelah seluruh tubuh mendapatkan radiasi sinar X sebesar 2 Gy-5 Gy, sedangkan pengurangan sel darah merah terjadi 2-3 minggu kemudian (Effendi, 2009).

Pengaruh kronis yang muncul dalam jangka waktu panjang dapat terjadi pada genetik dan somatik. Pengaruh somatik berupa timbulnya kanker, sedangkan pengaruh genetik berupa abnormalitas atau cacat bawaan pada bayi sejak lahir.

Polutan yang berupa bahan-bahan kimia bersifat stabil dan tidak mudah mengalami degradasi sehingga bersifat persisten di lingkungan dalam kurun waktu yang lama yang disebut dengan rekalsitran. European Community (didalam Mason, 1993) mengelompokkan bahan pencemar toksik menjadi black dan grey list, yang terdapat dalam tabel 2.3.

Tabel 2.3  Black dan Grey List bahan pencemar toksik

Black List Grey  List
Senyawa Halogen Senyawa logam dan metaloid: Zinc, perak, Copper, nikel, kromium, lead, selenium, arsen, antimonium, timah, molibdenum, titanium, uranium, barium, berilium, boron, tellurium, vanadium, kobalt, dan talium.
Senyawa Organofosfat Biosida yang tidak muncul pada blacklist
Senyawa Organotin Bahan-bahan yang menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak
Bahan-bahan karsinogen Bahan organik toksik dan persisten
Merkuri Senyawa organik fosfor
Kadmium Minyak mineral dan hidrokarbon petroleum non persisten
Minyak mineral dan petroleum hidrokarbon Sianida dan fluorida
Bahan-bahan sintesis persisten Bahan-bahan yang mempengaruhi kesetimbangan oksigen, missal ammonia dan nitrit

(Sumber : Mason, 1993)

  • Limbah Cair

Limbah cair merupakan limbah yang bersifat cair dan berupa sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya. Limbah cair merupakan polutan yang memasuki perairan yang terdiri dari berbagai jenis serta karakteristik polutan. Jika di perairan terdapat lebih dari dua jenis polutan maka kombinasi pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

  1. Additive, pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan merupakan penjumlahan dari pengaruh masing-masing polutan. Misalnya, pengaruh kombinasi zinc dan cadmium terhadap organisme perairan.
  2. Synergism, pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan lebih besar daripada penjumlahan pengaruh dan masing-masing polutan.
  3. Antagonism, pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan saling mengganggu sehingga pengaruh secara kumulatif lebih kecil atau mungkin hilang.

Rao (1991) mengelompokkan bahan pencemar diperairan menjadi beberapa kelompok yaitu, limbah cair yang mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut, limbah cair yang mengakibatkan munculnya penyakit, limbah cair yang mengandung senyawa organik sintesis, anorganik, sedimen dan radioaktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2.4  Klasifikasi tingkat pencemaran limbah cair berdasarkan beberapa parameter kualitas air.

Parameter Tingkat Pencemaran
Berat Sedang Ringan
Padatan total (mg/liter) 1000 500 200
Bahan padatan terendapkan (mg/liter) 12 8 4
BOD (mg/liter) 300 200 100
COD (mg/liter) 800 600 400
Nitrogen total (mg/liter) 85 50 25
Amonia-nitrogen (mg/liter) 30 30 15
Klorida (mg/liter) 175 100 15
Alkalinitas (mg/liter CaCO3) 200 100 50
Minyak Dan lemak 40 20 0

 

(Sumber : Effendi, 2009)

Lingkar Pinggang Tubuh (skripsi dan tesis)

  • Lingkar Pinggang Tubuh

Pengukuran lingkar pinggang dapat digunakan untuk memprediksi adanya timbunan lemak pada daerah intraabdomen, atau sering disebut obesitas sentral, yang merupakan salah satu penanda risiko penyakit kardiovaskular. Cara pengukuran lingkar pinggang yang tepat, dapat dilakukan pada titik tengah antara tulang rusuk terakhir dengan iliac crest. Pita pengukur harus menempel pada kulit, namun tidak sampai menekan dan sebaiknya pengukuran lingkar pinggang dilakukan ketika akhir respirasi (Coulston, Boushey, and Ferruzzi, 2013)

Lokasi pengukuran lingkar pinggang adalah tulang panggul atas dan kanan atas krista iliaka (iliac crest). Pita pengukur ditempatkan secara horizontal pada bidang di sekitar perut setinggi krista iliaka (Illiac Crest), dipastikan bahwa pita tersebut pas, tetapi tidak menekan perut, dan sejajar dengan lantai (National Institute of Health, 2010).

Jenis Kelamin Ukuran LP (cm) Ideal
Pria <90
Wanita <80

Sumber: National Institute of Health, 2010.

  • Rasio Lingkar Pinggang Tubuh

Rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) adalah salah satu jenis pengukuran antropometri yang menunjukkan status kegemukan, terutama obesitas sentral (WHO, 2008) dan merupakan indikator antropometri yang cukup akurat untuk menggambarkan komposisi lemak tubuh yang berkaitan dengan obesitas sentral (Kaulina, 2009).

RLPP merupakan metode untuk membedakan lemak tubuh bagian perut bawah dan pada bagian perut atas atau pinggang. Lemak yang lebih banyak terdapat di bagian bawah disebut obesitas gynoid yang banyak terjadi pada wanita, sebaliknya bila lemak lebih banyak terdapat di bagian perut abdomen maka disebut obesitas android dan lebih banyak terjadi pada laki-laki. Lemak tubuh yang diukur dengan rasio lingkar pinggang – panggul adalah lemak subcutan dan visceral. Simpanan lemak subcutan banyak terdapat di bagian pinggul (Gibson, 2005).

Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (skripsi dan tesis)

Orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, indeks massa tubuh (IMT) diinterpretasi menggunakan kategori status berat badan standar yang sama untuk semua umur bagi laki-laki dan perempuan. Interpretasi IMT pada anak-anak dan remaja adalah spesifik mengikut usia dan jenis kelamin (Soegondo. 2012). Untuk selanjutnya klasifikasi indeks massa tubuh akan disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh

Kategori Kg/m2
BB kurang < 18.5 BB
normal 18.5 – 22.9
Overweight 23.0 – 24.9
Obes I 25.0 – 29.9
Obes II > 30

Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007

 

Tabel 2.2. Tabel IMT berdasarkan usia dan jenis kelamin untuk anak-anak dan remaja

Kategori Kg/m2
BB kurang Berdasarkan usia di bawah persentil 5
BB normal Berdasarkan usia antara persentil 5 – 85
Memiliki risiko kelebihan berat Berdasarkan usia antara 85 – 95
BB lebih Berdasarkan usia di atas 95

Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007

Pengertian Indeks Massa Tubuh (skripsi dan tesis)

Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT  tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry (Grummer-Strawn LM et al., 2012). IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.

IMT juga dikaitkan dengan rumus matematis yang dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Penggunaan rumus ini hanya dapat diterapkan pada seseorang berusia antara 19 hingga 70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet atau binaragawan, dan bukan ibu hamil atau menyusui. Pengukuran IMT ini dapat digunakan terutama jika pengukuran tebal lipatan kulit tidak dapat dilakukan atau nilai bakunya tidak tersedia (Supariasa dan Dewa Nyoman I. 2012)

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Menurut rumus metrik:

Sumber: Grummer-Strawn LM et al., 2012.

Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah (skripsi dan tesis)

Menurut American Diabetes Association (2014), ada berbagai cara yang biasa dilakukan untuk memeriksa kadar glukosa darah, di antaranya:

1)      Tes Glukosa Darah Puasa

Tes glukosa darah puasa mengukur kadar glukosa darah setelah tidak mengkonsumsi apa pun kecuali air selama 8 jam. Tes ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum sarapan.

Tabel 2.4. Klasifikasi Kadar Glukosa Darah Puasa

 

Hasil

Kadar Glukosa Darah Puasa
Normal                                           Kurang dari 100 mg/dL
Prediabetes                                             100 – 125 mg/dL
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 126 mg/dL

Sumber : American Diabetes Association (2014)

2)      Tes Glukosa Darah Sewaktu

Kadar glukosa darah sewaktu disebut juga kadar glukosa darah acak atau kasual. Tes glukosa darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja. Kadar glukosa darah sewaktu dikatakan normal jika tidak lebih dari 200 mg/dL.

3)      Uji Toleransi Glukosa Oral

Tes toleransi glukosa oral adalah tes yang mengukur kadar glukosa darah sebelum dan dua jam sesudah mengkonsumsi glukosa sebanyak 75 gram yang dilarutkan dalam 300 mL air.

Tabel 2.5. Klasifikasi Hasil Uji Toleransi Glukosa Oral

 

Hasil

Hasil Uji Toleransi Glukosa Oral
Normal                                           Kurang dari 140 mg/dL
Prediabetes                                             140 – 199 mg/dL
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 200 mg/dL

Sumber : American Diabetes Association (2014)

4)      Uji HBA1C

Uji HBA1C mengukur kadar glukosa darah rata-rata dalam 2 – 3 bulan terakhir. Uji ini lebih sering digunakan untuk mengontrol kadar glukosa darah pada penderita diabetes.

Tabel 2.6. Klasifikasi Kadar HBA1C

 

Hasil

Kadar HBA1C
Normal                                          Kurang dari 5,7%
Prediabetes                                             5,7 – 6,4 %
Diabetes                                    Sama atau lebih dari 6,5%

Sumber : American Diabetes Association (2014)

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah

Menurut Suyono (2009) faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah :

1)      Umur

Semakin tua umur seseorang maka resiko peningkatan kadar glukosa darah dan gangguan toleransi glukosa akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena melemahnya semua fungsi organ tubuh termasuk sel pankreas yang bertugas menghasilkan insulin. Sel pankreas bisa mengalami degradasi yang  menyebabkan hormon insulin yang dihasilkan terlalu sedikit, sehingga kadar gula darah menjadi tinggi.

2)      Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh yang berlebihan dan obesitas menggambarkan gaya hidup yang tidak sehat. Salah satu penyebab yang sering ditemukan adalah karena makan berlebih. Pola hidup yang seperti ini dapat memperberat kerja organ tubuh termasuk kerja sel pankreas yang memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang banyak karena banyaknya bahan makanan yang dikonsumsi.

3)      Diet dan Susunan Makanan

Jenis diet dan komposisi makanan juga mempengaruhi kadar gula darah. Diet dengan pola menu seimbang lebih dianjurkan untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dan dapat menghindarkan dari beberapa jenis penyakit – penyakit khususnya penyakit degeneratif. Konsumsi makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan dan teratur dapat mencegah pelonjakan kadar glukosa darah secara tepat. Jumlah total kalori seseorang dikategorikan baik adalah berkisar antara 80 % – 100 % dari total kalori yang dianjurkan. Cara menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan seseorang adalah dengan menggunakan rumus Harris Beneict yang mempertimbangkan jenis kelamin, BB, TB, umur, dan faktor aktifitas.

4)      Jenis Makanan

Pemilihan jenis makanan sangat berperan dalam mengendalikan kadar gula darah. Makanan yang tinggi serat dan pemilihan jenis karbohidrat kompleks yang mempunyai indeks glikemik yang rendah dapat mengendalikan kadar gula darah dengan cara yang lebih aman dan sehat. Jenis makanan dengan indeks glikemik yang tinggi dapat mempercepat kenaikan kadar gula darah dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat mempercepat munculnya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Apabila individu mengkonsumsi makanan indeks glikemik tinggi dalam jangka panjang, kebutuhan insulin tentunya akan bertambah banyak, terjadi hiperinsulinemia yang akhirnya muncul gangguan toleransi glukosa. (Pemayun, 2007)

5)      Jenis Kelamin

Kadar glukosa darah menurut jenis kelamin sangat bervariasi. Kadar glukosa darah perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki di Amerika. Hal ini berarti risiko gangguan toleransi glukosa pada wanita Amerika lebih tinggi dibandingkan laki – laki. Sama halnya dengan Amerika, wanita di Indonesia mempunyai risiko gangguan toleransi glukosa lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki, hal ini disebakan karena tingkat aktifitas fisik wanita Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan laki – laki, serta pada wanita diketahui komposisi lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki. Komposisi lemak yang tinggi menyebabkan wanita akan cenderung lebih mudah gemuk dan hal ini berkaitan dengan risiko GTG. (Pemayun, 2007)

6)      Aktifitas Fisik

Aktifitas fisik secara teratur menambah sensitifitas insulin dan menambah toleransi glukosa. Penelitian prospektif memperlihatkan bahwa aktifitas fisik berhubungan dengan berkurangnya risiko terhadap gangguan toleransi glukosa terutama pada kelompok berisoko tinggi yaitu wanita usia > 40 tahun dengan BB berlebih. Aktifitas fisik mempunyai efek menguntungkan pada lemak tubuh, distribusi lemak tubuh, dan kontrol glukosa darah sehingga dapat mencegah terjadinya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Olah raga dapat mencegah peningkatan kadar gula darah disebabkan karena bertambahnya sensitivitas insulin yang dapat dicapai dengan pengurangan Indeks Massa Tubuh melalui bertambahnya aktifitas fisik. (Pemayun, 2007)

Definisi Glukosa Darah (skripsi dan tesis)

Glukosa adalah karbohidrat terpenting bagi tubuh karena glukosa bertindak sebagai bahan bakar metabolik utama. Glukosa juga berfungsi sebagai prekursor untuk sintesis karbohidrat lain, misalnya glikogen, galaktosa, ribosa, dan deoksiribosa. Glukosa merupakan produk akhir terbanyak dari metabolisme karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat diabsorpsi ke dalam darah dalam bentuk glukosa, sedangkan monosakarida lain seperti fruktosa dan galaktosa akan diubah menjadi glukosa di dalam hati. Karena itu, glukosa merupakan monosakarida terbanyak di dalam darah (Murray, Granner, dan Rodwell, 2009).

Selain berasal dari makanan, glukosa dalam darah juga berasal dari proses glukoneogenesis dan glikogenolisis (Kronenberg et al., 2008). Kadar glukosa darah diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Dalam keadaan absorptif, sumber energi utama adalah glukosa. Glukosa yang berlebih akan disimpan dalam bentuk glikogen atau trigliserida. Dalam keadaan pasca-absorptif, glukosa harus dihemat untuk digunakan oleh otak dan sel darah merah yang sangat bergantung pada glukosa. Jaringan lain yang dapat menggunakan bahan bakar selain glukosa akan menggunakan bahan bakar alternatif (Sherwood, 2011)

Setelah mengkonsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat, kadar glukosa darah dalam tubuh meningkat. Hal ini akibat hasil absorpsi karbohidrat dalam bentuk glukosa. Glukosa tersebut didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sebagian glukosa dalam darah disimpan di hati dalam bentuk glikogen. Dalam keadaan tidak ada asupan makanan (puasa), glikogen ini kelak akan diuraikan atau dipecah melalui proses glikogenolisis. Proses glikogenolisis memecah glikogen untuk menghasilkan glukosa.(Murray, et al. 2009)

Jumlah glukosa dalam darah dan cadangan glikogen di dalam tubuh akan habis jika lebih dari 30 jam tubuh tidak mendapat sedikit pun makanan sebagai sumber glukosa (energi). Hati dan organ-organ lain berperan dalam fungsi homeostasis glukosa. Regulasi konsentrasi glukosa darah dipengaruhi oleh sistem hormon. Hormon utama yang sangat berperan adalah insulin dan glukagon yang dihasilkan kelenjar pankreas serta hormon glukokortikoid yang dihasilkan kelenjar adrenal. (Thompson, et al. 2011)

Peningkatan glukosa darah akan sejalan dengan proses pencernaan karbohidrat. Saat pencernaan karbohidrat akan terjadi perangsaan terhadap sekresi insulin dan inhibisi terhadap sekresi glukagon. Perbedaan kadar hormon insulin dan glukagon saling bertolak belakang dalam merespon kadar glukosa darah. Insulin dan glukagon memiliki peran untuk mengatur homeostatis darah. (Martini, 2012)

Hormon dan fungsinya dalam mengatur kadar glukosa darah dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 2.3. Fungsi Hormon dalam Meregulasi Kadar Glukosa Darah

 

Hormon Pengaruhya terhadap

glukosa

Rangsangan utama

untuk disekresikan

Peran

dalammetabolisme

Glukagon §     ↑ Glikogenolisis

§     ↓ Glikogenesis

§     ↑ Glukoneogenesis

§     ↑ Asam amino darah

§     ↓ Glukosa darah

Regulator utama pada

siklus absorptif dan pasca-absorptif,

proteksi tubuh terhadap hipoglikemia

Insulin §     ↑ Ambilan glukosa

§     ↓ Glikogenolisis

§     ↓ Glukoneogenesis

§     ↑ Glikogenesis

§     ↑ Asam amino darah

§     ↑ Glukosa darah

Regulator utama pada

siklus absorptif dan pasca-absorptif

Epinefrin §     ↑ Sekresi glukagon

§     ↑ Glikogenolisis

Stimulasi sarah simpatis

(contoh : saat olahraga /

stress)

Penghasil energi dalam

keadaan sulit / darurat dan saat olahraga

Sumber: Sherwood, 2011

 

Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik (skripsi dan tesis)

Makanan digolongkan ke dalam tiga golongan indeks glikemik. Klasifikasi makanan dilihat dari indeks glikemiknya ditunjukkan pada tabel 2.2.

Tabel 2.5. Klasifikasi Makanan Menurut Indeks Glikemik

 

No. Kategori Pangan Rentang Indeks Glikemik
 

1.

 

IG rendah

 

< 55

 

2.

 

IG sedang (intermediet)

 

55-70

 

3.        

 

IG tinggi

 

>70

Sumber : Almatsier (2010)

Makanan dengan IG tinggi mampu memberikan energi yang cukup besar untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah akan meningkatakan insulin sehingga cadangan sel adiposa meningkat. Sel adiposa yang meningkat akan mengeksresikan leptin. Leptin akan menghambat rangsangan neuropetide Y sehingga produksi hormon orexins untuk meningkatkan nafsu makan menjadi menurun. Leptin juga akan merangsang melanocortins untuk merangsang pelepasan corticotropin-releasing hormone yang berfungsi untuk menekan nafsu makan. Penggolongan makanan bedasarkan IG dapat membantu orang untuk memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Makanan dengan IG ringan atau sedang mampu meningkatkan kadar glukosa darah secara lebih perlahan dibandingkan dengan makanan dengan IG tinggi (Lee dan Niemman, 2007)

 

Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik (skripsi dan tesis)

Indeks Glikemik dapat berbeda-beda di setiap makanan. Indeks glikemik makanan yang jenisnya sama bisa saja berbeda; hal ini berhubungan dengan cara pengolahan dan penyajian makanan. Proses pengolahan makanan dapat mengubah struktur dan komposisi zat gizi sehingga berpengaruh terhadap daya serap zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut. Semakin mudah makanan diserap tubuh maka semakin cepat kadar glukosa dalam darah akan meningkat, sehingga makanan tersebut tergolong dalam kategori IG tinggi. Sedangkan jika makin lambat diserap oleh tubuh maka kenaikan glukosa darah pun akan terjadi perlahan, sehingga didapatkan makanan yang masuk kategori IG rendah. (Lee dan Niemman, 2007). Faktor yang mempengaruhi indeks glikemik ditunjukkan pada tabel 2.1.

Tabel 2.1. Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik

 

No. Faktor Pengaruh terhadap Indeks Glikemik
1. Cara pengolahan makanan Bentuk makanan mempengaruhi kemampuan enzim untuk

mencerna

2. Kadar serat makanan Serat    meningkatkan    viskositas    di    intestinal    dan

memperlambat interaksi antara pati dan enzim pencernaan

3. Kadar protein dan lemak Protein dan lemak yang tinggi dalam makanan membuat

waktu pengosongan lambung lebih lama

4. Kadar gizi lainnya Vitamin C di makanan yang asam dapat membuat proses

penyerapan berjalan lebih lama

Sumber: Planck (2007)

 

Indeks Glikemik (IG) (skripsi dan tesis)

Indeks glikemik pangan merupakan indeks (tingkatan) pangan menurut efeknya dalam meningkatkan kadar gula darah. Pangan yang mempunyai IG tinggi bila dikonsumsi akan meningkatkan kadar gula dalam darah dengan cepat dan tinggi. Sebaliknya, seseorang yang mengonsumsi pangan ber-IG rendah maka peningkatan kadar gula dalam darah berlangsung lambat dan puncak kadar gulanya rendah (Widowati, 2008).

Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Salah satu implikasi indeks glikemik dalam kehidupan adalah untuk dapat membantu seorang penderita diabetes melitus atau seorang yang obesitas dalam memilih makanan, khususnya makanan-makanan yang indeks glikemiknya rendah. (Thompson, et al. 2011)

Makanan berkabohidrat memiliki efek terhadap konsentrasi glukosa darah yang dikenal sebagai respon glikemik. Beberapa makanan mampu meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah dengan cepat, sedangkan beberapa makanan lain meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah secara bertahap atau perlahan. Pemilihan makanan yang tepat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah, kadar kolesterol dan kadar trigliserilda. Konsep indeks glikemik ditemukan untuk menunjukkan secara kuantitatif kemampuan makanan dalam mempengaruhi kadar glukosa darah. Konsep indeks glikemik pertama kali dikembangkan oleh Dr. David Jenkins, Professor Gizi di Universitas Toronto, pada tahun 1981. Konsep indeks glikemik pertama beranggapan bahwa setiap makanan berkabohidrat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Indeks glikemik akhirnya dikembangkan dengan tujuan membantu pasien penderita diabetes dalam mengkonsumsi makanan. (Almatsier, 2010)

Indeks glikemik dihitung berdasarkan pada peningkatan kadar glukosa darah selama dua jam pertama setelah mengkonsumsi makanan berkabohidrat (sejumlah 50 gram karbohidrat), dibandingkan dengan jumlah yang sama pada makanan yang dijadikan makanan rujukan. Roti tawar putih biasanya digunakan sebagai makanan rujukan dan dianggap memiliki nilai IG sebesar 100. Pada praktiknya nilai IG didapatkan setelah memeriksa peningkatan kadar glukosa darah selama dua jam pertama pencernaan makanan tersebut. Setelah pemeriksaan kadar glukosa darah, akan didapatkan kurva kadar glukosa darah.

Indeks glikemik ditentukan dari perhitungan Luas Area di Bawah Kurva (LABK). Untuk mendapatkan indeks glikemik, terlebih dahulu dihitung LABK pada makanan standar yaitu roti tawar putih. Selanjutnya dihitung LABK pada makanan yang dicari indeks glikemiknya

Status Gizi Anak (skripsi dan tesis)

 

2.8.1  Penilaian Status Gizi

Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu. Penilaian status gizi secara langsung untuk individu dan masyarakat dapat menggunakan berbagai cara, yaitu metode antropometri, biofisik, pemeriksaan biokimia, dan pemeriksaan klinis. Sedangkan secara tidak langsung penilaian status gizi dapat menggunakan survei konsumsi makanan, statistic vital, dan faktor ekologi ( Supariasa, 2001 ).

 

2.8.2  Penggunaan Indeks Antropometri

Secara umum antropometri artinya adalah ukuran tubuh manusia.Ditinjau dari sudut pandang gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.Antropometri secara umum digunakan untuk melihatb ketidakseimbangan asupoan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh ( Supariasa, 2001 ). Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi.

Umumnya obesitas pada anak ditentukan berdasarka tiga metode pengukuran antropometri sebagai berikut ( Damayanti, 2002 ) :

  1. Berat badan dibandingkan dengan tinggi badan ( BB / TB ). Obesitas pada anak didefinisikan sebagai berat badan menurut tinggi badan diatas persentil 90. Atau 120 lebih banyak dibandingkan berat badan ideal. Sedangkan berat badan 140% lebih besar dibandingkan berat badan ideal didefinisikan sebagai superobesitas.

 

  1. WHO pada ttahun 1997, NIH ( The National Institues of Health ) pada tahun 1998 dan The Expert Committee on Clinical Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Service telah merekomendasikan Body Mass Index ( BMI ) atau Indeks Massa Tubuh ( IMT ) sebagai baku pengukuran obesitas pada anak. Inte.rpretasi IMT berdasarkan umur dan jenis kelamin anak. IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta kolerasi tinggi dengan massa lemak tubuh. Nilai batas IMT ( cut of point ) untuk kelebihan berat badan pada anak dan remaja ialah persentil ke – 95.

 

  1. Pengukuran langsung lemak sub-kutan dengan mengukur tebal lemak lipatan kulit ( TLK ). Ada 4 macam cara pengukuran TLK yang ideal, yakni TLK bisep, TLK trisep, TLK subkapular, dan TLK suprailiaka.

Berikut ini adalah table yang menunjukkan batas persentil dalam menentukan status gizi anak usia 2 – 20 tahun dengan IMT / U.

 

 

Dampak Obesitas (skripsi dan tesis)

 

2.7.1  Dampak Klinis

Damayanti ( 2002 ) mengatakan anak gemuk cenderung mengalami peningkatan tekanan darah, denyut jantung serta keluaran jantung dibandingkan anak normal seusianya.Hipertensi ditemukan pada 20 – 30% anak gemuk. Diabetes Melitus tipe 2 ( NIDDM ) jarang ditemukan pada anak gemuk tetapi hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa hamper selalu ditemukan pada morbid obese.

Obstructive sleep apnea sering dijumpai pada penderita obesitas ( 1/ 100 obesitas anak ), gejalanya mulai dari mengorok sampai mengompol ( sering kali diduga akibat NIDDM atau dieresis osmotic ). Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak di daerah faringeal yang diperberat oleh adanya hipertrofi adenotonsilar.Obstruksi saluran nafas intermiten di malam hari menyebabkan tidur gelisah serta menurunkan oksigenasi.Sebagai kompensasi anak cenderung mengantuk keesokan harinya dan hipoventilasi.

Kegemukan menyebabkan kerentanan terhadap kelainan kulit khususnya di daerah lipatan. Kelainan ini termasuk ruam panas, intertrigo, dermatitis moniliasis, dan acanthosis nigricans ( kondisi yang merupakan tanda hipersensitivitas insulin ). Sebagai tambahan jerawat dapat muncul dan dapat memperburuk persepsi diri si anak.

 

2.7.2  Dampak Psikososial

Damayanti ( 2002 ) mengatakan anak obesitas umumnya jarang bermain dengan teman sebayanya, cenderung menyendiri, tidak diikutsertakan dalam permainan serta canggung atau menarik diri dari kontak sosial. Masalah psikososial ini disebabkan oleh faktor internal, yaitu depresi, kurang percaya diri, persepsi diri yang negatif, maupun rendah diri karena selalu menjadi bahan ejekan teman – temannya.Faktor eksternal juga berpengaruh besar karena sejak dini lingkungan menilai orang gemuk sebagai orang yang malas, bodoh, dan lamban.

 

2.7.3  Dampak Ekonomi

Ada tiga jenis ongkos yang disebabkan oleh obesitas. Pertama ongkos langsung( direct cost ), termasuk di dalamnya ongkos untuk pengobatan ayau terapi obesitas. Kedua ongkos yang tidak dapat diraba ( intangible cost), yaitu ongkos yang ada karena dampak obesitas pada hidup secara umum dan khususnya pada aspek kesehatan. Ketiga ongkos tidak langsung ( indirect cost ), termasuk di dalamnya ialah absentisme anak masuk ke sekolah atau kegiatan lainnya ( WHO, 2002 ).

Hui ( 1985 ) mengatakan bahwa orang dengan obesitas harus mengeluarkan biaya yang besar untuk kehidupannya seperti pakaian, makanan dan bahkan furnitureserta biaya transportasi yang berbeda dengan orang yang tidak obesitas.

Perilaku Kesehatan (skripsi dan tesis)

 

Green ( 1980 ) menganalisis bahwa faktor perilaku ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni :

2.6.1  Faktor predisposisi ( disposing factor )

Yakni faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai – nilai, tradisi, dan sebagainya.

2.6.2  Faktor pemungkin ( enabling factor )

Yakni faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau tindakan seseorang.Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan.

2.6.3  Faktor penguat ( reinforcing factor )

Yakni faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku.Yang dimaksud dengan faktor penguat adalah tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam masyarakat.

Pengetahuan ( Knowledge ) (skripsi dan tesis)

 

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu atau diperoleh dari pengalaman.Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( Notoatmodjo, 1993 ).

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.

2.4.1  Tahu ( know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall ), sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

2.4.2  Memahami ( comprehension)

Diartiakan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang  objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

 

2.4.3  Aplikasi ( application )

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Dapat pula diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.

2.4.4  Analisa ( analysis)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

2.4.5  Sintesis ( synthesis )

Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.

2.4.6  Evaluasi ( evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.

Penyebab Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbanganantara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energy yang rendah ( Damayanti, 2002 ).

Soetjiningsih ( 1995 ) menyebutkan 3 faktor utama penyebab obesitas adalah masukan energi yang melebihi dari kebutuhan tubuh, penggunaan kalori yang kurang, dan faktor hormonal.Disamping itu obesitas juga di sebabkan oleh beberapa faktor predisposisi seperti faktor herediter, suku bangsa, dan persepsi bayi gemuk adalah bayi sehat.Damayanti secara garis besar membagi faktor penyebab obesitas menjadi 2, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Berikut ini akan di paparkan berbagai penyebab obesitas yang di rangkum dari berbagai sumber.

 

2.3.1            Faktor Genetik

Tingginya angka obesitas pada orang tua yang memiliki anak obes dipercaya bahwa faktor genetik menjadi faktor yang cukup penting.Penelitian telah menunjukkan 60 – 70% remaja obes mempunyai salah satu atau kedua orang tua yang juga obes. 40 remaja obes mempunyai saudara kandung yang juga obes ( Pipes, 1993 ).

Faktor genetik yang diketahui mempunyai peranan kuat adalah parental fatness, anak yang obesitas biasanya berasal dari keluarga yang obesitas. Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak – anak mereka akan menjadi obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas kejadiaannya menjadi 40%, dan bila kedua orang tua tidak obesitas maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan resiko menjadi obesitas tersebut kemungkina disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga ( Damayanti, 2002 )./

 

2.3.2            Konsumsi ASI

Telah diketahui sejak dulu bahwa pemberian susu formula dan makanan semi solid dapat menjadi penyebab obesitas ( Pipes, 1993 ). Y.H. Hui dalam bukunya Principles and Issue in Nutrition menyebutkan bahwa salah satu penyebab obesitas yakni pengaruh kondisi masa kecil ( chiidhood conditioning ) dimana salah satu turunan dari childhood conditioning ialah infancy eating dan maladjustment. Ini berarti bayi telah di berikan makanan tambahan/ pendamping ASI yang padat serta susu formula yang tinggi kalorinya terlalu dini. Hal itu tentu saja menggagalkan bayi dari proses pemberian ASI eksklusif yang seharusnya menjadi hak mereka dan dapat mencegah dari kemungkinan menjadi obesitas di kemudian hari. Untuk mencegah obesitas orang tua harus memberi ASI tanpa memberi makanan pendamping ASI ( MP ASI ) sebelum usia 3 – 4 bulan, setelah usia 5 – 6 bulan orang tua baru di perbolehkan memberi MP ASI pada anak. Pemberian ASI eksklusif sejak saat lahir hingga usia 6 bulan merupakan langkah awal yang paling tepat dalam menjamin asupan yang baik ( Mokoagow, 2007 ).

Handayani ( 2007 ) dalam penelitiannya tentang durasi pemberian ASI dan resiko terjadinya obesitas pada anak pra – sekolah di kabupaten Purworejo menyebutkan pemberian ASI dapat memperkecil resiko terjadinya obesitas, jika ASI di berikan >12 – < 24 bulan. Selain itu umur mulai mendapatkan makanan tambahan juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas pada anak.

 

2.3.3            Kebiasaan Makan

Hui ( 1985 ) mengatakan bahwa orang obes sangat suka sekali makan. Mereka biasanya makan dengan jumlah kalori lebih banyak daripada yang mereka butuhkan. Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok individu dalam memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial, dan budaya. Kebiasaan makan sebagai tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhnnya akan makanan meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Kebiasaan makan juga merupaka istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan. Seperti tata karma, frekuensi makan, pola makan yang dimakan, kepercayaan yang dimakan ( misalnya pantangan ), distribusi makanan diantara anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan ( suka atau tidak suka ) dan pemilihan bahan makan yang hendak dimakan ( Suhardjo, 1989 ).

Pada penelitian tentang hubungan pola makan dan aktivitas fisik pada anak dengan obesitas usia 6 -7 tahun di Semarang tahun 2003 menyebutkan bahwafrekuensi makan lebih dari 3 kali sehari setiap hari memiliki resiko terjadinya obesitas 2,1 kali dibandingkan makan kurang atau sama dengan 3 kali sehari ( Damayanti, 2002 ).

 

2.3.4            Kebiasaan Sarapan

Penelitian membuktikan bahwa ketika mengkonsumsi sarapan seorang anak akan memiliki tingkah laku dan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan ketika tidak mengkonsumsi sarapan. Pollitt et al. dalam penelitiannyya menemukan anak usia 9 – 11 tahun dengan gizi baik yang melewatkan sarapan menunjukkan sebuah penurunan respon yang akurat dalam memecahkan masalah, namun meningkat dalam keakuratan berfikir jangka pendek. Anak perempuan lebih menyukai sarapan di rumah  ( 46% ) dibandingakan anak laki – laki , dan sekitar 20% dari anak usia 10 tahun melewatkan sarapannya setiap hari ( Wortingthon, 2000 ).

Penelitian di wilayah Minneapolis, Amerika Serikat oleh Pereira ( 2008 ) menyebutkan remaja yang melewatkan sarapan setiap harinya mempunyai kecenderungan resiko untuk mengalami kegemukan lebih tinggi. Ia juga menyimpulkan makan pagi secara rutin dapat mengendalikan nafsu makan lebih baik sepanjang hari. Hal inilah yang mencegah dari makan berlebihan saat makan siang atau makan malam.

Albiner ( 2003 ) mengatakan sarapan bersifat mempunyai pengaruh terhadap ritme, pola, dan siklus waktu makan. Orang yang tidak sarapan akan merasa lapar pada siang hari dan malam hari daripada orang yang sarapan. Sehingga mereka akan mengkonsumsi lebih banyak makanan pada siang dan malam hari. Selain itu, sarapan bersifat lebih mengenyangkan disbanding makan pada siang atau malam hari.Sehingga sarapan dapat mengurangi rasa lapar pada siang dan malam hari.

 

2.3.5            Konsumsi Fast Food

Konsumsi fast food/ makanan cepat saji yang banyak mengandung energi dari lemak, karbohidrat, dan gula akan mempengaruhi kualitas diet dan meningkatkan resiko obesitas ( MMI Volume 40, Nomor 2 Tahun 2005 ). Meningkatnya konsumsi fast food diyakini merupakan satu masalah, karena obesitas meningkat pada masyarakat yang keluarganya banyak keluar mencari makanan cepa saji dan tidak mempunyai waktu lagi untuk menyiapkan makanan di rumah ( WHO, 2000 ).Padahal makanan tersebut sangat beresiko untuk terjadinya obesitas pada anak karena banyak mengandung lemak dan kolesterol.  Anak – anak yang memakan fast food lebih dari 3 kali perminggu cenderung menjadi sedikit tidak suka pada makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, susu, dan makanan lain ketika mereka diminta untuk memilih ( Kimberly et al., 2006 ).

 

2.3.6            Kebiasaan Jajan

Makanan jajanan yang umumnya di sukai anak – anak adalah berupa kue – kue yang sebagian besar terbuat dari tepung dan gula. Oleh karena itu, makanan jajanan tersebut hanya memberikan sumbangan energi saja, sedangkan tambahn zat pembangun dan pengatur sangat sedikit ( Suhardjo, 1989 ).

Jika anak sudah dibiasakan jajan, maka anak ini akan menangis dan tidak mau makan kalau keinginannya tidak dipenuhi. Jajan boleh di lakukan sekali – kali supaya anak mendapat selingan makanan dari luar, asal jangan ia sendiri yang membeli. Orang tua harus mengontrol dan memperhatikan makanan jajanan anak ( Suhardjo, 1989 ).

2.3.7            Kebiasaan Makan Cemilan Saat Nonton TV

Hui ( 1985 ) mengatakan cemilan dikatakan buruk jika mengandung gula, garam, dan lemak yang berlebihan namun rendah protein, vitamin, dan mineral. Wortingthon ( 2000 ) mengatakan nonton TV pada anak – anak juga berhubungan dengan kebiasaan makan cemilan. Sering menonton TV berkorelasi positif dengan perilaku ngemil. Dietz ( 1985 ) menemukan efek buruk TV, yakni sering menonton TV semakin besar resiko diabetes. Selain itu, selama menonton TV biasanya anak makan lebih banyak makanan yang diiklankan di TV  dalam jumlah besar.

2.3.8            Susu dan Olahannya

Meskipun selama ini susu disebut – sebut sebagai makanan yang baik untuk anak – anak, namun tidak berarti susu merupakan makanan yang sempurna. Susu tidak dapat tahan lama dan cepat basi. Susu sedikit mengandung zat besi dan beberapa vitamin, namun kaya akan lemak dan kolesterol. Beberapa individu dapat mengalami alergi susu, dan pada beberapa kasus susu dapat menyebabkan konstipasi dan penarahan pada usus. Susu juga dapat menyebabkan obesitas bila dikonsumsi secara berlebihan baik dalam produk susu maupun dalam produk makanan yang merupakan olahan susu ( Hui, 1985 ).

2.3.9            Aktivitas Fisik

Suatu data menunjukkan bahwa aktivitas fisik anak – anak cenderung menurun.Aktivitas meliputi aktivitas sehari – hari, kebiasaan, hobi, maupun latihan dan olahraga.Anak yang kurang atau enggan melakukan aktivitas fisik menyebabkan tubuh kurang menggunakan energi yang tersimpan di dalam tubuh.Oleh karena itu, jika asupan energi berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai maka secara kontinyu dapat mengakibatkan obesitas. Padahal cara yang paling mudah dan umum dipakai untuk meningkatkan pengeluaran energi adalah dengan melakukan latihan fisik atau gerak badan ( Damayanti, 2002 ).

Sebaliknya menonton televisi akan menurunkan aktivias fisik dan keluaran energi karena mereka menjadi jarang atau kurang berjalan, bersepeda, maupun naik – turun tangga. Di samping itu menonton program televisi tertentu terbukti menurunkan laju metabolisme tubuh. Sebuah penelitian kohort mengatakan bahwa menonton televisi lebih dari 5 jam meningkatkan prevalensi dan angka kejadian obesitas padaanak usia 6 – 12 tahun ( 18% ),serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari terapi obesitas sebanyak 33% ( Damayanti, 2002 ).

Pipes ( 1993 ) menyebutkan ketidak aktifan menjadi salah satu penyebab obesitas. Anak – anak dan remaja obes sedikit bergerak/ beraktivitas daripada anak dengan berat badan normal. Kegiatan aktivitas fisik sangat diperlukan oleh anak – anak.Oleh karena itu peran orang tua sangat besar dalam mencegah obesitas pada anak.Orang tua yang sering melakukan olahraga sering mengajarkan anak – anak mereka untuk menyukai dan menikmati aktivitas fisik.

Mu’tadin ( 2002 ) mengatakan meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi 1/3 pengeluaran energi seseorang dengan berat badan normal, namun bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan, aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Saat berolah raga kalori terbakar, semakin banyak berolah raga maka semakin banyak kalori yang hilang.Kalori secara tidak langsung mempengaruhi system metabolism basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolism basal tubuhnya. Kekurangan aktivitas gerak akan nmenyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati.

Tidak berbeda dengan TV, ternyata komputer dan video games juga turut andil dalam kejadian obesitas pada anak.Meskipun beberapa komputer dan video games memiliki komponen mendidik, namun kebanyakan jauh dari aktivitas pembakaran lemak.Beberapa dokter mengatakan bahwa TV sedikit lebih berbahaya dari video games, karena komputer dan video games mendorong anak – anak untuk melakukan aktivitas yang banyak menggunakan koordinasi tangan – mata dan gerak motorik lainnya. Gerakan ini menghasilkan lebih banyak pembuangan energi daripada duduk berdiam diri di depan TV ( Kimberly, 2006 ).

2.3.10                   Pendapatan Keluarga

Pada umumnya, semakin baik taraf hidu seseorang semakin meningkat daya belinya dan semakin tinggi mutu makanan yang tersedia untuk keluarganya.Golongan ekonomi kuat cenderung boros dan konsumsinya melampaui kebutuhan sehari – hari.Akibatnya berat badan terus – menerus bertambah. Beberapa penyakit karena kelebihan gizi pun sering ditemukan ( Suhardjo, 1989 ).

Apriadji ( 1986 ) mengatakan sebuah keluarga yang pendapatannya cukup tinggi ternyata makanannya kurang memenuhi syarat. Anak – anak dalam keluarga ini sering mengantuk di sekolah dan enggan bermain – main.Setelah diteliti ternyata orang tua mereka lebih mementingkan rumah yang megah dengan perabotan mewah.Mereka begitu bersemangat untuk membeli kebutuhan sekunder.Bahkan lebih parah lagi, perhatian mereka terhadap makanan kaleng dan makanan hasil olahan pabrik semakin kuat. Gordon – Larsenn et al. ( 2003 ) menemukan hubungan antara pendapatan orang tua dengan kejadian obesitas pada remaja di AS.

 

2.3.11                   Konsumsi Sayur dan Buah – buahan

Sayur dan buah dapat mencegah kejadian obesitas karena dapat mengurangi rasa lapar namun tidak menimbulkan kelebihan lemak, kolesterol, dan sebagainya.Sayur dan buah umumnya juga mengandung serat kasar yang dapat membantu melancarkan pencernaan dan mencegah konstipasi.Banyak anak yang kurang menyukai sayuran dalam menu makanan dengan alasan karena rasanya yang kurang enak. Pola makan keluarga tertentu yang tidak mengutamakan  sayuran dan buah dalam menu makanan utama menambah parah kurangnya asupan sayuran pada anak ( Hui, 1985).

 

2.3.12                   Jenis Kelamin

Apriadji ( 1986 ) mengatakan jenis kelamin adalah faktor internal yang menentukan kebutuhan gizi sehingga ada hubungan antara jenis kelamin dengan status gizi. Anak perempuan biasanya lebih memperhatikan penampilan sehingga seringkali membatasi makanannya, selain itu anak perempuan juga mempunyai kemampuan makan dan aktivitas fisik yang lebih rendah dari anak laki- laki ( Wortingthon seperti yang dikutip oleh Fathia, 2003 ). Namun penelitian Troiano dan Flegal ( 1998 ) pada anak usia 6 – 11 tahun menemukan bahwa kejadian obesitas pada anak laki – laki lebih besar daripada anak perempuan, dan angka tersebut terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

 

2.3.13                   Jumlah Anggota Keluarga

Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan banyak masalah. Jika pendapatan keluarga hanya pas – pasan sedangkan anak banyak makan pemerataan dan kecukupanm makanan di dalam keluarga kurang bias di jamin. Keluarga ini bias di sebut keluarga rawan, karena kebutuhan gizinya hamper tidak tercukupi dan dengan demikian penyakit punterus meningkat ( Apriadji, 1986 ). Semakin besar jumlah penduduk di suatu daerah maka pemerintah harus menyediakan bahan makanan dengan jumlah yang lebih besar ( Apriadji, 1986 ).

 

2.3.14                   Pengetahuan dan Pendidikan Gizi Ibu

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi konsumsi pangan melalui cara pemilihan bahan pangan. Semakin tinggi pendidikan orang tua, cenderung akan semakin baik memilih kualitas dan kuantitas bahan makanan ( Masyitah, 1999 ).

Perilaku mengandung aspek – aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Pengetahuan gizi adalah pengetahuan tentang cara yang benar untuk memilih bahan makanan kemudian mengolah serta mendistribusiknnya. Di samping itu pengetahuan gizi juga mencakup bagaimana menyajikan makanan sehat secara ekonomis ( Apriadji, 1986 ).

 

2.3.15                   Status Ibu Bekerja

Ada beberapa perbedaan dalam pembentukan kebiasaan makan bagi anak – anak apabila ibu mereka disamping sebagai ibuu rumah tangga berperan juga sebagai pencari nafkah. Karena seorang ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah di luar rumah berarti sebagian dari waktunya akan tersita, sehingga peranannya dalam hal mempersiapkan makanan terpaksa dikerjakan oleh orang lain, demikian juga pemberian makanan terhadap anak – anaknya. Seorang ibu yang bekerja hendaknya benar – benar membagi waktu agar anak – anaknya tetap mendapat perhatian khusus serta pekerjaan juga tidak terlantar ( Suhardjo, 1989 ).

Pemeriksaan Laboratorium Obesitas (skripsi dan tesis)

 

  1. Pada pemeriksaan arah di temukan adanya gangguan endokrin.
  2. kemungkinan terjadinya ganguan metabolism hidrat arang dan lemak.
  3. Pada air seni ( urine ) ditemukan pengeluaran zat tertentu

Kelainan – kelainan tersebut akan menghilang dengan sendirinya jika obesitas yang di derita sembuh.

Gejala Klinis Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis obesitas pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang berat sekali. Menurut Soedibyo( 1986 ), gejala klinis umum pada anak yang menderita obesitas adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan berjalan dengan pesat/ cepat di sertai adanya ketidakseimbangan antara peningkatan berat badan yang berlebihan di bandingkan tinggi badannya
  2. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih daripada yang normal dan kulit tampak lebih kencang.
  3. Kepala tampak relatif lebih kecil di bandingkan dengan tubuh atau di bandingkan dengan dadanya ( pada bayi ).
  4. Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relative lebih kecil, mungkin disertai dengan bentuk dagunya yang ganda ( dagu ganda ).
  5. Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkanbila terjadi pada anak laki – laki.
  6. Perut membesar menyerupai bandul lonceng, kadang disertai garis – garis putih atau ungu ( striae ).
  7. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelamin, akan tetapi pada anak laki – laki tampak relatif kecil.
  8. Pubertas pada anak laki – laki terjadi lebih awal dan akibatnya pertumbuhan kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada masa dewasa relatif lebih pendek.
  9. Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal, tangan relatif lebih kecil dan jari – jari bentuknya meruncing.
  10. Dapat terjadi ganguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar bergaul, senang menyendiri dan sebagainya.
  11. Pada kegemukan yang berat muungkin terjadi gangguan jantung dan paru yang di sebut Sindrom Pickwickian dengan gejala sesak nafas, sianosis, pembesaran jantung dan kadang – kadang penurunan kesadaran.

 

Definisi Obesitas (skripsi dan tesis)

 

Obesitas tidak sama dengan overweight. Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang di perlukan untuk fungsi tubuh yang normal ( Soetjiningsih, 1995 ). WHO ( 2000 ) secara sederhana mendefinisikan obesitas sebagai kondisi abnormal atas akumulasi lemak yang ekstrim pada jaringn adipose. Inti dari obesitas ini adalah terjadinya keseimbangan energi positif yang tidak di inginkan dan bertambahnya berat badan. Sedangkan overweight adalah kelebihan berat badan di bandingkan dengan berat ideal yang dapat di sebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau jaringan non – lemak, misalnya pada seorang atlet binaragawan kelebihan berat badan dapat di sebabkan oleh hipertrofi otot ( Damayanti, 2002 ). Obesitas pada anak merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi kejadian obbesitas pada dewasa. Sekitar 26% bayi dan anak – anak dengan status obesitas akan tetap menderita obesitas dua puluh tahun kemudian ( Dietz, 1987 )

Pengertian Puskesmas (skripsi dan tesis)

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.Pelayanan Kesehatan adalah upaya yang diberikan oleh Puskesmas kepada masyarakat, mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pencatatan, pelaporan, dan dituangkan dalam suatu sistem.Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:

  1. memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
    kemampuan hidup sehat;
  2.  mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
  3. hidup dalam lingkungan sehat; dan
  4. memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
    kelompok dan masyarakat (Permenkes, 2014).

Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di DKK Banyumas, program ASI eksklusif adalah salah satu indikator dari program bidang pelayanan kesehatan yang sangat berpengaruh terhadap angka kesehatan masyarakat Banyumas. Dengan cakupan ASI eksklusif yang baik, maka akan baik pula derajat kesehatan masyarakatnya. Hal ini kemudian menjadi misi dari DKK agar semua programnya dapat tercapai dengan baik. Pertemuan rutin dengan pihak puskesmas, kader, lintas sektoral, maupun masyarakat terutama ibu-ibu hamil dan menyusui sering dilakukan.Perencanaan program kadang tidak dilakukan, karena program tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun, hanya laporan evaluasi saja yang akhirnya menjadi data pendukung.

Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan ASI (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan ASI antara lain:

  1. Perubahan sosial budaya.
  2. Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan masyarakat menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui.

  1. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.

Persepsi masyarakat akan gaya hidup mewah membawa dampak menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu botol sangat baik dan cocok untuk bayi. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu meniru orang lain, atau hanya untuk prestise.

  1. Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.

Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu buatan sebagai jalan keluarnya.

  1. Faktor psikologis.
  2. Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.

Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi akan mengalami perubahan payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui.

  1. Tekanan batin.

Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi sehingga dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya, bahkan mengurangi menyusui.

  1. Faktor fisik ibu.

Alasan yang cukup sering diungkapkan ibu untuk menyusui adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Tetapi sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui. Dan jauh lebih berbahaya untuk mulai memberi bayi makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.

  1. Kurangnya andil petugas kesehatan.

Dalam memberikan manajemen laktasi sebagai dasar pengetahuan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan ASI eksklusif, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat dan pemberian ASI.

 

 

  1. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.

Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan menurunnya kesediaan dan lamanya menyusui baik di desa maupun perkotaan. Distribusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat bukan hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di Indonesia (Siregar, 2004).

Pengertian ASI Eksklusif (skripsi dan tesis)

Definisi ASI menurut Depkes adalah sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang sangat seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya (Depkes RI, 2002).

Menurut WHO, ASI eksklusif adalah pemberian air susu ibu pada bayi baik langsung maupun tidak langsung sampai bayi berusia 4-6 bulan, tanpa mendapatkan cairan dan makanan padat lainnya kecuali sirup yang mengandung vitamin, mineral atau obat. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama (Krammer et al.,2003; Fewtrell et al., 2007; Manaf, 2010). Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan (Nielsen, 2010).

Laporan pertemuan pakar ASI WHO tentang lama menyusui ASI yang optimal yaitu terdapat perbedaan menyusui eksklusif 4-6 bulan dan 6 bulan (Krammer et al., 2003; Li, 2003; Kac, 2004; Fewtrell et al., 2007; Baker, 2008) :

  1. Mempunyai efek protektif terhadap penyakit infeksi gastrointestinal pada menyusui 6 bulan.
  2. Amenorea laktasi ibu yang menyusui eksklusif 6 bulan lebih panjang.
  3. Penurunan berat badan ibu pasca persalinan lebih banyak pada ibu menyusui eksklusif 6 bulan.
  4. Menghemat cadangan zat besi ibu.
  5. Dengan lama menyusui 6 bulan dapat mencegah kekurangan besi dan mikronutrien lain pada beberapa bayi yang rentan.

Pemberian ASI eksklusif didukung olehPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 berisi tentang :

  1. Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif yang berisi tentang peraturan dimana bayi harus diberikan asi sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain,
  2. Untuk menjamin hak bayi untuk mendapatkan asi dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya,
  3. Meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif (DEPKES RI, 2012).

Fungsi Manajemen (skripsi dan tesis)

Fungsi manajemen menurut Terry dikenal dengan akronim Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC). Koontz dan Donnell denan akronim Planning, Organizing, Staffing, Directing dan Controlling (POSDC). Perbedaan tersebut menurut Siagian bukan suatu perbedaan yang principal, karena tergantung dari sudut peninjauan dan kepentingan yang dipengaruhi oleh: kondisi organisasi, filsafat hidup, kondisi lingkungan, perkembangan pengetahuan dan teknologi serta pemanfaatannya. (Siagian, 2002)Adapun fungsi manajemen yang akan peneliti utarakan lebih lanjut adalah fungsi Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (penggerakan), Controlling (Pengawasan).

  1. Perencanaan

Terry menyatakan bahwa perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta-fakta, membuat dan menggunakan asumsi berdasarkan pada masa yang akandating, dalam gambaran dan perumusan kegiatan yang diusulkan yang diperlukan guna mencapai hasil yang diinginkan.

Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang pertama, yang menggambarkan tujuan serta usaha mencapainya secara efektif dan efisien dimasa mendatang yang penuh dengan ketidakpastan.Jadi, fungsi ini merupakan titik tolak suatu organisasi dalam melaksanakan kegiatan lebih lanjut.

Menurut Hani Handoko, perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa. Manajer puncak biasanya mencurahkan sebagian besar waktu perencanaan mereka untuk rencana jangka panjang dan strategi organisasi.

Manajer pada tingkat bawah merencanakan terutama bagi kelompok kerjanya untuk jangka pendek. Kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui 4 tahapan berikut ini :

  1. Menetapkan tujuan

Perencanaan dimulai dengan keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan jelas, organisasi akan menggunakan sumber dayanya secara tidak efektif.

  1. Merumuskan keadaan saat ini

Setelah keadaan organisasi saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana kegiatan lebih lanjut.Tahapan kedua ini memerlukan informasi, terutama keuangan dan data statistic yang didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi.

  1. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan

Segala kekuatan dan kelemahan perlu diidetifikasi untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan.Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya atau yang mungkin menimbulkan masalah. Antisipasi keadaan, masalah dan kesempatan serta ancaman yang mungkin terjadi di waktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan.

  1. Mengembangkan rencana atau kegiatan untuk pencapaian tujuan

Tahap akhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik diantara alternatif yang ada.

  1. Pengorganisasian

Terry menyatakan bahwa pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan perilaku yang efektif antara masing-masing orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan memperoleh kepuasan diri dalam melaksanakan tugas-tugas terpilih di dalam kondisi lingkungan yang ada, untuk mencapai tujuan dan sasaran. Di dalam lingkup organisasi perlu adanya jobdescription yang didalamnya memuat segala tugas dan tanggung jawab suatu jabatan tertulis secara sistematis dan teratur dengan didasarkan pada kenyataan apa, bagaimana, mengapa dan kapan suatu pekerjaan dilaksanakan.

Pengorganisasian adalah membagi pekerjaan yang telah direncanakan untuk dilaksanakan diantara anggota kelompok pekerjaan, membentuk hubungan pekerjaan yang tepat diantara mereka dan memberikan lingkungan pekerjaan yang tepat. (Hasibuan, 2003)

  1. Penggerakan

Terry menyebutkan penggerakan adalah membuat semua anggota kelompok mau bekerjasama dan bekerja dengan ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha pengorganisasian.Koontz dan Donell menyatakan bahwa pengorganisasian adalah pengarahan atau directing dan pemberian pimpinan atau leading. Dengan demikian inti dari penggerakan adalah bagaimana cara menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan ini meliputi bagaimana memimpin, memotivasi dan mengarahkan bawahan dan juga mengatasi pertentangan yang mungkin terjadi.

Penggerakan berhubugan erat dengan manusia yang ada di balik organisasi oleh karena itu aspek yang perlu diperhatikan adalah manusia.Untuk mewujudkan hal tersebut harus menggunakan komunikasi efektif.Jika komunikasi tidak efektif, sangat mungkin upaya penggerakan kurang atau tidak berhasil.

  1. Pengawasan

Menurut Terry, pengawasan itu menentukan apa yang telah dicapai. Artinya menilai hasil pekerjaan dan apabila perlu untuk mengadakan tindakan pengkoreksian sedemikian rupa, sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Seorang manajer mengharapkan bahwa kegiatan dari organisasinya (yang dilakukan oleh unit-unit organisasi maupun anggotanya) menuju ke arah tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itulah seorang manajer harus menjalankan fungsi pengawasan yang pada dasarnya meliputi 3 hal, yaitu :

  1. Menetapkan standar kerja atau performance
  2. Mengukur performance yang dicapai dan membandingkan dengan standar yang telah disepakati
  3. Melakukan tindakan koreksi tehadap keadaan yang menyimpang atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan.

Dengan menjalankan fungsi pengawasan atau pengendalian ini, manajer dapat menjaga agar organisasinya selalu dalam jalur dan arah yang benar

Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)

 

Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur, dalam hal mengaturakan timbul masalah, proses dan pertanyaan tentang apa yang diatur, siapa yang mengatur, mengapa harus diatur, dan apa tujuan pengaturan tersebut. Manajemen juga menganalisa, menetapkan tujuan atau sasaran serta menetapkan tugas dan kewajiban secara baik, efektif dan efisien.

Pengertian manajemen menurut beberapa ahli, antara lain :

  1. Koontz & O’Donnel dalam bukunya “Principles of Management” mengemukakan sebagai berikut : “Manajemen berhubungan dengan pencapaian suatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang lain”
  2. Marry Parker Follett mendefinisikan “manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain”
  3. George R. Terry dalam bukunya “Principles of Management” menyampaikan pendapatnya : “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerak pelaksana dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya” (Terry, 1964)

Pengertian manajemen dapat leih jelas kita ketahui dengan mempelajari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli seperti di bawah ini :

  1. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
  2. Manajemen merupakan suatuu proses yang khas yang terdiri tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. (Siagian, 2002)
  3. Unsur-unsur

Unsur-unsur manajemen pada dasarnya terdiri dari 6M, singkatan dari Man (manusia), Money (dana), Material (sarana/bahan baku), Machines (peralatan/prasarana), Methode (metode), dan Market (pasar/masyarakat). Mengingat sifat “keterbatasan dan ketidakpastian” yang melekat, maka unsur ini harus dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, melalui penyelenggaraan fungsi-fungsi manajemen, terutama unsur manusia sebagai sumber daya yang utama.Mengingat perannya dalam manajemen yang begitu besar, sehingga Siagian mengatakan bahwa manusia merupakan “titik sentral” dari manajemen.

Keterbatasan dan ketidakpastian unsur manusia terletak kepada jumlah, mutu dan terutama perilakunya.Perilaku manusia justru memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan unsur-unsur manajemen lainnya.Manusia bukan hanya sekedar gejala atau fenomena social, tetapi juga menciptakan fenomena tersebut. (Siagian, 2002)

  1. Pentingnya Manajemen

Pada dasarnya kemampuan manusia terbatas secara fisik, pengetahuan, waktu, dan perhatian sedangkan kebutuhan tidak terbatas.Usaha untuk memenuhi kebutuhan dan terbatasnya kemampuan dalam melakukan pekerjaan mendorong manusia membagi pekerjaan, tugas dan tanggung jawab.Dengan adanya pembagian tugas dan tanggung jawab tersebut, maka terbentuklah kerjasama dan keterikatan formal dalam satu organisasi. Dalam organisasi pekerjaan yang berat dan sulit akan dapat diselesaikan dengan baik serta tujuan yang diinginkan tercapai. Beberapa hal yang menyebabkan manajemen sangat diperlukan :

  1. Pekerjaan itu berat dan sulit dikerjakan sendiri, sehingga diperlukan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam penyelesaiaannya.
  2. Perusahaan akan dapat berhasil jika manajemen dapat diterapkan dengan baik.
  3. Manajemen yang baik akan mengurang pemborosan.
  4. Manajemen menetapkan tujuan dan usaha yang diwujudkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
  5. Manajemen diperlukan untuk kemajuan dan pertumbuhan.
  6. Manajemen selalu dibutuhkan dalam setiap tindakan kerjasama sekelompok orang. (Hasibuan, 2003)

SUMBER HIPOTESIS (skripsi dan tesis)

 

Hipotesis dapat bersumber dari dua hal (Hines dan Montgomery, 1990), yakni:

  1. Hasil pengalaman masa lalu atau pengetahuan atau sering dari percobaan sebelumnya. Tjuan pengujian hipotesis biasanya untuk menentukan apakah situasi percobaan telah berubah
  2. Teori atau model. Tujuannya untuk membuktikan kebenaran suatu teori atau model.

 

 

Juliandi dkk, 2014

HIPOTESIS PENELITIAN (skripsi dan tesis)

Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara dari pertanyaan yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan jawaban sementara oleh karena jawaban yang ada adalah jawaban yang berasal dari teori. Dengan kata lain, jika teori menyatakan bahwa A berpengaruh terhadap B maka hipotesis adalah sesuai dengan apa yang dikatakan teori tersebut yakni A berpengaruh terhadap B. jawaban sesungguhnya hanya bari akan ditemukan apabila peneliti telah melakukan pengumpulan data dan analisis data penelitian.

 

Juliandi dkk, 2014

SUMBER TEORI (skripsi dan tesis)

 

Teori dan penelitian harus bersama-sama berfungsi dalam menambah pengetahuan ilmiah dan seorang peneliti tidak boleh menilai teori terlepas dari penelitian empiris melainkan harus menghubungkan satu dengan lainnya, jika kita melakukan penelitian adalah yang paling tepat jika kita mendasarkan diri pada teori yang telah ada, dan hasil dari penelitian dapat memperluas, memperbaharui atau mengkoreksinya teori tersebut (Vredenberg, 1978).

Kuncoro (2003) menyatakan bahwa tinjauan pustaka atau studi literature merupakan langkah penting di dalam penelitian. Langkah ini meliputi identifikasi, lokasi dan analisis dari dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian secara sistematis. Dokumen ini meliputi jurnal, abstrak, tinjauan buku, data statistic dan laporan penelitian yang relevan. Melalui langkah ini penyusunan hipotesis juga lebih baik karena pemahaman permasalahan yang diteliti akan lebih mendalam. Dengan mengetahui berbagai peneltiian yang sudah ada, peneltii akan menjadi lebih tajam dalam melakukan interprestasi hasil penelitian

Juliandi dkk, 2014

MASALAH PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Definisi masalah penelitian dapat dilihat dari berbagai pendapat. Masalah penelitian adalah hasil dari suatu proses penalaran yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka untuk menerjemahkan fenomena untuk diuji melalui penelitian (Jonker dan Pennink, 2010). Biasanya masalah penelitian adalah suatu masalah tetapi dapat juga berarti peluang. Masalah diartikan sebagai sitausi dimana suatu fakta yang dapat terjadi sudah menyimpang dari batas toleransi yang diharapkan (Umar, 2002). Tetapi suatu masalah sebuah masalah penelitian tidak selalu berarti bahwa ada sesuatu yang secara serius adalah salah namun suatu masalah bisa saja merupakan minat, ketretarikan, rasa penasaran terhadap sesuatu (Sekaran, 2006)

 

Juliandi dkk, 2014

FUNGSI TEORI (skripsi dan tesis)

 

  • Mengidentifikasi permasalahan penelitian

Proses adalah penelitian adalah menetapkan permasalahan. Peneliti mengamati bahwa ada permaslaah tertentu di bidang ilmunya. Untuk memahami tersebut tidak cukuphanya dengan mengamati permasalah yang ada, peneliti perlu membaca teori untuk dapat memahami bagaimana pentingnya bagaimana pentingnya permasalahan itu untuk ditelitik, hal-hal apa saja yang menjadi faktor penyebab timbulnya permasalahan dan bagaimana menilai dan menyelesaikan permasalahan yang ada

  • Menjelaskan hakikat variable penelitian

Variable penelitian yang telah dipilih oleh peneliti dalam penelitiannya akan dapat lebih dipercaya secara ilmiah apabila variable tersebut didukung oleh suatu konsep sehingga isi teori bukan sekedar pendapat atau pemikiran peneliti. Konsep teori yang diperlukan untuk menjelaskan hakikat variable sebaiknya berisi mengenai apa, mengapa dan bagimana:

  1. Apa definisi suatu variable (definisi, pengertian)
  2. Apa saja faktor-faktor yang membentuk suatu variable
  3. Mengapa variable tersebut penting atau bermanfaat
  4. Bagaimana cara mengukur suatu variable
  5. Bagaimana hubungan satu variable dengan variable lainnya
  • Landasan untuk menyusun hipotesis penelitian

Teori dapat berfungsi sebagai landasan untuk menyusun suatu  variable yang berasal dari teori-teori yang ada

  • Dasar untuk menyusun instrument penelitian

Instrument penelitian (alat pengumpulan data penelitian) yang akan digunakan untuk mengukur suatu variable berasal dari teori-teori yang ada. Misalnya instrument yang digunakan peneliti adalah angket maka angket dapat dirancang atau atau dibangun dari teori, khususnya pada bagian yang mengemukakan mengenai ukuran atau indicator suatu variable

  • Acuan untuk membahas hasil penelitian

Teori juga berfungsi sebgai landasan bagi si peneliti ketika ia melakukan pembahasan atau analisis yang akan dilakukan. Apabila peneliti memperoleh suatu temua dari penelitiannya maka ia dapat membandingkannya dengan teori yang telah disusunnya, apakah temuan penelitiannya tersebut sama atau mungkin berbeda dengan teori yang ada

 

Juliandi dkk, 2014

 

MAKNA TEORI (skripsi dan tesis)

 

Teori adalah seperangkat konsep, konstruk dan preposisi tentang suatu objek penelitian (Dul dan Hak, 2008). Konsep dan kontruks memiliki makna yang berdekatan. Pertama konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasi hal-hal khusus (Kerlinger, 2000). Konsep dalam pengertian tersebut bermakna suatu ide atau pengertian yang dabstrakkan dari sesuatu yang nyata. Kedua, konstruk adalah konsep yang dapat diukur. Konsep dapat diontohkan dengan intelegensi yang didefiniskan dan dispesifikasikan dengan cara tertentu yang memungkinkan untuk diamati dan dilakukan pengukuran terhadapnya. Terakhir, presposisi adalah pernyataan yang berkaitan dengan hubungan antara suatu konsep dengan konsep lain.

Juliandi dkk, 2014

PERBEDAAN VARIABEL MODERATOR DAN  INTERVENING (skripsi dan tesis)

Perbedaan antara variable moderator dengan intervening bahwa variable moderator adalah mengenai “it depends” sedangkan variable intervening adalah mengenai “why and how”. Variable moderator menangani keadaan yang akan mngubah hubungan sederhana antara variable independen dan dependen sementar vaiabel intervening menyangkut masalah memahami mengapa dan bagaimana relasi/hubungan ada dan bisa terjadi serta bisa berhubungan secara kuat (Bennert, 2000). Varbel moderator menjelaskan keadaan yang menyebabkan hubungan yang lemah atau ambigu/tidak jelas antara dua variable yang diharapkan memiliki hubungan yang kuat

 

Juliandi dkk, 2014

JENIS-JENIS PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Penelitian Eksperimen

Penelitian yang melibatkan kelompok-kelompok yang berbeda. Kelompok-kelompk yang ada dibandingkan satu sama lain. Dalam penelitian ini ada dua kelompok yang menjadi penelitian, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok control (Kaufman dan Kaufman, 2005). Kelompok eksperimen adalah kelompok yang

  1. Penelitian Survey

Penelitian survey adalah penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data dengan menelaah sampel dari suatu populasi yang tersedia. Penelitian survey biasanya tidak dilakukan secara mendalam tentang fenomena yang diteliti.

  1. Penelitian Korelasional, Kausal dan Kausal Komparatif

Penelitian korelasional tujuannya adalah untukmemahami hubungan antar variable (kaufan dan Kaufan, 2005). Dalam hal lain, menyebutkan bahwa penelitian kausal adalah enelitian yang ingin melihat apakah suatu variable yang berperan sebagai variable bebas berpengaruh terhadap variable lain yang menjadi variable terikat

  1. Penelitian sejarah/historis

Penelitian sejarah atau historis adalah penelitian yang berawal dari hal-hal yang tidak diketahui. Penelitian ini berupaya untuk menemukan fakta-fakta atau kejadian di masa lalu (Sreedheran,2007). Data masa lalu dikumpulkan dari berbagai rekaman sejarah yang bertujuan untuk menemukan kebenaran tentang apa yang dipermasalahkan dalam penelitian.

  1. Penelitian studi kasus

Penelitian studi kasus bertujuan untuk mengeksplorasi mengkaji suatu kasus yang spesifik, khas dan unik (smons, 2009). Kasus digali secara mendalam untuk mendapatkan informasi dan fakta yang sebenarnya mengenai sutu kejadian. Apa dan mengapa sseseuatu kasus bisa terjadi. Penelitian studi kasus ini bermaksud hanya untuk mengeksplorasi sesuatu, bukan untuk menguji hipotesis tetapi justru untuk mengembangkan hipotesis

  1. Penelitian tindakan

Penelitian tindakan adalah pendekatan untuk memcahan masalah dengan melakukan tindakan atau aksi tertentu dengan melibatkan peneliti dan partisipasi objek yang diteliti serta melihat hasil yang terjadi dari penerapan tersebut dan mengevaluasi kelebihan kekurangannya.

  1. Penelitian grounded theory

Penelitian ini adalah penelitia yang berkaitan dengan teori. Dimana teori diibangun dari data-data yang dikumpulkan dan dianalisis secara kuantitatif untuk membangun konsep atau teori . teori dibangun karena ketiadaan atau keterbatasan teori yang ada, keterbatasan memahami suatu fenomena tertentu. Tujuan lainnya bisa juga untuk menyempurnakan atau memperbaiki teori yang sudah usah atau tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini

  1. Penelitian etnografi

Penelitian etnografi adalah pendekatan sistematis untuk mempelajari kehidupan budaya dan social masyarakat, institusi. Lebih jelas lagi penelitian ini adalah mempelajari apa yang orang pikirkan, percayai meraka lakukan pada suatu tempat dan waktu tertentu dan bertahan dari waktu ke waktu (Le Compte dan Schensui, 2010)

 

Juliandi dkk, 2014

CIRI-CIRI PENELITIAN ILMIAH (skripsi dan tesis)

 

Penelitian dapat dikatakan sebagai suatu prosespencarian atau penemuan. Setiap orang dapat melakukan pencarian. Hanya saja aktivitas pencarian belum tentu dapat dikatakna ilmiah. Pencarian atau penelitian boleh diakatakan ilmiah jika memiliki bebebrapa karakteristik tertantu.

  1. Sistematis

Ada langkah-langkah tertentu yang ditata sedemikian rupa dalam proses penemuan jawaban atas permasalahan. Umumnya penelitian diawali dengan penemuan permasalahan, penelaahan teori, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, mengolah dan menganlisis data dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

  1. Logis

Proses penemuan dilakukan dengan cara logis atau sesuatu yang bisa dicerna oleh akal sehat manusia. Suatu proses penemuan yang tidak bisa masuk akal seperti proses pencarian dalam kegiatan mistik, klenik bukanlah termasuk dalam penelitian ilmiah

  1. Kritis

Penelitian perlu mengedepankan sikap kritis, tidak mudah percaya tanpa adanya bukti nyata yang jelas. Fakta diperoleh dari sumber ilmiah dan fakta terpercaya

  1. Objektif

Penelitian harus memandang sesuatu apa adanya, tidak berorientasi kepada sikap subjektif atau emosional peneliti. Apabila suatu penelitian menukan fakta yang mungkin bertentangan dengan kebiasaan, maka suatu fakta tersebut harus diterima sebagai suatu kenyataan yang memang terjadi.

Juliandi dkk, 2014

 

Ruang Terbuka Hijau Dilihat dari Fungsi Peruntukannya (skripsi dan tesis)

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan Pasal 3 menegaskan bahwa fungsi RTH Kawasan Perkotaan  adalah :

  1. pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan;
  2. pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara;
  3. tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati;
  4. pengendali tata air; dan
  5. sarana estetika kota.

Pada pasal 4 ditegaskan bahwa manfaat RTH Kawasan Perkotaan adalah :

  1. sarana untuk mencerminkan identitas daerah;
  2. sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan;
  3. sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial;
  4. meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan;
  5. menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah;
  6. sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula;
  7. sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat;
  8. memperbaiki iklim mikro; dan
  9. meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di setiap kota memiliki tiga fungsi penting yaitu ekologis, sosial-ekonomi dan evakuasi. Ruang terbuka hijau merupakan salah satu ruang public memiliki fungsi utama sebagai sarana sosial yang mengeratkan hubungan antar warga. Tanpa ruang publik dikhawatirkan akan semakin mengembangkan pola kehidupan yang semakin individualis.Tiadanya ruang publik akan mengurangi kepedulian sosial, memicu keretakan dan mengurangi kerukunan antar masyarakat. Karena masyarakat tidak pernah bertemu dalam aktivitas sosial  (Irwan, 2005  ).

Pada dasarnya fungsi ruang terbuka dapat dibedakan menjadi dua fungsi utama yaitu fungsi sosial dan fungsi ekologis (Hakim, 2003:52 dalam Paulus Hariyono, 2007 : 153). Fungsi sosial dari ruang terbuka antara lain:

  • tempat bermain dan berolahraga;
  • tempat komunikasi sosial
  • tempat peralihan dan menunggu;
  • tempat untuk mendapatkan udara segar
  • sarana penghubung satu tempat dengan tempat lainnya;
  • pembatas di antara massa bangunan;
  • sarana penelitian dan pendidikan serta penyuluhan bagi masyarakat untuk membentuk kesadaran lingkungan;
  • sarana untuk menciptakan kebersihan, kesehatan, keserasian, dan keindahan lingkungan.

Fungsi sosial hutan kota terjadi karena penataan tumbuh-tumbuhan dalam hutan kota dengan baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat menyenangkan. Hutan kota dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga hutan kota dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan hasil tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti buah-buahan, kayu, obat-obatan sebagai warung hidup dan apotik hidup.

Konsep dalam memanfaatkan hutan kota ataupun taman kota akan terpeta melalui pengalaman tiap-tiap masyarakat melalui latar belakang budaya masyarakatnya. Karena itu, pemahaman konsep akan taman kota dapat dilihat latar belakang kebudayaan melalui tinjauan nilai budaya dan nilai sosial masyarakatnya dalam kaitannya dengan taman kota. Konsep penanaman tanaman dalam masyarakat Jawa lebih mengutamakan makna. Sebagai misal, pohon sawo kecik ditanam di halaman depan rumah sebagai lambang akan makna bahwa manusia hidup harus memiliki pikiran yang benar (Fandely, 2004 dalam Paulus Hariyono, 2007:232 ).  Menurut Tanjung dalam epilog buku tulisan Soesilo (2005: ix), orientasi nilai sosial yang mengutamakan kebersamaan, akan melahirkan konsep taman kota yang memiliki fungsi sosial yang tinggi. Taman kota yang dapat digunakan untuk bercengkerama, berolah raga, dan bermain menjadi bentuk ideal bagi masyarakat.

 

 Fungsi Keberadaan Ruang Terbuka Hijau Bagi Sebuah Kota (skripsi dam tesis)

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi lingkungan perkotaan yang rusak adalah dengan pembangunan ruang terbuka hijau kota yang mampu memperbaiki keseimbangan ekosistem kota. Upaya ini bisa dilakukan dengan cara membangun hutan kota yang memiliki beranekaragam manfaat. Menurut  Irwan (2005) Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Identitas Kota

Jenis tanaman dapat dijadikan simbol atau lambang suatu kota yang dapat dikoleksi pada areal hutan kota. Propinsi Sumatra Barat misalnya, flora yang dikembangkan untuk tujuan tersebut di atas adalah Enau (Arenga pinnata) dengan alasan pohon tersebut serba guna dan istilah pagar-ruyung menyiratkan makna pagar enau. Jenis pilihan lainnya adalah kayu manis (Cinnamomum burmanii), karena potensinya besar dan banyak diekspor dari daerah ini.

  1. Nilai Estetika

Komposisi vegetasi dengan strata yang bervariasi di lingkungan kota akan menambah nilai keindahan kota tersebut. Bentuk tajuk yang bervariasi dengan penempatan (pengaturan tata ruang) yang sesuai akan memberi kesan keindahan tersendiri. Tajuk pohon juga berfungsi untuk memberi kesan lembut pada bangunan di perkotaan yang cenderung bersifat kaku. Suatu studi yang dilakukan atas keberadaan hutan kota terhadap nilai estetika adalah bahwa masyarakat bersedia untuk membayar keberadaan hutan kota karena memberikan rasa keindahan dan kenyamanan .

  1. Penyerap Karbondioksida (CO2)

Ruang terbuka hijau merupakan penyerap gas karbon dioksida yang cukup penting, selain dari fitoplankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam menyerap gas ini sebagai akibat menyusutnya luasan hutan akibat perladangan, pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan, baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas karbon dioksida dengan air menjadi karbohidrat (C6H12O6.) dan oksigen (O2). Proses kimia pembentukan karbohidrat (C6H12O6.) dan oksigen (O2) adalah 6CO2 + 6H2O + Energi dan klorofil menjadi C6H12O6. + 6 O2.

Proses fotosintesis sangat bermanfaat bagi manusia. Pada proses fotosintesis dapat menyerap gas yang bila konsentarasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses fotosintesis menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan. Jenis tanaman yang baik sebagai penyerap gas Karbondioksida (CO2) dan penghasil oksigen adalah damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis), dan beringin (Ficus benjamina).  Penyerapan karbon dioksida oleh hutan kota dengan jumlah 10.000 pohon berumur 16-20 tahun mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per tahun.  (Simpson and McPherson, 1999)

  1. Pelestarian Air Tanah

Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan mengurangi tingkat erosi, menurunkan aliran permukaan dan mempertahankan kondisi air tanah di lingkungan sekitarnya. Pada musim hujan laju aliran permukaan dapat dikendalikan oleh penutupan vegetasi yang rapat, sedangkan pada musim kemarau potensi air tanah yang tersedia bisa memberikan manfaat bagi kehidupan di lingkungan perkotaan. Hutan kota dengan luas minimal setengah hektar mampu menahan aliran permukaan akibat hujan dan meresapkan air ke dalam tanah sejumlah 10.219 m3 setiap tahun.(Urban Forest Research, 2002)

  1. Penahan Angin

Ruang terbuka hijau berfungsi sebagai penahan angin yang mampu mengurangi kecepatan angin 75 – 80 %. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain hutan kota untuk menahan angin adalah sebagai berikut :

  1. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat.
  2. Daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang
  3. Memiliki jenis perakaran dalam.
  4. Memiliki kerapatan yang cukup (50 – 60 %).
  5. Tinggi dan lebar jalur hutan kota cukup besar, sehingga dapat melindungi wilayah yang diinginkan.

Penanaman pohon yang selalu hijau sepanjang tahun berguna sebagai penahan angin pada musim dingin, sehingga pada akhirnya dapat menghemat energi sampai dengan 50 persen energi yang digunakan untuk penghangat ruangan pada pemakaian sebuah rumah. Pada musim panas pohon-pohon akan menahan sinar matahari dan memberikan kesejukan di dalam ruangan.

  1. Ameliorasi Iklim

Ruang terbuka hijau dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan untuk menurunkan suhu pada waktu siang hari dan sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi. Jumlah pantulan radiasi matahari suatu ruang terbuka hijau sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar matahari, keadaan cuaca dan posisi lintang. Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman daripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman. Selain suhu, unsur iklim mikro lain yang diatur oleh hutan kota adalah kelembaban. Pohon dapat memberikan kesejukan pada daerah-daerah kota yang panas (heat island) akibat pantulan panas matahari yang berasal dari gedung-gedung, aspal dan baja. Daerah ini akan menghasilkan suhu udara 3-10 derajat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Penanaman pohon pada suatu areal akan mengurangi temperatur atmosfer pada wilayah yang panas tersebut.      (Forest Service Publications, 2003)

 

  1. Habitat Hidupan Liar

Ruang terbuka hijau bisa berfungsi sebagai habitat berbagai jenis hidupan liar dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Hutan kota merupakan tempat perlindungan dan penyedia nutrisi bagi beberapa jenis satwa terutama burung, mamalia kecil dan serangga. Hutan kota dapat menciptakan lingkungan alami dan keanekaragaman tumbuhan dapat menciptakan ekosistem lokal yang akan menyediakan tempat dan makanan untuk burung dan binatang lainnya.

 

  1. Pengolahan sampah

Ruang terbuka hijau kota dapat diarahkan untuk pengolahan sampah, yaitu dapat berfungsi sebagai : (1) penyekat bau; (2) penyerap bau; (30 pelindung tanah hasil bentukan dekomposisi dari sampah; dan (4) penyerap zat yang berbahaya (dan beracun / B30 yang mungkin terkandung dalam sampah seperti logam berat, pestisida serta B3 lainnya.

  1. Pelestarian Air Tanah

Sistem perakaran tanaman dan serah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori-pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopisdengan kemmpuan menyerap air yang besar. Maka kadar air tanah hutan akan meningkat. Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya ditanami dengan tanaman yang memounyai daya evaporation rendah. Disamping itu sistem perakarannya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak yang meresap masuk kedalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit air yang berupa air limpasan (surface run off).( Bernatzky, 1978)

  1. Penepis Cahaya Silau

Sebagaimana sifat benda jika terkena cahanya akan cenderung menyerap dan atau memantulkan cahaya. Keberadaan pohon dapat membantu melakukan penyerapan cahaya yang ditimbulkan oleh benda yang ada. Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatan pohonnya.

  1. Meningkatkan keindahan

Benda-benda disekililing manusia dapat ditata dengan indah menurut garis, bentuk, warna, ukuran dan teksturnya (Budihardjo, 1993 hal 64) sehingga diperoleh suatu bentuk komposisi yang menarik. Ruang Terbuka Hijau yang didalamnya terdapat unsure tanaman ddalam bentu, warna dan teksturnya dapat dipadukan dan dikombinasikan dengan benda lain, sehingga menghasilkan sebuah tatanan panorama yang indah.

  1. Mengamankan pantai dari abrasi

RTH kota berupa formasi tanaman (hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat membantu proses penegndapan lumpur dipantai. Keberadaanya bisa berdiri sendiri sebagai hutan monospesies atau dapat dikombinasi dengan tanaman lain misalnya keben, nyamplung, ketapang, kelapa dan berbagai jenis semak dan rumput. Hal ini akan dapat digunakan untuk melindungi pantai dari hempasan air yang besar seperti tsunami misalnya.

  1. Meningkatkan industri pariwisata

Keberadaan ruang terbuka hijau kota dapat dikombinasikan dengan fungsi pariwisata. Kita lihat keberadaan bunga bangkai (Amorphophalllus titanium) dikebun raya Bogor dan bungan Raflesia Arnoldi di Bengkulu merupakan salah satu daya tarik wisatawan Nusantara maupun wisatawan manca negara.

  1. Produksi Terbatas atau Manfaat Ekonomi

Manfaat ruang terbuka hijau dalam aspek ekonomi bisa diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, manfaat ekonomi hutan kota diperoleh dari penjualan atau penggunaan hasil hutan kota berupa kayu bakar maupun kayu perkakas. Penanaman jenis tanaman hutan kota yang bisa menghasilkan biji, buah atau bunga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh masyarakat untuk  meningkatkan taraf gizi, kesehatan dan penghasilan masyarakat. Buah kenari selain untuk dikonsumsi juga dapat dimanfaatkan untuk kerajinan tangan. Bunga tanjung dapat diambil bunganya. Buah sawo, pala, kelengkeng, duku, asam, menteng dan lain-lain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat kota. Sedangkan secara tidak langsung, manfaat ekonomi hutan kota berupa perlindungan terhadap angin serta fungsi hutan kota sebagai perindang, menambah kenyamanan masyarakat kota dan meningkatkan nilai estetika lingkungan kota. (Fandeli, 2004).

Hutan kota dapat meningkatkan stabilitas ekonomi masyarakat dengan cara menarik minat wisatawan dan peluang-peluang bisnis lainnya, orang-orang akan menikmati kehidupan dan berbelanja dengan waktu yang lebih lama di sepanjang jalur hijau, kantor-kantor dan apartemen di areal yang berpohon akan disewakan serta banyak orang yang akan menginap dengan harga yang lebih tinggi dan jangka waktu yang lama, kegiatan dilakukan pada perkantoran yang mempunyai banyak pepohonan akan memberikan produktivitas yang tinggi kepada para pekerja (Forest Service Publications, 2003. Trees Increase Economic Stability, 2003).

Dampak negatif dari tidak optimalnya RTH dimana RTH tidak memenuhi persyaratan jumlah dan kualitas  baik disebabkan karena RTH tidak tersedia, RTH tidak fungsonal, fragmentasi lahan menurunkan kapasitas lahan dan selanjutnya menurunkan  kapasitas lingkungan, alih guna dan fungsi lahan terjadi teruama dalam bentuk / kejadian :

  • Menurunnya kenyamanan kota meliputi penurunan kapasitas dan daya dukung wilayah yang dapat mengakibatkan pencemaran meningkat, ketersediaan air tanah menurun, suhu kota meningkat.
  • Menurunkan keamanan kota
  • Menurunkan keindahan alami kota ( natural amenities) dan artifak alami sejarah yang bernilai kultural tinggi.
  • Menurunnya tingkat kesehatan masyarakat baik secara fisik maupun non fisik, meliputi :
  1. Tidak terserap dan terjerapnya partikel timbal
  2. Tidak terserap dan terjerapnya debu semen
  3. Tidak ternetralisirnya bahaya hujan asam
  4. Tidak terserapnya karbon monoksida (CO)
  5. Tidak terserapnya karbon dioksida
  6. Tidak teredamnya kebisingan
  7. Tidak tertahannya hembusan angin
  8. Tidak terserap dan tertapisnya bau.

 

 Peranan Ruang Terbuka Hijau bagi Sebuah Daerah Perkotaan (skripsi dan tesis)

Kota merupakan suatu pusat pemukiman penduduk yang besar dan luas yang tidak haya merupakan kumpulan gedung-gedung dan sarana fisik lainnya. Komponen  kota adalah antara lingkungan fisik kota dan warga kota yang selalu berinteraksi selama proses perkembangan kota.

Peranan ruang terbuka hijau bagi sebuah kota dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikt :

  1. Terhadap Kualitas lingkungan kota
  2. Terhadap Kelestarian lingkungan
  3. Menunjang tata guna dan kelestarian air.
  4. Menunjang tata guna dan pelestarian tanah.
  5. Menunjang pelestarian plasma nutfah
  6. Menyegarkan udara atau sebagai paru-paru kota.

Sedangkan latar belakang yang mendasari arti penting keberadaan suat ruang terbuka hijau pada suatu kota adalah sebagai berikut :

  1. Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas
  2. Tata ruang kota penting dalam usaha untuk efisiensi sumberdaya kota dan juga efektifitas penggunaanya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya lainnya.
  3. RTH perkotaan memiliki manfaat kehidupan yang tinggi.
  4. Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan.

Kebijakan Ruang Terbuka Hijau (skripsi dan tesis)

Menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa RTH terdiri dari RTH Publik dan Privat. Total  luasan RTH perkotaan harus mencapai 30 % dari luasan kota.  Yang terdiri dari 10 % dari luasan wilayah merupakan RTH Privat dan  20 % dari luasan berupa RTH publik.

Menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Kawasan Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan jenis RTH Kawasan Perkotaan meliputi: taman kota; taman wisata alam ; taman rekreasi ; taman lingkungan perumahan dan permukiman ; taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial ; taman hutan raya ; hutan kota ; hutan lindung ; bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah; cagar alam; kebun raya; kebun binatang; pemakaman umum; lapangan olah raga; lapangan upacara; parkir terbuka; lahan pertanian perkotaan; jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET); sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa; jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian; kawasan dan jalur hijau; daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara; dan taman atap (roof garden).

Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri dari :

  1. Pertamanan  kota
  2. Kawasan hijau hutan kota
  3. Kawasan hijau rekreasi kota
  4. Kawasan hijau kegiatan olahraga
  5. Kawasan hijau pekarangan.

Ruang terbuka hijau diklasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2004:72).

Kehadiran pohon di perkotaan memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota yang biasanya diwarnai kehidupan yang keras baik dalam arti fisik ataupun psikis, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman (mulai dari rumput, semak sampai pohon) (Budihardjo, 1993:45).

Berdasarkan  Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan, dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi:

  1. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis;
  2. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi;
  3. area pengembangan keanekaragaman hayati;
  4. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan;
  5. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat;
  6. tempat pemakaman umum;
  7. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan;
  8. pengamanan sumber daya baik alam, buatan maupun historis;
  9. penyediaan RTH yang bersifat privat, melalui pembatasan kepadatan serta criteria pemanfaatannya;
  10. area mitigasi/evakuasi bencana; dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut.

Adapun pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH dapat dikelompokkan sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.1. Jika dilihat  dari  fungsinya  RTH  dapat  berfungsi  ekologis,  sosial  budaya,  estetika,  dan ekonomi.  Secara struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok, memanjang,  tersebar),  maupun  pola  planologis  yang  mengikuti  hirarki  dan struktur  ruang perkotaan.

Pengertian Ruang Terbuka Hijau (skripsi dan tesis)

 

Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pekarangan. Ruang terbuka hijau di klasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2004: 27).  Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang  disebutkan bahwa pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan,  Ruang Terbuka Hijau dibedakan menjadi dua yakni Runag Terbuka Hijau Publik dan Ruang Terbuka Hijau Privat. Ruang Terbuka Hijau publik adalah RTH yang dimiliki atau dikelola oleh Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat umum. Sedangkan Ruang Terbuka Hijau Privat dalah RTH milik instansi tertentu atau perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Jenis RTH Publik Kawasan Perkotaan meliputi: taman kota; taman wisata alam ; taman rekreasi ; taman lingkungan perumahan dan permukiman ; taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial ; taman hutan raya ; hutan kota ; hutan lindung ; bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah; cagar alam; kebun raya; kebun binatang; pemakaman umum; lapangan olah raga; lapangan upacara; parkir terbuka; lahan pertanian perkotaan; jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET); sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa; jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian; kawasan dan jalur hijau; daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara; dan taman atap (roof garden). Sedangkan untuk RTH Privat meliputi pekarangan rumah tinggal, kebun, halaman perkantoran/took/tempat usaha, taman atap bangunan, taman RT, dan taman RW.

Sedangkan menurut Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14  Tahun 2011 Tentang  Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun  2011 –  2031 menyebutkan bahwa   Ruang Terbuka Hijau  privat meliputi: 1) Ruang Terbuka Hijau pekarangan; dan 2)  Ruang  Terbuka  Hijau  halaman  perkantoran,  pertokoan,  dan  tempat usaha.  Ruang  Terbuka  Hijau  Kota  Publik  meliputi: 1)  ruang terbuka hijau taman dan hutan kota; 2) ruang terbuka hijau jalur hijau jalan; dan 3)  ruang terbuka hijau fungsi tertentu.

Status kepemilikan RTH dapat berupa RTH publik yang penyedia dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota, dan RTH privat atau non-publik yang penyedia dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab pihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh pemerintah kabupaten/kota.

 

 

Tabel 2.1.

 

Kepemilikan RTH

 

No. Jenis RTH Publik RTH Privat
1. RTH Pekarangan    
  a. Pekarangan rumah tinggal   V
  b. Halaman perkantoran, pertokoan, dan tempat   V
    usaha            
  c. Taman atap bangunan         V
2. RTH Taman dan Hutan Kota          
  a. Taman RT     V V
  b. Taman RW     V V
  c. Taman kelurahan     V V
  d. Taman kecamatan     V V
  e. Taman kota     V  
  f. Hutan kota     V  
  g. Sabuk hijau (green belt)     V  
3. RTH Jalur Hijau Jalan        
  a. Pulau jalan dan median jalan V V
  b. Jalur pejalan kaki V V
  c. Ruang dibawah jalan layang V  
4. RTH Fungsi Tertentu    
  a. RTH sempadan rel kereta api V  
  b. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi V  
  c. RTH sempadan sungai V  
  d. RTH sempadan pantai V  
  e. RTH pengamanan sumber air baku/mata air V  
  f. Pemakaman V  

Sumber: Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

 

 

Ruang terbuka hijau menurut sifat penggunaannya terbagi dalam dua kategori yaitu terbuka pasif dan terbuka aktif. Ruang terbuka aktif umumnya dipergunakan  untuk kegiatan kemanusiaan misalnya taman kota, areal camping, taman kota, lapangan olah raga, dan sebagainya. Ruang terbuka pasif yaitu ruang terbuka yang digunakan untuk menunjang ekosistem setempat seperti kantong-kantong hijau, jalur hijau, lapangan terbang, kuburan, waduk, dan hutan kota.

Ruang terbuka hijau (RTH) adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi berkayu); Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan (Direktorat Jendral Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, 2006).

Peraturan Menteri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan yang disingkat RTHKP adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika (pasal 1 ayat 2). RTHKP Publik adalah RTHKP yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota (pasal 1 ayat 19). Pemanfaatan RTHKP publik dikelola oleh Pemerintah Daerah dengan melibatkan para pelaku pembangunan. RTHKP publik tidak dapat dialihfungsikan. Pemanfaatan RTHKP publik dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga ataupun antar pemerintah daerah (Pasal 12 ayat 3 dan 4).

 

Manfaat Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah merupakan masalah yang paling sering ditemui terutama pada daerah-daerah yang sedang berkembang dan dikota-kota besar, jika tidak diperlakukan dengan benar, sampah ini dapat menimbulkan masalah yang serius bagi manusia, oleh karenanya sampah harus diperlakukan dengan benar dan ditangani secara serius dengan memanfaatkan sisa-sisa dari kegiatan manusia tersebut.

Sebenarnya sampah yang dianggap tak berguna itu memiliki manfaat yang cukup besar untuk manusia. Berikut beberapa manfaat sampah untuk manusia diantaranya (Sejati, 2009)

  1. Sebagai pupuk organik untuk tanaman. Limbah dari sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk penyubur tanaman dengan menyulap sampah menjadi kompos. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah, dengan meningkatkan kandungan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air dalam tanah.
  2. Sumber humus. Sampah orgnaik yang tenah membusuk seperti dapat menjadi humus yang dibutuhkan untuk tanah untuk menjaga kesuburan tanah. serta menjadi sumber makanan yang baik bagi tumbuh-tumbuhan, meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, mencegah pengerukan tanah, menaikkan aerasi tanah, menaikkan foto kimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik racun.
  3. Sampah dapat didaur ulang. Limbah sampah dari plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai barang yang bermanfaat seperti menjadi produk furnitur yang cantik. Atau didaur ulang kembali menjadi bahan baku pembuatan produk plastik atau kertas.

Pengelolaan sampah (skripsi dan tesis)

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Diantaranya kegiatan pengelolaan sampah meliputi penanganan ditempat, pengumpulan sampah, transfer dan transport, dan pengolahan. (Sejati, 2009)

  1. Penanganan di Tempat (on place handling)

Penanganan sampah di tempat adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan dilokasi tempat pembuangan, penanganan sampah di tempat dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada terhap-tahap yang meliputi pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang, dengan tujuan untuk mereduksi besarnya timbunan sampah.

  1. Pengumpulan (collection)

Pengumpulan ini merupakan tindakan pengumpulan sampah dari sumbernya menuju ketempat pembuangan sementara, dan pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikelompokkan dalam 2 (dua), yaitu pola individual dan pola komunal.

  1. Pengangkutan (transfer/transport)

Pengangkutan merupakan usaha pemindahan sampah dari TPS menuju TPA dengan menggunakan truk sampah.

  1. Pengolahan (processing)

Sampah dapat diolah tergantung pada jenis dan komposisinya, berbagai alternatif yang tersedia dalam proses pengolahan sampah di antaranya:

  1. Transformasi fisik, meliputi pemisahan sampah dan pemadatan yang bertujuan untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan.
  2. Pembuatan kerajinan daur ulang, yaitu mengubah sampah kering (an-organik) menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis.
  3. Pembuatan kompos (composting), yaitu mengubah sampah melalui proses mikrobiologi menjadi produk lain yang dapat dipergunakan. Output dari proses ini adalah kompos dan gas bio.

Klasifikasi Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:

  1. Sampah Berdasarkan Bentuk

Menurut Hadiwiyoto (Sejati, 2009), sampah berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah padat (solid) misal: daun, kertas, karton, kaleng, plastik dan logam.
  2. Sampah cair, misalnya bekas air pencuci, bekas cairan yang tumpah, tetes tebu, dan limbah industri yang cair.
  3. Sampah berbentuk gas, misalnya karbondioksida, amonia, H2S, dan lainnya.
  1. Sampah Berdasarkan Proses Terjadinya

Sampah berdasarkan proses terjadinya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah alami, yaitu sampah yang terjadi karena proses alami, misalnya daun-daun yang rontok.
  2. Sampah non alami, yaitu sampah yang terjadi karena kegiatan manusia, misalnya: plastik dan kertas.
  1. Sampah Berdasarkan Zat Kimia yang Terkandung

Menurut Notoatmodjo (2011), sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah anorganik, yaitu sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya: logam/ besi, pecahan gelas, plastik, dan sebagainya.
  2. Sampah organik, yaitu sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya: sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
  1. Sampah Berdasarkan Karakteristik

Menurut Chandra (2007), sampah dapat dibedakan menjadi beberapa pengertian, antara lain:

  1. Garbage, adalah terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya.
  2. Rubbish, terbagi menjadi 2 yaitu:
    1. Yang mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, seperti kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
    2. Yang tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat anorganik, seperti kaca, kaleng, dan sebagainya.
  3. Ashes, adalah semua sisa pembakaran dari industri.
  4. Street sweeping, adalah sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
  5. Dead animal, adalah segala jenis bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami.
  6. House hold refuse, adalah jenis sampah campuran (misalnya, garbage, ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.
  7. Abandoned vehicle, adalah sampah yang berasal dari bangkai kendaraan.
  8. Demolision waste, adalah sampah yang berasal dari sisa pembanguman gedung, seperti tanah, batu dan kayu.
  9. Sampah industri, adalah sampah yang berasal dari pertanian, perkebunan, dan industri.
  10. Santage solid, sampah yang terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik, pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.
  11. Sampah khusus, adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.

Sumber Sampah (skripsi dan tesis)

Menurut Budiman Chandra (2007), sumber sampah dapat berasal dari beberapa sumber berikut:

  1. Pemukiman penduduk

Sampah disuatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu, atau sampah sisa tumbuhan.

  1. Tempat umum dan tempat perdagangan

Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.

  1. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah

Sarana layanan masyarakat yang dimaksud antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya: rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan tempat khusus dan sampah kering.

  1. Industri berat dan ringan

Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan air kotor dan air minum, dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.

  1. Pertanian

Sampah yang dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

 

Pengertian Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah didefinisikan sebagai semua bentuk limbah berbentuk padat yang berasal dari kegiatan manusia dan hewan kemudian dibuang karena tidak bermanfaat atau keberadaannya tidak di inginkan lagi . (Saputro, 2015). Menurut Notoatmodjo (2011), pengertian sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang.

Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga menjelaskan agi tentang definisi sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Secara umum, sampah dapat dibagi dua, yaitu sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering), sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur dan lain-lain, sampah jenis ini dapat terdegrasi (membusuk/hancur) secara alami. Sedangkan sampah kering seperti plastik, kertas, dan kaleng, sampah sejenis ini tidak dapat terdegrasi secara alami dan perlu pengelolaan atau campur tangan manusia untuk mengelola sampah jenis tersebut.

Pengertian Proyek (skripsi dan tesis)

Tampubolon (2004) mendefinisikan proyek sebagai suatu rangkaian kegiatan
yang hanya terjadi sekali, dimana pelaksanaannya sejak awal sampai akhir
dibatasi oleh kurun waktu tertentu. Sedangkan Munawaroh (2003) menjelaskan proyek merupakan bagian dari program kerja suatu organisasi yang sifatnya temporer untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi, dengan memanfaatkan sumber daya manusia maupun non sumber daya manusia. Proyek merupakan kegiatan yang memiliki batas waktu dalam pengerjaannya.
Menurut Subagya (2000) proyek merupakan suatu pekerjaan yang memiliki
tanda-tanda khusus sebagai berikut:
1) Waktu mulai dan selesainya sudah direncanakan.
2) Merupakan suatu kesatuan pekerjaan yang dapat dipisahkan dari yang lain.
3) Biasanya volume pekerjaan besar dan hubungan antar aktifitas kompleks.
Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan
dalam satu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumber-sumber untuk
mendapatkan benefit (Gray, et al., 2007). Kegiatan-kegiatan tersebut dapat
meliputi pembangunan pabrik, jalan raya atau kereta api, irigasi, bendungan,
gedung sekolah atau rumah sakit, perluasan atau perbaikan program-program
yang sedang berjalan, dan sebagainya. Sedangkan Meredith dan Mantel (2006) mengatakan bahwa “The project is complex enough that the subtasks require careful coordination and control in terms of timing, precedence, cost, and performance.” Dapat diartikan bahwa proyek memiliki subtugas yang cukup kompleks dan memerlukan koordinasi yang cermat, selain itu melakukan kontrol terhadap waktu, biaya dan kinerja.
Menurut Malik (2010) proyek merupakan sekumpulan kegiatan terorganisir
yang mengubah sejumlah sumber daya menjadi satu atau lebih produk barang/jasa bernilai terukur dalam sistem satu siklus, dengan batasan waktu, biaya, dan kualitas yang ditetapkan melalui perjanjian. Dalam sebuah proyek, penggunaan biaya, waktu serta tenaga dibatasi, sehingga penanggung jawab proyek harus bisa mengelola kegiatannya agar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

Metode Pengawasan Kualitas (skripsi dan tesis)

 

Metode pengawasan proses digunakan untuk memonitor karakteristik kualitas selama proses transformasi berlangsung.Metode ini sangat berguna terutama dalam hal (Yamit, 2003) :

o Mengukur kualitas yang terdapat dalam barang atau jasa

o Mendeteksi apakah proses itu sendiri mengalami perubahan sehingga mempengaruhi kualitas.

Jika pemeriksaaan sampel ditemukan berada di luar batas kontrol atas atau upper control limt (UCL), dan di bawah batas kontrol bawah atau lower control limit (LCL) maka proses transformasi harus diperiksa untuk mencari penyebabnya, apakah pemasangan mesin salah, apakah diperlukan adanya maintenance pada mesin, operator yang tidak berpengalaman, atau bahan baku yang tidak memenuhi standard. Metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengawasan proses adalah (Marbun 1985):

  1. a) Bagan pengawasan variabel (variable control chart)

Bagan pengawasan variabel yang sering digunakan secara bersama adalah range chart (R-chart) dan average chart. Dalam metode ini yang diukur adalah variabel yang berkaitan dengan berat, panjang, derajat, intensitas,atau ukuran lain yang dapat diskala.

Untuk membuat grafik atau grafik rata-rata perlu dicari terlebih dahulu nilai  .Kemudian dicari nilai R (Range) yang didefinisikan sebagai selisih antara nilai tertinggi dan nilai terendah dari variabel yang diamati Selanjutnya dicari nilai simpangan baku (standard deviasi).

  1. b) Bagan pengawasan atribut (attribute control chart)

Proses control chart dapat pula digunakan untuk mengawasi atribut-atribut output. Atribut adalah sifat yang didasarkan padaskala dikotomi seperti baik-buruk, tinggi-rendah, panas-dingin, cepat-lambat atau sifat lain yang tidak perlu diukur dengan ketepatan melainkan dengan ukuran ya atau tidak. Bagan control yang sering digunakan adalah bagan bagian cacat atau P-Chart dan bagan jumlah cacat atau C-Chart.

 

Tahapan-Tahapan Dalam Pengawasan Kualitas (skripsi dan tesis)

 

Dalam perkembangan teknik dan metode pengawasan kualitas produk, ada 3 tahapan untuk menjalankan quality control, yaitu (Paranthaman,1967):

  1. Kegiatan Inspeksi (Inspections)

Kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaaan secara berkala (routin schedule check) bangunan dan peralatan pabrik sesuai dengan rencana serta kegiatan penegcekan atau pemeriksaaan tersebut. Maksud kegiatan inspeksi ini adalah untuk mengetahui apakh kegaiatan pabrik selalu mempunyai peralatan atau fasilitas produksi yang baik untuk menjamin kelancaran proses produksi. Jika seandainya terdapat kerusakan, maka dapat segera diadakan perbaikan-perbaiakan yang diperlukan sesuai dengan laporan hasil inspeksi dan berusaha untuk mencegah sebab-sebab timbulnya kerusakan dengan melihat hasil dari inspeksi tersebut. Oleh karena itu hasil laporan inspeksi haruslah memauat peralatan yang inspeksi, sebab-sebab trjadinya kerusakan bila ada, usaha-usaha penyesuaian ataua perbaikan kecil yang telah dilakukan dan saran-saran atau ususl perbaikan atau penggantian yang diperlukan.

Laporan hasil inspeksi dibuat dan dilaporkan oleh bagian pemeliharaan untuk pimpinan perusahaan dan laporan ini sangat berguna bagi pimpinanan. Misalnya laporan tentang mesin atau peralatan yang sering rusak, merupakan bahan pertimbangan bagi pimpinan perusahaan untuk dapat mengambil keputusan, apakah mesin atau peralatan tersebut perlu diganti atau tidak.

  1. Statistical Quality Control (SQC)

Tahapan ini didasarkan pada hasil produk jadi. SQC dapat  menggambarkan secara tepat pola produk sebuah rangkaian proses produksi sehingga dapat ditentukan produk-produk yang dapat diterima (acceptable quality level) dan yang tidak dapat diterima secara kualitas.

Meskipun pengawasan statistic (SQC) merupakan teknik yang penting dalam sistem pengawasan kualitas, sistem ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut :

  • Tingkat kualitas yang dapat diterima (acceptabele quality level) ditetapkan 0,5% hingga 1,0 %. Tingkat tersebut tidak memuaskan bagi produsen yang ingin mencapai produksi tanpa cacat (khususnya untuk industri dengan produk yang kompleks seperti mesin, peralatan elektronik dan lainnya).
  • Penempatan tingkat kecacatan 0,5% – 1,0% dapat terjadi pada setiap tahapan produksi, akibatnya aliran proses akan terganggu atau bahkan berhenti sama sekali.
  1. Reliabilitas (Reliability)

Reliabilitas didefinisikan sebagai kemungkinan untuk melakukan proses produksi tanpa kesalahan (zero deffect) pada rentang waktu tertentu.

Dua kelemahan SQC di atas menyebabkan banyak perusahaan merancang pengawasan dengan berpedoman pada konsep cacat nol (zero defect) atau reliabilitas yang tinggi untuk mempertahankan kualitas output disertai dengan pengawasan proses full inspection (pengawasan penuh keseluruhan operasi), namun tidak semua perusahaan dapat melaksanakannya.

 

Pengertian Pengawasan (skripsi dan tesis)

 

Agar dapat memberikan pengertian yang lebih jelas tentang masalah pengawasan ini maka terlebih dahulu dikemukakan pendapat dari Sofjan Assauri tentang pengawasan sebagai berikut :

“Suatu pemeriksaan dan pengendalian kegiatan yang telah atau sedang dilakukan agar kegiatan tersebut dapat sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan”.

 

Dalam menjalankan sistem produksi, kegiatan pengawasan tidak dapat terlepas dari kegiatan perencanaan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.M. Manulang mendefinisikan tentang pengawasan sebagai berikut :

 

“Pengawasan ini terutama untuk memperbaiki tindakan-tindakan yang salah dalam pelaksanaan dengan maksud apa yang dikerjakan sesuai dengan yang diharapkan”.

 

Dari definisi dua pendapat diatas dapat diambil pengertian bahwa pengawasan adalah merupakan usaha atau kegiatan untuk menjamin agar hasil dapat tercapai.

Lingkup kegiatan pengawasan kualitas sangat luas, banyak hal yang menentukan atau mempengaruhi kualitas. Menurut Elwood S Bufa, pelaksanaan pengawasan kualitas dengan cara mengontrol “Pengawasan terhadap bahan yang masuk proses pada saat produksi dan prestasi terakhir dari produk dan jasa”.

1 . Pengawasan bahan baku

Dalam pengawasan terhadap bahan baku pada pengawasan kualitas, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dikerjakan oleh manajemen perusahaan agar bahan baku yang diterima perusahaan yang bersangkutan dapat dijaga kualitasnya. Beberapa hal tersebut antara lain adalah seleksi sumber bahan, pemeriksaan dokumen pembelian, pemeriksaan penerimaan bahan dan penjagaan gudang bahan baku perusahaan. Apabila hal-hal tersebut dilaksanakan dengan baik maka kemungkinan perusahaan memperoleh bahan baku dengan kualitas rendah dapat ditekan sekecil mungkin.

  1. Pengawasan proses produksi

Walaupun bahan baku yang dipergunakan oleh perusahaan sudah dipilihkan bahan-bahan dengan kualitas yang sangat tinggi, namun apabila :)roses produksinya tidak dilaksanakan dengan baik maka besar kemungkinan produk akhir perusahaan juga mempunyai kualitas yang rendah. Proses produksi dilaksanakan melalui tahapan-tahapan : Tahap pertama sebagai tahap perrsiapan, dimana pada tahap ini akan dipersiapkan segala sesuatu yang ‘-erhubungan dengan pelaksanaan proses produksi tersebut. Tahap kedua yaitu tahap pengendalian proses. Upaya yang dilakukan adalah mencegah agar jangan sampai terjadi kesalahan-kesalahan proses yang akan -menaakibatkan terjadinya penurunan kualitas produk perusahaan. Tahap :tietiga adalah merupakan tahap pemeriksaan akhir. Merupakan produk yang akhir dari produk yang ada dalam proses produksi sebelum dimasukkan kedalam gudang barang jadi atau dilempar kepasar melalui distributor produk perusahaan.

  1. Pengawasan produk akhir

Pengawasan yang dilakukan hanya sampai pada produksi kurang sempurna, sebab dapat juga terjadi kemungkinan hasil produk yang rusak. Agar barang yang rusak tidak ikut dijual dipasaran, maka diperlukan pengawasan kualitas terhadap hasil akhir atau produk selesai. Pengawasan ini tidak bisa mengadakan perbaikan secara langsung, akan tetapi hanya bisa memisahkan produk yang rusak.

Dalam hal ini diharapkan pengawas dapat mengumpulkan informasi tentang tanggapan konsumen terhadap produk yang dihasilkan perusahaan. Informasi ini sangat penting untuk menghadapi atau mengetahui dimana kekurangan dari produk tersebut, sehingga dapat dipergunakan sebagai umpan balik untuk perusahaan agar dapat dilakukan tindakan perbaikan dimasa yang akan datang.

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengawasan Kualitas (skripsi dan tesis)

 

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Yamit, 2003):

  1. Fasilitas operasi seperti kondisi fisik bangunan.
  2. Peralatan dan perlengkapan (tools and equipment).
  3. Bahan baku dan material.
  4. Pekerjaan ataupun staf organisasi.

Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas diuraikan sebagai berikut :

 

  1. Pasar atau tingkat persaingan

Persaingan sering merupakan penentu dalam menetapkan tingkat kualitas produk suatu perusahaan.

  1. Tujuan organisasi

Apakah perusahaan bertujuan untuk menghasilkan barang yang berharga rendah, berharga tinggi, ataupun barang eksklusif.

  1. Testing produk

Testing yang kurang memadai terhadap produk yang dihasilkan dapat berakibat kegagalan dalam mengungkapkan kekurangan yang terdapat pada produk.

  1. Desain produk

Cara mendesain produk pada awalnya dapat menentukan kualitas produk itu sendiri

  1. Proses produksi

Prosedur untuk memproduksi produk dapat juga menentukan kualitas produk yang dihasilkan.

  1. Kualitas input

Jika bahan yang digunakan tidak memenuhi standar, tenaga kerja tidak terlatih, atau perlengkapan yang digunakan tidak tepat,akan berakibat pada produk yang dihasilkan.

  1. Perawatan perlengkapan

Apabila perlengkapan tidak dirawat secara tepat atau suku cadang tidak tersedia maka kualitas produk akan kurang dari semestinya.

  1. Standar kualitas

Jika perhatian terhadap kualitas dalam organisasi tidak tampak, tidak ada testing maupun inspeksi, maka output yang berkualitas tinggi sulit dicapai.

  1. Umpan balik konsumen

Jika perusahaan kurang sensitif terhadap keluhan-keluhan konsumen, kualitas tidak akan meningkat secara signifikan.

Dari berbagai faktor khusus yang menentukan kualitas tersebut di atas,sering dijumpai perusahaan menetapkan secara tanggung jawab kualitas kepada seseorang atau kelompok untuk mengawasi kualitas produk secara kontinyu. Dalam hal ini terdapat alasan mengapa pengawasan kualitas diperlukan, yaitu :

  1. Untuk menekan atau mengurangi volume kesalahan dan perbaikan.
  2. Untuk menjaga atau menaikkan kualitas sesuai standar
  3. Untuk mengurangi keluhan konsumen
  4. Memungkinkan pengkelasan output
  5. Untuk mentaati peraturan
  6. Untuk menaikkan atau menjaga company image

 

Konsep Kualitas (skripsi dan tesis)

 

Kualitas merupakan hal yang paling menentukan apakah suatu produk layak untuk dipasarkan sehingga sangat diperlukan adanya upaya pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas produk akhir harus dilakukan secara terintegrasi dan dimulai dari upaya pengawasan kualitas bahan dasar dilanjutkan dengan pengawasan proses produksi, dan proses pasca produksi yaitu meliputi packing dan packaging (Parnthaman, 1987).

Kualitas sendiri dapat diukur dengan beberapa dimensi seperti dibawah ini :

  1. Conformance to Spesification

Conformance to Spesification merupakan kesesuaian antara kualitas produk dengan ketentuan mengenai kualitas produk yang seharusnya. Dalam dimensi ini sifat-sifat barang yang dihasilkan misalnya meliputi kegunaan, keawetan, cara perawatan, dan sebagainya sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh perusahaan. Biasanya sifat-sifat produksi oleh perusahaan dapat diketahui konsumen melalui advertensi sehingga konsumen akan menuntut kualitas yang sama seperti yang diiklankan oleh perusahaan tersebut.

 

 

  1. Nilai

Nilai memang mempunyai arti relatif artinya merupakan persepsi konsumen terhadap imabngan antara manfaat suatu barang atau jasa terhadap pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa tersebut.

  1. Fitness for Use

Adalah kemampuan barang atau jasa yang dihasilkan memenuhi fungsinya. Untuk barang biasanya dapat dilihat dari keadaan teknisnya sedang kalau jasa dapat diukur dengan convenience atau tidaknya pelayanan.

  1. Support

Kualitas produk juga ditentukan oleh adanya dukungan perusahaan terhadap produk yang dihasilkan. Dukungan perusahaan ini misalnya pemberian garansi perbaikan atau penggatian kalau terdapat kecacatan produk yang terjual kepada konsumen, penyediaan onderdil dalam jumlah yang cukup dan tersebar di berbagai pelosok dengan harga murah, dan tersedianya service yang memadai di berbagai daerah.

  1. Psychological immpressions

Faktor psikologis oleh konsumen kadang-kadang ikut dianggap ikut menentukan kualitas suatu barang atau jasa. Yang termasuk dalam faktor ini misalnya athmosphere, image dan estethics (Pangestu Subagyo, 2000)

Karena kualitas barang dan jasa sekarang menjadi prioritas utama dalam persaingan maka sebaiknya kualitas produk dijaga sebaik-baiknya. Masalahnya adalah persepsi konsumen mengenai kualitas suatu produk itu selalu berubah-ubah. Kalau memang sudah ada perubahan maka sebaiknya perushaan segera tanggap untuk menyesuaikan.

Konsekuensi dari tingginya kualitas barang atau jasa adalah biaya produksinya biasanya mahal namun seiring dengan kualitas yang mampu diberikan oleh perusahaan maka konsumen akan sanggup membayarnya

Menurut Sumarni dan Soeprihanto (1998) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil produksi adalah hasil kegiatan yang dilaksanakan melalui sstem produksi dengan mengubah faktor produksi yang tersedia sehingga menjadi barang dan jasa. Sedangkan menurut Anshori (1996) hasil produksi adalah berbagai produk yang dihasilkan dari proses pengolahan sumber daya (bahan, tenaga, kerja, mesin, peralatan dan lain-lain secara optimal.

Proses Produksi (skripsi dan tesis)

 

Proses produksi atau proses operasi adalah proses perubahan masukan menjadi keluaran. Pada umumnya proses produksi dibagi menjadi tiga macam, yaitu (Pangestu, 2000):

  1. Proses Produksi Terus-menerus

Proses Produksi terus-menerus atau continous adalah proses produksi yang tidak pernah berganti macam barang yang dikerjakan. Mulai pabrik berdiri selalu mengerjakan barang yang sama sehingga prosesnya tidak pernah terputus dengan mengerjakan barang lain. Setup atau persiapan fasilitas produksi dilakukan pada saat pabrik mulai bekerja. Sesudah itu, proses produksi berjalan secara rutin. Biasanya urutan proses produksinya selalu sama sehingga letak mesin-mesin sert fasilitas produksi yang lain disesuaikan dengan urutan proses produksinya agar produksi berjalan lancar dan efisien.

Proses produksi continous biasanya juga disebut sebagai proses produksi yang berfokuskan pada produk atau product focus. Karena biasanya setiap produk disediakan fasilitas produksi tersendiri yang diletakkan sesuai dengan urutan proses pembuatan produk tersebut.

Proses produksi yang termasuk product focus biasanya digunakan untuk membuat barang yang macamnya relatif sama dan dalam jumlah yang sangat banyak. Hasil produksi dapat distandarisasikan, dan dalam jangka panjang tidak pernah berubah macamnya. Arus barang dalam proses produksi menyerupai garis sehingga sering dikatakan sebagai line flow. Misalnya pabrik gula pasir,pabrik pemintalan benang, pabrik propilen dan lain sebagainya.

  1. Proses Produksi Terputus-putus

Proses produksi terputus-putus atau intermittent digunakan untuk pabrik yang mengerjakan berbagai macam jenis barang, dengan jumlah barang yang tidak terlalu banyak per jenisnya. Macam barang selalu berganti-ganti sehingga selalu dilakukan persiapan produksi dan penyetelan mesin kembali setiap berganti jenis barang yang diproduksi. Didefinisikan sebagai proses produksi terputus-putus karena perubahan proses produksi setiap saat terputus apabla terjadi perubahan macam barang yang dikerjakan. Oleh karena itu tidak mungkin mengurutkan letak mesin sesuai dengan urutan proses pembuatan barang. Biasanya arus barang beraneka macam, sesuai dengan letak mesin yang dibutuhkan untuk mengerjakannya.

Proses produksi terputus-putus biasanya juga disebut sebagai proses produksi yang berfokuskan pada proses atau process focus. Dalam process focus perhatian lebih banyak dicurahkan pada proses pembuatan barang yang bermacam-macam karena macam produknya berganti-ganti. Arus barang pada proses produksi ini bersifat beraneka ragam atau jumbled flow karena setiap macam barang memiliki urutan proses yang berbeda-beda. Misalnya bengkel mobil, kerajinan mebel, dan lain-lain

  1. Proses Intermediate

Kenyataannya kedua proses produksi di atas tidak sepenuhnya berlaku. Biasanya merupakan campuran dari keduanya. Hal ini disebabkan macam barang yang dikerjakan memang berbeda, tetapi macamnya tidak terlalu banyak dan jumlah barang setiap macamnya agak banyak. Produk dapat dikelompokkan berdasarkan proses yang hampir sama. Proses produksi yang digunakan memiliki unsur continous  dan ada pula unsur intermitten. Walaupun proses pembuatan barang berbeda-beda, namun pada kelompok produk yang sama, garis besar urutan pekerjaannya pun hampir sama. Misalnya percetakan membuat berbgai jenis brosur, kartu nama, poster, dan buku. Akan tetapi, untuk kelompok buku meskipun isinya berbeda satu sama lain, secara garis besar proses pembuatannya sama. Proses macam ini biasanya disebut sebagai proses intermediate. Arus barang biasanya campuran, tetapi untuk beberapa kelompok barang sebagian arusnya sama.

Pengertian Manajemen Produksi (skripsi dan tesis)

 

Suatu kegiatan untuk meningkatkan kegunaan atau daya guna dari barang ataupun jasa, sering dikenal dengan kegiatan pentransformasian masukan (input) menjadi keluaran (output), yang tentu saja harus membutuhkan bantuan dan dilaksanakan secara bersama-sama dengan orang lain. Oleh karena itu diperlukanlah kegiatan manajemen. Kegiatan manajemen ini diperlukan untuk mengatur dan mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang berupa sumbersumber daya dan bahan, guna dapat meningkatkan manfaat dari barang atau jasa tersebut secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan ketrampilan yang dimiliki para manajernya. Sofjan Assauri dalam bukunya Manajemen Produksi dan Operasi mengatakan bahwa : “Manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain”.

Dengan melaksanakan manajemen secara teratur, kegiatan dapat terlaksana dengan baik sehingga mencapai hasil produksi yang baik pula, serta bekerja secara efektif dan efisien dapat terpenuhi, baik dalam segi kualitas, kuantitas, waktu, tenaga dan biaya.

Produksi didalam suatu perusahaan akan merupakan suatu kegiatan yang cukup penting. Bahkan didalam berbagai macam pembicaraan, dikatakan bahwa produksi adalah merupakann suatu dapur dari perusahaan tersebut. Apabila kegiatan produksi dalam suatu perusahaan terhenti, maka kegiatan dalam perusahaan tersebut ikut terhenti karenanya. Sedemikian pentingnya kegiatan produksi dalam suatu perusahaan, sehingga dengan demikian sudah menjadi hal sangat umum jika perusahaan akan selalu memperhatikan kegiatan produksi dalam perusahaannya. Sedangkan pengertian produksi menurut Sukanto Reksohadiprodjo dan Indriyo Gito Sudarmo adalah : “Pencipta atau penambahan faedah bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.’

Berhubungan dengan masalah penciptaan suatu barang yang merupakan suatu kegiatan mulai dari perencanaan, proses produksi, dari bahan mentah menjadi barang jadi yang siap dikonsumsi oleh konsumen, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa manajemen produksi merupakan fungsi dari suatu usaha perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam rangka menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia

Probabilitas Umur Proyek (skripsi dan tesis)

 

Seperti telah diuraikan terdahulu, umur proyek ditentukan oleh lintasan yang paling lama waktu pengerjaannya (jalur kritis), dan untuk mengetahui jalur kritis tersebut digunakan data lama kegiatan perkiraan (expected time). Probabilitas waktu pengerjaan proyek dari data expected time, diperkirakan sebesar 50% berhasil dan 50% gagal.

Dalam berbagai proyek kemungkinan sebesar 50% tersebut sangatlah riskan, sehingga perlu ditingkatkan nilainya sampai dengan di atas 80% atau kemungkinan gagal lebih kecil dari 20%, dan untuk mewujudkan hal tersbut diperlukan syarat-syarat sebagi berikut (Tubagus, 1984) :

  • Telah ada network diagram yang tepat
  • Data masing-masing kegiatan harus dinyatakan dalam bentuk 3 perkiraan atau berdasarkan metode PERT.
  • Tingkat probabilitas kemungkinan berhasil atau kemungkinan gagal yang dinginkan telah ditetapkan.

Perbandingan Metode PERT dan CPM (skripsi dan tesis)

Metode PERT dan CPM masing-masing menggunakan prinsip-prinsip pembentukan jaringan dalam perhitungannya sehingga baik metode PERT maupun CPM memiliki urut-urutan yang sama dalam membentuk jaringan awal penyelesaian suatu proyek ataupun kegiatan.Dalam visualisasi penyajian PERT sama halnya dengan CPM, yaitu dengan menggunakan diagram anak panah (activity on arrow) untuk menggambarkan kegiatan proyek. Demikian pula pengertian dan perhitungan mengenai kegiatan kritis, jalur kritis dan float dalam CPM atau slack dalam PERT (waktu luang).

Perbedaan pokok metode PERT dan CPM adalah bahwa CPM memasukkan konsep biaya  dalam proses perencanaan dan pengendalian, PERT bukannya sama sekali mengabaikan faktor biaya namun dalam PERT besarnya biaya diasumsikan berubah ubah sesuai dengan lamanya waktu dari semua aktivitas dalam suatu proyek. Sehingga jika waktu pengerjaan proyek dapat dipersingkat maka dapat diasumsikan bahwa biaya yang untuk proyek tersebut dapat diperkecil.

Selanjutnya dapat pula diasumsikan bahwa penyingkatan waktu selama satu minggu yang dilakukan terhadap aktivitas yang terletak dalam waktu kritis, secara ekonomis adalah sama produktifnya dengan penyingkatan waktu selama satu minggu yang dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas lain yan gterletak pada jalur-jalur kritis yang lain. Jika waktu tercepat yang diharapkan untuk event akhir jaringan telah berhasil dikurangi, maka dianggap bahwa biaya juga berhasil dikurangi.

Perbedaan penting lain antar PERT dan CPM terletak pada metode untuk memperkirakan waktu. Dalam sistem CPM ditentukan dua buah perkiraan waktu dan biaya untuk setiap aktivitas yang terdapat dalam jaringan yaitu perkiraan normal (normal estimat) dan perkiraan cepat (crash estimate). Sedangkan PERT menggunakan tiga perkiraan krurun waktu yaitu optimis (a), pesimis (b), dan waktu yang paling memungkinkan (m).

Metode CPM lebih tepat digunakan untuk suatu kegiatan yang waktu, biaya, tenaga kerja dapat diperkirakan dengan tepat. Namun jika waktu penyelesaian memiliki tingkat ketidak pastian yang besar seperti adanya faktor bencana alam dan cuaca yang tidak dapat diprediksi dengan tepat maka metode PERT lebih tepat digunakan. (Soeharto,1997)

 

Program Evaluation Review Technique (PERT) (skripsi dan tesis)

 

Metode yang telah dirancang untuk menentukan lama pengerjaan adalah variabel random yang disebut dengan Program Evaluation Review Technique (PERT). Waktu setiap kegiatan dihitung atas dasar tiga perkiraan, yaitu waktu optimis, waktu pesimistis, dan waktu yang paling mungkin. Notasi yang digunakan untuk ketiga waktu perkiraan tersebut adalah:

  • Waktu optimis = a
  • Waktu pesimis = b
  • Waktu paling memungkinkan = m

.        Mean = te =

Secara singkat ketiga definisi waktu di atas dapat diuraikan sebagai berikut (Levin, 1981) :

  1. Waktu Optimis :

Waktu optimis adalah perkiraan waktu yang memiliki kemungkinan sangat kecil untuk dapat dicapai, yaitu kemungkinan terjadinya hanya 1 kali dalam 100 kemungkinan. Perkiraan ini menggambarkan waktu untuk menyelesaikan proyek jika segala sesuatunya berjala lancar, tanpa persoalan-persoalan maupun cuaca yang tidak cocok, dan sebagainya. Kita tahu bahwa hal ini sangat jarang terjadi, tetapi ia juga mungkin terjadi dalam kemungkinan 1 dalam 100.

  1. Waktu Pesimis :

Waktu pesimis adalah suatu perkiraan waktu yang lain yang mempunyai kemungkinan sangat kecil untuk dilaksanakan, kemungkinan terjadinya juga hanya 1 dalam 100. Perkiraan waktu ini menggambarkan waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan suatu aktivitas tertentu jika diganggu terus-menerus oleh cuaca yang tidak cocok, kerusakan-kerusakan, bencana alam, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan kejadian yang jarang namun bisa saja terjadi, namun setidaknya harus tetap dipertimbangkan dalam perhitungan sekecil apapun kemungkinannya.

  1. Waktu Paling Memungkinkan :

Waktu yang paling memungkinkan adalah waktu yang berdasarkan pikiran estimator, menggambarkan lamanya waktu yang berdasarkan pikiran estimator,  menggambarkan waktu yang paling sering untuk menyelesaikan suatu aktivitas jika pekerjaan tersebut dilakukan berulang-ulang dalam kndisi yang sama

Distribusi waktu optimis (a), pesimis (b), dan waktu paling memungkinkan (m) mengikuti distribusi beta berbentuk lonceng yang a-simetris ke satu arah.

Metode Jalur Kritis (Critical Path Method / CPM) (skripsi dan tesis)

Metode jalur kritis (CPM) dikembangkan tahun 1957 oleh E.I. du pont Nemours & Company untuk pengawasan proyek konstruksi, dalam metode ini waktu untuk melaksanakan kegiatan sudah pasti dan penentuan jalur kritis dibuat dengan diagram network dengan menggunakan simbol sebagai berikut

  • Anak panah ( ® ) melambangkan kegiatan, di atas anak panah ditulis simbol kegiatan sedangkan di bawah anak panah ditulis waktu kegiatan. Setiap kegiatan dalam network selalu terletak dalam 2 peristiwa.
  • Lingkaran, melambangkan peristiwa di mana lingkaran di terbagi dalam 3 bidang yaitu sebelah kiri disebut nomer peristiwa, sebelah kanan atas disebut saat paling cepat (SPC) dan di sebelah kanan bawah disebut saat paling lambat (SPL).Jika dalam lingkaran terdapat SPC = SPL berarti peristiwa tersebut dikatakan peristiwa yang kritis yaitu peristiwa yang tidak memiliki tenggang waktu antara SPC dan SPL. Dalam diagram network sangat dimugkinkan terdapat lebih dari satu kegiatan yang menuju dan keluar dari peristiwa tapi diantara dua peristiwa hanya boleh ada satu kegiatan.
  • Anak panah putus-putus melambangkan kegiatan semu (dummy) dalam diagram network kegiatan semu boleh ada dan boleh tidak, karena kegiatan semu dimunculkan untuk menghindari di antara dua peristiwa terdapat lebih dari satu kegaitan. Apabila diagram network tanpa melanggar ketentuan maka kegiatan semu tidak diperlukan dalam diagram network (Bhattacharya, 1997 dan Stevens, 1990)

Scheduling (skripsi dan tesis)

 

Scedulling yang dilakukan dalam pabrik sangat berbeda dengan schedulling proyek. Schedulling dalam  pekerjaan pabrik dilakukan setiap saat  baik pada pabrik yang menggunakan proses produksi continous maupun yang menggunakan proses produksi intermittent. Sedangkan pada schedulling proyek merupakan pekerjaan saat mulai dan selesainya sudah direncanakan,biasanya dipisahkan dari pekerjaan lain,memiliki volume pekerjaan yang besar dan hubungan antara aktivitas sangat kompleks.

Schedulling adalah penjadwalan kegiatan dimana penjadwalan melingkupi kapan memulai, berapa lama pengerjaan tiap tahap kegiatan dan kapan penyelesaian kegiatan tersebut. Dalam melakukan schedulling erat kaitannya dengan routing, dispatching dan pembuatan network planning. Routing atau sequencing merupakan penentuan urutan dalam mengerjakan suatu kegiatan sedangkan dispatching adalah pembagian wewenang atau tugas kepada karyawan untuk memulai melakukan kegiatan. Network planning adalah diagram berupa hubungan antar aktivitas ditunjukkan dengan jaringan kerja berupa simbol lingkaran untuk awal atau akhir aktivitas dan anak panah untuk kegiatan (Hani T Handoko, 1992)

Pada pelaksanaan penjadwalan dan penegandalian kontruksi digambarkan kemajuan yang diperloeh. Kemajuan tersebut di dasarkan pada persentase bobot prestasi pelaksanan atau produksi, nilai uang yang dibelanjakan, jumlah kuantitas atau volume pekerjaan, penggunaan sumber daya, jam orang atau tenaga kerja yang digunakan dan masih banyak lagi yang dapat digunakan sebagai ukuran (Woodward, 1975)

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan schedulling adalah faktor-faktor yang pada umumnya merupakan kendala yaitu :

  • Kapasitas sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana yang dimiliki suatu lembaga atau perusahaan biasanya memiliki kapasitas yang terbatas. Oleh karena itu kita harus mengalokasikan kapasitas sarana dan prasarana yang tersedia untuk semua pekerjaan yang ada

 

  • Permintaan

Permintaan atau kebutuhan konsumen merupakan faktor yang tidak dapat dikuasai perusahaan, karena datang dari faktor kemauan konsumen sehingga perusahaan sukar untuk mengatur. Meskipun demikian perusahaan harus sanggup memenuhi selama perusahaan mampu melakukannya.

  • Bahan baku atau pembantu

Keterbatasan bahan baku dan bahan pembantu menjadi faktor pembatas dalam pelaksanaan proyek sehingga membatasi pula schedule yang kita buat.

  • Kapasitas sumber daya manusia

Sumber daya manusia atau tenaga kerja umumnya juga merupakan faktor pembatas khususnya dalam penyediaan tenaga ahli. Tenaga ahli sulit ditambah jumlahnya padahal kapasitas kerja mereke juga terbatas

  • Ketentuan teknis

Ketentuan teknis adalah prosedur dan syarat pelaksanaan proyek secara teknis. Ketentuan ini tidak dapat dilanggar, harus diikuti agar penyelesaian proyek tidak mengalami hambatan.

  • Hari kerja

Hari kerja yang dibatasi oleh hari minggu, hari libur dan hari-hari yang tidak sepenuhnya dapat bekerja 100% membatasi dalam pembuatan schedule karenanya dalam melakukan schedulling hanya memuat hari-hari kerja efektif saja.

 

 

  • Adanya kendala pendanaan

Kendala biaya menyangkut ketersediaan dana atau anggaran yang digunakan untuk membiayai kegiatan proyek, kenaikan biaya produksi dan sebagainya (Pangestu, 2000).

Langkah – Langkah Pokok Penyelenggaraan Konstruksi (skripsi dan tesis)

 

Upaya dan kegiatan untuk mendrikan suatu bangunan merupakan proses yang panjang, dimana mekanismenya tersusun serta terdiri dari banyak sekali kegaiatan atau pekerjaan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan gabungan dari berbagai kepentingan dan tanggung jawab yang saling terkait dari pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan dan sesuai dengan kepentingan dan tanggung jawab individual tersebut direncanakan sebuah sistem. Sistem yang dimaksudkan adalah kumpulan komponen-komponen kegiatan yang saling berhubungan dan tergantung yang harus dikoordinasikan dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga mejadi kesatuan yang menyeluruh. Pendekatan sistem tersebut tidaklah memperlakukan bagian-bagian organisasi secara terpisah-pisah akan tetapi menjadi keseluruhannya sebgai kesatuan koordinasi yang terpadu dan terintegrasi (Paulson Jr et al,  1987)

Banyak hal harus dipertimbangkan untuk membuat sistem proyek kontruksi termasuk diantaranya adalah mengkombinasikan dan mengkomposisikan hal-hal menyangkut unsur-unsur mutu atau kualitas, biaya dan waktu pelaksanaan. Perubahan dari unsur-unsur tersebut akan langsung berpengaruh terhadap keseluruhan tahapan-tahapan pelaksanaan pembanguan..

Tahapan dalam kegiatan proyek kontruksi dimulai sejak dikemukakannya prakarsa dari Pemilik atau sejak pengembangan konsep sampai dengan tahap pengoperasian bagunan sesuai dengan tujuan fungional proyek. Walaupun setiap pelaksaaan proyek masing-masing berbeda tetapi secara garis besar tetap membentuk pola yang sama. Perbedaaan setiap proyek kontruksi terletak pada alokasi rentang waktu dan penekanan untuk setiap tahapan. Hubungan antar tahapan dapat berurutan seperti halnya yang dilaksanakan secara tradisional, tataua bertumpang tindih sebatas yang dilakukan pada bagian-bagian tertentu demi untuk mencapai hasil optimal. Hasil optimal sebagai tujuan akhir dari  sistem pengendalian, pengawasan kualitas berkaitan dengan pemantauan kualitas hasil pekerjaan untuk menjamin tercapainya standar spesifikasi teknis seperti yang disepakati. Pengawasan kualitas harus sudah dilaksanakan sejak diterimanya masukan, diteruskan selama proses produksi dan berlangsung pada thap akhirnya. Pengawasan kualitas tidak hanya dapat dilakukan berdasarkan pada sampel statistik seperti yang berlaku dalam industri menufaktur pada umumnya.

Secara umum tahapan pokok dalam proyek kontruksi sebagai berikut :

  1. Tahap Pengembangan Konsep

Pada tahap awal harus dapat mengungkapkan fakta-fakta keadaan di lokasi proyek baik berupa faktor-faktor yang mendukung ataupun menjadi kendala, antara lain pengenalan terhadap yuridiksi praktek kerja setempat, bersama dengan upaya untuk mengestimasi produksitivitas serta memperhitungkan ketersediaan tenaga kerja terampil (mendapatkan informasi standar upah/UMR), harga material utama bangunan dan lain-lain.

Berdasarkan mengenai keadaan di lokasi proyek maka dilakukan peninjauan tentang kriteria konsep, sistem perencanaan serta sistem perancangan detail yang akan diperlakukan. Penyusunan konsep dan kriteria pelaksanaan secara keseluruhan sedini mungkin untuk menumbuhkan kerja sama tim, menyamakan persepsi untuk mencapai tujuan dan memebentuk dasar-dasar perencanaan yang akan terus dikembangkan. Rencana kerja proyek biasanya mencakup kegiatan menyususn estimasi pendahuluan, rencana kerja jangka pendek, paket-paket pekerjaan, program rekayasa nilai dan perencanaan kontruksi. Selanjutnya adalah langkah-langkah dan jadwal rencana untuk mendasari upaya pengembangan kontruksi secara bertahap. Di samping itu perlu melakukan peninjauan kembali mengenai pendelegasiaan wewenang dari pemberi tugas kepada setiap unsur organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

  1. Perencanaan

Keberhasilan proyek kontruksi diawali dan sangat ditentukan dengan berhasil atau tidaknya untuk menyusun landasannya yaitu berupa perencanaan yang lengkap dan matang sehingga dengan sendirinya suatu perencanaan dapat mengakomodasikan seluruh kebutuhan dan kepentingan pelaksanaan kontruksi dari perencanaan meliputi hal-hal yang bersifat teknis, termasuk metode kerja sampai dengan dampak yang diakibatkan.

Proses perencanaan keseluruhan secara umum dibagi menjadi empat tahapan pelaksanan, yaitu tahap tanggapan terhadap Arahan Penugasan (TOR) atau seringkali disebut dengan tahap pengajuan proposal kemudian tahap survai dan investigasi, tahap penyusunan pra-rencana atau dikenal sebagai sketsa rencana, serta tahap perencanaan final atau perancangan detail. Pelaksanaan keempat tahapan tersebut secara berurutan, tidak bisa diubah dan kelengkapan dari masing-masing tahap sangat ditentukan dari hasil pada tahapan sebelumnya.

 

  1. Sketsa Rencana

Inti daripada pra-rencna atau sketsa rencana ialah menuangkan konsep-konsep arsitektur, evaluasi terhadap beberapa alternatif proses teknologi, penetapan dimensi serta kapasitas ruangan-rungan dan mengetengahkan studi-studi banding ekonomi pembangunan. Pada umunya penyusunan pra-rencana merupakan perkembangan langsung dari tahapan pengembangan konsep. Dalam sketsa rencna tersebut diakomodasi segala macam peraturan yang harus diperlakukan misalnya praturan pmbagian zoning, ketentuan batas rooi dan syarat IMB lainnya. Juga ketentuan mengenai instalasi mekanikal dan elektrikal, standar keamanan dan sebagainya. Dengan tersusunnya para rencana yang dilengkapi dnegan sketsa-sketsa perencanaan sudah didapatkan gambaran mengenai ruang lingkup dan besar proyek. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibuat estimasi biaya proyek sementara untuk tujuan pengendalian pendahuluan.

  1. Rancangan Detail

Tahapan perancangan detail atau rancangan final mencakup kegaiatn menjabarkan seluruh perancangan termasuk rancangan elemen bagian terkecil secara sistematis dan berurutan. Masing-masing disertai gambar-gambar perencanaan, spesifikasi teknis dan syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan Gambar-gambar detail dan spesifikasi teknis ditujukan untuk menjelaskan pekerjaan serta dipakai sebagai pedoman atau petunjuk agar semua pkerjaan dalam kontruksi dapat dilaksanakan dengan stept-tepatnya. Dengan mendasarkan pada pola perancangan detail trsebut dapat dibuatkan rencana kerja final yang memuat penegelompokan pekerjaan dan kegiatan secara terperinci dengan tujuan membagi manjadi paket-paket jadwal yang lebih disempurnakan berupa jadwal bagan balok dan jaringan kerja yang lebih terperinci, kesepakatan sistem koordinasi dan pengendalian proyek yang dilengkapi dengan pembagian tugas dan tanggung jawab secara lengkap. Dengan kesiapan rencana kerja finaltersebut berarti program rekayasa nilai sudah siap diterapkan. Pada dasarnya penyusunan rencana kerja final ditujukan pada dua sasaran pokok yaitu : Yang pertama sebagai pedoman pelaksaan pekerjaan maka biaya pelaksanaan kontruksi tidak melebihi anggaran dan yang kedua pekerjaan akan selesai dengan kualitas dan dalam rentang waktu yang direncanakan atau ditetapkan.

  1. Pelaksanaan Kontruksi

Tahap kontruksi telah dimulai sejak ditetapkannya kontraktor serta penyerahan lapangan dengan segala keadaannya kepada kontraktor. Selanjutnya perlu segera mengembangkan jadwal kerja yang diajukan di dalam penawaran kontraktor menjadi jadwal tereperinci baik berupa bagan balok maupun jaringan kerja. Jadwal kerja disusun hanya berdasarkan asumsi yang sangat umum sehingga dapat dipastikan bahwa semenjak berhadapan dengan lapangan langsung selalu didapati hal-hal yang tidak tepat dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.

Selama pelaksanaan kontruksi berjalan juga dilakukan pengendalian dengan selalu mengikuti laporan dan evaluasi pekerjaan termasuk jadwal rencana kerja yang disiapkan secara teratur dalam waktu periodik harian, mingguan, dan bulanan. (Istimawan Dipohusodo, 1996 dan Zulian, 2002).

  1. Pembahasan mengenai sistem pelaksaan kontruksi tidak terpisahkan dngan masalh-maslah yang berkaitan dengan organisasi sebagai salah satu fungsinya. Meskipun organisasi pada dasarnya sangat beraneka ragam bentuk dan strukturnya, pengertian secara umum dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang secara bersama-sama mebentuk struktur sistematis yang mengatur perilaku anggotanya dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Sedangkan tentang tujuannya juga sangat beraneka ragam sesuai dengan keinginan dan cita-cita organisasi yang bersangkutan. Secara garis besar organisasi kontruksi dapat dibagi menjadi :
  2. Kelompok kebijakan dan strategi yang ditangani oleh Tim Proyek dengan Manajer Kontruksi bertindak selaku Ahli Kontruksi sekaligus sebagai pemimpin.
  3. Kelompok konsepsi dan pengembangannya yang ditangani oleh staf penunjang.
  4. Kelompok sub sistem operasional yang didasarkan pada tanggung jawab pekerjaan dan keahlian (Vincent, 1985)

Metode kontruksi merupakan penjabaran tata cara dan teknik pelaksanaan pekerjaan dan penerapan konsep rekayasa berpijak pada keterkaitan antara persyaratan dalam dokumen pelelangan, keadaan teknis dan ekonomis yang ada di lapangan dan seluruh sumber daya. Keseluruhan unsur-unsur tersebut membentuk kombinasi dan keterkaitan kerangka gagasan dan metode optimal dalam pelaksanaan kontruksi.

Berikut adalah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam pelaksanaan kontruksi :

 

  1. Penataan Lapangan

Upaya optimalisasi operasi dengan tujuan agar dapat mencapai hasil kerja sangkil di segala bidang pekerjaan sudah dimulai sejak awal penetapan lapangan (site plan). Kendala yang dialami adalah ketepatan dalam menyusun rancangan tata letak pekerjaan di lapangan. Tata letak lapangan digambar dengan skala yang menunjukkan letak kantor, gudang tertutup, peralatan, lahan untuk fabrikasi struktur baja, tulangan baja, acuan beton merakit pekerjaan dan lain-lain.

  1. Pekerjaan Pengukuran

Masa persiapan pelaksanaan kontruksi didahului dengan pekerjaan survei pengukuran. Secara umum pekerjaan pengukuran dapat terdiri dari :

  • pengukuran jaringan polygon
  • pemetaan situasi dan kontur lahan.
  • Pengukuran trace atau sumbu bangunan arah memenjang seperti pada pekerjaan saluran, jalan raya, jaring transmisi dan lain sebgainya.
  • Pemantauan ketepatan dimensi kontruksi baik ke arah tegak maupun mendatar.

Bentuk pengukuran tidak hanya berupa gambar atau peta namun juga diwujudkan dalam bentuk fisik berupa patok duga (bench mark) di tempat-tempat lapangan.

  1. Pekerjaan Tanah

Lingkup pekerjaan tanah termasuk pula pembersihan lapangan, membersihkan pepohonan, membongkar konmponen bangunan lama yang tampak di permukaan maupun yang terpendam di dalam tanah, menggali, memecah batu, memotong tebing, menimbun dan memadatkan tanah dan alin sebagainya. Dengan lingkup kerja tersebut maka pekerjaan tanah juga berhubungan dngan maslah pengangkutan, pemindahan dan enggusuran tanah. Tergantung pada intensitas volume serta cara pelaksanaan dapat dilakukan dengan manual ataupun dengan alat-alat mekanis.

  1. Pekerjaan Pondasi dan Turap

Struktur bangunan yang secra visual dapat dibagi menjadi bangunan yang tampak di atas permukaan (superstructure) dan yang tidak tampak di permukaan tanah (sub structure). Pembedaan tersebut dimaksudkan untuk membedakan anatara struktur bangunan serta struktur pendukungnya. Fondasi sebgai struktur landasan yang harus mendukung beban bangunan termasuk pada sub structure. Fondasi lebih ditujukan untuk menyesuaikan struktur landasan bangunan dengan keadaan sifat-sifat tanah dan sistem struktur bangunan yang didukungnya.

  1. Pekerjaan Beton

Pekerjaan beton secara garis besar dapat dibagi enjadi beberapa elemen yaitu :

  • acuan beton yang dihitung dalam meter persegi permukaan
  • perancah acuan dihitung dalam meter persegi luas permukaan yang ditopang
  • baja tulangan dihitung dalam berat baja tulangan terpasang.
  • pekerjaan beton dihitung dalam meter kubik volume beton jadi.
  1. Pekerjaan Struktur Baja

Pelaksanaan pekerjaan struktur baja umumnya dikelompokkan menjadi empat bagian penting yaitu ; menyiapkan matrial adsar, pekerjaan fabrikasi, pekerjaan merakit atau memamsng di lapangan dan pelaksanaan finis pada pekerjaan terpasang.

  1. Pekerjaan Struktur Kayu

Pekerjaan struktur kayu sangat bermacam-macam yaitu meliputi awal kontruksi untuk membuat bangunan atau struktur kasar seperti membuat gudang sementara, jembatan kerja sampai pada pekerjaan yang bersifat kerajinan.

  1. Pekerjaan Pasangan Batu dan Bata

Sesuai dengan fungsinya secara gasris besar dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu : pasangan batu untuk keperluan struktural seperti misalnya fondasi dan pasngan batu untuk keperluan arsitektural seperti bentuk hiasan seperti lempengan batu rai.

  1. Pekerjaan Finis dan Plesteran

Pekerjaan finis merupakan upaya untuk mempercantik kinerja bangunaan sehingga memenuhi syarat untuk mencapai nilai estetika yang diinginkan.

  1. Pekerjaan Pelapis Bata dan Dinding

Maslah yang harus dihadapi dalam pelapisan bata dan dinding adalh masalah material, biaya serta nilai estetika yang diinginkan.

  1. Pekerjaan Pengecatan

Pekerjaan pengecatan dapat dibedakan menjadi beberapa faktor antara lain :

  • material yang dicat seperti kayu, plat atau gelegar baja, plesteran dan lain sebagainya.
  • macam permukaannya rata, halus, atau bergelombang.
  • jenis material cat yang digunakan
  • banyak lapis cat yang digunakan biasnya tiga kali pengecatan yaitu lapis dasar, pengecatan pertama dan lapisan finis.
  1. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal

Segi penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pekerjan mekanikal dan elektrikal adalah koordinasi dengan pekerjaan sipil yaitu berkaitan dengan tahap pelaksanaan pengukuran awal sehingga kebutuhan lubang-lubang sparing atau konduit bagi pekerjaan mekanikal dan elektrikal sekaligus tertera dalam gambar kerja fondasi (Istimawan, 1996 dan Peurifoy, 1988)

Definisi Proyek (skripsi dan tesis)

 

Untuk menunjang pesatnya pembangunan, pemerintah melakukan pembangunan disegala bidang baik, fisik maupun mental spiritual. Sampai saat ini pemerintah masih menetapkan program fisik sebagai program paling dominan yang sering dikenal sebagai istilah proyek. Proyek didefinisikan sebagai suatu sistem yang kompleks yang melibatkan koordinasi dari sejumlah bagian yang terpisah dari organisasi dan di dalamnya terdapat skedul dan syarat-syarat dimana kita harus bekerja (Sukanto, 1997)

Proyek konstruksi berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia dan kemajuan teknologi. Bidmg-bidang kehidupan manusia yang semakin beragam menuntut industri jasa konstruksi, membangun proyek-proyek konstruksi yang sesuai dengan keragaman bidang tersebut. Secara umun klasifikasi berdasarkan jenis bangunan maka proyek konstruksi dapat dibagi menjadi:

  1. Proyek Konstruksi Bangunan Gedung (Building Construction)

Proyek bangunan gedung mencakup bangunan gedung, rumah sakit, rumah tinggal dan sebagainya. Dari segi biaya dan teknologi terdin dari yang berskala rendah, menengah, dan tinggi. Biasanya perencanaan untuk proyek bangunan gedung lebih lengkap dan detail. Untuk proyek-proyek pernerintah (di Indonesia) proyek bangunan gedung ini dibawah pengawasan atau pengelolaan DPU sub dinas Cipta Karya.

 

  1. Proyek Bangunan Perumahan atau. Pemukiman (Residental Construction/Real Estate)

Disini proyek pembangunan atau pernukiman (real estate) dibedakan dengan proyek bangunan gedung secara rinci yang didasarkan pada klase pernbangunan serempak dengan penyerahan prasaana-prasarana penunjagnya.Jadi memerlukan perencanaan infrastruktur dari Perumahan seperti jaringan transportasi, air,dan fasilitas lainnya lainnys. Proyek pembangunan pemukiman ini dari rumah yang sangat sederhana sampai rurnah megah sampai.

  1. Proyek Konstruksi Teknik Sipil atau Proyek

Umumnya proyek yang termasuk jenis ini adalah proyek bendungan, proyek jalan raya, jembatan, terowongan, jalan kereta api, pelabuhan dan lain-lain.Jenis proyek itu umumnya berskala besar dan membutuhkan teknologi tinggi.

  1. Proyek Konstruksi Industri (Industrial Construction)

Proyek konstruksi yang termasuk jenis ini biasanya proyek industri yang membutuhkan spesifikasi dan persyaratan khusus, seperti untuk kilang minyak, industri berat atau industri dasar, pertambangan, sebagainya. Perencanaan dan pelaksanaan membutuhkan ketelitian dan keahlian atau teknologi yang spesifikasi.

 

 

Langkah-Langkah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik (skripsi dan tesis)

Dengan digunakannya tarif biaya overhead pabrik yang berbeda-beda untuk tiap departemen maka produk yang melewati suatu departemen produksi akan dibebani dengan biaya overhead pabrik sesuai dengan tarif departemen yang bersangkutan. Hal ini mempunyai akibat terhadap ketelitian dan penentuan harga pokok produksi. Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap sebagai berikut :

 

II. D. 1.  Menyusun Anggaran Biaya Overhead Pabrik

Dalam menyusun anggaran hanya overhead pabrik harus diperhatikan tingkat kegiatan (kapasitas) yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran biaya overhead pabrik. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran biaya overhead pabrik yaitu sebagai berikut :

  1. Kapasitas teoritis

Kapasitas teoritis ialah kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu.

  1. Kapasitas normal

Kapsitas normal ialah kemampuan perusahaan untuk mempro-duksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pada kecenderungan penjualan jangka panjang.

  1. Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan

Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Tarif biaya overhead pabrik mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut :

  1. Akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif biaya overhead pabrik dari tahun ke tahun. Hal ini biasanya dialami oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan per-alatan serba otomatis.
  2. Sebagian akibat perubahan yang besar pada tarif biaya over-head pabrik dari periode ke periode maka biaya-biaya akibat adanya fasilitas menganggur dikapasitaskan dan diperhitung-kan dalam harga pokok produksi.

 

  1. D. 2. Memilih Dasar Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Kepada Produk

Anggaran biaya overhead pabrik yang telah disusun kemu-dian memasuki langkah memilih dasar yang akan dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada produk yaitu :

  1. Satuan Produk

Metode ini adalah paling sederhana dan langsung membebankan biaya overhead pabrik kepada produk. Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi satu macam produk

 

  1. Biaya bahan baku

Metode ini dipakai bila biaya overhead pabrik yang dominan bervariasi dengan nilai bahan baku (misalnya biaya bahan baku). Bahan baku yang dikeluarkan semakin besar dalam pengolahan produk semakin besar pula biaya overhead pabrik yang dibe-bankan kepadanya.

  1. Biaya Tenaga Kerja

Jika sebagian besar elemen biaya overhead pabrik mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah upah tenaga kerja langsung maka dasar yang dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus:

 

  1. Jam Tenaga Kerja Langsung

Karena ada hubungannya yang erat antara jumlah upah dengan jumlah jam kerja maka disamping biaya overhead pabrik dibe-bankan atas dasar upah tenaga kerja langsung dapat pula dibe-bankan atas dasar jam tenaga kerja langsung.

 

  1. Jam Mesin

Bila biaya overhead pabrik bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (misalnya bahan baku atau listrik yang dipakai untuk men-jalankan mesin) maka dasar yang dipakai untuk membebankan adalah jam mesin. Tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus:

 

 

Biaya Overhead Pabrik (skripsi dan tesis)

Biaya overhead pabrik pada umumnya didefinisikan sebagi biaya bahan tidak langsung, pekerjaan tidak langsung dan beban pabrik lainnya yang tidak mudah diidentifikasi atau dibebankan langsung ke pekerjaan atau tujuan akhir biaya. Biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan tiga cara yaitu :

  1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya.

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan yaitu :

  1. Biaya bahan baku penolong.

Biaya bahan baku penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.

 

 

  1. Biaya reparasi dan pemeliharaan

Biaya ini meliputi biaya suku cadang, biaya bahan habis dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan equipmen, kendaraan, perkakas labotarium dan aktiva lain yang diperlukan oleh pabrik.

  1. Biaya tenaga kerja tidak langsung

Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat dipertimbangkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. Tenaga kerja tidak langsung terdiri dari :

  1. Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu seperti departemen pembangkit tenaga listrik, uap, bengkel dan depar-temen gudang.
  2. Karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi se-perti kepala departemen produksi, karyawan administrasi, pabrik dan mandor.
  3. Biaya timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan per-alatan, perkakas labotarium, alat kerja dan aktiva tetap lainnya yang digunakan oleh pabrik.

  1. Biaya yang timbul sebagai akibat dari berlalunya waktu

Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini adalah biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan equipmen, asuransi kecelakaan karyawan dan biaya amortisasi

  1. Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan uang tunai.

Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada biaya perusahaan misalnya biaya listrik PLN.

  1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hu-bungannya dengan perubahan volume produksi.

Dalam hal ini biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Biaya overhead pabrik tetap yaitu biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu.
  2. Biaya overhead pabrik variabel yaitu biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  3. Biaya overhead pabrik semivariabel yaitu biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan volume kegiatan. Penentuan tarif biaya overhead pabrik dan untuk pengendalian biaya overhead pabrik semi variabel digolongkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
  1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen-departemen yang ada dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua yaitu:

  1. Biaya overhead pabrik langsung departemen yaitu biaya overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.
  2. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen yaitu biaya over-head pabrik yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departe-men.

Misalnya : biaya depresiasi, pemeliharaan dan asuransi, gedung dan pabrik (bila gedung digunakan oleh berbagai departemen).

 

Pengendalian (skripsi dan tesis)

Pengertian pengendalian adalah usaha sistematis perusahaan untuk mencapai tujuan dengan cara membandingkan prestasi kerja dengan rencana dan membuat tindakan yang tepat untuk mengoreksi perbedaan yang penting[1]. Pengertian pengendalian menurut Mulyadi adalah proses untuk memeriksa kembali menilai dan selalu memonitor laporan-laporan apakah pelaksanaan tidak menyimpang dari tujuan yang sudah ditentukan[2].

Anthony Dearden Bedford mendefinisikan pengendalian sebagai proses mengarahkan sekumpulan variabel untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya[3]. Pengendalian harus selalu mengadakan komparasi atau perbandingan antar hasil sesungguhnya yang dicapai dengan proyeksi yang ditetapkan dalam perencanaan, untuk menilai prestasi (per-formance) masa lalu dan meletakkan tanggung jawab adanya penyimpangan yang terjadi.

Hary Wibowo menguraikan bahwa sebenarnya apa yang dikehendaki oleh manajemen adalah pengendalian biaya yang mengarah pada efisiensi. Efisiensi atau tepat guna dapat diartikan kemampuan menggunakan input tertentu untuk menghasilkan output tertentu yang tepat tujuan atau efisiensi yang mengarah pada efektivitas. Tujuan tetap menjadi orientasi untuk ber-gerak dalam mengambil keputusan manajemen.

Masukan yang dilakukan bagian produksi dalam proses pengolahan harus selalu diukur tingkat efisiensi dan efektivitas. Bagian produksi dapat dikatakan efisien jika menggunakan masukan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama atau menggunakan masukan yang sama untuk menghasilkan keluaran yang lebih besar. Pengukuran efisiensi lebih mengarah pada segi kuantitatif dan pengukuran efektivitas adalah hubungan antara keluaran bagian produksi dengan tujuannya. Semakin besar kontribusi keluaran bagian produksi terhadap pencapaian tujuan perusahaan, semakin efektif kegiatan bagian produksi tersebut. Kesimpulannya pengukuran efekti-fitas lebih ditekankan pada segi kuantitatif.[4]

Pengertian biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hu-bungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi. Biaya produksi dibagi menjadi tiga elemen yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik.

Berdasarkan pengertian diatas maka pengertian pengendalian baiaya produksi adalah setiap biaya yang diperlukan dalam proses pengolahan bahan baku dengan cara melaksanakan setiap aktivitas sesuai yang direncanakan. Adapun tujuan pengendalian biaya produksi adalah sebagai berikut :

  • Mencegah terjadinya pembocoran biaya
  • Menilai prestasi manajemen dalam melaksanakan fungsinya
  • Mendorong ditaatinya kebijakan yang telah ditetapkan
  • Mengarahkan semua elemen yang terkait dalam kegiatan produksi

Penggolongan Biaya Sesuai dengan Tujuan Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)

  1. Biaya relevan (Relevan Cost)

Biaya relevan adalah biaya yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan di dalam pengambilan keputusan.

  1. Biaya tidak relevan (Irrelevant Cost)

Biaya tidak relevan adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya ini tidak perlu diperhitungkan atau dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

Penggolongan Biaya untuk Tujuan Pengendalian Biaya (skripsi dan tesis)

  1. Biaya terkendalikan (Controllable Cost)

Biaya terkendalikan adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pemimpin tertentu dalam jangka waktu tertentu.

  1. Biaya tidak terkendalikan (Uncontrollable Cost)

Biaya tidak terkendalikan adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pemimpin atau pejabat tertentu berdasar wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pejabat dalam jangka waktu tertentu.

 

Penggolongan Biaya Sesuai dengan Obyek atau Pusat Biaya yang Dibiayai (skripsi dan tesis)

  1. Biaya langsung (Direct Cost)

Biaya langsung adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek dan pusat biaya tertentu

  1. Biaya tidak langsung (Indirect Cost)

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada obyek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa obyek atau pusat biaya.

 

 

Penggolongan Biaya Sesuai dengan Tendensi Perubahannya terhadap Aktivitas atau Kegiatan atau Volume (skripsi dan tesis)

  1. Biaya tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu. Biaya tetap per unit besarnya berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan, semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya per unit, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya tetap per unit.

  1. Biaya variabel (Variable Cost)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan semakin rendah semakin tinggi biaya variabel, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah jumlah total biaya variabel. Biaya variabel per  unit tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan, jadi biaya varabel per unit konstan.

  1. Biaya semi variabel (Semi Variable Cost)

Biaya semi variabel adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding. Semakin tinggi volume kegiatan semakin besar jumlah biaya total, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah biaya, tetapi perubahannya tidak sebanding.

Penggolongan Biaya Sesuai dengan Periode Akuntansi Pembebanan Biaya (skripsi dan tesis)

  1. Penegeluaran modal (Capital Expenditure)

Pengeluaran modal adalah penegalauran yang dapat memberikan manfaat pada beberapa periode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang. Pada saat terjadinya pengeluaran ini dikapitalisasi ke dalam harga perolehan aktiva, dan diperlakukan sebagai biaya pada periode akuntansi yang menikmati manfaatnya.

 

 

  1. Pengeluaran penghasilan (Revenue Expenditure)

Pengeluaran penghasilan adalah pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi di mana pengeluaran yang terjadi. Umunya pada saat terjadinya pengeluaran langsung diberlakukan ke dalam biaya, atau tidak dikapitalisasi sebagai aktiva.

 

Penggolongan Biaya Sesuai dengan Fungsi Pokok Kegiatan Perusahaan (skripsi dan tesis)

Fungsi pokok kegiatan perusahaan dapat digolongkan ke dalam:

  1. Fungsi produksi, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual
  2. Fungsi pemasaran, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penjualan produk selesai yang siap dijual dengan cara yang memuaskan pembeli dan dapat memperoleh laba sesuai yang diinginkan persusahaan sampai dengan pengumpulan kas dari hasil penjualan.
  3. Fungsi administrasi dan umum, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penenetuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berhasil guna (efektif) dan berdayaguna (efisien)
  4. Fungsi keuangan, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan yang diperlukan perusahaan.

Atas dasar fungsi biaya di atas, maka biaya dapat dikelompokkan menjadi biaya produksi, biaya administrasi dan umum, biaya pemasaran, serta biaya keuangan.

  1. Biaya produksi adalah semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam :
  2. Biaya bahan baku

Biaya bahan baku adalah harga perolehan dari bahan baku yang dipakai dalam pengolahan produk. Pengertian bahan adalah barang yang akan diproses atau diolah menjadi produk selesai atau barang yang akan merupakan produk selesai. Bahan dapat digolongkan ke dalam bahan baku (direct material) dan bahan penolong atau bahan pembantu (indirect material).

Bahan baku adalah bahan yang akan diolah menjadi produk selesai dan pemakaiannya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya atau meru-pakan bagian integral pada produk tertentu. Biaya bahan penolong adalah perolehan bahan penolong yang dipakai dalam pengolahan produk. Bahan penolong adalah bahan yang akan diolah menjadi bagian produk selesai tetapi pemakaiannya tidak dapat diikuti jejak atau manfaatnya pada produk selesai tertentu atau nilai relatifnya kecil sehingga meskipun dapat dikuti jejak pemakaiannya menjadi tidak praktis atau tidak bermanfaat.

  1. Biaya Tenaga Kerja Langsung

Tenaga kerja adalah semua karyawan perusahaan yang mem-berikan jasa kepada perusahaan. Karyawan dapat digolongkan sesuai dengan lokasi atau unit tempat karyawan melaksanakan tugasnya yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi dan umum serta fungsi keuangan.

Biaya tenaga kerja langsung (direct labor) adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasi atau diikuti jejaknya pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor) adalah balas jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik tetapi manfaatnya tidak dapat di-identifikasikan pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan.

  1. Biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik (factory overhead cost) adalah biaya pro-duksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang elemennya dapat digolongkan ke dalam:

  1. Biaya bahan penolong
  2. Biaya tenaga kerja tidak langsung
  3. Penyusutan dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik
  4. Biaya listrik dan air pabrik
  5. Biaya asuransi pabrik
  6. Biaya overhead departemen pembantu

Apabila perusahaan mempunyai departemen pembantu di dalam pabrik semua biaya departemen pembantu merupakan elemen biaya overhead pabrik.[1] Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut prime cost (biaya utama). Biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik disebut conversion cost (biaya konversi).[2]

Berdasarkan pengertian masing-masing elemen biaya produksi dapat diperoleh kesimpulan bahwa biaya produksi adalah semua biaya yang ber-hubungan langsung dengan kegiatan produksi dari suatu produk mulai dari saat pembeliaan bahan baku sampai produk selesai dan siap dijual.

  1. Biaya pemasaran, yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas.
  2. Biaya adminsitrasi dan umum, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum
  3. Biaya keuangan, yaitu semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan fungsi keuangan, misalnya biaya bunga.

[1] Supriyono, Akuntansi Biaya, (Yogyakarta, BPFE, 1999), hal21

[2] Milton Usry, Cost Accounting, (Jakarta, Erlangga, 1995),hal 39

Kompensasi Bonus (skripsi dan tesis)

 

Setiyawan (2011) menyatakan bahwa bonus adalah keuntungan tertentu bilamana perusahaan mampu menghasilkan suatu tingkat keuntungan tertentu yang telah ditargetkan (disepakati). Target tersebut biasanya dinyatakan dalam satuan angka, misalnya, keuntungan bersih perusahaan dalam suatu periode akuntansi tertentu, atau tingkat pengembalian terhadap nilai buku aset perusahaan, atau pencapaian harga saham tertentu dipasar modal (bursa). Manajemen akan memilih metoda akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak menggunakan metoda akuntansi yang meningkatkan laba yang diperoleh.

Bonus  plan hypothesis merupakan salah satu motif pemilihan suatu  metode akuntansi tidak terlepas dari positif accounting theory. Hipotesis ini menyatakan  bahwa manajer perusahaan dengan rencana bonus lebih menyukai metode akuntansi yang meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai sekarang bonus yang akan diterima seandainya komite kompensasi dari Dewan Direktur tidak menyesuaikan  dengan  metode  yang  dipilih  (Watts  dan  Zimmerman,  1990  dalam Palestin, 2006). Jika perusahaan memiliki kompensasi (bonus scheme), maka manajer akan cenderung melakukan tindakan yang mengatur laba bersih untuk dapat memaksimalkan  bonus  yang  mereka  terima.

Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di bawah bogey, maka tidak akan ada bonus yang diperoleh manajer. Sedangkan jika laba berada di atas cap, maka manajer juga tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika laba bersih berada di bawah bogey, manajer cenderung memerkecil laba dengan harapan memeroleh bonus lebih besar ada periode berikutnya dan begitu pula sebaliknya. Jadi manajer hanya akan menaikkan laba bersih perusahaan hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap (Watts dan Zimmerman, 1986 dikuti dalam Setiyawan, 2011).

Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

              Scott (2003) dalam Wardhani dan Joseph (2010) mendefinisikan bahwa manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan melalui pilihan kebijakan akuntansi untuk memperoleh tujuan tertentu, misalnya untuk memenuhi kepentingan sendiri atau meningkatkan nilai pasar perusahaan mereka. Serta membagi cara pemahaman atas mnajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitisnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs (biaya politik). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (kontrak efisien). Manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

              Menurut Sugiri (1998) dalam Ningsaptiti (2010) membagi definisi manajemen laba menjadi dua, yaitu:

  1. Definisi sempit

Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Manajemen laba dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accrual dalam menentukan besarnya laba.

  1. Definisi luas

Manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit usaha dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.

              Dalam menyiapakan laporan mungkin manajer dapat memindah laba antar perioda pada saat sebagian laba ekonomi diketahui sebagai laba akuntansi dalam laporan keuangan. Perpindahan tersebut dapat dicapai melalui pengakuan biaya pensiun, penyesuaian penaksiran umur ekonomis perusahaan, dan penyesuaian penghapusan piutang. Jika manajer tidak dapat memindah laba antar perioda maka laba yang dilaporkan oleh perusahaan akan sama dengan laba ekonomi pada setiap perioda (Isnanta, 2008).

              Dalam positif accounting theory (teori akuntansi positif) terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986 dalam Isnanta, 2008), yaitu:

  1. Bonus Plan Hypothesis(hipotesis rencana bonus)

               Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan. Dalam suatu perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, maka seorang manajer perusahaan akan melakukan penaikan laba saat ini yakni dengan memilih metode akuntansi yang mampu menggeser laba dari masa depan ke masa kini. Tindakan ini dilakukan dikarenakan manajer termotivasi untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi untuk masa kini.

               Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di bawah bogey, maka tidak akan ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas cap, maka manajer juga tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika laba bersih berada di bawah bogey, manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode berikutnya, begitu pula sebaliknya. Jadi manajer hanya akan menaikkan laba bersih perusahaan hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap.

  1. Debt Covenant Hypothesis(hipotesis perjanjian hutang)

               Dalam suatu perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity (hutang terhadap ekuitas) cukup tinggi, maka akan mendorong manajer perusahaan untuk cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan dengan rasio debt to equity yang tinggi akan berakibat menimbulkan kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor dan bahkan perusahaan dapat terancam melanggar perjanjian utang.

  1. Political Cost Hypothesis(hipotesis biaya politik)

               Dalam suatu perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi, akan mendorong manajer untuk memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang dilaporkan. Adanya biaya politik dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. Agency theory terdapat asumsi bahwa setiap individu semata mata termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga akan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Sedangkan pemegang saham sebagai pihak principal tentu akan mengadakan kontrak dengan tujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya sendiri yakni supaya profitabilitas yang selalu meningkat. Seorang manajer dalam perusahaan berindak sebagai agent dan cenderung akan termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya sendiri yang antara lain seperti dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi.

              Scott (2000) yang dikutip dalam Setiyawan (2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa pola dalam manjemen laba, yaitu:

  1. Taking a Bath

     Taking a bath terjadi pada saat reorganisasi seperti pengangkatan CEO baru. Teknik ini mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan datang dan kerugian periode berjalan sehingga mengharuskan manajemen membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang akibatnya laba periode berikutnya akan lebih tinggi.

  1. Income Minimazation

Dilakukan pada saat perusahaan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

  1. Income Maximization

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak hutang jangka panjang.

  1. Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor menyukai laba yang relatif stabil.

              Scott (2000) dalam Setyantomo (2011) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya mnajemen laba:

  1. Bonus Purpose

Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara opportunistic untuk melakukan laba dengan memaksimalkan laba saat ini.

  1. Political Motivations

Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat.

  1. Taxation Motivations

Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

  1. Pergantian CEO

CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

  1. Initial Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan go public belum memiliki harga pasar sehingga perlu menetapkan nilai saham yang akan ditawarkan. Hal ini menyebabkan manajer perusahaan yang go public melakukan manajemen laba untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas sahamnya.

  1. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

              Teknik manajemen laba menurut Setiawati dan Na’im (2000) dalam Setiyawan (2011) dapat dilakukan dengan tiga teknik, yaitu:

  1. Memanfaatkan Peluang Untuk Membuat Estimasi Akuntansi.

Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement (perkiraan) terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi biaya garansi, amortisasi aktiva tak berwujud, dan lain-lain.

  1. Mengubah Metode Akuntansi.

Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: mengubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus.

  1. Menggeser Periode Biaya atau Pendapatan.

Sebagai contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain, yaitu: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, menunda atau mempercepat pengiriman produk ke pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai.

Struktur Kepemilikan (skripsi dan tesis)

Jensen dan Meckling (1976) dalam Pujiningsih (2011) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance yang dapat mengendalikan masalah keagenan. Kepemilikan manjerial adalah kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan. Boediono (2005) menyatakan bahwa kepemilikan   institusional merupakan kepemilikan saham oleh pihak institusi lain yaitu kepemilikan oleh perusahaan atau lembaga lain. Kepemilikan saham oleh  pihak-pihak yang terbentuk institusi seperti perusahaan asuransi, bank,   perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi lain.

Struktur kepemilikan yang dibahas dalam penelitian ini adalah struktur kepemilikan saham oleh manajerial. Kepemilikan manajerial merupakan suatu kondisi dimana manajer memiliki saham dalam perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sebagai pemegang saham perusahaan. Jensen &amp; Meckling (1976) dalam Setyantomo (2011) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dengan menyelaraskan kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham.

Semakin besar kepemilikan manajemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingan dirinya sendiri (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Dengan peningkatan kepemilikan manajerial dalam perusahaan akan mampu mendorong manajer untuk menciptakan kinerja perusahaan secara optimal dan memotivasi manajer dalam bertindak agar lebih berhati-hati, karena mereka ikut menanggung konsekuensi atas tindakannya.

Corporate Governance (skripsi dan tesis)

 

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2001) corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur  dan  mengendalikan  perusahaan.  Sedangkan menurut  Cadbury  Committee,  corporate  governance  adalah sebagai  seperangkat  aturan  yang  merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka.

Manfaat corporate governance menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2001) adalah:

  1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
  2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat meningkatkan corporate value (nilai perusahaan).
  3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
  4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholder value (nilai pemegang saham) dan dividen.

Prinsip-prinsip  dasar  penerapan  good  corporate  governance  yang dikemukakan oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2001) adalah sebagai berikut:

 

  1. Fairness (keadilan)

Menjamin adanya perlakuan adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prinsip ini menekankan bahwa semua pihak, yaitu baik pemegang saham minoritas maupun asing harus diberlakukan sama.

  1. Transparency (transparansi)

Mewajibkan adanya suatu informasi yang terbuka, akurat dan tepat pada waktunya mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan para pemegang kepentingan (stakeholders).

  1. Accountability (akuntanbilitas)

Menjelaskan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Prinsip ini menegaskan pertanggungjawaban manajemen terhadap perusahaan dan para pemegang saham.

  1. Responsibility (pertanggungjawaban)

Memastikan kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Dalam hal ini perusahaan memiliki tanggungjawab sosial terhadap masyarakat atau stakeholders dan menghindari penyalahgunaan kekuasaan dan menjujung etika bisnis serta tetap menjaga lingkungan bisnis yang sehat.

Untuk melihat penerapan good corporate governance dalam perusahaan peneliti mengambil tiga proksi dalam penelitian ini yaitu:

  1. Komite Audit

Komite audit dibentuk untuk membantu komisaris dan direktur individu dalam melaksanakan tugasnya berkaitan dengan pengendalian internal, pelaporan informasi keuangan, dan standar perilaku dalam perusahaan. Tujuan umum dari pembentukan komite audit, antara lain untuk mengembangkan kualitas pelaporan keuangan, memastikan bahwa direksi membuat keputusan berdasarkan kebijakan, praktik dan pengungkapan akuntansi, menelaah ruang lingkup dan hasil dari audit internal dan eksternal, dan mengawasi proses pelaporan keuangan (Pujiningsih, 2011).

BEI melalui SURAT-EDARAN Nomor SE-008/BEJ/12-2001 mewajibkan perusahaan tercatat wajib memiliki komite audit. Jumlah anggota komite audit sekurang-kurangnya 3 orang, termasuk ketua komite audit. Anggota komite audit yang berasal dari komisaris hanya sebanyak 1 orang. Anggota komite audit yang berasal dari komisaris tersebut harus merupakan komisaris independen perusahaan tercatat yang sekaligus menjadi ketua komite audit. Angota komite audit lainnya berasal dari pihak eksternal yang independen.

Dapat disimpulkan dengan adanya komite audit, maka komisaris dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Selain itu, komite audit juga bermanfaat untuk menjamin transparasi, keterbukaan laporan keuangan, dan pengungkapan semua informasi yang ada dalam perusahaan oleh manajer meski ada konflik antara manjer dengan pemilik perusahaan.

 

  1. Proporsi Dewan Komisaris

Dewan komisaris memegang peranan yang sangat penting dalam perusahaan, terutama dalam pelaksanaan good corporate governance. Menurut Egon Zehnder International (2000) dalam Ningsaptiti (2010), dewan  komisaris merupakan inti dari good corporate governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntanbilitas.

Setyantomo (2011) menyatakan bahwa komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang good corporate governance. Komisaris independen dapat bertindak sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen.

Pujiningsih (2011) menjelaskan bahwa tugas dewan komisaris adalah mengawasi sekaligus memberikan nasehat kepada direksi dalam menjalankan perseroan. Sedangkan direksi sendiri bertanggung jawab penuh atas pengelolaan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Yang perlu diperhatikan adalah mengenai independensi dewan komisaris. Independensi yang dimaksud disini adalah anggota dewan komisaris tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan manajemen maupun dengan perusahaan melalui transaksi-transaksi yang jumlahnya signifikan, hubungan keluarga, dan hubungan-hubungan lainnya yang dapat menyebabkan komisaris independen tidak dapat berpikir secara objektif.

  1. Kualitas Audit

Auditor merupakan salah satu mekanisme untuk mengendalikan  perilaku manajemen sehingga proses pengauditan memiliki peranan penting dalam mengurangi biaya keagenan dengan membatasi perilaku oportunistik manajemen. Akuntan publik sebagai auditor eksternal yang relatif lebih independen dari manajemen dibandingkan auditor internal sejauh ini diharapakan dapat meminimalkan kasus rekayasa laba dan meningkatkan kredibilitas informasi akuntansi dalam laporan keuangan (Pujiningsih, 2011).

Peran eksternal auditor yaitu memberikan penilaian secara independen dan profesional atas keandalan dan kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan. Auditor eksternal dapat menjadi mekanisme pengendalian terhadap manajemen agar manajemen menyajikan informasi keuangan secara andal, dan terbebas dari praktik kecurangan akuntansi. Peran ini dapat dicapai jika auditor eksternal memberikan jasa audit yang berkualitas (Nuryaman, 2008).

Meutia (2004) menyimpulkan bahwa kantor akuntan publik yang lebih besar, kualitas audit yang dihasilkan juga lebih baik. Perbedaan kualitas jasa yang ditawarkan kantor akuntan publik menunjukkan identitas kantor akuntan publik tersebut. Independensi dan kualitas auditor dapat berdampak pada pendeteksian manajemen laba. Terdapat dugaan bahwa auditor yang bereputasi baik dapat mendeteksi kemungkinan adanya manajemen laba secara lebih dini sehingga dapat mengurangi tingkat manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. KAP big 4 seringkali dihubungkan dengan kualitas audit yang tinggi daripada KAP non big 4. KAP big 4 adalah kelompok empat firma jasa profesional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup. Empat besar auditor yaitu (www.wikipedia.com:2013):

  • PWC (Officially PricewaterhouseCoopers).
  • Deloitte Touche Tohmatsu.
  • Ernst & Young.

Dan berikut ini adalah KAP di Indonesia yang tergolong besar adalah yang berafiliasi dengan KAP Big 4 yaitu (www.wikipedia.com:2013):

  • KAP Haryanto Sahari, Tanudireja, Wibisana berafiliasi dengan PWC.
  • KAP Osman Bing Satrio berafiliasi dengan Deloitte Touche Tohmatsu.
  • KAP Purwanto , Sarwoko, Sandjaja berafiliasi dengan Ernst & Young.
  • KAP Sidharta, Sidharta, Widjaja berafiliasi dengan KPMG.

Teori Keagenan (skripsi dan tesis)

 

Dalam perekonomian yang semakin modern ini manjemen perusahaan semakin banyak dipisahkan dari kepemilikan perusahaan. Hal tersebut sejalan dengan agency theory yang menekankan pentingnya pemilik perusahaan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga-tenaga profesional yang lebih mengerti dalam menjalankan operasional perusahaan (Wahyuningsih, 2010).

Dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Anggraeni dan Hadiprajitno, 2013). Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham).

Manajer mempunyai kewajiban untuk memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik sebagai wujud dari tanggung jawab atas pengelolaan perusahaan. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Dalam kondisi yang sedemikian ini dikenal sebagai asimetri informasi. Pemisahan fungsi antara pemilik dan manajemen ini memiliki dampak negatif yaitu keleluasaan manajemen (pengelola) perusahaan untuk memaksimalkan laba. Hal ini akan mengarah pada proses memaksimalkan kepentingan manajemen sendiri dengan biaya yang harus ditanggung oleh pemilik perusahaan. Kondisi ini terjadi karena asimetri informasi antara manajemen dan pihak lain yang tidak memiliki sumber akses yang memadai untuk memperoleh informasi yang digunakan untuk memonitor tindakan manajemen (Richardson, 1998 dalam Rahayu, 2011).

Setyantomo (2011) mengungkapkan bahwa asimetri informasi dan konflik kepentingan yang muncul antara principal dan agent, ini mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal terutama jika informasi yang disajikan tersebut berhubungan dengan pengukuran kinerja agent. Hal ini mendorong agent untuk memikirkan bagaimana angka akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memaksimalkan kepentingannya. Asimetri informasi yang muncul antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer melakukan manajemen laba (earnings management) untuk menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja perusahaan.

Eisenhardt (1989) dalam Ujiyanto dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu :

  1. Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest).
  2. Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality).
  3. Manusia selalu menghindari risiko (risk averse).

Dari asumsi sifat dasar manusia ini dapat dijelaskan bahwa konflik kepentingan antara kepentingan principal dan kepentingan agent muncul karena masing-masing individu termotivasi oleh kepentingannya sendiri-sendiri. Pihak principal termotivasi untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat, sedangkan agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, dalam hal ini antara lain motivasi agen untuk memperoleh investasi, pinjaman, kontrak kompensasi dan bonus. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing-masing pihak yaitu prinsipal dan agen berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki (Setyantomo, 2011).

Menurut teori keagenan perilaku manipulasi yang dilakukan oleh  manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan dan menyelaraskan berbagai kepentingan tersebut. Mekanisme untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) (Nuryaman, 2008).

Respirasi Mikroba (skripsi dan tesis)

 

Mikroorganisme mempunyai sistem respirasi yang banyak jenisnya yang dapat dikarakterisasikan oleh alam melalui reduktan dan oksidan. Dalam kebanyakan kasus respirasi aerobik, akseptor elektronnya adalah molekul oksigen. Respirasi anaerob menggunakan senyawa anorganik atau organik yang teroksidasi sebagai akseptor elektronnya. Respirasi senyawa organik oleh mikroorganisme hampir serupa. Substrat dioksidasi menjadi CO2 yang diikuti oleh pelepasan sepasang H+ dan elektron.

Konsep metabolisme yang penting lainnya dalam bioremediasi adalah komentabolisme. Komentabolisme dalam arti yang sebenarnya bukan merupakan metabolisme, tetapi adalah transformasi spontan dari suatu senyawa. Enzim yang dihasilkan oleh suatu organisme yang tumbuh suatu substrat juga dapat mentransformasikan substrat lain yang tidak berhubungan dengan produksi energi, asimilasi karbon, atau proses pertumbuhan lainnya dari suatu organisme tersebut. Komentabolisme didefinisikan sebagai degradasi suatu senyawa yang hanya dapat terjadi dengan kehadiran material organik  lain yang bertindak sebagai sumber energi utama (McCarty, 1987). Komentabolisme sangat penting dalam banyak proses transformasi termasuk dari senyawa PAHs (Polynuclear Aromatic Hydrocarbons), alifatik dan aromatik hidrokarbon terhalogenasi serta pestisida.

Degradasi cenderung membentuk rangkaian reaksi transformasi. Senyawa-senyawa yang menghasilkan energi tertinggi akan didegradasi terlebih dahulu. Jika senyawa sumber energi didegradasi lebih dahulu daripada senyawa yang membutuhkan komentabolisme, seperti PAH, maka degradasi senyawa PAH ini akan dapat terhenti. Sehingga dalam penambahan senyawa sumber energi benar-benar perlu diperhatikan. ( Cookson, 1995).

Mikroorganisme (skripsi dan tesis)

 

Mikroorganisme adalah mahluk hidup mikrospik yang terdiri atas virus, bakteri, algae, fungi dan protozoa. Keberadaan mikroorganisme di alam semesta sangat banyak dan dikarakterisasikan dari bentuk, ukuran, mobilitas dan ada tidaknya klorofil. Semua mikroorganisme sangat penting secara ekologis karena peranannya sebagai produsen dan juga pendekomposisi. Proses dekomposisi oleh mikroorganisme sangat penting dalam proses bioremediasi. Proses biodegradasi alamiah berlangsung sangat lama, tapi hal ini dapat diatasi dengan dilakukannya pengaturan kondisi lingkungan sehingga tercipta kondisi yang optimal bagi proses bioremediasi.

Transport bakteri didalam tanah dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ukuran sel, sifat permukaan sel, jenis tanah, ukuran partikel tanah, permeabilitas dan heterogenitas media berpori dan mineralogi. Transportasi ini juga tergantung pada pH, kekuatan ionic, motilitas dari bakteri dan karakteristik aliran, seperti kecepatan air pada kolom-kolom tanah. (Lo. Et al, 2002 dalam Ramadhani et al, 2005).

Lumpur Minyak (oily sludge) (skripsi dan tesis)

Lumpur minyak merupakan kotoran yang tidak diharapkan dan terbentuk dari proses produksi minyak. Lumpur (sludge) merupakan material yang berpotensi dapat mencemari lingkungan terutama bila mengandung logam-logam berat yang berbahaya, bila cara-cara dan prosedur penanganan dan penaggulangannya tidak dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Dalam industri Migas, dikenal dua jenis lumpur. Yaitu lumpur pengeboran (mud) dan lumpur proses atau lumpur minyak (oily sludge). Pada umumnya lumpur pengeboran menggunakan fasa cair berupa air (water base mud) karena lebih ramah terhadap lingkungan dan biayanya relatif lebih murah. Fungsi dari lumpur pemboran antara lain untuk (Buntoro, 1998 dalam Wisnu, 2005).

  1. Mengangkat serbuk bor (cutting) ke permukaan.
  2. Mengontrol tekanan didalam formasi.
  3. Mendinginkan serta melumasi pahat dan drill string.
  4. Membersihkan dasar lubang bor.
  5. Membantu dalam evaluasi formasi.
  6. Melindungi formasi produktif.
  7. Membantu stabilitas formasi.

Lumpur (sludge) sendiri merupakan kotoran minyak yang terkumpul dan terbentuk dari proses pengumpulan dan pengendapan kontaminan minyak, baik yang terdiri dari kontaminan yang sudah ada dalam minyak, maupun kontaminan yang terkumpul dan terbentuk dalam penanganan dan pemrosesan minyak tersebut. Kontaminan tersebut dapat berbentuk padat (pasir,lumpur) maupun cair. Sludge merupakan kotoran minyak yang tersusun dari campuran air, minyak dan padatan yang berbentuk cairan kental (viscous) dan padatan lunak yang sifatnya sangat stabil, sukar dipecah menjadi unsur-unsurnya (Mustamin, 1994 dalam Suhartati, 2001).

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa lumpur (sludge) adalah kotoran minyak yang tidak mempunyai nilai teknis maupun ekonomis sebagai minyak atau produknya, sehingga keberadaannya tidak diharapkan dalam kegiatan MIGAS dan termasuk dalam limbah industri. (Anonim, 1992 dalam Supriani, 2003). Panduan  pelaksanaan pengelolaan lumpur (sludge) Pertamina 1992, pengolahan sludge dalam produksi minyak bumi meliputi:

  1. Inventarisasi
  • Dengan menghitung kualitas sludge tersebut : kadar minyak, kadar lumpur atau pasir, kadar air dan logam berat serta kuantitas dari sludge yang diproduksi
  • Inventarisasi hukum dan perundang-undangan yang berlaku
  • Cara pengolahan yang dilakukan
  • Cara pembuangan yang dilakukan
  • Sumber-sumber dari sludge
  1. Pretreatment (Pengolahan Pendahuluan)

Proses Deolling yaitu dengan memisahkan minyak dari lumpur terlebih dahulu. Minyak hasil pemisahan dari Sludge tersebut dikumpul didalam tangki penampung selanjutnya dapat diproses kembali atau dicampur dengan minyak mentah atau minyak slop dan keperluan lainnya. Deolling dapat dilakukan :

  • Proses pemanasan dengan steam pada suhu 600C diatas pour pointnya. Bila minyak tidak terpisah dengan air maka ditambahkan dengan bahan kimia demulsifer.
  • Proses Pressurized filtration yaitu proses dengan menggunakan filtrasi yang bertekanan.
  • Proses Solvent Extraction yaitu deolling dengan cara menggunakan zat pelarut (Solvent)
  • Centrifugation yaitu proses pemisahan minyak, air dan sludge dengan menggunakan gaya centrifugal.
  1. Treatment (Pengolahan lebih Lanjut)

Bila sludge megandung logam-logam yang berbahaya dapat dilakukan :

  • Land treatment yaitu suatu metoda pengolahan lumpur minyak secara biologis yang berdasarkan pada optimalisasi kemampuan alamiah mikroorganisme dilapisan tanah untuk menguraikan hidrokarbon menjadi karbon dioksida, air dan sel mikroba. (Anonim, 2002)
  • Incenerator yaitu sludge dimusnahkan dengan menggunakan cara insinerasi.

Bila sludge mengandung logam berat yang berbahaya dilakukan :

Solidifikasi atau Chemical Fixation dengan menggunakan semen atau resin. Tempat pembuangan akhir dari sludge ini adalah land fill (Anonim, 1992 dalam Suhartati, 2001).

Karakter umum dari lumpur minyak yang diolah dilokasi bio treatment/land treatment pada dasarnya mencerminkan karakter dari minyak mentah yang dihasilkan di lapangan. API Gravity dari minyak mentah tersebut merupakan prediksi kasar untuk mengetahui kemampuan terolah lumpur minyak yang tidak dikondisikan sebelumnya. (Anonim, 1998). Sedangkan karakter minyak yang diolah dilapangan minyak merupakan minyak yang ringan, dengan angka API gravity minyak mentah sekitar 41-43. (Anonim, 2002). Praktek lapangan yang telah ada menyarankan sebagai aturan umum, bahwa konsentrasi awal minyak di dalam unit pengolahan supaya terjadi pengolahan yang efektif harus memiliki angka dibawah 5% (Anonim, 1998), sedangkan persyaratan limbah yang akan diolah menurut KLH adalah tidak lebih dari 15% (Anonim, 2003).

Sebagai akibat dari tingginya konsentrasi TPH di dalam lumpur minyak, maka tidak diperkenankan untuk langsung mengolah lumpur minyak tersebut langsung ke unit bio treatment. Pencampuran lumpur minyak dengan tanah untuk mengencerkan kandungan TPH sampai pada konsentrasi tertentu yang dapat diterima, akan berakibat pada penggunaan bahan pencampur yang jumlahnya sangat besar dan dengan demikian akan meningkatkan volume bahan yang akan diolah. Oleh karena itu, pencampuran langsung lumpur minyak ke tanah adalah suatu praktek yang tidak dianjurkan dan tidak memenuhi petunjuk bio treatment yang diberikan oleh pemerintah (KLH).

Hidrokarbon Aliphatik (Aliphatic Petroleum Hydrocarbon) (skripsi dan tesis)

  • Hidrokarbon Aliphatik (Aliphatic Petroleum Hydrocarbon)

Yaitu hidrokarbon yang memiliki rantai panjang/linear dari atom karbon. Seperti pada (Tabel 2.1), Hidrokarbon Aliphatik dibedakan atas :

  1. Hidrokarbon Jenuh (Saturated Hydrocarbons)

Yaitu hidrokarbon yang pada setiap rantainya atom karbon selalu dipenuhi dengan atom hidrogen. Hidrokarbon jenuh lebih dikenal sebagai Alkana (Alkanes). Hidrokarbon jenuh atau alkana adalah hidrokarbon aliphatik yaitu hidrokarbon yang terdiri dari hidrokarbon dengan rantai lurus maupun dengan rantai bercabang dengan berbagai macam panjang pantai. Rumus umum dari Alkana adalah CnH2n+2 contohnya : CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana).

  1. Hidrokarbon Tak Jenuh (Unsaturated Hydrocarbons)

Yaitu hidrokarbon yang jika kedua atom karbon yang berdekatan, tiap atom karbonnya kehilangan atom hidrogen sehingga memiliki ikatan satu atau lebih antara atom-atom karbon. Hidrokarbon tak jenuh dibedakan kedalam 2 bentuk yaitu alkena (alkenes) dan alkynes.

  • Alkena (alkenes)

Alkena adalah hidrokarbon yang mempunyai ikatan ganda/rangkap dua diantara kedua atom karbon. Rumus umumnya CnH2n Contoh yang paling sederhana dari Alkena adalah Ethylene atau ethene (C2H4).

  • Alkynes

      Alkynes adalah hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap tiga diantara kedua atom karbon. Contoh yang paling sederhana dari Alkynes adalah ethyne (acetylene).

 

Hidrokarbon Aromatik (Aromatic Hydrocarbons) (skripsi dan tesis)

  • Hidrokarbon Aromatik (Aromatic Hydrocarbons) terdiri dari

Mono Aromatik, yaitu BTEX (Benzene, Toluene, Ethylbenzene, Xylenes) BTEX adalah termasuk jenis hidrokarbon Organik yang mudah menguap (VOHs/ Volatile Organic Hydrocarbons). Sebagian dari senyawa aromatik yang mempunyai satu cincin (single-ring) biasanya digunakan sebagai pelarut pada proses-proses industri. Sebagai contoh, ethylbenzene adalah pelarut yang digunakan untuk membuat styrene (Howard, 1989). Bentuk gabungan dari senyawa aromatik yang mempunyai satu cincin (single- ring) ini juga banyak digunakan pada proses industri seperti untuk pengolahan resin, antioxidan, plastik, logam, kulit, karet dan lain-lain. Selain banyak kegunaan diatas, BTEX  juga sangat terkenal dalam kaitan pencemaran lahan dan air tanah (ground water). Pencemaran BTEX kebanyakan terjadi pada lokasi-lokasi industri yang menghasilkan minyak dan gas bumi, pada area-area dengan tangki penyimpanan bawah tanah (Underground Storage Tanks/USTs). Tidak hanya pencemaran terhadap lahan, senyawa aromatik hidrokarbon juga adalah senyawa yang bersifat karsinogen (pembentuk sel-sel kanker), dapat menghambat pembentukan sel-sel darah, serta mempengaruhi system syaraf pusat(http://www.wikipedia.org,2007).

Struktur bangun dari BTEX antara lain:

  1. Benzene(C6H6)

Benzene (Gambar 2.1) adalah senyawa hidrokarbon aromatik dengan bentuk yang paling sederhana, memiliki enam atom karbon pada satu planar. Benzena yang telah kehilangan satu atom H disebut gugus fenil (C6H5-). Gugus ini mampu mengikat atom atau gugus atom lain sehingga terbentuklah bermacam-macam senyawa turunan benzene. Sebagai senyawa hidrokarbon, benzene bersifat non polar dan tidak larut dalam air. Struktur molekul yang datar dan simetris menyebabkan gaya tarik menarik antar molekul pada benzene lebih kuat daripada alkana, sehingga titik didih benzene relatif lebih tinggi. Kegunaan benzene yang terpenting sebagai pelarut dan bahan baku pembuat senyawa-senyawa aromatik lainnya. Benzene mudah terbakar dan penghisapan uap benzene terlalu banyak akan menghambat pembentukan sel-sel darah. Selain itu benzene juga merupakan senyawa penyebab kanker (karsinogen).

  1. Toluene/Methylbenzene (C7H8)

     Toluene juga dikenal sebagai Methylbenzene atau phenylmethane, merupakan cairan yang  jernih dan tidak larut dalam air, sedikit berbau harum, karena berasal dari senyawa benzene, yang merupakan aromatik hidrokarbon. Toluene digunakan sebagai pelarut dalam industri. Seperti paint thinners, karet, tinta print dan lain-lain. Toluene memang tidak beracun, tetapi jika terhirup dalam dosis yang banyak, akan menyebabkan masalah pernafasan kronik. Jika terjadi untuk periode yang cukup lama, akan menyebabkan kerusakan otak. Meski racun toluene memiliki tingkat kelarutan dalam air yang rendah. Racun toluene tidak bisa dikeluarkan dari tubuh dengan cara metabolisme secara biasa (melalui urine, tinja atau keringat). Ini harus dimetabolisme atau dipecah terlebih dahulu untuk bisa dikeluarkan.Ethylbenzene (C8H10)


Xylene (C
8H10)
Ethylbenzene
adalah senyawa kimia organik yang bersifat aromatik hidrokarbon. Ethylbenzene dominan digunakan pada industri petrokimia sebagai senyawa lanjutan yang memproduksi styrene, yang akhirnya akan digunakan untuk membuat polystyrene, yang biasa digunakan sebagai material plastik.

      Xylene adalah kata lain dari 3 grup turunan dari benzene, yang meliputi ortho-, meta- dan para- isomer dari dimethyl benzene. 0-,m- dan p- isomer ini dibedakan atas dimana dua grup methyl ditempatkan pada atom karbon secara berdampingan. Posisi ortho- yaitu kedua gugus berdampingan, posisi meta- yaitu kedua gugus terpisah oleh satu atom C, posisi para- yaitu kedua gugus terpisah oleh dua atom C. Xylenes, seperti jenis benzene lainnya. Memiliki struktur planar yang sangat stabil. Xylenes hanya dapat larut dalam alcohol dan ether, hampir tidak bisa larut dalam air. Xylenes sangat dapat berdampak pada otak. Pada penggunaan Xylene untuk tingkat tinggi pada periode yang lama (lebih dari satu tahun) dapat menyebabkan sakit kepala, ketidak seimbangan pada otak dan otot, serta kebingungan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sedangkan untuk penggunaan pada periode yang singkat (<14 hari) dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, hidung dan tenggorokan, kesulitan pada pernafasan, kerusakan hati dan ginjal.

  • Poli Aromatik/ Polynuclear Aromatic Hydrocarbons (PAHs).

PAHs adalah senyawa-senyawa kimia yang terdiri dari gabungan dari beberapa cincin aromatik dan tidak memiliki atom-atom yang berbeda (heteroatoms). Banyak diantara senyawa-senyawa ini dikenal sebagai penyebab kanker (carcinogens). PAHs terbentuk oleh pembakaran karbon dari bahan bakar seperti kayu, batubara, diesel atau tembakau yang tidak sempurna. Bentuk PAH yang paling sederhana adalah benzocyclobutene (C8H6). PAH yang terdiri sampai 4 gabungan cincin benzene lebih mempunyai daya larut rendah didalam air serta tekanan uap air yang rendah. Hal ini disebabkan karena semakin meningkat bobot molekulernya, maka semakin rendah daya larut didalam air dan tekanan uap airnya. PAH yang memiliki 2 gabungan cincin benzene lebih dapat cepat dalam air serta lebih cepat menguap. Karena sifat-sifat yang seperti inilah PAH hanya dapat ditemukan didalam soil dan padatan/sediment, dan jarang sekali ditemukan di air maupun udara. Namun demikian sering juga ditemukan dalam bentuk partikel yang memenjarakan air dan udara didalamnya. Akibat dari semakin meningkatnya bobot moleculer, maka sifat carcinogens-nya akan semakin meningkat tetapi kadar toxicitas akutnya akan berkurang.

 

Hidrokarbon (skripsi dan tesis)

 

            Hidrokarbon didefinisikan sebagai senyawa dengan molekul yang hanya mengandung atom karbon dan hidrogen. Senyawa karbon dan hidrogen mempunyai banyak variasi yang terdiri dari hidrokarbon rantai terbuka yang meliputi hidrokarbon jenuh dan tak jenuh. Serta hidrokarbon dengan rantai tertutup yang meliputi hidrokarbon siklik aliphatik dan hidrokarbon aromatik (http://www.wikipedia.org,2007).

Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah terdiri dari tiga senyawa hidrokarbon, yaitu senyawa hidrokarbon Alkana (paraffin/ CnH2n+2 yaitu senyawa hidrokarbon yang memiliki rantai lurus dan bercabang, fraksi ini merupakan yang terbesar didalam minyak mentah), siklo alkana (naften/ CnH2n yaitu ada yang memiliki cincin 5 yaitu siklopentana dan ada yang memiliki cincin 6 yaitu sikloheksana) dan aromatic/ CnH2-n -6. Ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari minyak bumi. Pada umumnya alkana merupakan hidrokarbon terbanyak, tetapi terkadang disebut sebagai crude napthenic, karena mengandung siklo alkana sebagai komponen yang paling sedikit (Zuhra, 2003). Petroleum hidrokarbon merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk senyawa organik yang terdapat pada minyak mentah (crude oil) dan produk-produk pengilangannya  jenis hidrokarbon.

Minyak Bumi (skripsi dan tesis)

 

            Istilah petroleum berasal dari kata Latin, yaitu petra yang berarti batu dan oleum yang berarti minyak. Secara umum, petroleum didefinisikan sebagai campuran hidrokarbon sebagai hidrokarbon dari gas alam, kondensat atau minyak bumi. Minyak bumi merupakan cairan heterogen yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen dengan perbandingan 1:1,85. Disamping itu didalam minyak bumi terdapat senyawa-senyawa non-organik yang mengandung atom nitrogen, sulfur, oksigen, fosfat dan logam dalam jumlah yang relatif  kecil. Rentang atom karbon dalam molekul dimulai dari 1 sampai 60 atau lebih dengan berat molekul dari 16 sampai 850 atau lebih (Gatlin, 1960). Sumber  limbah minyak bumi  pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi atau kegiatan lain diantaranya berasal dari limbah hasil pengeboran berupa limbah lumpur dan sumur bor (cutting) yang mengandung residu minyak bumi dan tumpahan minyak tersebut pada lahan akibat proses pengangkutan minyak melalui pipa, alat angkut, proses pemindahan (transfer) minyak atau dari ceceran minyak pada tanah terkontaminasi (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 128 tahun  2003).

Minyak bumi merupakan campuran komplek senyawa hidrokarbon dari berbagai macam isomer dengan rantai panjang, merupakan jaringan komplek dan jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Dalam minyak bumi juga terdapat unsur-unsur S,N,O dan logam-logam dalam jumlah yang relatif sedikit yang terikat dalam bentuk-bentuk senyawa organik. Disamping itu air dan garam hampir selalu terdapat dalam minyak bumi dalam keadaan terdispersi. Bahan-bahan bahkan hidrokarbon ini biasanya dianggap sebagai kotoran, karena pada umumnya mengganggu dalam proses pengolahan minyak bumi dalam kilang dan berpengaruh jelek terhadap mutu produk (Hardjono, 1985). Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian setelah diolah lagi akan menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal dan lain-lain. Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon. Hidrokarbon adalah kandungan organik yang hanya memuat karbon dan hidrogen. Yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan menggunakan air (Madigan, et al, 2003 ).

Confirmatory Factor Analysis (skripsi dan tesis)

Hair et al (2010) mengemukakan bahwa Confirmatory Factor Analysis (CFA) merupakan bagian dari SEM (Structural Equation Modeling) untuk menguji cara variabel terukur atau indikator yang baik dalam menggambarkan atau mewakili suatu bilangan dari suatu faktor. Pada CFA faktor disebut juga sebagai konstruk. Teori pengukuran digunakan untuk menentukan bagaimana variabel terukur, menggambarkan secara sistematik dan logis suatu konstruk yang ditampilkan dalam suatu model.

Ghozali (2005) mengemukakan bahwa Confirmatory Factor Analysis adalah salah satu metode analisis multivariat yang digunakan untuk menguji atau mengkonfirmasikan model yang dihipotesiskan. Model yang dihipotesiskan terdiri dari satu atau lebih variabel laten, yang diukur oleh satu atau lebih variabel indikator. Variabel laten adalah variabel yang tidak terukur atau tidak dapat diukur secara langsung dan memerlukan variabel indikator untuk mengukurnya, sedangkan variabel indikator adalah variabel yang dapat diukur secara langsung.

Uji Statistik Parametrik (skripsi dan tesis)

Statistik Parametrik; yaitu teknik yang didasarkan pada asumsi bahwa data yang diambil mempunyai distribusi normal dan menggunakan data interval dan rasio.[6]

  1. Uji-t

Uji-t digunakan untuk menentukan apakah 2 kelompok skor memiliki perbedaan yang signifikan di tingkat probabilitas pilihan. Contohnya, Uji-tdapat digunakan untuk membandingkan skor membaca pada laki-laki dan skor membaca pada perempuan di sekolah A.

Strategi dasar Uji-t adalah membandingkan perbedaan nyata antara mean kelompok (X1-X2) menentukan apakah ada perbedaan yang diharapkan berdasarkan peluang.

Uji-t terdiridari:

Uji-t untuk sampel independen digunakan untuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua sampel independen. Sampel independen ditentukan tanpa adanya pemadanan jenis apapun. Software SPSS dapat digunakan untuk uji-t.

Uji-t untuk sampel non-independen digunakan untuk membandingkan dua kelompok terpilih berdasarkan beberapa kesamaan. Uji ini juga digunakan untuk membandingkan performansi kelompok tunggal dengan pretest danposttest atau dengan dua perlakuan berbeda.[7]

  1. Analisis Varians (ANOVA)

Dalam Educational Research (2008), Cresswell mengartikan ANOVA sebagai teknik statistik yang digunakan untuk perbedaan yang ada pada lebih dari dua kelompok data. Adapun jenis analisis varians, yakni:

  1. ANOVA sederhana (satu arah) digunakan untuk menentukan apakah skor dari dua kelompok atau lebih memiliki perbedaan secara signifikan pada tingkat probabilitasnya. Misalnya,  pengukuran prestasi siswa berdasarkan tingkat ekonominya (tinggi, sedang, dan rendah), dimana tingkat ekonomi sebagai variabel kelompok dan tingkat ekonomi sebagai variabel dependennya.
  2. Multi comparison adalah pengujian yang melibatkan perhitungan bentuk istimewa dari uji-t. Setiap kali uji signifikansi dilakukan, tingkat probabilitasnya kita terima. Misalnya, kita setuju kalau hasil yang akan didapatakan muncul hanya 5 kali kesempatan pada setiap 100 sampel. Hasil tersebut dikatakan bermakna dan bukan sekedar karena peluang semata.
  3. ANOVA Multifaktor

Seperti pembahasan kelompok sebelumnya, desain factorial digunakan untuk meneliti dua variabel bebas atau lebih serta hubungan di antara variabel tersebut, maka ANOVA multifaktor adalah jenis analisis statistik yang paling sesuai. Hasilan alisisnya adalah rasioF terpisah untuk setiap variabel bebas dan satu rasio F untuk interaksi. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah gender dan tingkat ekonomi (tinggi, sedang, dan rendah) mempengaruhi prestasi mahasiswa. ANOVA multifaktor memungkinkan kita untuk menghitung kedua variabel bebas (gender dan tingkat ekonomi) dan variabel terikat (prestasi; IPK, skor bahasa, skor matematika, dsb)

  1. Analysis of Covariance (ANCOVA)

Analisis ini model ANOVA yang digunakan dengan cara berbeda dimana variabel bebas dihitung dengan memperhatikan rancangan penelitian. Bila penelitian memiliki 2 variabel bebas atau lebih, maka uji jenis inilah yang cocok digunakan melalui dua cara yakni: (1) sebagai teknik pengendalian variabel luar (extraneous variable) serta sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan uji statistik. ANCOVA bisa digunakan pada penelitian kausal komparatif maupun penelitian ekperimental yang melibatkan kelompok yang sudah ada dan kelompok yang dibentuk secara acak, dan (2) ANCOVA digunakan untuk memperkuat uji statistic dengan memperkecil varians dalam kelompok (error). Kekuatan yang dimaksudkan adalah kemampuan uji signifikansi untuk mengenali temuan riset sebenarnya, yang memungkinkan penguji menolak hipotesis 0 (nol) yang salah.[8]7

  1. Regresi Jamak

Regresi jamak digunakan pada data berbentuk rasio dan interval. Regresi jamak menggabungkan variabel yang diketahui secara terpisah untuk memprediksi (misalnya, hubungan antara) criteria dalam persamaan (rumus) prediksi atau dikenal dengan  Multiple Regression Equation. Regresi jamak merupakan prosedur analisis untuk penelitian eksperimental, kausal komparatif, dan korelasional karena teknik ini tidak hanya untuk menentukan apakah ada hubungan antar variable tetapi juga untuk mengetahui besar (kuatnya) hubungan tersebut. Salah satu jenis regresi jamak adalah step-wise analysis yang memungkinakn kita memasukkan atau mengeluarkan variabel utama (predicator) ke dalam persamaan regresi tahap demi tahap. Regresi jamak juda menjadi dasar analisis jalur yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat interaksi variabel utama satu sama lain dan berkontribusi pada variabel terikat.[9]

Sementara dalam Emzir (2011) dikatakan bahwa regresi jamak merupakan perluasan dari regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kekuatan prediksi akan semakin terdukung dengan penambahan variabel.[10]

  1. Korelasi

Menurut Cohen, dkk., Teknik korelasi digunakan untuk mengetahui tiga hal pada dua variabel atau dua set data. Pertama, “Apakah ada hubungan antara dua variabel atau set data”. Bila jawabannya “ya”, maka dua hal berikutnya perlu kita cari yakni; “Bagaimana arah hubugan tersebut”; dan “Apa yang menjadi ukurannya?” Hubungan yang dimaksudkan adalah kencenderungan dua variabel atau set data berbeda secara konsisten.[11] Dalam Solusi Mudah dan Cepat Menguasai SPSS 17.0 unruk Pengolahan Data Statistik (Wahana Komputer, 2009) dikatakan analisis korelasi dilakukan untuk menunjukkan keeratan hubungan kausal antara variabel-variabel. Jenis-jenis analisis korelasi, yaitu: Korelasi sederhana, yaitu , korelasi parsial, dan uji distance

yaitu teknik yang didasarkan pada asumsi bahwa data yang diambil mempunyai distribusi normal dan menggunakan data interval dan rasio.[6]

  1. Uji-t

Uji-t digunakan untuk menentukan apakah 2 kelompok skor memiliki perbedaan yang signifikan di tingkat probabilitas pilihan. Contohnya, Uji-tdapat digunakan untuk membandingkan skor membaca pada laki-laki dan skor membaca pada perempuan di sekolah A.

Strategi dasar Uji-t adalah membandingkan perbedaan nyata antara mean kelompok (X1-X2) menentukan apakah ada perbedaan yang diharapkan berdasarkan peluang.

Uji-t terdiridari:

Uji-t untuk sampel independen digunakan untuk menentukan apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua sampel independen. Sampel independen ditentukan tanpa adanya pemadanan jenis apapun. Software SPSS dapat digunakan untuk uji-t.

Uji-t untuk sampel non-independen digunakan untuk membandingkan dua kelompok terpilih berdasarkan beberapa kesamaan. Uji ini juga digunakan untuk membandingkan performansi kelompok tunggal dengan pretest danposttest atau dengan dua perlakuan berbeda.[7]

  1. Analisis Varians (ANOVA)

Dalam Educational Research (2008), Cresswell mengartikan ANOVA sebagai teknik statistik yang digunakan untuk perbedaan yang ada pada lebih dari dua kelompok data. Adapun jenis analisis varians, yakni:

  1. ANOVA sederhana (satu arah) digunakan untuk menentukan apakah skor dari dua kelompok atau lebih memiliki perbedaan secara signifikan pada tingkat probabilitasnya. Misalnya,  pengukuran prestasi siswa berdasarkan tingkat ekonominya (tinggi, sedang, dan rendah), dimana tingkat ekonomi sebagai variabel kelompok dan tingkat ekonomi sebagai variabel dependennya.
  2. Multi comparison adalah pengujian yang melibatkan perhitungan bentuk istimewa dari uji-t. Setiap kali uji signifikansi dilakukan, tingkat probabilitasnya kita terima. Misalnya, kita setuju kalau hasil yang akan didapatakan muncul hanya 5 kali kesempatan pada setiap 100 sampel. Hasil tersebut dikatakan bermakna dan bukan sekedar karena peluang semata.
  3. ANOVA Multifaktor

Seperti pembahasan kelompok sebelumnya, desain factorial digunakan untuk meneliti dua variabel bebas atau lebih serta hubungan di antara variabel tersebut, maka ANOVA multifaktor adalah jenis analisis statistik yang paling sesuai. Hasilan alisisnya adalah rasioF terpisah untuk setiap variabel bebas dan satu rasio F untuk interaksi. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah gender dan tingkat ekonomi (tinggi, sedang, dan rendah) mempengaruhi prestasi mahasiswa. ANOVA multifaktor memungkinkan kita untuk menghitung kedua variabel bebas (gender dan tingkat ekonomi) dan variabel terikat (prestasi; IPK, skor bahasa, skor matematika, dsb)

  1. Analysis of Covariance (ANCOVA)

Analisis ini model ANOVA yang digunakan dengan cara berbeda dimana variabel bebas dihitung dengan memperhatikan rancangan penelitian. Bila penelitian memiliki 2 variabel bebas atau lebih, maka uji jenis inilah yang cocok digunakan melalui dua cara yakni: (1) sebagai teknik pengendalian variabel luar (extraneous variable) serta sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan uji statistik. ANCOVA bisa digunakan pada penelitian kausal komparatif maupun penelitian ekperimental yang melibatkan kelompok yang sudah ada dan kelompok yang dibentuk secara acak, dan (2) ANCOVA digunakan untuk memperkuat uji statistic dengan memperkecil varians dalam kelompok (error). Kekuatan yang dimaksudkan adalah kemampuan uji signifikansi untuk mengenali temuan riset sebenarnya, yang memungkinkan penguji menolak hipotesis 0 (nol) yang salah.[8]7

  1. Regresi Jamak

Regresi jamak digunakan pada data berbentuk rasio dan interval. Regresi jamak menggabungkan variabel yang diketahui secara terpisah untuk memprediksi (misalnya, hubungan antara) criteria dalam persamaan (rumus) prediksi atau dikenal dengan  Multiple Regression Equation. Regresi jamak merupakan prosedur analisis untuk penelitian eksperimental, kausal komparatif, dan korelasional karena teknik ini tidak hanya untuk menentukan apakah ada hubungan antar variable tetapi juga untuk mengetahui besar (kuatnya) hubungan tersebut. Salah satu jenis regresi jamak adalah step-wise analysis yang memungkinakn kita memasukkan atau mengeluarkan variabel utama (predicator) ke dalam persamaan regresi tahap demi tahap. Regresi jamak juda menjadi dasar analisis jalur yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat interaksi variabel utama satu sama lain dan berkontribusi pada variabel terikat.[9]

Sementara dalam Emzir (2011) dikatakan bahwa regresi jamak merupakan perluasan dari regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kekuatan prediksi akan semakin terdukung dengan penambahan variabel.[10]

  1. Korelasi

Menurut Cohen, dkk., Teknik korelasi digunakan untuk mengetahui tiga hal pada dua variabel atau dua set data. Pertama, “Apakah ada hubungan antara dua variabel atau set data”. Bila jawabannya “ya”, maka dua hal berikutnya perlu kita cari yakni; “Bagaimana arah hubugan tersebut”; dan “Apa yang menjadi ukurannya?” Hubungan yang dimaksudkan adalah kencenderungan dua variabel atau set data berbeda secara konsisten.[11] 

Dikatakan analisis korelasi dilakukan untuk menunjukkan keeratan hubungan kausal antara variabel-variabel. Jenis-jenis analisis korelasi, yaitu: Korelasi sederhana, yaitu , korelasi parsial, dan uji distance

 Pengujian Hipotesis (skripsi dan tesis)

Pengujian hipotesis adalah proses pengambilan keputusan dimana peneliti mengevaluasi hasil penelitian terhadap apa yang ingin dicapai sebelumnya. Misalnya, kita ingin menerapkan program baru dalam pelajaran membaca. Pada rencana penelitian dikemukanan hipotesis penelitian yang memprediksi perbedaan skor siswa yang menjalni program baru tadi dengan proglam lama, dan hipotesis nol (0), yang memprediksikan skor kedua kelompok tidak akan berbeda. Setelah data dihitung mean dan standar deviasinya dan hasilnya menunjukkan skor siswa dengan program baru lebih tinggi (berbeda secara signifikan) daripada siswa yang mengikuti program lama, maka hipotesis penelitian diterima dan hipotesis nol ditolak. Yang berarti bahwa program baru tersebut efektif untuk diterapkan pada program membaca. Intinya, pengujian hipotesis adalah proses evaluasi hipotesis nol, apakah diterima tau ditolak

Standard Error (skripsi dan tesis)

Peluang setiap sampel sangat identik dengan populasinya sangat kecil (nill) meskipun inferensi populasi didapat dari informasi sampel.Penerapan random sampling tidak menjamin karakteristik sampel sama persis dengan populasi. Variasi prediksi antara mean disebut sampling error. Sampling error ini tidak bisa dihindari dan ini bukan kesalahan peneliti. Yang menjadi persoalah adalah apakah error tersebut semata-mata hasil sampling error atau merupakan perbedaan yang bermakna yang akan pula ditemukan pada papulasi yang lebih besar.

Ciri standard error adalah bahwa error yang terjadi bisaanya berdistribusi normal yang besarnya berbeda-bedadan error tersebut cenderung membentuk kurva normal yang menyerupai lonceng.

Faktor utama yang mempengaruhi standard error adalah jumlah sampel. Semakin banyak sampelnya, semakin kecil standard  errornya. Ini menunjukkan bahwa sampel penelitian semakin akurat bila banyak sampelnya.

Faktor utama yang mempengaruhi standard error adalah jumlah sampel. Semakin banyak sampelnya, semakin kecil standard error meannya yang berarti bahwa semakin kecil standard error-nya, semakin akurat mean sampel untuk dijadikan estimator untuk mean populasiny

Statistik inferensial (skripsi dan tesis)

Statistik inferensial adalah teknik analisis data yang digunakan untuk menentukan sejauh mana kesamaan antara hasil yang diperoleh dari suatu sampel dengan hasil yang akan didapat pada populasi secara keseluruhan. Jadi statistik inferensial membantu peneliti untuk mencari tahu apakah hasil yang diperoleh dari suatu sampel dapat digeneralisasi pada populasi.[1] Sejalan dengan pengertian statistik inferensial menurut Creswell, Muhammad Nisfiannoor berpendapat bahwa statistik inferensial adalah metode yang berhubungan dengan analisis data pada sampel untuk digunakan untuk penggeneralisasian pada populasi. Penggunaan statistic inferensial didasarkan pada peluang (probability) dan sampel yang dipilih secara acak (random). [2]

Statistik inferensial terdiri atas dua jenis yaitu statistik parametris dan statistik nonparametris. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. Sedangkan, statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi. Penggunaan statistik parametris dan statistik nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistik nonparametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal, ordinal (Sugiyono, 2013).

PENGUJIAN HIPOTESIS UNTUK ANALISIS DATA RISET (skripsi dan tesis)

Pengujian hipotesis merupakan suatu asumsi atau anggapan yang bisa benar atau bisa salah mengenai suatu hal dan dibuat untuk menjelaskan suatu hal tersebut sehingga memerlukan pengecekan lebih lanjut. Bila hipotesis yang dibuat itu secara khusus berkaitan dengan parameter populasi, maka hipotesis itu disebut hipotesis statistik. Jadi hipotesis statistik adalah suatu asumsi atau anggapan atau pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. Untuk suatu hipotesis yang dibuat, hanya dua kemungkinan yang akan kita putuskan, yaitu kita akan menolak hipotesis atau kita akan menerima hipotesis, setelah kita manghitung statistik dari sampel. Menolak hipotesis artinya kita menyimpulkan bahwa hipotesis tidak benar, sedangkan menerima hipotesis artinya tidak cukup informasi/bukti dari sampel untuk menyimpulkan bahwa hipotesis harus kita tolak. Artinya walaupun hipotesis itu kita terima, tidak berarti bahwa hipotesis itu benar. Sehingga dalam membuat rumusan pengujian hipotesis, hendaknya selalu membuat pernyataan hipotesis yang diharapkan akan diputuskan untuk ditolak. Hipotesis yang dirumuskan dengan harapan untuk ditolak disebut hipotesis nol yang ditulis Ho. Penolakan hipotesis nol akan menjurus pada penerimaan hipotesis alternatif atau hipotesis tandingan yang ditulis H1 atau Ha

Pengertian Analisis Data (skripsi dan tesis)

Pengertian Analisis Data adalah suatu proses atau upaya pengolahan data menjadi sebuah informasi baru agar karakteristik data tersebut menjadi lebih mudah dimengerti dan berguna untuk solusi suatu permasalahan, khususnya yang berhubungan dengan penelitian.

Analisis data juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah data hasil dari penelitian menjadi sebuah informasi baru yang dapat digunakan dalam membuat kesimpulan.

Secara umum, tujuan analisis data adalah untuk menjelaskan suatu data agar lebih mudah dipahami, selanjutnya dibuat sebuah kesimpulan. Suatu kesimpulan dari analisis data didapatkan dari sampel yang umumnya dibuat berdasarkan pengujian hipotesis atau dugaan.

Dalam hal lain, analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian. Atau definisi lain dari analisis data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menubah data hasil dari penelitian menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan dalam mengambil kesimpulan.

Adapun tujuan dari analisis data ialah untuk mendeskripsikan data sehingga bisa di pahami, lalu untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi berdasarkan data yang didapatkan dari sampel, biasanya ini dibuat berdasarkan pendugaan dan pengujian hipotesis. Itulah penjelasan mengenai analisis data semoga dapat dipahami.

Validitas (skripsi dan tesis)

Validitas adalah istilah penting dalam penelitian yang mengacu pada konseptual dan kesehatan ilmiah dari sebuah studi penelitian (Graziano & Raulin, 2004).  Untuk menghasilkan kesimpulan yang valid, konsep yang sangat penting dan berguna dalam segala bentuk  metodologi penelitian. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan akurasi dan kegunaan temuan dengan menghilangkan atau mengendalikan banyak pengganggu variabel mungkin, yang memungkinkan untuk kepercayaan yang lebih besar dalam temuan  sebuah studi yang diberikan.Membicarakan validitas sebagai terminologi penelitian, setidak-tidaknya akan sampai pada dua pengertian , yakni berkaitan dengan pengukuran dan yang kedua berkaitan dengan penelitian itu sendiri. validitas berkaitan dengan tiga unsur; alat ukur,metode ukuran dan pengukur (peneliti). Validitas ukur adalah suatu keadaan dimana alat ukur yang di gunakan untuk mengukur karakteristik seperti yang diinginkan oleh peneliti untuk di ukur. Validitas penelitian mempunyai pengertian yang berbeda dengan validitas pengukuran ,walaupun untuk termencapai validitas penelitian syarat validitas pengukuran harus terpenuhi pula. Ada empat jenis yang berbeda dari validitas (validitas internal, eksternal validitas, validitas konstruk, dan validitas kesimpulan statistik) yang berinteraksi  untuk mengendalikan dan meminimalkan dampak dari berbagai asing  faktor yang dapat mengacaukan studi dan mengurangi akurasi yang  kesimpulan. Namun yang akan di bahas sekarang ialah yang di kenal demngan validitas eksternal dan internal yang di kemukakan oleh Sugiyono membagi validitas menjadi dua jenis, yaitu validitas internal dan validitas eksternal

Rancangan sama subjek (within-subject design) (skripsi dan tesis)

Rancangan sama-subjek merupakan rancangan yang melibatkan subjek yang
sama dalam semua kondisi perlakuan. Dengan perkataan lain setiap subjek akan mendapatkan semua kondisi perlakuan atau semua level variabel independen yang ada dalam eksperimen. Dalam rancangan ini subjek mendapatkan lebih dari satu kondisi perlakuan dan diukur
variabel dependennya sesudah mendapatkan setiap kondisi perlakuan sehingga disebut rancangan amatan ulangan (repeated measures design). Rancangan sama subjek dapat dilakukan dengan melibatkan satu variabel independen.

Rancangan beda-subjek (between- subjects designs) (skripsi dan tesis)

Rancangan beda-subjek oleh Solso, Johnson, dan Beal (1998) maupun oleh
McGuigan (1997) disebut sebagai rancangan beda-kelompok (between-groups design). Rancangan beda-subjek (between-subjects
designs) adalah rancangan eksperimen yang melibatkan kelompok orang yang
berbeda dalam masing-masing kondisi perlakuan dan dapat dibagi lagi menjadi; (a) rancangan eksperimen yang hanya
meneliti pengaruh satu variabel independen atau perlakuan atau faktor, dan (b)
rancangan eksperimen yang meneliti lebih dari satu variabel independen atau perlakuan atau faktor disebut sebagai rancangan faktorial (factorial design). Rancangan eksperimen yang hanya meneliti pengaruh
satu variabel independen atas dasar jumlah kelompok kondisi perlakuan dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu; (a) rancangan dua kelompok dan (b) rancangan kelompok majemuk. Rancangan eksperimen dua kelompok berdasarkan cara pembentukannya dapat digolongkan menjadi dua yakni; (a) dua kelompok independen (two independent groups) yang terbentuk dengan cara penempatan subjek kedalam dua kondisi perlakuan secara acak
(random assignment) dan (b) dua kelompok cocok-sebanding (two matched groups),yang melibatkan penempatan subjek kedalam dua kondisi perlakuan berdasar kecocokan dalam satu variabel lain tertentu yang diduga ikut berpengaruh terhadap variabel dependen.