Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Rancangan eksperimen oleh McGuigan (1987) secara umum diartikan sebagai
penerapan metode ilmiah yang diawali dengan merumuskan permasalahan, dilanjutkan dengan merumuskan hipotesis, menyeleksi partisipan, menempatkan partisipan ke kelompok eksperimen dan kontrol, menentukan variabel independen dan dependen, mengendalikan variabel luar yang relevan, melakukan analisa statistik, membuat generalisasi dan penjelasan hipotesis jika terkonfirmasi, serta diakhiri dengan memprediksi terhadap
situasi baru lewat replikasi. Rumusan rancangan eksperimen versi McGuigan ini merupakan rumusan yang luas sebab halhal diatas merupakan penerapan tahapan seseorang didalam menyusun penelitian. Pengertian rancangan eksperimen secara lebih sempit dikemukakan oleh Kirk (1982) sebagai cara bagaimana sebuah eksperimen dilakukan dengan mengacu
pada lima hal yang saling berkaitan, yakni; (a) perumusan hipotesis statistik, (b)
penentuan variabel independen dan variabel pengganggu (nuisance variable), (c) spesifikasi jumlah unit eksperimen, (d) spesifikasi prosedur penempatan kondisi eksperimen ke subjek, dan (e) penentuan pengukuran variabel tergantung beserta analisis statistik. Sementara itu secara
lebih sempit lagi Myers dan Hansen (2002) merumuskan rancangan eksperimen sebagai struktur umum sebuah eksperimen,
yang ditentukan oleh tiga aspek (a) jumlah variabel independen atau perlakuan, (b) jumlah variasi variabel independen atau kondisi perlakuan, dan (c) penggunaan subjek yang sama atau berbeda untuk masing-masing kondisi perlakuan.

Desain Faktorial (skripsi dan tesis)

Desain faktorial merupakan desain khusus dari penelitian eksperimental (Christensen dalam Seniati dkk, 2011). Desain factorial bukan hanya sebuah desain, melainkan merupakan sekelompok desain (Robinson dalam Seniati dkk., 2011). Meskipun berbeda pendapat, keduanya sependapat bahwa desain factorial digunakan untuk penelitian eksperimental yang melibatkan lebih dari sebuah variable bebas. Desain factorial menyangkut 2 hal: pertama, variable bebas yang terlibat. Desain factorial dua-faktor (two factor factorial design) digunakan untuk penelitian yang memiliki 2 variabel bebas. Desain penelitian tiga-faktor digunakan pada penelitian dengan tiga variable bebas, dan seterusnya. Kedua, menyangkut jumlah level, tingkat, atau variasi dari masing-masing variable bebas yang terlibat. Penamaan ini selain menunjukkan jumlah variable y
l

Analisis Kualitatif (skripsi dan tesis)

 Menurut Miles dan Huberman ( 1984:21-23 ) ada tiga macam dalam analisis data kualitatif, yaitu :
a.      Reduksi data
Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian data mentah yang terjadi dalam catatan-catatan lapangan tertulis. kegiatan yang dilakukan pada reduksi data adalah membuat rangkuman, pengodean, membuat tema-tema, membuat gugus-gugus, membuat pemisahan-pemisahan, menulis memo-memo. Reduksi data dilakukan terus menerus setelah kerja lapangan, hingga laporan ankhir lengkap.
b.      Model Data ( Data Display )
Model merupakan sebagai suatu kumpulan informasi yang tersusun yang membolehkan pendeskripsian kesimpulan dan pengambilan tindaka. Penyajian data ini dapat dilakukan dalam bentukuraian singkat, bagan, hubungan antar kategori.  Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
Model yang lebih baik adalah suatu jalan masuk utama untuk analisis kualitatif yang valid. Model tersebut mencakup berbagai jenis matrik, grafik, jaringan kerja, dan bagan. Semua dirancang untuk merakit informasi yang tersusun dalam suatu yang dapat diakses secara langsung dan bentuk yang praktis. Dengan demikian peneliti dapat melihat apa yang terjadi dan dapat dengan baik menggambarkan kesimpulan.
c.       Penarikan / verifikasi kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal,vtetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Kesimpulan juga diverifikasi sebagaimana peneliti memproses. Penelii yang kompeten dapat menangani kesimpulan-kesimpulan ini secara jelas, memelihara kejujuran dan kecurigaan.

Triangulasi (skripsi dan tesis)

  

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data.

Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.

Susan Stainback menyatakan bahwa tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan.

Mathinson (1988) mengemukakan bahwa nilai dari teknik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk mengetakan lebih konsisten, tuntas dan pasti.ahui data yang diperoleh convergent (meluas), tidak konsisten atau kontradiksi. Oleh karena itu dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data maka data yang diperoleh

  Angket (skripsi dan tesis)

Pada angket, pertanyaan disusun dalam kalimat pernyataan dengan opsi jawaban yang tersedia. Hubungan peneliti dan response dilakukan melalui media yaitu daftar pertanyaan yang dikirim kepada responden.

Keunggulan Angket :

1)      Angket dapat digunakan untuk mengumpulkan data dari sejumlah besar responden yang menjadi sampel

2)      Dalam menjawab pertanyaan melalui angket, responden dapat lebih leluasa karena tidak dipengaruhi oleh sikap mental hubungan antara peneliti dan responden

3)      Setiap jawaban dapat dipikirkan masak-masak terlebih dahulu, karena tidak terikat oleh cepat waktu yag diberikan kepada responden

4)      Pertanyaan yagn diajuka dapat leih mudah dianalisis

Kelemahan :

1)      Pemakaian angket terbatas pada pengumpulan pendapat dan fakta yang diketahui responden

2)      Sering terjadi angket diisi oleh orang lain

3)      Angket diberikan terbatas kepada orang yang melek huru

Pengertian Dokumentasi (skripsi dan tesis)

  Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen berbentuk gambar seperti foto, gambar hidup, sketsa dll. Dokumen berbentuk karya seperti karya seni, yang dapat berupa gambar, patung-patung, film, dll.

            Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akiaj lebih kredibel / dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan masa kecil, disekolah, ditempat kerja, masyarakat dan autobiografi. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada. Tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Contoh banyak foto yang tidak mencerminkan keadaan aslinya, karena foto dibuat untuk kepentingan tertentu. Demikian juga autobiografi yang ditulis untuk dirinya, sering subyektif.

klasifikasi  jenis-jenis pertanyaan untuk wawancara (skripsi dan tesis)

klasifikasi  jenis-jenis pertanyaan untuk wawancara sebagai berikut ;

  1. a)Pertanyaan hipotesis
  2. b)Pertanyaan yang mempersoalkan sesuatu yang ideal dan informan diminta untuk memberikan respon
  3. c)Pertanyaan yang menantang informan untuk merespon dengan memberikan hipotesis alternative
  4. d)Pertanyaan interpretatif adalah suatu pertanyaan yang menyarankan kepada informan ujntuk memberikan interpretasinya tentang suatu kejadian
  5. e)Pertanyaan yang memberikan saran
  6. f)Pertanyaan untuk mendapatkan suatu alasan
  7. g)Pertanyaan untuk mendapatkan argumentasi
  8. h)Pertanyaan untuk mengungkap sumber data tambahan
  9. i)Pertanyaan yang mengungkap kepercayaan terhadap sesuatu
  10. j)Pertanyaan yang mengarahkan, dalam hal ini informan diminta untuk memberikan informasi tambahan.

Jenis-jenis pertanyaan untuk wawancara menurut Spradley (1980) adalah sebagai berikut:

  1. a)Pertanyaan deskriptif
  2. b)Pertanyaan struktual
  3. c)Pertanyaan kontras

 Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara (skripsi dan tesis)

Patton dalam molleong (2002) menggolongkan 6 jenis pertanyaan yang saling berkaitan yaitu,

  1. a)Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman
  2. b)Pertantayaan yang berkaitan dengan pendapat
  3. c)Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan
  4. d)Pertanyaan tentang pengetahuan
  5. e)Pertanyaan yang berkenaan dengan indra
  6. f)Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi

Langkah-langkah Wawancara (skripsi dan tesis)

Licoln dan Guba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada 7 langkah dalam penggunaan wawancara

  1. a)Menetapkan kepada siapa wawancara akan dilakukan
  2. b)Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
  3. c)Mengawali atau membuka alur wawancara
  4. d)Melangsungkan alur wawancara
  5. e)Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
  6. f)Menuliskan hasil wawancara ke dalam cacatan lapangan
  7. g)Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawncara yang telah diperoleh

Macam-macam interview / wawancara (skripsi dan tesis)

  1. a)Wawancara terstruktur

Digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawancara pengumpul data telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabanya telah disiapkan. Setiap responden diberi pertanyaan yang sama dari pewancara dan pengumpul data mencatatnya.

Dalam melakuakan wawncara selain harus membawa instrument sebagai pedoman untuk wawancara, pengumpul data dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain.

  1. b)Wawancara semitersruktur

Jenis ini sudah termasuk dalam kategori in-depth interview dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuannya adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.

  1. c)Wawancara Tak Berstruktur

Adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

Wawancara tidak terstruktur atau terbuka sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang lebih mendalam tentang subjek yang diteliti. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh sehingga peneliti lebih banyak mandengarkan apa yang diceritakan oleh responden.

Informasi atau datayang diperoleh dari wawancara sering bias. Bias adalah menyimpang dari yang sekarang, sehingga dapat dinyatakan data tersebut subjektif dan tidak akurat. Kebiasan data ini akan tergantung pada pewancara, yang diwawancarai ( responden ) dan situasi dan kondisi pada saat wawancara.

Pengertian Wawancara (skripsi dan tesis)

Menurut Esterbrg (2002) wawancara adalah pertemuan  dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstrksikan makna dalam suatu topic tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.

            Susan Stainback (1988) mengemukakan bahwa dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipasi dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini  tidak bisa ditemukan melalui observasi .

   Tahapan Observasi (skripsi dan tesis)

            Menurut Spradley ( 1980 ) tahapan observasi ada 3

  1. a)Observasi Deskriptif

Observasi deskriptf dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi tertentu sebagai objek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa maslah yang akan diteliti tetapi melakukan penjelajah umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar dan dirasakan. Semua data direkam. Observasi tahap ini disebut juga grand tour observation. Dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. Dilihat dari segi analisis maka penelitiu melakukan analisis domain, sehingga mampu mendeskripsi terhadap semua yang ditemui.

  1. b)Observasi Terfokus

Pada tahap ini peneliti sudah melakukan mini tour observation yaitu suatu observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu. Observasi ini disebut juga observasi terfokus karena pada tahap ini peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan focus. Dilihat dari segi analisis data maka pada tahap ini peneliti telah melakukan analisis taksonomi, yang selanjutnya menghasilkan kesimpulan

  1. c)Observasi Terseleksi

Pada tahap ini peneliti telah menguraikan pokus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci. Dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus, maka tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik, konteras-kontras / perbedaan dan kesamaan antar kategori, serta menemukan hubungan antara satu kategori dengan kategori lain. Pada tahap ini diharapkan  peneliti telah dapat menemukan pemahaman yang mendalam atau hipotesis. Menurut Spradley, observasi terseleksi ini masih dinamakan mini tour observation.

  Manfaat observasi (skripsi dan tesis)

Menurut Patton dalam nasution (1988) manfaat observasi adalah sebagai berikut:

  1. a)Dengan observasi dilapangan peneliti akan lebih mampu memehami konteks data dalam keseluruhan situasi social, jadi akan dapat di peroleh pandangan yang holistik atau menyeluruh
  2. b)Peneliti akan memperoleh pengalaman langsung sehingga memungkinkan menggunakan pendekatan induktif dan tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery.
  3. c)Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain dilingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara.
  4. d)Peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkapkan oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitive atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.
  5. e)Peneliti dapat menemukan hal-hal yang diluar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
  6. f)Peneliti tidak hanya mengumpulkan daya yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan suasana situasi social yang diteliti.

Macam-macam observasi (skripsi dan tesis)

Menurut nasution (1988) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Sanafiah Faisal ( 1990) mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi, observasi yang secara terang-terangan dan tersamar, dan observasi yang tak berstuktur. Selanjutnya Spradley, dalam Susan Stainback (1988) membagi observasi berpartisipasi menjadi 4 yaitu pasive participation, moderate participation, active participation dan complete participation.

  1. a)Observasi partisipatif

            Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang di amati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya, sehingga data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.

–          Partisipasi pasif

Peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut

–          Partisipasi moderat

Peneliti menjadi orang dalam dan juga orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipasif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.

–          Partisipasi aktif

Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.

–          Partisipasi lengkap

Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data sehingga peneliti tidak tertlihat melakukan penelitian.

  1. b)Obsevasi terang-terangan atau tersamar

Peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data bahwa ia sedang melakukan penelitian. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, dengan tujuan untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.

  1. c)Observasi tak berstruktur

Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak berstruktur karena focus poenelitian belum jelas sesuai dengan perkembangannya selama kegiatan observasi berlangsung.

Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang baku , tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

Pengujian Conformability (skripsi dan tesis)

Pengujian conformability dalam penelitian kualitatif disebut juga objektivitas penelitian. Penelitian dikatakan objektif jika hasil penelitian telah disepakati banyak orang. Menguji conformability berarti menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa penelitian tersebut telah memenuhi standar conformability. Dalam penelitian jangan sampai proses tidak ada, tetapi hasilnya ada

 Pengujian Dependability (skripsi dan tesis)

Dependability disebut juga dengan reliabilitas. Penelitian yang reliabel adalah apabila orang lain dapat mengulangi/mereplikasi proses penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, uji dependability ditempuh dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Pengujian Dependability dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitia

Pengujian Transferability (skripsi dan tesis)

  
Transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian kepada populasi dimana sampel tersebut diambil. Nilai transfer ini berkenaan dengan pertanyaan sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan dalam situasi yang lain. Bagi peneliti naturalistik, nilai transfer bergantung kepada pemakai, hingga manakala hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain. Peneliti sendiri tidak menjamin “validitas eksternal”.
Agar orang lain dapat memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut, peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Dengan demikian, pembaca menjadi jelas dalam memahami hasil penelitian tersebut sehingga ia dapat memutuskan dapat atau tidaknya mengaplikasikan hasil penelitian tersebut di tempat lain.

 Uji Kredibilitas (skripsi dan tesis)

Pengujian kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check.
a.      Perpajangan pengamatan
Ini berarti dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, melakukan wawancara dengan sumber data, baik yang pernah ditemui maupun yang baru ditemui. Dengan perpanjangan pengamatan ini, hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk dan semakin akrab, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
Pada tahap awal memasuki lapangan,  peneliti masih dianggap orang asing, masih dicurigai sehingga informasi yang diberikan belum lengkap, tidak mendalam, dan mungkin masih banyak yang dirahasiakan. Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang diberikan selama ini merupakan data yang sudah benar atau tidak. Bila data yang telah diperoleh selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain tidak benar, peneliti melakukan pengamatan lagi secara lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya.
Lamanya perpanjangan pengamatan ini dilakukan sangat bergantung kepada kedalaman, keluasan, dan kepastian data. Kedalaman artinya apakah peneliti ingin menggali data sampai pada tingkat makna, makna berarti data dibalik yang tampak. Keluasan berarti, banyak sedikitnya informasi yang diperoleh. Data yang pasti adalah data yang valid yang sesuai dengan apa yang terjadi.
b.      Meningkatkan ketekunan
Berartimelakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut, kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkamsecara pasti dan sistematis. Meningkatkan ketekunan ibarat mengecek soal-soal atau makalah yang dikerjakan, ada yang salah atau tidak. Dengan meningkatkan ketekunan itu, peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak. Selain itu, peneliti juga dapat mendeskripsi data secara akurat dan sistematis.
c.    Triangulasi
Dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian, triangulasi terdiri atas triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.
·      Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh dari beberapa sumber tersebut dideskripsikan, dikategorikan, dan akhirnya diminta kesepakatan (member check) untuk mendapatkan kesimpulan.
·      Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
·      Triangulasi waktu berkaitan dengan keefektifan waktu. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar dan belum banyak masalah akan memberikan data yang valid sehingga lebih kredibel.
d.   Analisis kasus negatif
Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Peneliti berusaha mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Tetapi bila peneliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubah temuannya. Hal ini tergantung seberapa besar kasus negatif yang muncul.
e.    Menggunakan bahan referensi
Yang dimaksud dengan bahan referensi adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Alat-alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif sangat diperlukan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan oleh peneliti. Dalam lapran penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi dengan foto-foto, rekaman, dan dokumen autentik.
f.     Mengadakan Member check
Member checkadalah proses pengecekan data yang berasal dari pemberi data. Bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi data, berarti data tersebut valid sehingga semakin kredibel. Namun, jika data yang diperoleh peneliti tidak disepakati oleh pemberi data, peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data dan apabila terdapat perbedaan tajam setelah dilakukan diskusi, peneliti harus mengubah temuannya dan menyesuaikannya dengan data yang diberikan oleh peneliti. Jadi, tujuan membercheck adalah agar informasi yang diperoleh dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan. Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu periode pengumpulan data selesai atau setelah mendapatkan suatu temuan atau kesimpulan

KONFIRMABILITAS (skripsi dan tesis)

Konfirmabilitas (confirmability) diidentikkan untuk menggantikan konsep objektivitas dalam penelitian kuantitatif. Namun, Patton (1990) menganggap objektivitas tidak sama persis pengertiannya dengan yang dimaksud pada
penelitian kuantitatif. Istilah konfimabilitas sama dengan penilaian obyektifitas pada penelitian kuantitatif ketika menekankan bahwa hasil temuan penelitian dapat dikonfirmasi/ dipresentasikan secara luas (Graneheim & Lundman, 2004). Objektivitas/konfimabilitas dalam penelitian kualitatif lebih diartikan sebagai konsep intersubjektivitas atau konsep tranparansi, yaitu kesediaan peneliti mengungkapkan secara terbuka tentang proses dan elemen-elemen penelitiannya sehingga memungkinkan pihak lain/peneliti lain melakukan penilaian tentang hasil-hasil temuannya. Beberapa peneliti kualitatif lebih mengarahkan kriteria konfirmabilitas mereka dalam kerangka kesamaan pandangan dan pendapat terhadap topik yang diteliti atau menitikberatkan pada pertanyaan sejauhmana dapat diperoleh persetujuan di antara beberapa peneliti mengenai aspek yang sedang dipelajari (Long & Johnson, 2000).
Streubert dan Carpenter (2003) menjelaskan bahwa konfirmabilitas merupakan suatu proses kriteria pemeriksaan, yaitu cara/ langkah peneliti
melakukan konfirmasi hasil-hasil temuannya. Pada umumnya, cara yang banyak dilakukan peneliti kualitatif untuk melakukan konfirmasi hasil
temuan penelitiannya adalah dengan merefleksikan hasil-hasil temuannya pada jurnal terkait, peer review, konsultasi dengan peneliti ahli, atau
melakukan konfimasi data/informasi dengan cara mempresentasikan hasil penelitiannya pada suatu konferensi untuk memperoleh berbagai masukan
untuk kesempurnaan hasil temuannya. Cara yang terakhir menurut Hammersley (1992) yaitu melakukan konfirmabilitas melalui
presentasi hasil temuan kepada kalangan ilmiah yang memiliki kesamaan latar belakang/interested dalam suatu konferensi dapat memberikan
berbagai manfaat, di antaranya dapat mencegah suatu premature closure dari pencarian suatu makna fenomena sosial yang dihasilkan dari hasil temuan penelitian tersebut. Penilaian konfirmasi hasil temuan studi kualitatif pada umumnya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan/ penilaian dependabilitas.

DEPENDABILITAS (skripsi dan tesis)

Istilah reliabilitas dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah dependabilitas. Konsep reliabilitas ini juga sering manjadi pertimbangan
lain dalam menilai keilmiahan suatu temuan penelitian kualitatif. Pertanyaan mendasar berkaitan dengan isu reliabilitas adalah sejauh mana temuan
penelitian kualitatif memperlihatkan konsistensi hasil temuan ketika dilakukan oleh peneliti yang berbeda dengan waktu yang berbeda, tetapi dilakukan dengan metodologi dan interview script yang sama. Ada dua sumber pengertian tentang reliabilitas dalam paradigma penelitian kuantitatif yaitu
mengartikan reliabilitas sebagai suatu konsistensi atau konstansi dari suatu alat ukur (Morse, Barrett, Mayan, Olson, & Spiers, 2002) dan reliabilitas
sebagai ukuran suatu alat ukur mengukur suatu atribut yang telah dirancang untuk mengukurnya (Polit & Hungler, 1995). Dari definisi tersebut,
pemahaman tentang reliabilitas suatu penelitian mengacu pada standarisasi alat ukur yang digunakan dalam penelitian tersebut. Tingkat dependabilitas yang tinggi pada penelitian kualitatif dapat diperoleh dengan melakukan suatu analisis data yang terstruktur dan berupaya untuk menginterpretasikan hasil
penelitian dengan baik sehingga peneliti lain akan dapat membuat kesimpulan yang sama dalam menggunakan perspektif, data mentah, dan dokumen analisis penelitian yang sedang dilakukan (Streubert & Carpenter, 2003). Melalui konstruk dependabilitas, peneliti memperhitungkan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi menyangkut fenomena yang diteliti, juga perubahan dalam desain sebagai hasil pemahaman yang lebih mendalam tentang setting yang diteliti. Brink (1991) menyatakan ada tiga jenis uji/tes
yang dapat dilakukan untuk menilai reliabilitas/ dependabilitas data penelitian kualitatif yaitu: stabilitas, konsistensi, dan ekuivalensi. Stabilitas
dapat dinilai/ diuji ketika menanyakan berbagai pertanyaan yang identik dari seorang partisipan pada waktu yang berbeda menghasilkan jawaban
yang konsisten/sama. Selanjutnya, konsistensi dapat dinilai jika interview scripts atau daftar kuesioner yang digunakan peneliti untuk mewawancarai
partisipannya dapat menghasilkan suatu jawaban partisipan yang terintegrasi dan sesuai dengan pertanyaan/topik yang diberikan. Terakhir,
ekuivalensi dapat diuji dengan penggunaan bentuk-bentuk pertanyaan alternatif yang memiliki kesamaan arti dalam satu wawancara tunggal
dapat menghasilkan data yang sama atau dengan menilai kesepakatan hasil observasi dari dua orang peneliti. Upaya peneliti untuk meningkatkan nilai dependabilitas data penelitian kualitatifnya diantaranya adalah melakukan pemilihan metode penelitian yang tepat mencapai tujuan-tujuan
penelitian yang diinginkan. Selanjutnya, peneliti perlu membuka diri sebaik-baiknya dengan cara memanfaatkan metode-metode yang berbeda untuk
mencapai tujuan penelitian dan melakukan diskusi yang intensif dengan orang lain tentang berbagai temuan dan analisis-analisis temuannya tersebut.

TRANSFERABILITAS (skripsi dan tesis)

Transferabilitas merupakan istilah yang dapat menggantikan konsep generalisasi data dalam penelitian kuantitatif, yaitu sejauh mana temuan suatu penelitian yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada kelompok lain (Streubert & Carpenter, 2003; Graneheim & Lundman, 2004). Dalam penelitian kuantitatif, istilah transferabilitas merupakan
modifikasi atau mendekati istilah yang sama dengan validitas eksternal yang pada kenyataannya, hal ini sulit dicapai. Generalisasi hanya dapat dicapai
bila obyek studi dapat dilepaskan sepenuhnya dari pengaruh konteks penelitian, suatu hal yang nyaris mustahil dilakukan dalam penelitian kualitatif
(Patton, 1990). Transferabilitas penelitian kualitatif tidak dapat dinilai sendiri oleh penelitinya melainkan oleh para pembaca hasil penelitian tersebut. Jika
pembaca memperoleh gambaran dan pemahaman jelas tentang laporan penelitian (konteks dan fokus penelitian), hasil penelitian itu dapat dikatakan
memiliki transferabilitas tinggi (Bungin, 2003; Morse, Barrett, Mayan, Olson, & Spiers, 2002). Istilah keterwakilan (representasi) dan generalisasi didekati secara berbeda dalam penelitian kualitatif dan perlu diperhatikan dalam hal pengambilan Validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif (Yati Afiyanti) sampel untuk memungkinkan diterapkannya hasil penelitian kualitatif pada kelompok lain. Pengambilan sampel pada penelitian kualitatif tidak didasarkan pada teori probabilitas seperti halnya yang dilakukan pada penelitian kuantitatif. Prosedur pengambilan sample penelitian kualitatif dilakukan secara teoritis (theoretical sampling) atau dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Untuk itu, peneliti kualitatif perlu memberi perhatian pada saat melakukan seleksi pengambilan sampel. Pengambilan sampel sebaiknya dititikberatkan  pada unit-unit esensial dan tipikal dari karakteristik subyek yang diteliti dan unit-unit teoritis tersebut ditentukan sesuai dengan pemahaman konseptual terhadap subyek atau topik yang diteliti. Dengan
demikian, acuan generalisasi diarahkan pada kasus-kasus yang menunjukkan kesesuaian konteks, bukan dalam kerangka prinsip acak.

KREDIBILITAS (skripsi dan tesis)

Konsep validitas dalam penelitian kualitatif yang sering digunakan adalah kredibilitas. Kredibilitas menjadi suatu hal yang penting ketika mempertanyakan kualitas hasil suatu penelitian kualitatif. Standar kredibilitas ini identik dengan standar validitas internal dalam penelitian kuantitatif. Suatu hasil penelitian kualitatif dikatakan memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi terletak pada keberhasilan studi tersebut mencapai tujuannya mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang majemuk/kompleks. Guba dan Lincoln (1989) menambahkan bahwa tingkat kredibilitas yang tinggi juga dapat dicapai jika para partisipan yang terlibat dalam penelitian tersebut mengenali benar tentang berbagai hal yang telah diceritakannya. Hal ini merupakan kriteria utama untuk menilai tingkat kredibilitas data yang dihasilkan dari suatu penelitian kualitatif.
Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan peneliti untuk memperoleh tingkat kredibilitas yang tinggi antara lain dengan keterlibatan peneliti dalam kehidupan partisipan dalam waktu yang lama dan berupaya melakukan konfimasi dan klarifikasi data yang diperoleh dengan para
partisipan/member checks (kembali mendatangi partisipan setelah analisis data) atau melakukan diskusi panel dengan para ekspertis/ahli untuk
melakukan reanalisis data yang telah diperoleh (peer checking). Aktivitas lainnya yaitu melakukan observasi secara mendalam juga perlu dilakukan sehingga peneliti dapat memotret sebaik mungkin fenomena sosial yang diteliti seperti adanya. Hall dan Stevens (1991) mengungkapkan hal
yang sama bahwa untuk memperoleh validitas internal/ kredibilitas yang tinggi terhadap data yang dihasilkan, peneliti harus melakukan aktivitasaktivitas
antara lain membina hubungan/ rapport yang mendalam, mengakrabkan diri dengan setting penelitian, dan memiliki sensitivitas yang kuat
terhadap bahasa dan gaya hidup para partisipannya. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, data yang diperoleh akan menggambarkan dengan tepat tentang pengalaman hidup partisipan, yang
dapat dikenali oleh partisipan itu sendiri dan akan memiliki kredibilitas yang tinggi. Selanjutnya, penulis harus menuliskan laporan hasil temuannya
dengan penjelasan mendalam tentang aspek-aspek dengan variabel dalam penelitian kuantitatif yang saling berkaitan dan interaksi dari berbagai aspek
lainnya. Penyusunan laporan tersebut menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif.

DASAR PENGGUNAAN ANGKET (skripsi dan tesis)

Wawancara atau interviu memiliki dasar penggunaan yang sama engan angket, yaitu mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidakny-tidaknya ada pengetahuan, keyakinan, maupun sikap pribadi responden, penggunaan wawancara sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian di dasarkan pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyataka oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudhkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN ISTILAH DALAM METODE WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

  1. Pewawancara (interviewer) adalah petugas pengumu informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk mejawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
  2. Orang yang di interviu (interviewer) atau responden adalah orang yang memberi infomrasi yang diharaka dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
  3. Pedoman wawancara berisi tentang uraian tentang data yang akan diungkap yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan agar proses wawancara berjalan dengan baik

Widoyoko, 2015, 

PENGERTIAN ISTILAH DALAM METODE WAWANCARA (skripsi dan tesis)

  1. Pewawancara (interviewer) adalah petugas pengumu informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk mejawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
  2. Orang yang di interviu (interviewer) atau responden adalah orang yang memberi infomrasi yang diharaka dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
  3. Pedoman wawancara berisi tentang uraian tentang data yang akan diungkap yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan agar proses wawancara berjalan dengan baik

 

Widoyoko, 2015,

PRINSIP PENULISAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Penulisan angket yang baik perlu memperhatikan beberapa prinsip. Sugiyono (2010, 142-144) menyatakan ada 10 prinsip yang perlu diperhatikan dalam penulisan angket:

  1. Isi dan tujuan pernyataan
  2. Bahasa yang digunakan
  3. Tipe dan bentuk pertanyaan
  4. Pertanyaan tidak mendua
  5. Tidak menanyakan yang sudah lupa
  6. Pertanyaan tidak menggiring
  7. Panjang pertanyaan
  8. Urutan pertanyaan
  9. Prinsip pengukuran
  10. Penampilan fisik angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI JAWABAN YANG DIBERIKAN (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari hawaban yang diberikan, angket dibedakan mejadi angket langsung dan angket tidak langsung

Angket langsung yaitu angket dimana responden menjawab/memberi respon tentang keadaan dirinya sendiri. Contoh : angket yang mengukur sikap guru terhadap kebijakan sekolah, respondennya adalah guru maka guru menjawab tentang keadaan dirinya sendiri

Angket tidak langsung yaitu jika responden menjawab/memberi respon tentang keadaan orang lain. Contohnya: angket untuk mengukur kinerja guru, respondennya adalah siswa maka siswa yang menilai keadaan guru atau kinerja gurunya pada saat mengajar sesuai dengan alternatif yang disediakan oleh penyusun angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI CARA MENJAWAB (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari cara menjawab, angket dapa dibedakan menjadi angket terbuka dan angket tertutup

  1. Angket terbuka merupakan angket yang bisa dijawab/direspon secara bebas oleh responden. Peneliti tidak menyediakan alternatif jawaban/respon kepada respoden. Penggunaan angket terbuka maupun tertutup maisng-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan yaitu:
  2. Akan mendapatkan data yang bervariasi
  3. Membantu peneliti mendapatkan infomrasi yang lebih lengkap tentang objek yang diteliti
  4. Memberikan kebebasan kepada responden untuk menulis jawaban atau berdasarkan pendapatnya
  5. Responden dapat mengisi atau memberi respon sesuai dengan keadaan responden yang dialaminya

Angket terbuka memiliki kekurangan yaitu:

  1. Bagi peneliti sulit untuk mengelompokkan jawaban/respon atau memberi kode terhadap jawaban responden
  2. Bagi responden memakan waktu untuk menjawab pertanyaan atau memeri respon terhadap pertanyaan yang disampaikan
  3. Angket tertutup, merupakan angket yang jumlah item dan alternatif jawabnnya maupun responnya sudah ditentukan, responden tinggal memilihnya sesuai denagan keadaan yang sebenarnya

Angket tertutup memiliki kelebihan, antara lain;

  1. Mudah memberi nilai
  2. Mudah dalam memberi kode

Angket tertututp memiliki kekurangan, antara lain:

  1. Bagi peneliti, kadang-kadang sulit untuk menyediakan alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan responden
  2. Bagi respondn sulit untuk memilih alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan dirinya.

 

FUNGSI ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Pada umumnya angket mempunyai dua fungsi, yaitu deskripsi dan pengukuran

  1. Fungsi deskripsi maksudnya adalah informasi yang diperoleh melalui angket dapat memberikan gambaran ((deskripsi) tentang karaketristik dari individu atau sekelompok responden, contohnya: gender, pendidikan, pekerjaan, umur dan pendapatan. Selanjutnya, penggambaran unsur-unsur itu mempunyai beberapa tujuan misalnya peneliti dapat memperoleh keterangan tentang tingkah laku individu atau kelompok responden tertentu
  2. Fungsi pengukuran, maksudnya berdasarkan respon yang diberikan oleh respon yang diberikan oleh responden peneliti dapat mengukur variabel-variabel individual atau kelompok tertentu, contohnya variabel sikap. Angket dapat berisi item pertanyaan maupun pernyataan tunggal atau jamak, yang telah dirancang melalui kisi-kisi instrumen untuk mengukur berbagai gejala

KEKURANGAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

 

  1. Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terleati tidak terjawab padahal sukar diulang untuk memberikan kembali angket kepada responden tersebut
  2. Sering sulit dicari validitasnya, sebab responden memiliki situasi dan kondisi yang tidak sama untuk informasinya
  3. Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban tidak benar atau tidak jujur
  4. Jika dikirim melalui pos, sering tidak kembali. Menurut penelitian, angket yang dikirim lewat pos angka pengembaliannya sangat rendah, hanya sekitar 20% (Srikunto, 2006; 15)
  5. Waktu pengembaliannya tidak bersama-sama bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat

 

 

 

Widoyoko, 2015,

KELEBIHAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Penggunaan angket sebagai metode pengumpulan data memberikan kelebihan bagi peneliti. Di antara kelebihan angket tersebut antara lain:

  1. Tidak memerlukan hadirnya eneliti secara langsung
  2. Waktu pelaksanaan relatif lebih cepat, karena da[at dibagika secara serentak kepada banyak responden
  3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatan masing-masing dan menurut waktu senggang responden
  4. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur, dan tidak malu-malu menjawab atau memberi respon
  5. Dapat dibuat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama
  6. Biaya lebih murah dibandingkan dengan metode lain

 

 

 

Widoyoko, 2015,

DASAR PENGGUNAAN METODE ANGKET (skripsi dan tesis)

 

 

Angket mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan, keyakinan maupun sikap pribadi seseorang. Penggunaan angket sebagai metode pengumpulan data pada penelitian di dasarka pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepda peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015

METODE PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan-keterangan, dan informasi yang dapat dipercaya. Untuk memperoleh data tersebut maka dalam penelitian ini dapat digunakan berbagai macam metode, diantaranya adalah dengan angket, observasi, wawancara, tes dan analisis dokumen.

  1. Angket

Angket atau kuesioner merupakan metode engumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Angket merupakan metode pengumpulan data yang efisien jika peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang akan diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang cukup luas.

  1. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diintervieu (interview) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara merupakan cara pengumplan data yang langsung dari sumbernya tentang berbagai gejala sosial baik yang terpendam maupun tampak. Wawancara merupakan alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya. Wawancaraini digunakan bila jumlah responden relatif sedikit.

  1. Observasi

Sebagai metode pengumpulan data, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatn secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Unsur-unsur yang nampak itu disebut dengan data atau informasi yang harus diamati dan dicatat secara benar dan lenkap. Metode ini digunakna untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan gar peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih luas tetang permasalahan yang akan diteliti.

  1. Analisis Dokumen

Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan maalah yang akan diteliti. Dalam arti sempit dokumen berarti barang, atau benda tertulis sedangkan dalam arti yang luas, dokumen bukan hanya berwujud tulisan saja tetapi dapat berupa benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol lainnya.

  1. Tes

Tes merupakan salah satu alat untk melakukan pengukuran yaitualat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Karakteristik objek daat berupa ketrampilan, pengetahuan, bakat, minat, maupun bakat baik yang dimiliki idividu maupun kelompok.

Widoyoko, 2015,

UJI STATISTIK PADA TIAP JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

  1. Data nominal mempunyai ciri antara lain: hasil hitungan dan tidak dijumpai angka pecahan, angkayang tertera hanya label saja, tidak mempunyai urutan (ranging), tidak mempunyai ukuran baku dan tidak mempunyai nol mutlak.

Analisis statistik yang cocok untuk data nominal antara lain: Uji binomium, uji Chi Kuadrat Satu Sampel, Uji Chi Kuadrat Dua Sampel, Uji Chi Kuadrat Lebih Dari Dua Sampel, Uji Prubahan Tanda Mc Nemar, Uji Peluang Fisher, Uji  Cohran dan Uji Koefiesien. Sedangkan tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Ordinal

Analisis statistik yang cocok untuk data ordinal adalah: Uji Kolmogorov Smirnov Satu Sampel, Uji Tanda, Uji Pasangan Tanda Wilcoxon, Uji Media, Uji Mann Whitney U, Uji Kolmogorov Smirnov Dua Sampel, Uji Deret Wald Wolfowitz, Uji Reaksi Ekstrim Moses, Uji Analisis Varians Dua Arah Friedman, Uji Varians ruskal Walls Satu Arah, Perluasan Uji Media, Uji Koefisien Korelasi Rank Kendall, Ujia Koefisien Parsial Kendall, dan Uji Koefisien Konkordans Kendall. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Interval

Analisis statistik yang cocok untuk data interval adalah; Uji T, Uji t test, Uji Anova Satu Jalur, Uji anova Dua Jalur, Uji Person Product Moment, Uji Korelasi Parsial, Uji Korelasi Ganda, Uji Regresi. Tes statistik yangdigunakan adalah tes statistik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data rasio

Pemilihan teknik statistik yang digunakan dalam analsisi data selain tergantung pada macam data juga pada bentuk hipotesisnya.

Widoyoko, 2015,

SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data skalanya, data dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio

  1. Data nominal

Data nominal merupakan data yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan dan diperbandingkan satu dengan yang lain. Nominal atau nomi yang berarati nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai sebuah tanda atau label, data nominal dapa dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan. Tanda atau label tidak mempunyai makna selain sebagai pembeda.

  1. Data ordinal

Data ordinal merupakan data yang memiliki urutan (order) tetapi tidak memiliki jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebut. Atau dengan kata lain merupakan data yang mempunyai jenjang sehngga responden dapat diurutkan jenjangnya sesuai dengan karakteristik yang ada pada dirinya. Dalam data ordinal, kita dapat menyatakan sesuatu itu lebih, sama atau kurang dari yang lain. Data ordinal dapat dibedakan dan diurutkan tetapi tidak memiliki jarak yang sama dalam urutn maupun perbedaan yang ada. Data ordinal menggolongkan subjek menurut jenjangnya, tanpa memperhatikan jarak perbedaan antara golongan yang satu dengan lainnya

  1. Data interval

Data interval merupakan data yang memiliki perbedaan, urutan dan jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebuttetapi tidak memiliki titik nol absolut atau mutlak. Jarak dalam skala interval diatur mengkuti aturan tertentu yang mudah dapat dimengerti

 

Widoyoko, 2015,

CARA PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Data dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengumpulannya. Berdasarkan cara pengumpulannya, ata dapat dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder:

  1. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau dengan kata lain data yang pengumpulannya dilakukan sendiri olehpeneliti secara langsung seperti hasil wawancara dan hasul pengisian angket (kuesioner)
  2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua.Purwanto (2001; 1995) mengartikan data sekunder sebagai data yang dikumpulkan oleh orang atau lembagalain. Soeratno dan Arsyad (2003; 76) mengartikan data sekunder sebagai data yang diterbitkan atau yang digunakan oleh oragnisasi yang bukan pengolahnya. Dengan demikian data sekunder mempunyai dua makna. Pertama, data yang diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk tabel atau diagram. Kedua, data yang dikumpulkan oleh orang taau lembaga lan, dengan kata lain bukan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti.

 

 

Widoyoko, 2015,

SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sumbernya, data dapat dikelompokkan menjadi dua data yaitu:

  1. Data internal merupakan data yang dikumpulkan atau diperoleh dari lembaga atau organisasi dimana penelitian dilaksanakan.
  2. Data eksternal merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari lembaga aau organisasi lain dimana penelitian dilaksanakan

 

 

Widoyoko, 2015

SIFAT DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sifatnya, data dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data dikotomi, diskrit atau kontinum.

  1. Data dikotomi merupakan data yang bersifat pilah atau satu sama lain seperti jenis kelamin, suku, agama dan lain sebagainya. Pengumpulan data dikotomi dilakukan dengan memberikan angka label
  2. Data diskrit merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghitung atau membilang
  3. Data kontinum merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara mengukur dengan alat ukur yang menggunakan skala tertentu

 

 

 

Widoyoko, 2015,

JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data dibedakan menjadi dua macam yaitu data kaulutatif dan kuantitatif.

  1. Data kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada baik keadaan, proses, perisitiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata. Penentan kualitas itu menuntut menilai tentang bagaimana mutu sesuatu itu. Contohnya: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk dan sebagainya. Data ini biasanya diperoleh  dari hasil wawancara dan bersifat subjketif sebab data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif yang diangkakan (kuantifikasi) dalam bentuk ordinal atau rangking.

Nawawi dan Hadari (2006; 49-51) membedakan data kualitatif dilihat dari jenisnya sebagai berikut:

  • Data kategori yang dinyatakan dengan perkataan untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan, proses atau persitiwa termasuk dalam salah stau golongan atau suatu pihak tertentu
  • Data yang menunjukkan porsi dari setiap keadaan yang dinyatakan dengan perkataan yang merupakan perbandingan dengan yang ideal atau keseluruhan.
  • Data berjenjang atau meningkat yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian perstiwa termasuk pada suatu tingkatan mutu/kualitas tertentu di atas atau di bawah rata-rata.
  • Data yang bersifat relatif yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian/persitiwa merupakan sesuau yang adanya dapat berubah-ubah.
  • Data yang bertentangan yang menyatakan jika yang satu ada maka yang lain tidak aa tentang suatu keadaan, kejadian atau proses tertentu yang diungkapkan dalam suatu penelitian
  1. Data kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil pengukuran langsung maupun dari angka-angka yang diperoleh dengan mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data kuantitatif bersifat objektif dan bisa ditafsirkan sama oleh seua orang

 

 

 

Widoyoko, 2015,

PERAN DATA DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Data berfungsi sebagai alat hipotesis atau alat bukti atas pertanyaan penelitian
  2. Kualitas data sanga menentukan kualitas hasil penelitian. Artinya hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang berhasil belum tentu hasil penelitian juga baik. Hasil penelitian selain dipengaruhi oleh kualitas data yang berhasil dikumpulkan juga dipengaruhi oleh ketepatan dan keakuratan analisis data yang dilakukan. Kualitas data tergantung pada kualitas dari instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen pengumpulan data berkaitan dengan validitas dan reabilitas instrumen

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN DATA (skripsi dan tesis)

 

 

Secara umum, data diartikan sebagai suatu fakta yang dapat digambarkan dengan angka, simbol, kode dan lain-lain (Umar, 2001:6). Menurut Arikunto (2006:118) data diartikan sebagai hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun angka. Sedangkan menurut Soeratno dan Arsyad (2003; 72-73) data adalah semua hasil observasi atau pengukuran yang telah dicatat untuk suatu keperluan tertentu. Data merupakan bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta (Ridwan, 2009; 5). Dalam konteks penelitian, data dapat diartikan sebagai keterangan mengenai variabel pada sejumlah objek. Data menerangkan objek-objke dalam variabel tertentu. Misalnya: data berat 5 batang logam merupakan keterangan mengenai 5 logam dalam variabel “berat”.

Widoyoko, 2015,

PENAMPILAN WAKTU PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan penampilan/performan ketika hendak diukur, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu variabel maksimalis dan variabel tipikalis.

  1. Variabel maksimalis

Variabel maksimalis merupkan variabel yang pada waktu pengumpulan datanya responden di dorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya. Berdasarkan penampilan maksimalnya tersebut dapat diketahui keberadaan variabel tersebut pada responden. Instrumen yag digunkaan untuk mengukur performan variabel maksimalis adalah tes.

  1. Variabel tipikalis

Variabel tipikalis merupkan variabel yang pada saat pengumpulan datanya responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal tetapi lebih di dorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya dalam variabel yang diukur.

 

Widoyoko, 2015

TIPE SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

 

Variabel dapat dibedakan berdasarkan tipe skala pengukuran. Terdapat 4 tingkat variasi yang dihasilkan dari hasil pengukuran terhadap variabel yaitu nominal, rdinal, interval dan rasio.

  1. Variabel Nominal

Variabel nominal disebut juga dengan variabel diskrit. Sesuai dengan namnya nominal atau nomi yang berarti nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara variabel yang satu dengan lainnya. Variabel nominal adalah variabel yang dapat dgolongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kaegori. Contoh variabel nominal diantaranya adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, jenis dan lain sebagainya. Variabel nominal meripakan variabel yang memiliki variasi paling sedikit yaitu perbedaan. Contoh variabel jenis hanya membedakan antara laki-laki dan perempuan dan tidak memiliki jenjang bertingkat atau urutan, tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan

  1. Variabel ordinal

Variabel ordinal merupkan variabel yang memiliki variasi perbedaan dan urutan (order) tetapi tidak memiliki kesamaan jarak perbedaan serta tidak dapat diperbandingkan. Urutanni menggambarkan adanya gradasi atau peringkat, akan tetapi jarak tingkat yang satu dengan tingkat lainnya tidak dapat diketahui dengan pasti.

  1. Variabel Interval

Variabel interval merupakan variabel yang skala pengukurannya dapat dibedakan, bertingkat dan memiliki jarak yang sama dari satuan hasil pengukuran, namun tidak bersifat mutlak dan tidak dapat diperbandingkan,

  1. Variabel Rasio

Variabel rasio merupkan variabel yang memiliki skor yang dapat dibedakan, diurutkan, memiliki kesamaan jarak perbedaan dan dapat diperbandingkan. Dengan demikian variabel yang memiliki skala rasio merupakan variabel yang memiliki tingkat tertingi dalam pensaklaan pengkuran variabel karena dapat menunjukkan perbedaa, tingkat, jarak dan dapat diperbandingkan.

Widoyoko, 2015,

URGENSI PEMBAKUAN INSTRUMEN (skripsi dan tesis)

 

 

Berdasarkan perlu tidaknya pembakuan instrumen untuk mengumpulkan data, variabel dapat dibedakan menjadi variabel faktual dan variabel konseptual (Purwanto, 2007; 9)

  1. Variabel Faktual

Variabel fktual merupakan variabel yang terdapat di dalam faktnya. Contoh variabel faktual antara lan: jenis kelamin, agama, pendidikan, usia asal sekolah dan sebagainya. Karena bersifat aktual, maka bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, kesalahan bukan terletak pada isntrumen tetapi pada responden, misalnya memberi jawaban yang tidak jujur. Instrumen untuk mengumpulkan data variabel faktual tidak perlu dibakukan. Tidak perlu dlakukan uji validias dan realiabilitas.

  1. Variabel Konseptual

Variabel konseptual merupakan variabel yangtidak terlihat dalam fakta namun ersembunyi dalam konsep. Variabel konsep hanya diketahui berdasarkan indikator yang nampak. Contoh variabel konsep antara lain: prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan dan lain sebagainya. Karen tersembunyi dalam kosep maka keakuratan data dari variabel konsep tergantung pada keakuratan indikatr dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh peneltii. Kesalahan data dalam pengukuran dapat disebabkan oleh kesalahan konsep beserta indikator yang dikembangkan. Kesalahan data dari variabel prestasi belajar misalnya, kemungkinan disebabkan oleh instrumen pengumpulan data prestasi (baik dengan tes maupun non tes) yangsalah konsep. Untuk memastikan instrumen tidak salah konsep maka sebelum digunakan untuk mengumpulkan data variabl konsep, instrumen harus diuji validitas dan realibilitasnya

 

 

 

Widoyoko, 2015

PENENTUAN KEDUDUKAN VARIABEL (skripsi dan tesis)

Untuk dapat menentukan kedudukan variabel beas, terikat, kontrol, moderating, variabel antara atau lainnya harus dilihat konteksnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil dari pengamatan empiris. Untuk itu, sebelum peneliti memilih variabel apa yang akan diteliti perlu dilakukan kajian teoritis, dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada objek yang akan diteliti. Jangan sampai terjadi menyusun rancangan penelitian di belakang meja dan tanpa mengetahui terlebih dahulu permasalaahn yang ada di objek penelitian. Sering terjadi, rumusan masalah dibuat tanpa melalui studi pendahuluan ke objek peneltian, sehingga setelah dirumuskan ternyata masalah itu tidak menjadi masalah pada objek penelitiabn. Setelah masalah dapat dipahami dengan jelas dan dikaji secara teoritis maka peneliti dapat menentukan variabel-variabel penelitiannya.

Widoyoko, 2015,

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan hubungan antar variabel maka variabel dalam penelitian tersebut dapat dibedakan menjadi:

  1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain. Dengan kata lain, perubahan pada variabel ni diasumsikan akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel lain. Variabel ini disebut variabel bebas karena adanya tidak tergantung pada adanya yang lain atau bebas dari ada atau tidaknya variabel lain.

Untuk lebih mudah memahaminya dapat dilihat dari contoh sebuah penelitian. Jika dalam penelitian dinyatakan bahwa yang akan diungkap adalah “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa” maka variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Variabel ini disebut variabel bebas karena “pretasi belajar siswa” tergantung dan dipengaruhi oleh variabel tersebut, yang adanya bebas tidak tergantung pada variabel yang lain.

Variabel bebas sering juga disebut sebagai variabel stimulus, pengaruh dan prediktor. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen

  1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Disebut variabel terikat karena kondisi atau variasinya dipengaruhi atau terikat oleh variasi variabel lain, yaitu dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat ini ada yang menyebut dengan istilah variabel tergantung, karena variasinya tergantung oleh variasi variabel lain. Selain itu ada juga yang menyebut variabel output, kriteria ataupun respon. Dalam SEM (Structural Equation Modelling)/ Permodelan Persamaan Struktural, variabel bebas disebut sebagai variabel indogen

  1. Variabel Kontrol

Variabel antara atau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat menjadi hbungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsing berubahnya atau timbulnya variabel terikat

  1. Variabel Moderator

Variabel moderator merupakan yang memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sugiyono (2010; 39) menyebut dengan istilah variabel independen kedua. Secara definisi hampir sama dengan variabel kontrol, hanya saja di sini pengaruh variabel itu tidak dinetralisisr atau ditiadakan tetapi bahkan dianalisis atau diperhitungkan

  1. Variabel Antara

Variabel antara aatau intervening variabel merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabelbeas terhadap variabel terikat menjadi hubungan tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.

Widoyoko, 2015,

MACAM-MACAM VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian dikenal bermacam-macam penamaan variabel. Dari berbagai macam variabel tersebut, sekurang-kurangnya dapat diklasifikasikan berdasarkan lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah:

  1. Sifat variabel

Berdasarkan sifatnya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi dua aitu variabel statis dan variabel dinamis

  1. Variabel Statis

Ariabel statis merupakan variabel yang mempunyai sifat yang tetap, tidak dapat diubah keberadaannya maupun karakteristiknya. Dalam kondisi yang wajar sifat-sifat itu sukar diubahnya speerti mialnya jenis kelamin, jenispekerjaan, status soail ekonomi, dan sebagainya. Ada juga yang menyebutnya variabel atributif (Sudjarwo dan Basrowi, 2009; 198). Sifat yang ada padanya adalah tetap, untuk itu penelitian hanya mampu untuk memilih atau menyeleksi. Oleh karena variabel ini disebut juga dengan variabel selektif. Arikunto (2006; 124) selain menggunakan istilah variabel tidak berdaya untukmaksud yang sama karenapeneliti tidak mampu mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel tersebut

  1. Variabel Dinamis

Variabel dinamis merupakan yang dapat diubah keberadaanya atau karakteristiknya. Variabel ini memungkinkan untuk dimanipulasi atau diubahs esuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Pengubahan dapat berupa peningkatan atau penurunan. Contoh variabel dinamis adalah: kinerja pegawai, motivasi belajar. Selain menggunakan istilah variabel dinamis, untuk maksud yang sama maka Arikunto (2006; 124) menggunakan istilah variabel terubah. Sedangkan Sudjarwo dan Basrowi (2009; 197) menggunakan istilah variabel aktif.

 

Widoyoko, 2015

CIRI-CIRI VARIABEL PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian, variabel mempunyai tiga ciri, yaitu: mempenyai variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi dan dapat diukur.

  1. Variabel mempunyai nilai yang bervariasi. Oleh karena itu variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam populasi, maka variabel harus memiliki nilai yang bervariasi. Misalakan dari populasi 30 oang mahasiswa maka IP hanya akan menjadi variabel apabila terdapat nilai yang bervariasi. Sebaliknya, apabila dari 30 orang siswa tersebut tidak terdapat variasi karena nilai IP yang sama maka IP bukanlah variabel pada populasi yang bersangkutan. Contoh lain, dari populasi penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu, jenis pekerjaan atau prfesi bukan merupkan variabel apabila selurh penduduk tersebut memiliki pekerjaan atau profesi yang sama.
  2. Variabel membedakan satu objek dari objek yang lain. Objek-objek menjadi anggota populasi karnan mempunyai satu karakteristikyang sama. Meskipun sama, objekobjek dalam populasi dapat dibedakan satu sama lain dalam variabel. Sebagai contoh, populasi mahasiswa terdiri dari anggota ang memeiliki satu kesamaan karakteristik yaitu mahasiswa. Selain kesamaan tersebut, antara mereka berbeda daam usia, jenis kelamin, agama, motivasi belajar, tempat tinggal, prestasi dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini yang merupakan variabel karena mempunyai sifat membedakan di antara objek yang ada dalam populasi.
  3. Variabel harus dapat diukur. Penelitian kuantitatif menghasruskan hasil penelitian yang ojektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep. Konsep belum dapat dukur sedangkan variabel dapat diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep. Sebagai contoh, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel; siswa adalah konsep dan jumlah siswa adalah Variabel. Dengan demikian data dari Variabel penelitian harus tampak dalam perilaku yang dapat diobservasi dan diukur, misalnya prestasi belajar aalah jumlah jawaban benar yang dibuat siswa dalam mengerjakan sebuah tes.

 

Widoyoko, 2015

Cara Penularan Penyakit (skripsi dan tesis)

Menurut Notoatmodjo (2003: 35-36), penularan penyakit dapat melalui berbagai cara, antara lain:

  1. Kontak (contact)

Dapat terjadi kontak langsung maupun kontak tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung ini pada umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup berjubel. Oleh karena itu, lebih cenderung terjadi di kota daripada di desa yang penduduknya masih jarang.

  1. Inhalasi (inhalation)

Yaitu penularan melalui udara/ pernapasan. Oleh karena itu, ventilasi rumah yang kurang, berjejalan (over crowding), dan tempat-tempat umum adalah faktor yang sangat penting di dalam epidemiologi penyakit ini. Penyakit yang ditularkan melalui udara sering kali disebut “air borne infection” (penyakit yang ditularkan melalui udara).

  1. Infeksi

Penularan melalui tangan, makanan atau minuman.

  1. Penetrasi pada kulit

Hal ini dapat langsung oleh organisme itu sendiri. Penetrasi pada kulit misalnya cacing tambang, melalui gigitan vektor misalnya malaria atau melalui luka, misalnya tetanus.

 

Pengertian Sehat (skripsi dan tesis)

Dalam Undang-Undang Pokok Kesehatan nomor 9 tahun 1960 Bab I pasal 2, kesehatan adalah keadaan sempurna yang meliputi kesehatan badan, rohani (mental), sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan (Soemirat 2004: 4).

Menurut Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, disebutkan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomi (Soemirat, 2004: 4).

Operasional Monitoring (skripsi dan tesis)

Monitoring adalah suatu kegiatan yang dilakukan terhadap aspek operasional TPA, menurut Yogyakarta Urban Development Project: 1995 adalah sebagai berikut:

  1. Monitoring Leachate

Leachate adalah cairan yang berupa rembesan dari limbah padat yang mengandung bahan-bahan terlarut atau endapan. Leachate merembes melalui lapisan bawah tanah, bahan-bahan kimia dan biologis yang dikandungnya dapat merusak kondisi air tanah. Salah satu cara yang sangat baik untuk mengurangi atau menghilangkan rembesan leachate tersebut yaitu sistem pelapisan dengan tanah liat.

Besarnya jumlah leachate yang terjadi bergantung pada masuknya limpasan air permukaan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dibuat saluran-saluran drainase tepi TPA tersebut.

  1. Monitoring sampah

Kategori sampah yang dapat diterima adalah sampah yang tidak berbahaya misalnya sampah rumah tangga, sampah dari daerah komersial, sampah industri tidak berbahaya, bongkaran bangunan, serta lumpur tidak berbahaya. Sedangkan sampah yang tidak dapat diterima atau dibuang ke TPA adalah sampah berbahaya misalnya sampah yang berasal dari; pabrik kulit, pengrajin batik, bengkel/ pom bensin, industri kimia, percetakan, laboratorium, serta rumah sakit.

Monitoring dilakukan dengan cara mengecek jumlah sampah, penimbangan sampah, pemungutan retribusi, dan tahap pengelolaan sampah yang meliputi; penurunan sampah, perataan dan pemadatan sampah, serta penutupan sampah.

  1. Monitoring badan air

Sistem air bersih yang ada di TPA tidak dimaksudkan untuk penyediaan air minum, melainkan untuk menyediakan air bagi segala kegiatan di TPA. Sistem monitoring badan air yang dilakukan meliputi; pengecekan sistem air bersih, pembersihan filter pasir lambat, pembersihan reservoir, dan pengisian unit disinfeksi.

 

Aktivitas Pengelolaan Sampah di TPA (skripsi dan tesis)

Aktivitas pengelolaan sampah di TPA menurut Anonim (1988: 69) antara lain meliputi kegiatan-kegiatan yaitu :

  1. Penurunan sampah

Penurunan sampah dari kendaraan pengangkut dilakukan pada lokasi yang telah ditentukan. Untuk kelancaran pembongkaran sampah maka perlu adanya pengaturan rute atau lintasan kendaraan di lokasi pembongkaran. Pembongkaran dilakukan secara efisien, untuk menghindari kendaraan slip dan lain sebagainya.

  1. Perataan dan pemadatan sampah

Sampah hasil pembongkaran segera diratakan untuk memperlancar pembongkaran sampah selanjutnya. Perataan dan pemadatan sampah dilakukan lapis demi lapis, dengan ketebalan perlapis kurang lebih 60 cm. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan hasil pemadatan yang optimum. Jumlah lintasan pemadatan 3 – 5 kali lintasan.

  1. Penutupan sampah
  • Penutupan harian

Dilakukan pada setiap akhir operasi atau dilakukan pada sore hari dengan ketebalan 5 – 10 cm. hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyebaran bibit penyakit dari lokasi TPA. Pada awal operasi tanah yang digunakan untuk menutup sampah berasal dari TPA itu sendiri yang telah disimpan sebelumnya dalam ruang penyimpanan, tetapi untuk saat ini tanah penutup berasal dari daerah lain yang ditangani oleh pihak ketiga dan dibeli oleh pihak TPA.

  • Penutupan sampah antara

Selama proses dekomposisi sampah di TPA, akan timbul gas metan yang terkumpul dalam lapisan tanah. Bila hal ini terjadi maka perlu adanya lapisan antara sebagai penguat untuk mencegah terkumpulnya gas metan tersebut. Lapisan ini berhubungan dengan pipa ventilasi yang mengeluarkan gas dari dalam sampah. Penutupan dilakukan dengan ketebalan 2 m dan dipadatkan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran serta untuk memudahkan kendaraan melintas diatasnya.

  • Penutupan sampah akhir

Dilakukan setelah berakhirnya masa operasional TPA atau saat kapasitas maksimal TPA tercapai. Ketebalan  tanah urug adalah 50 – 70 cm. Gas yang terakumulasi dalam timbunan sampah tersebut masih aktif selama 20 tahun sejak penutupan akhir TPA. Oleh karena itu pemadatan disesuaikan dengan peruntukan pemanfaatan dari akhir operasi TPA tersebut dengan pertimbangan apakah akan digunakan untuk penghijauan atau dimanfaatkan untuk kegiatan lain.

 

Sarana dan Prasarana TPA (skripsi dan tesis)

Untuk mendukung operasi dan fungsi TPA, maka diperlukan sarana dan prasarana antara lain:

  1. Sarana TPA sampah meliputi:
  • Ventilasi gas, untuk mengalirkan gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah.
  • Drainase keliling TPA. Drainase dibuat terpisah untuk menyalurkan air hujan dan air lindi (leachate).
  • Komputerisasi, untuk mengetahui dan mencatat volume sampah, asal sampah, jenis sampah, tanggal dan waktu kedatangan.
  • Sumur monitor, yang berfungsi untuk memonitor air tanah disekitar TPA.
  1. Prasarana TPA sampah

Prasarana TPA (fasilitas penunjang) yang tersedia di TPA sampah Purworejo terdiri dari:

  • Ruang perkantoran
  • Ruang workshop untuk memperbaiki dan memelihara kendaraan operasional
  • Tempat cuci dan garasi kendaraan
  • Jalan masuk ke areal TPA

Metode Pembuangan Akhir Sampah (skripsi dan tesis)

  1. Metode Open Dumping

Open dumping adalah sampah yang ada hanya ditempatkan begitu saja hingga kapasitasnya tidak lagi terpenuhi (Sejati, 2009: 26). Sistem pembuangan Open Dumping merupakan sistem pembuangan sampah yang tertua yang dikenal manusia, dimana sampah hanya dibuang/ ditimbun di suatu tempat tanpa dilakukan penutupan dengan tanah sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan, tempat berkembangnya vektor penyakit seperti lalat dan tikus, menimbulkan bau, pencemaran terhadap air permukaan maupun air tanah dan bahaya kebakaran (Anonim. 1988: 64).

Keuntungan:

  • Mudah dilaksanakan karena tidak membutuhkan metode pengerjaan yang khusus.
  • Lahan yang tersedia tidak memerlukan konstruksi khusus.
  • Biaya murah dalam operasional dan pemeliharaan.

Kerugiannya:

  • Luas lahan yang dibutuhkan cukup besar.
  • Kurang memperhatikan segi estetika terhadap lingkungan.
  • Dapat menimbulkan bau dan gangguan adanya penyebaran vektor penyakit.
  • Kurang memperhatikan segi perlindungan lingkungan karena hasil dekomposisi sampah (leachate) dapat mencemari air tanah.
  1. Open Dumping yang ditingkatkan

Sistem ini merupakan pengembangan dan perbaikan sistem Open Dumping yang diketahui sangat mengganggu lingkungan. Dalam sistem ini timbunan sampah di lokasi TPA tersebut dipadatkan dan dilakukan penutupan dengan tanah setelah TPA penuh atau periode tertentu. Proses perataan dan pemadatan sampah harus dilakukan untuk memudahkan pembongkaran sampah dari truk serta pemanfaatan TPA semaksimal mungkin. Untuk menghindari perkembangbiakan lalat sebelum sampah ditutup dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida dan sedapat mungkin lokasinya jauh dari pemukiman (Anonim. 1988: 64).

  1. Metode Controlled Landfill

Metode ini adalah menimbun sampah pada daerah tersebut sampai pada ketinggian yang dikehendaki atau bisa dengan penggalian tanah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian tumpukan sampah itu ditimbun dengan lapisan tanah dan dilakukan pemadatan dengan menggunakan alat berat (Anonim, 1995).

Keuntungan:

  • Mudah dilaksanakan karena menggunakan metode yang sederhana.
  • Lahan yang tersedia tidak memerlukan konstruksi.
  • Murah dalam operasi dan pemeliharaan karena sistem yang digunakan tidak terlalu kompleks.
  • Tidak menimbulkan dampak negatif bagi estetika kota, sebab sampah tersebut tidak tersebar sembarangan.
  • Tidak menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan karena gangguan bau sampah dapat dihindari dan berkurangnya vektor penyebab penyakit.

Kelemahan:

  • Memerlukan daerah yang cukup besar untuk lokasi pembuangan akhir.
  • Memerlukan anggaran biaya yang khusus untuk pembayaran tenaga operasional dan pemeliharaan alat.
  1. Metode Sanitary Landfill

Sanitary landfill adalah sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis. Dengan demikian, sampah tidak berada di ruang terbuka dan tentunya tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat. Syarat sanitary landfill yang baik adalah sebagai berikut:

  • Tersedia tempat yang luas.
  • Tersedia tanah untuk menimbunnya.
  • Tersedia alat-alat besar.

Lokasi sanitary landfill yang lama dan sudah tidak dipakai dapat dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, perkantoran, dan sebagainya (Chandra, 2007: 116).

Sistem Operasional Sampah (skripsi dan tesis)

Ada dua macam sistem operasional sampah, yakni sistem mikro dan sistem makro. Sistem Mikro adalah pengumpulan sampah dari sumber sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Sistem Makro adalah pengangkutan dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pengelolaan sampah dilakukan di TPA (Notoatmodjo, 2003: 169).

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Kegiatan pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transpor, pengolahan dan pembuangan akhir (Sejati, 2009: 24).

Pengelolaan sampah dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan tentang pengendalian sampah sejak dihasilkan, penyimpanan, pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan akhir dengan suatu cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik pelestarian lingkungan, keindahan, serta mengindahkan tanggung jawab dan sikap masyarakat (Sudarso, 1995: 20).

Klasifikasi Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:

  1. Sampah Berdasarkan Bentuk

Menurut Hadiwiyoto (dalam Sejati, 2009: 14), sampah berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi:

  • Sampah padat (solid) misal: daun, kertas, karton, kaleng, plastik dan logam.
  • Sampah cair, misalnya bekas air pencuci, bekas cairan yang tumpah, tetes tebu, dan limbah industri yang cair.
  • Sampah berbentuk gas, misalnya karbondioksida, amonia, H2S, dan lainnya.
  1. Sampah Berdasarkan Zat Kimia yang Terkandung

Menurut Notoatmodjo (2003: 167), sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat dibedakan menjadi:

  • Sampah anorganik, yaitu sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya: logam/ besi, pecahan gelas, plastik, dan sebagainya.
  • Sampah organik, yaitu sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya: sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
  1. Sampah Berdasarkan Karakteristik

Menurut Chandra (2007: 112), sampah dapat dibedakan menjadi beberapa pengertian, antara lain:

  • Garbage, adalah terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya.
  • Rubbish, terbagi menjadi 2 yaitu:
    1. Yang mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, seperti kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
    2. Yang tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat anorganik, seperti kaca, kaleng, dan sebagainya.
  • Ashes, adalah semua sisa pembakaran dari industri.
  • Street sweeping, adalah sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
  • Dead animal, adalah segala jenis bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami.
  • House hold refuse, adalah jenis sampah campuran (misalnya, garbage, ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.
  • Abandoned vehicle, adalah sampah yang berasal dari bangkai kendaraan.
  • Demolision waste, adalah sampah yang berasal dari sisa pembanguman gedung, seperti tanah, batu dan kayu.
  • Sampah industri, adalah sampah yang berasal dari pertanian, perkebunan, dan industri.
  • Santage solid, sampah yang terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik, pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.
  • Sampah khusus, adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.

 

Sumber Sampah (skripsi dan tesis)

Menurut Chandra (2007: 113-114), sumber sampah dapat berasal dari:

  1. Pemukiman penduduk

Sampah disuatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu, atau sampah sisa tumbuhan.

  1. Tempat umum dan tempat perdagangan

Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.

  1. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah

Sarana layanan masyarakat yang dimaksud antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya: rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan tempat khusus dan sampah kering.

  1. Industri berat dan ringan

Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan air kotor dan air minum, dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.

  1. Pertanian

Sampah yang dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

Pengertian Sampah (skripsi dan tesis)

 

  1. Menurut Notoatmodjo (2003: 166)

Pengertian sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang.

  1. Menurut Azwar (1996: 53)

Sampah (refuse) dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup.

Berdasarkan definisi sampah diatas maka, dapat disimpulkan bahwa sampah adalah bahan-bahan hasil dari kegiatan masyarakat umum yang tidak digunakan lagi, yang pada umumnya berupa benda padat, baik yang mudah membusuk maupun yang tidak mudah membusuk, kecuali kotoran yang keluar dari tubuh manusia, yang ditinjau dari segi sosial ekonomi sudah tidak berharga, dari segi keindahan dapat mengganggu dan mengurangi nilai estetika dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian lingkungan

Regresi Non Linier (skripsi dan tesis)

Regresi non linier adalah suatu metode untuk mendapatkan model non linier yang menyatakan veriabel dependen dan independen. Apabila hubungan fungsi antara variabel bebas X dan variabel tidak bebas Y bersifat non linier, tansformasi bentuk nonlinier ke bentuk linier. Untuk mendapatkan linieritas dari hubungan non linier, dapat dilakukan transformasi pada variabel dependen atau variabel independen atau keduanya. Dalam kasus regresi non linier, yang banyak digunakan yaitu model regresi eksponensial dan regresi geometri. Regresi non linier dimaksudkan sebagai satu bentuk regresi yang melihat hubungan antara variabel predictor (X) dengan variabel respon (Y),
yang tidak bersifat linier. Kemudahan model regresi non linier tersebut karena dapat ditransformasikan ke model regresi linier

Pengertian Statistik inferensial (skripsi dan tesis)

Statistik inferensial adalah statistik yang berkenaan dengan cara penarikan kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari sampel untuk menggambarkan karakterisktik atau ciri dari suatu populasi. Dengan demikian dalam statistik inferensial dilakukan suatu generalisasi (perampatan atau memperumum) dan hal yang bersifat khusus (kecil) ke hal yang lebih luas (umum). Oleh karena itu, statistik inferensial disebut juga statistik induktif atau statistik penarikan kesimpulan. Pada statistik inferensial biasanya dilakukan pengujian hipotesis dan pendugaan mengenai karakteristik (ciri) dari suatu populasi, seperti mean dan Uji t (Sugiyono, 2006).
Statistika inferensia ada dua macam, yaitu statistika parametrik dan statistika non parametrik. Suatu hipotesis statistika merupakan pernyataan tentang fungsi peluang dari suatu atau lebih peubah acak. Hipotesis dikatakan sederhana apabila pernyataan menunjukkan ciri populasi secara lengkap. Bila tidak, hipotesis dikatakan majemuk. Hipotesis yang dipelajari yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis yang merupakan konklusi apabila hipotesis nol ditolak adalah hipotesis tandingan (H1).

Pengertian Statistika Deskriptif (skripsi dan tesis)

Statistika deskriptif adalah statistik yang berkenaan dengan metode atau cara mendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data. Statistik deskriptif mengacu pada bagaimana menata atau mengorganisasi data, menyajikan, dan menganalisis data. Menata, menyajikan, dan menganalisis data dapat dilakukan misalnya dengan menentukan nilai rata-rata hitung dan persen / proposisi. Cara lain untuk menggambarkan data adalah dengan membuat tabel, distribusi frekuensi, dan diagram atau grafik (Sugiyono, 2006).

Dampak Percepatan (skripsi dan tesis)

Dampak paling nyata dengan adanya percepatan adalah kenaikan
biaya langsung (direct costs) (Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994). Biaya
langsung ini berhubungan dengan biaya bahan bangunan, biaya operasi
peralatan, biaya pekerja dan biaya subkontraktor (Ashworth 2002; Gould &
Joyce 1994). Sementara biaya tidak langsung (indirect cost) cenderung
menurun akibat berkurangnya waktu proyek (Clough et al. 2000). Biaya tidak
langsung ini berhubungan dengan biaya pengeluaran kantor (home office
overhead) dan biaya pengeluaran umum proyek (project overhead).
Biaya pengeluaran kantor kantor kontraktor digunakan untuk
menfasilitasi proyek konstruksi, yang termasuk didalamnya seperti biaya
kantor pusat, kantor cabang, workshop, gudang umum untuk bahan bangunan
dan peralatan konstruksi, biaya legal dan admistrasi keuangan, pemasaran,
biaya kualifikasi perusahaan, biaya sehubungan dengan pelelangan.
Sementara, biaya tidak langsung di lokasi proyek dapat berupa biaya
keamanan (e.g. pemagaran proyek, satuan pengamanan), tanda/
keterangan/ petunjuk, pembangunan barak, kantor direksi, gaji dan benefit
staf proyek yang mewakili kontraktor termasuk manajer lapangan atau biaya
supervisi (Ashworth 2002; Gould & Joyce 1994).
Biaya tidak langsung kategori kedua ini yang akan turun bila waktu
proyek diperpendek. Tetapi terbatas pada biaya supervisi atau biaya
variabel (variable cost) seperti gaji pengawas maupun logisti (e.g..
makanan). Sedangkan biaya tetap (fixed cost) seperti biaya pembuatan
barak pekerja dan bagar pengamanan misalnya bersifat tetap (Ashworth 2002; Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994).
Selanjutnya, dengan ada percepatan waktu proyek, manajemen atau
pengelolaan lapangan menjadi lebih sulit dan kompleks. Hal tersebut
diakibatkan jumlah peralatan dan tenaga kerja akan bertambah tetapi
ruang kerja tetap sama. Waktu kerja perlu diperpanjang (i.e. kerja lembur),
hal ini dapat mengakibatkan tekanan pada manajemer lapangan dan
tenaga kerja menjadi bertambah yang berujung pada sensitaf kerja utamanya
berkaitan dengan suasana keselamatan kerja akan berkurang. Situasi kerja
penuh tekanan dapat dengan mudah terjadi kecelakaan yang dapat
berakibat fatal atau kematian (Suraji et al. 2001).
Akibat bertambahnya pekerja dan peralatan, aliran kerja dilapangan
dapat terhambat yang berakhir dengan produktifitas yang menurun Hanna et al. (2005); Moselhi et al. (2004); dan Thomas (2000). Tanpa perhitungan yang matang sehubungan percepatan waktu pelaksanaan proyek konstruksi akan mengakibatkan biaya langsung akan membengkak diluar kendali (Gould &
Joyce 1994; Hanna et al. 2005). Gould & Joyce (1994) merinci dampak
percepatan jadwal pelaksanaan konstruksi sebagai berikut:
 pengawasan lebih sulit
 efesiensi operasi berkurang
 meningkatkan biaya operasi
 pembayaran bahan lebih awal
 biaya transportasi lebih meningkat
 penanganan bahan mebutuhkan
biaya tambah (handling cost)

Alasan Percepatan Proyek (skripsi dan tesis)

Menurut (Gould & Joyce 1994), jadwal proyek dipercepat, karena
alasan kontrak. Alasan ini dapat disebabkan oleh suatu aktifitas atau item
pekerjaan perlu diselesaikan pada waktu tertentu atau dipercepat.
Misalnya untuk menghindari cuaca yang didasarkan atas berita ramalan
cuaca yang tidak biasa terjadi, salah satu item pekerjaan tidak mungkin
dilaksanakan (e.g. pekerjaan pemancangan fondasi tiang beton dermaga). Dengan alasan waktu secara keseluruhan tidak dapat ditunda, maka item pekerjaan pemancangan yang merupakan item kritis perlu dipercepat dengan konsekuensi biaya ditanggu oleh pemilik proyek.
Alasan kedua, berdasarkan analisis ekonomi, beberapa item pekerjaan bila dipercepat dan jatuh pada periode tertentu dalam satu tahun akan memberikan keuntungan secara finansial. Contohnya adalah pada
periode tertentu alat berat susah didapat/disewa, misalnya pada awal
pelakasanaan proyek alat berat banyak digunakan baik untuk pekerjaaan
bangunan gedung (untuk pembersihan, penggalian lubang fondasi) yang jarang menggunakan alat berat, maupun pekerjaan infrastruktur yang membutuhkan alat berat. Untuk menghindari item pekerjaan tertentu
yang mana pekerjaan tersebut memerlukan alat berat yang sulit
didapat, kalaupun ada sewanya mahal. Tetapi sebagai akibatnya, item
pekerjaan lain perlu dipercepat agar supaya jadwal proyek keseluruhan tidak
terlambat. Contoh lainnya adalah waktu hari besar seperti lebaran atau
akhir tahun dan natal, produktifitas pekerja akan menurun atau jumlahnya berkurang. Untuk menghindari periode tersebut, kadang percepatan pekerjaan akan lebih menguntungkan secara ekonomis.
Alasan ketiga, kadang estimasi biaya yang didasarkan pada periode
tertentu dalam tahun sebelumnya untuk item pekerjaan tertentu lebih rendah
dibandingkan dengan biayanya pada periode tertentu pada tahun berjalan
pelaksanaan proyek konstruksi. Dengan alasan penghematan demi menghindari periode tertentu tahun berjalan yang biayanya lebih mahal, manajer proyek kadang perlu memutuskan untuk mempercepat proyek konstruksi. Contoh paling mudah adalah bila terjadi perubahan kebijakan pemerintah dibidang energi, harga biaya transportasi akan meningkat yang berujung peningkatan biaya bahan bangunan. Untuk menghindari kerugian
item pekerjaan yang berpengaruh langsung, percepatan waktu proyek
dapat mengurangi kerugian yang lebih besar.
Sementara menurut (Clough et al. 2000), alasan mempercepat waktu
proyek dikarenakan oleh:

 keinginan penggunaan jasa untuk
mempercepat durasi total pelaksanaan proyek dengan usulan
tambahan biaya;
 untuk menghindari cuaca yang sangat jelek;
 untuk membebaskan pekerja untuk proyek yang lain;
 untuk membebaskan peralatan untuk proyek lainnya;
 untuk mendapatkan bonus dari pengguna jasa atas penyelesaian
pekerjaan lebih awal dari rencana/kontrak; atau
 untuk pengaturan keuangan yang jatuh tempo dalam periode
tertentu pada tahun fiskal berjalan.

Istilah dan Defenisi Percepatan (skripsi dan tesis)

Beberapa istilah percepatan proyek dalam bahasa Inggeris adalah project time acceleration yang berarti percepatan waktu proyek dan project compression yang berarti pemadatan jadwal proyek (Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994). Kedua istilah tersebut dapat diartikan langsung dan
mudah dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Sedangkan istilah
lainnya dalam bahasa Inggeris adalah least cost expediting dan time cost
trade off (Clough et al. 2000). Istilah yang pertama menyangkut kata dasar
expidite yang artinya accomplish (business) quickly (Pearsall 1999).
Lengkapnya least cost expediting berarti proyek diselesaikan secepatnya dengan ongkos yang paling sedikit. Namun juga istilah expediting di dunia industri konstruksi di Amerika berarti juga dukungan waktu yang cukup untuk
operasi pelaksanaan konstruksi (Clough et al. 2000).
Selanjutnya istilah time cost trade off dapat diartikan secara bebas bahwa perubahan waktu dalam hal ini percepatan waktu proyek akan
memberi dampak pada biaya pelakanaan proyek baik kenaikan
maupun penurunan biaya. Tapi umumnya proyek yang sudah kritis dari
segi jadwal dan mempunyai banyak aktivitas kerja akan memberikan
dampak kenaikan biaya yang signifikan bila dipercepat. Hal tersebut sebagai
imbalan (trade off) perubahan waktu (time). Juga ada istilah lain yaitu
crashing yang artinyanya juga memperpendek waktu proyek secara
total akibat adanya satu atau beberapa aktifitas yang diperpendek
(Gould & Joyce 1994). Jadi percepatan proyek dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan jadwal proyek dengan cara memperpendek satu atau lebih aktivitas baik yang berurutan maupun tidak berurutan yang akibatnya
memperpendek total waktu pelaksanaan proyek sebagaimana
yang telah ditetapkan sebelumnya melalui perjanjian antara pihak
pengguna jasa dengan penyedia jasa konstruksi (i.e. kontraktor)

Uji Rang-Tanda (skripsi dan tesis)

Uji Rang-Tanda dicetuskan oleh Frank Wilcoxon pada tahun 1945 dan saat ini disebut sebagai uji rang-tanda Wilcoxon. Uji ini memanfaatkan baik tanda maupun besarnya selisih. Uji rang-tanda Wilcoxon digunakan untuk kasus dua sampel yang dependen bila skala ukur memungkinkan kita menentukan besar selisih yang terjadi, jadi bukan sekedar hasil pengamatan yang berbeda saja. Uji rang-tanda Wilcoxon cocok digunakan bila kita dapat mengetahui besarnya selisih antara pasangan-pasangan harga pengamatan X1 dan Y1 berikut arah selisih yang bersangkutan. Apabila kita dapat menentukan besarnya setiap selisih, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing selisih itu. Melalui penyusunan peringkat selisih – selisih inilah uji Wilcoxon memanfaatkan informasi tambahan yang tersedia.

Uji Tanda (skripsi dan tesis)

    Uji tanda digunakan untuk menguji hipotesis mengenai median populasi. Dalam banyak kasus prosedur nonparametrik, rataan digantikan oleh median sebagai parameter lokasi yang relevan untuk diuji.

Uji tanda juga mempunyai asumsi dimana asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya mempunyai dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif dan negatif. Ini mengapa ia disebut uji tanda.

Uji tanda banyak digunakan karena uji ini paling mudah untuk dilakukan pengujiannya dan tidak memakan waktu yang lama. Pengerjaan pengujian ini terbilang cukup mudah. Apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai lebih besar dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (+). Sedangkan, apabila setiap nilai pengamatan memiliki nilai kurang dari nilai rataannya maka diganti dengan tanda (-). Dan, apabila nilai pengamatannya sama dengan nilai rataannya maka nilai pengamatan tersebut harus dibuang.

Pengujian uji tanda yang pertama dilakukan adalah menentukan hipotesis nolnya beserta dengan hipotesis tandingannya. Tentukan pula taraf nyatanya beserta nilai proporsi peubah binomial X-nya. Kemudian melakukan penghitungan  Z hitung (apabila jumlah sampel lebih dari 30) dengan nilai n merupakan jumlah data pengamatan setelah dibandingkan dengan nilai rataannya dan nilai x adalah jumlah data pengamatan dengan tanda (+). Dengan begitu nilai Z akan didapat dan nilai P (proporsi)nya dapat ditentukan. Keputusan H0 akan ditolak apabila nilai P yang didapat lebih kecil atau sama dengan nilai taraf nyatanya.

Uji Tanda (Sign Test) (skripsi dan tesis)

Di dalam menggunakan t test, populasi dari mana sampel diambil harus
didistribusikan normal. Untuk pengujian perbedaan mean dari dua populasi
didasarkan pada anggapan bahwa variance populasinya harus identik/sama. Dalam banyak hal bila salah satu atau dua anggapan tersebut tidak dapat diketahui, maka t test tidak dapat dipergunakan. Dalam hal demikian dapatlah dipergunakan uji nonparametrik yang umum dikenal sebagai uji tanda (sign test). Uji tanda didasarkan atas tanda-tanda, positif atau negatif, dari perbedaan antara pasangan pengamatan. Budan didasarkan pada besernya perbedaan. Uji tanda dapat dipergunakan untuk mengevaluasi efek dari suatu treatment tertentu. Efek dari variabel eksperimen atau treatment tidak dapat diukur melainkan hanya dapat diberi tanda positif atau negatif saja. Sebagai contoh misalnya: apakah penerangan akan kebersihan dan kesehatan ada manfaatnya untuk menyadarkan penduduk dalam hal kebersihan dan kesehatan. Untuk itu perlu diamati sebelum dan sesudah beberapa
minggu diadakan penerangan. Efek penerangan kesadaran penduduk tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat diberi tanda positif atau negatif saja.
Apabila (X-Y) menunjukkan beda dari kedua variabel random dan m
menunjukan median dari beda ini, maka uji tanda dapat dipergunakan untuk menguji hipotesa nilil m = 0 dengan hepotesa alternatif m ≠ 0. Bila benar
haruslah probabilitas untuk memperoleh suatu beda yang bertanda positif sama dengan probabilitas untuk memperoleh beda tanda yang bertanda negatif yaitu masing-masing sebesar 0,5. Uji tanda bertitik-tolak pada kenyataan ini, karena apabila benar, dapatlah diharapkan bahwa beda yang bertanda positif kira-kira sama dengan banyaknya beda yang bertanda negatif dari n buah beda yang diamati. Dengan demikian dapatlah hipotesa nihil dinyatakan dengan P = 0,5, di mana P menunjukan probabilitas untuk memperoleh beda yang bertanda positif. Hipotesa alternatif dinyatakan dengan P ≠ 0,5 bila dipergunakan pengujian dua arah, atau P 0,5 bila dipergunakan pengujian satu arah.

Uji Median (Median Tes) (skripsi dan tes)

Uji median adalah metode nonparametrik yang paling sederhana. Uji median
ini adalah merupakan prosedur pengujian apakah dua atau lebih populasi dari mana sampel independen diambil mempunyai median yang sama. Untuk
menyederhanakannya hanya akan dibatasi pada dua sampel saja (sebenarnya prosedur ini dapat dengan mudah diperluas untuk tiga sampel atau lebih). Uji nonparametrik ini dipergunakan untuk menentukan signifikansi perbedaan antara median dari dua populasi yang independen. Hipotesa nihil yang akan diuji menyatakan bahwa populasi dari mana dua sampel itu diambil mempunyai median yang sama. Hipotesa alternatifnya menyatakan bahwa dua populasi itu mempunyai median yang berbeda.
Uji median tidak memerlukan anggapan-anggapan tertentu tentang dua populasi dari mana sampel diambil. Untuk keperluan uji median ini perlu ditentukan/dihitung lebih dahulu median dari kombinasi distribusi sampelnya (overall median). Kemudian untuk setiap grup dihitung frekuensi nilai yang terletak pada/diatas overall median dan yang terletak dibawah overall median

Uji Chi Square (skripsi dan tesis)

Uji χ2 hanya digunakan untuk data diskrit. Uji ini adalah uji independensi,
dimana suatu variable tidak dipengaruhi atau tidak ada hubungan dengan variable lain.χ2 bukan merupakan ukuran derajat hubungan. Uji ini hanya digunakan untuk mengestimate barangkali bahwa beberapa factor, disamping sampling error, dipandang mempengaruhi adanya hubungan. Selama hipotesa nihil menyatakan bahwa tidak ada hubungan(variable-variabelnya independen), uji ini hanya mengevaluasi kemungkinan bahwa hubungan dari nilai pengamatan disebabkan oleh sampling error. Hipotesa nihil ditolak bila nilai χ2 yang dihitung dari sampel lebih besar dari nilai χ2 dalam tebel berdasarkan level of significance tertentu.
Ho diterima apabila: χ2 χ2 ; derajat bebas tertentu
Ho ditolak apabila: χ2 χ2 ; derajat bebas tertentu
Diketemukan nilai χ2 yang signifikan belum tentu menunjukkan adanya hubungan sebab akibat (seperti halnya pada korelasi). Diketemukan nilai χ2
yang signifikan menunjukkan bahwa variabel-variabelnya dependen

Keunggulan Statistik Nonparametrik (skripsi dan tesis)

a. Asumsi dalam uji-uji statistik nonparametrik relatif lebih longgar. Jika pengujian data menunjukkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang mendasari uji statistik parametrik. (misalnya mengenai sifat distribusi data) tidak terpenuhi, maka statistik nonparametrik lebih sesuai diterapkan dibandingkan statistic parametrik.
b. Perhitungan-perhitungannya dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah, sehingga hasil penelitian segera dapat disampaikan.
c. Untuk memahami konsep-konsep dan metode-metodenya tidak memerlukan dasar matematika serta statistika yang mendalam.
d. Uji-uji pada statistik nonparametrik dapat diterapkan jika kita menghadapi
keterbatasan data yang tersedia, misalnya jika data telah diukur menggunakan skala pengukuran yang lemah (nominal atau ordinal).
e. Efisiensi statistik nonparametrik lebih tinggi dibandingkan dengan metode parametrik untuk jumlah sampel yang sedikit

Sumber-sumber Dalam Penelitian hukum (skripsi dan tesis)

Setiap penelitian ilmiah mempunyai sumber-sumber sebagai bahan rujukan guna mendukung argumentasi peneliti. Berbeda dengan sumber-sumber rujukan yang ada pada penelitian di bidang ilmu lain, dalam penelitian hukum yang bersifat normatif tidak mengenal adanya data (Ibid., 2011 : 141). Sumber rujukan penelitian hukum normatif sendiri berasal dari bahan hukum yang penulis sebagai berikut:

  1.  Bahan hukum primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan undang-undang dan putusan-putusan hakim. Untuk bahan hukum primer yang memiliki otoritas tertinggi adalah Undang-Undang Dasar (UUD) karena semua peraturan di bawahnya baik isi maupun jiwanya tidak boleh bertentangan dengan UUD. Bahan hukum primer yang selanjutnya adalah undang-undang. Undang-undang merupakan kesepakatan antara pemerintah dan rakyat sehingga mempunyai kekuatan hukum mengikat untuk penyelenggaraan kehidupan bernegara. Sejalan dengan undang-undang, untuk tingkat daerah adalah Peraturan Daerah (Perda) yang mempunyai otoritas tertinggi untuk tingkat daerahnya karena dibuat oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan daerah. Bahan hukum primer yang dibawah otoritas undang-undang adalah Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden atau peraturan suatu Badan atau Lembaga Negara sebagai mana disebutkan dalam Pasal 7 Ayat (4) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Sedangkan untuk tingkat daerah, Keputusan Kepala Daerah mempunyai otoritas yang lebih rendah dibandingkan Perda. (Ibid., 2011 : 141-142)

Bahan hukum primer disamping perundang-undangan yang memiliki otoritas adalah putusan pengadilan. Putusan pengadilan merupakan konkretisasi dari perundang-undangan. Putusan pengadilan inilah sebenarnya merupakan law ini action. (Ibid.)

  1. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. (Loc.Cit.)

Menurut penulis, bahan hukum sekunder pula memiliki tingkatan yang didasarkan pada jenisnya. Hal tersebut dapat diketahui bahwa bahan hukum sekunder yang utama adalah buku teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai kualifikasi tinggi (Ibid. 2013 : 142). Disamping buku teks, bahan hukum sekunder dapat berupa tulisan-tulisan baik tentang hukum dalam buku atau-pun jurnal-jurnal. Tulisan-tulisan hukum tersebut berisi tentang perkembangan atau isu-isu aktual mengenai hukum bidang tertentu (Ibid. 2013 : 143).

Pendekatan Dalam Hukum (skripsi dan tesis)

Penelitian hukum mengenal beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengkaji setiap permasalahan. jenis-jenis pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pendekatan Undang-undang (statute approach)

Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani(Ibid., 2011 : 93). Pendekatan perundang-undangan dalam penelitian hukum normatif memiliki kegunaan baik secara praktis maupun akademis.

Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang-undang dengan Undang-Undang Dasar atau regulasi dan undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen untuk memecahkan isu yang dihadapi. (Ibid., 2011 : 93-94)

Bagi penelitian untuk kegiatan akademis, peneliti perlu mencari ratio legis dan dasar ontologis lahirnya undang-undang tersebut. Dengan mempelajari ratio legis dan dasar ontologis suatu undang-undang, peneliti sebenarnya mampu mengungkap kandungan filosofis yang ada di belakang undang-undang itu. Memahami kandungan filosofis yang ada di belakang undang-undang itu, peneliti tersebut akan dapat menyimpulkan mengenai ada tidaknya benturan filosofis antara undang-undang dengan isu yang dihadapi. (Ibid.)

  1. Pendekatan Kasus (Case Approach)

Pendekatan kasus dilakukan dengan cara menelaah kasus-kasus terkait dengan isu yang sedang dihadapi, dan telah menjadi putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Kasus ini dapat berupa kasus yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Yang menjadi kajian pokok di dalam pendekatan kasus adalah rasio decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai kepada suatu putusan. (Ibid., 2011 : 94)

Secara praktis ataupun akademis, pendekatan kasus mempunyai kegunaan dalam mengkaji rasio decidendi atau reasoning tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam pemecahan isu hukum. Perlu pula dikemukakan bahwa pendekatan kasus tidak sama dengan studi kasus (case study). Di dalam pendekatan kasus (case approach), beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum. Sedangkan Studi kasus merupakan suatu studi dari berbagai aspek hukum. (Ibid.)

  1. Pendekatan Historis (Historical Approach)

Pendekatan historis dilakukan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari dan perkembangan pengaturan mengenai isu hukum yang dihadapi. Telaah demikian diperlukan oleh peneliti untuk mengungkap filosofi dan pola pikir yang melahirkan sesuatu yang sedang dipelajari. Pendekatan historis ini diperlukan kalau memang peneliti menganggap bahwa pengungkapan filosofis dan pola pikir ketika sesuatu yang dipelajari itu dilahirkan, dan memang mempunyai relevansi dengan masa kini. (Ibid., 2011 : 94-95)

  1. Pendekatan Komparatif (Comparative Approach)

Pendekatan komparatif dilakukan dengan membandingkan undang-undang suatu negara, dengan undang-undang dari satu atau lebih negara lain mengenai hal yang sama. Selain itu, dapat juga diperbandingkan di samping undang-undang yaitu putusan pengadilan di beberapa negara untuk kasus yang sama. (Ibid., 2011 : 95)

Kegunaan dalam pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang-undang tersebut. Hal ini untuk menjawab mengenai isu hukum antara ketentuan undang-undang dengan filosofi yang melahirkan undang-undang itu. Dengan demikian perbandingan tersebut, peneliti akan memperoleh gambaran mengenai konsistensi antara filosofi dan undang-undang di beberapa negara. Hal ini sama juga dapat dilakukan dengan memperbandingkan putusan pengadilan antara suatu negara dengan negara lain untuk kasus serupa. (Ibid.)

  1. Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach)

Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. dengan mempelajari pandang-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi. (Ibid.)

Penelitian observasi (skripsi dan tesis)

Penelitian observasi di dilakukan untuk memotret keadaan
suatu variabel atau keadaan satu atau lebih variabel tergayut akibat adanya variabel bebas. Hubungan antar variabel bebas dan variabel tergayut dapat berupa hubungan sebab akibat jika hubungan antarkeduanya bersifat asimeteris. Hubungan antara variabel bebas dan tergayut dapat berupa hubungan kecenderungan apabila hubungan bersifat simeteris. Hal ini terjadi jika baik variabel bebas dan variabel tergayut yang diteliti sebenarnya dipengaruhi oleh variabel penyebab yang lain.

Besar sampel (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan besar sampel adalah:
a) Derajat kepekaan uji klinik: jika diketahui bahwa perbedaan kemaknaan klinis antara 2 obat yang diuji tidak begitu besar, berarti diperlukan jumlah sampel yang besar
b) Keragaman hasil: makin kecil keragaman hasil uji antar individu dalam
kelompok yang sama, semakin sedikit jumlah subyek yang diperlukan.
c) Derajat kebermaknaan statistik: semakin besar kebermaknaan statistik yang diharapkan dari uji klinik, semakin besar pula jumlah subyek yang diperlukan.

Pengacakan atau randomisasi intervensi (skripsi dan tesis)

Randomisasi atau pengacakan intervensi mutlak diperlukan dalam uji klinik
terkendali (RCT), dengan tujuan utama menghindari bias. Dengan pengacakan maka:
a) setiap subjek akan memperoleh peluang yang sama dalam mendapatkan obat uji atau pembandingnya (sebagai kelompok intervensi atau kontrol)
b) subjek yang memenuhi kriteria inklusi akan terbagi sama rata dalam setiap
kelompok intervensi, dimana ciri-ciri subjek dalam satu kelompok praktis
seimbang.

Rancangan uji klinik (skripsi dan tesis)

Untuk memperoleh hasil yang optimal perlu disusun rancangan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis, dengan tetap mengutamakan segi keselamatan dan kepentingan pasien. Dua rancangan yang sering digunakan, yaituRandomized Clinical Trial (RCT) parallel design dan RCT cross-over design.
(a) Rancangan RCT parallel design
Prinsip dasar rancangan ini adalah secara acak subjek dibagi ke dalam 2 atau
lebih kelompok pengobatan. Jumlah subjek pada setiap kelompok harus
seimbang atau sama. Masing-masing kelompok akan memperoleh
pengobatan/perlakuan yang berbeda, sesuai dengan jenis perlakuannya. (b) Rancangan RCT cross-over design
Pada rancangan ini setiap subjek akan memperoleh semua bentuk
pengobatan/perlakuan secara selang-seling, yang ditentukan secara acak. Untuk menghindari kemungkinan pengaruh obat/perlakuan yang satu dengan yang lainnya, setiap subjek akan memperoleh periode bebas pengobatan (washed-out period atau WOP).

Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)

Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu (kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya sama dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni dalam bidang pendidikan, subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya, kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang disertai video memperoleh hasilatau prestasi belajar yang lebih unggul, jika dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic tertentu

Penilaian respons (skripsi dan tesis)

Penilaian respons pasien terhadap proses terapetik yang diberikan harus bersifat objektif, akurat, dan konsisten. Empat kategori utama yang sering digunakan adalah:

a) Penilaian awal sebelum perlakuan: sesaat sebelum uji dilakukan, keadaan klinis
hendaknya dicatat secara seksama berdasarkan parameter yang telah disepakati.
Magister Manajemen Rumahsakit Fakultas Kedokteran UGM 5
Sebagai contoh tekanan darah, hendaknya diukur sesaat sebelum uji klinik
dimulai.
b) Kriteria utama respons pasien: indikasi utama pengobatan merupakan kriteria
utama yang harus dinilai. Jika yang diuji obat analgetik-antipiretika, maka kriteria
utama penilaian adalah penurunan panas, ada tidaknya kejang atau gejala lain
sebagai manifestasi demam dan yang lainnya.
c) Kriteria tambahan: dari segi keamanan pemakaiannya. Misalnya efek samping
baik yang berbahaya maupun yang tidak.
d) Pemantauan pasien: faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan pasien untuk
berpartisipasi dalam penelitian hendaknya dapat dikontrol sebaik mungkin.

Pembutaan (blinding) (skripsi dan tesis)

Yang dimaksud dengan pembutaan adalah merahasiakan bentuk terapi yang
diberikan. Dengan pembutaan, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yan g diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama pembutaan ini adalah untuk menghindari bias pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan.
Pembutaan dapat dilakukan secara: single blind (jika identitas obat tidak diberitahukan kepada pasien), double-blind (jika baik pasien maupun dokter pemeriksa tidak diberitahu obat yang diuji maupun pembandingnya), atau triple blind (jika pasien, dokter pemeriksa ataupun individu yang melakukan analisis tidak mengetahui identitas obat yang diuji dan pembandingnya)

Komponen-komponen uji klinik (skripsi dan tesis)

1. Seleksi atau pemilihan subjek
Dalam uji klinik, harus ditentukan secara jelas kriteria-kriteria pemilihan pasien, yaitu:
a) Kriteria inklusi, yakni syarat-syarat yang secara mutlak harus dipenuhi subjek untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian. Kriterianya antara lain kriteria diagnosis baik klinik maupun laboratoris, tingkat keparahan penyakit, asal pasien (rumah sakit atau populasi), umur, dan jenis kelamin.
b) Kriteria eksklusi (pengecualian), yaitu kriteria yang membatasi partisipasi subjek dalam penelitian. Sebagai contoh hampir sebagian besar uji klinik obat tidak memasukkan wanita hamil sebagai subjek mengingat pertimbangan risiko yang mungkin lebih besar dibanding manfaat yang didapat. Subjek yang mempunyai risiko tinggi terhadap pengobatan/perlakuan uji juga secara ketat tidak dilibatkan dalam penelitian

PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan “jika kita melakukan  sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen.  Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiono : 2010).

 

Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan.

Rancangan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

 

(1). Rancangan Pra-Eksperimental

 

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

 

a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

 

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

 

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

 

(2). Rancangan Eksperimen Murni

 

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

 

a). Adanya kelompok kontrol.

 

b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

 

c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

 

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

 

a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

 

posttest only control group design)

 

b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the randomized pretest-posttest control group design)

 

c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

 

d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan

kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

 

e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

 

(3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

 

Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

 

a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).

 

b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok

kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

 

c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter

balanced, using matched subject) .

 

d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

 

e). Rancangan faktorial (factorial design).

  Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,

  • Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  • Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.

Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

  1. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
  2. menentukan cara mengontrol;
  3. memilih rancangan penelitian yang tepat;
  4. menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
  5. membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
  6. membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
  • mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  •  Melaksanakan eksperimen.
  •  Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  •  Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
  •  Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  • Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

 Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis0

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu,

(1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).

 (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.

(3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.

 (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.

(5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi

DASAR PENGGUNAAN WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

Wawancara atau interviu memiliki dasar penggunaan yang sama engan angket, yaitu mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidakny-tidaknya ada pengetahuan, keyakinan, maupun sikap pribadi responden, penggunaan wawancara sebagai metode pengumpulan data dalam penelitian di dasarkan pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyataka oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudhkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015,

PENGERTIAN ISTILAH DALAM METODE WAWANCARA (skripsi dan tesis)

 

  1. Pewawancara (interviewer) adalah petugas pengumu informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas dan merangsang responden untuk mejawab semua pertanyaan dan mencatat semua informasi yang dibutuhkan dengan benar.
  2. Orang yang di interviu (interviewer) atau responden adalah orang yang memberi infomrasi yang diharaka dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan dan keselarasan antara responden dan pewawancara.
  3. Pedoman wawancara berisi tentang uraian tentang data yang akan diungkap yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan agar proses wawancara berjalan dengan baik

 

Widoyoko, 2015,

PRINSIP PENULISAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Penulisan angket yang baik perlu memperhatikan beberapa prinsip. Sugiyono (2010, 142-144) menyatakan ada 10 prinsip yang perlu diperhatikan dalam penulisan angket:

  1. Isi dan tujuan pernyataan
  2. Bahasa yang digunakan
  3. Tipe dan bentuk pertanyaan
  4. Pertanyaan tidak mendua
  5. Tidak menanyakan yang sudah lupa
  6. Pertanyaan tidak menggiring
  7. Panjang pertanyaan
  8. Urutan pertanyaan
  9. Prinsip pengukuran
  10. Penampilan fisik angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI JAWABAN YANG DIBERIKAN (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari hawaban yang diberikan, angket dibedakan mejadi angket langsung dan angket tidak langsung

Angket langsung yaitu angket dimana responden menjawab/memberi respon tentang keadaan dirinya sendiri. Contoh : angket yang mengukur sikap guru terhadap kebijakan sekolah, respondennya adalah guru maka guru menjawab tentang keadaan dirinya sendiri

Angket tidak langsung yaitu jika responden menjawab/memberi respon tentang keadaan orang lain. Contohnya: angket untuk mengukur kinerja guru, respondennya adalah siswa maka siswa yang menilai keadaan guru atau kinerja gurunya pada saat mengajar sesuai dengan alternatif yang disediakan oleh penyusun angket

 

Widoyoko, 2015,

JENIS ANGKET DARI CARA MENJAWAB (skripsi dan tesis)

 

Dipandang dari cara menjawab, angket dapa dibedakan menjadi angket terbuka dan angket tertutup

  1. Angket terbuka merupakan angket yang bisa dijawab/direspon secara bebas oleh responden. Peneliti tidak menyediakan alternatif jawaban/respon kepada respoden. Penggunaan angket terbuka maupun tertutup maisng-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan maupun kekurangan. Angket terbuka memiliki kelebihan yaitu:
  2. Akan mendapatkan data yang bervariasi
  3. Membantu peneliti mendapatkan infomrasi yang lebih lengkap tentang objek yang diteliti
  4. Memberikan kebebasan kepada responden untuk menulis jawaban atau berdasarkan pendapatnya
  5. Responden dapat mengisi atau memberi respon sesuai dengan keadaan responden yang dialaminya

Angket terbuka memiliki kekurangan yaitu:

  1. Bagi peneliti sulit untuk mengelompokkan jawaban/respon atau memberi kode terhadap jawaban responden
  2. Bagi responden memakan waktu untuk menjawab pertanyaan atau memeri respon terhadap pertanyaan yang disampaikan
  3. Angket tertutup, merupakan angket yang jumlah item dan alternatif jawabnnya maupun responnya sudah ditentukan, responden tinggal memilihnya sesuai denagan keadaan yang sebenarnya

Angket tertutup memiliki kelebihan, antara lain;

  1. Mudah memberi nilai
  2. Mudah dalam memberi kode

Angket tertututp memiliki kekurangan, antara lain:

  1. Bagi peneliti, kadang-kadang sulit untuk menyediakan alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan responden
  2. Bagi respondn sulit untuk memilih alternatif jawaban/respon yang sesuai dengan keadaan dirinya.

 

FUNGSI ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Pada umumnya angket mempunyai dua fungsi, yaitu deskripsi dan pengukuran

  1. Fungsi deskripsi maksudnya adalah informasi yang diperoleh melalui angket dapat memberikan gambaran ((deskripsi) tentang karaketristik dari individu atau sekelompok responden, contohnya: gender, pendidikan, pekerjaan, umur dan pendapatan. Selanjutnya, penggambaran unsur-unsur itu mempunyai beberapa tujuan misalnya peneliti dapat memperoleh keterangan tentang tingkah laku individu atau kelompok responden tertentu
  2. Fungsi pengukuran, maksudnya berdasarkan respon yang diberikan oleh respon yang diberikan oleh responden peneliti dapat mengukur variabel-variabel individual atau kelompok tertentu, contohnya variabel sikap. Angket dapat berisi item pertanyaan maupun pernyataan tunggal atau jamak, yang telah dirancang melalui kisi-kisi instrumen untuk mengukur berbagai gejala

 

KEKURANGAN ANGKET (skripsi dan tesis)

 

  1. Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terleati tidak terjawab padahal sukar diulang untuk memberikan kembali angket kepada responden tersebut
  2. Sering sulit dicari validitasnya, sebab responden memiliki situasi dan kondisi yang tidak sama untuk informasinya
  3. Walaupun dibuat anonim, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban tidak benar atau tidak jujur
  4. Jika dikirim melalui pos, sering tidak kembali. Menurut penelitian, angket yang dikirim lewat pos angka pengembaliannya sangat rendah, hanya sekitar 20% (Srikunto, 2006; 15)
  5. Waktu pengembaliannya tidak bersama-sama bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat

 

 

 

Widoyoko, 2015,

DASAR PENGGUNAAN METODE ANGKET (skripsi dan tesis)

 

Angket mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri (self report) dari responden, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan, keyakinan maupun sikap pribadi seseorang. Penggunaan angket sebagai metode pengumpulan data pada penelitian di dasarka pada anggapan:

  1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepda peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan yang dimaksudkan oleh peneliti

 

 

 

Widoyoko, 2015,

METODE PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi atau cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan-keterangan, dan informasi yang dapat dipercaya. Untuk memperoleh data tersebut maka dalam penelitian ini dapat digunakan berbagai macam metode, diantaranya adalah dengan angket, observasi, wawancara, tes dan analisis dokumen.

  1. Angket

Angket atau kuesioner merupakan metode engumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. Angket merupakan metode pengumpulan data yang efisien jika peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang akan diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang cukup luas.

  1. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab atau dialog secara lisan antara pewancara (interviewer) dengan responden atau orang yang diintervieu (interview) dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Wawancara merupakan cara pengumplan data yang langsung dari sumbernya tentang berbagai gejala sosial baik yang terpendam maupun tampak. Wawancara merupakan alat yang sangat baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi serta proyeksi seseorang terhadap masa depannya. Wawancaraini digunakan bila jumlah responden relatif sedikit.

  1. Observasi

Sebagai metode pengumpulan data, observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatn secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian. Unsur-unsur yang nampak itu disebut dengan data atau informasi yang harus diamati dan dicatat secara benar dan lenkap. Metode ini digunakna untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan gar peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih luas tetang permasalahan yang akan diteliti.

  1. Analisis Dokumen

Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan maalah yang akan diteliti. Dalam arti sempit dokumen berarti barang, atau benda tertulis sedangkan dalam arti yang luas, dokumen bukan hanya berwujud tulisan saja tetapi dapat berupa benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol lainnya.

  1. Tes

Tes merupakan salah satu alat untk melakukan pengukuran yaitualat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Karakteristik objek daat berupa ketrampilan, pengetahuan, bakat, minat, maupun bakat baik yang dimiliki idividu maupun kelompok.

Widoyoko, 2015,

SUMBER DATA (skripsi dan tesis)

 

Pengertian sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data tersebut diperoleh. Apabila peneliti menggunakan angket atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Bila pengumpulan data dilakukan atas populasi maka responden penelitian adalah populasi, sedangkan bila pengumpulan data dilakukan atas sampel maka responden adalah sampel. Data dikumpulkan dengan memebri skor terhadap respon yang diberikan oleh responden. Pertanyaan mengenai data yang akan dikumpulkan berhubungan dengan variabel.

Sumber data dapat dibedakan berdasarkan dua ahl yaitu berdasarkan subjek dimana data melekat dan berdasarkn wilayah sumber data. Berdasarkan subjek dimana data melekat, sumber data dapat diklasifikasikan menjadi 4 singkatan  yaitu:

Person : Sumber data berasal dari orang

Sumber data bisa memberikan pernyataan berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket. Sumber data person disebut dengan responden

Place    : sumber data berasal dari tempat

Sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam, misalnya kelengkapan alat, wujud benda dsb

Process : sumber data gerak/aktivitas

Sumber data menyajikan tampilan berupa keadaan bergerak misalnya aktivitas belajar siswa, gerak tarian dsb

Paper    : sumber data berupa simbol

Sumber data yang menyajikan tanda-tanda beru[a huruf, angka, gambar atau simbol-simbol lain, dengan pengertian ini maka “paper” bukan terbatas hanya pada kertas sebagaimana terjemahan dari kata “paper” dalam bahasa Inggris. Tetapi juga berwujud batu, kayu, tuang dsb.

Berdasarkan wilayah sumber data dalam arti keseluruan atau sebagian sumber data diambil sebagai subjek penelitian, sumber data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu populasi dan sampel. Pengumpulan data yang dilakukan atas populasi menghasilkan data dan kesimpulan yang lebih akurat karena tidak ada kesalahan yangakan terjadi karena seluruh objek dikumpulkan datanya, dan dianalisis. Namun pengumpulan data demikian seringkali tidak dapatdilakukan karena berbagai kondisi. Dengan demikian pengumpulan data hanya dilakukan dari sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang mempunyai sifat dan ciri yang sama dengan populasi karena  diambil dari populasi meggunakan teknik sampling tertentu yang secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan. Bila sumber data adalah sampel, namun kesimpulan akan diberlakukan untuk seluruh populasi maka dengan proses generalisasi.

Widoyoko, 2015,

UJI STATISTIK PADA TIAP JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

 

  1. Data nominal mempunyai ciri antara lain: hasil hitungan dan tidak dijumpai angka pecahan, angkayang tertera hanya label saja, tidak mempunyai urutan (ranging), tidak mempunyai ukuran baku dan tidak mempunyai nol mutlak.

Analisis statistik yang cocok untuk data nominal antara lain: Uji binomium, uji Chi Kuadrat Satu Sampel, Uji Chi Kuadrat Dua Sampel, Uji Chi Kuadrat Lebih Dari Dua Sampel, Uji Prubahan Tanda Mc Nemar, Uji Peluang Fisher, Uji  Cohran dan Uji Koefiesien. Sedangkan tes statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Ordinal

Analisis statistik yang cocok untuk data ordinal adalah: Uji Kolmogorov Smirnov Satu Sampel, Uji Tanda, Uji Pasangan Tanda Wilcoxon, Uji Media, Uji Mann Whitney U, Uji Kolmogorov Smirnov Dua Sampel, Uji Deret Wald Wolfowitz, Uji Reaksi Ekstrim Moses, Uji Analisis Varians Dua Arah Friedman, Uji Varians ruskal Walls Satu Arah, Perluasan Uji Media, Uji Koefisien Korelasi Rank Kendall, Ujia Koefisien Parsial Kendall, dan Uji Koefisien Konkordans Kendall. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data Interval

Analisis statistik yang cocok untuk data interval adalah; Uji T, Uji t test, Uji Anova Satu Jalur, Uji anova Dua Jalur, Uji Person Product Moment, Uji Korelasi Parsial, Uji Korelasi Ganda, Uji Regresi. Tes statistik yangdigunakan adalah tes statistik (Riduwan, 2009; 6-7)

  1. Data rasio

Pemilihan teknik statistik yang digunakan dalam analsisi data selain tergantung pada macam data juga pada bentuk hipotesisnya.

Widoyoko, 2015,

SKALA PENGUKURAN (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data skalanya, data dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: data nominal, ordinal, interval dan rasio

  1. Data nominal

Data nominal merupakan data yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan dan diperbandingkan satu dengan yang lain. Nominal atau nomi yang berarati nama, menunjukkan label atau tanda yang hanya untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai sebuah tanda atau label, data nominal dapa dibedakan tetapi tidak dapat diurutkan. Tanda atau label tidak mempunyai makna selain sebagai pembeda.

  1. Data ordinal

Data ordinal merupakan data yang memiliki urutan (order) tetapi tidak memiliki jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebut. Atau dengan kata lain merupakan data yang mempunyai jenjang sehngga responden dapat diurutkan jenjangnya sesuai dengan karakteristik yang ada pada dirinya. Dalam data ordinal, kita dapat menyatakan sesuatu itu lebih, sama atau kurang dari yang lain. Data ordinal dapat dibedakan dan diurutkan tetapi tidak memiliki jarak yang sama dalam urutn maupun perbedaan yang ada. Data ordinal menggolongkan subjek menurut jenjangnya, tanpa memperhatikan jarak perbedaan antara golongan yang satu dengan lainnya

  1. Data interval

Data interval merupakan data yang memiliki perbedaan, urutan dan jarak perbedaan yang sama di antara rangkaian urutan tersebuttetapi tidak memiliki titik nol absolut atau mutlak. Jarak dalam skala interval diatur mengkuti aturan tertentu yang mudah dapat dimengerti

 

Widoyoko, 2015,

CARA PENGUMPULAN DATA (skripsi dan tesis)

 

Data dapat dikelompokkan berdasarkan cara pengumpulannya. Berdasarkan cara pengumpulannya, ata dapat dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder:

  1. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber pertama atau dengan kata lain data yang pengumpulannya dilakukan sendiri olehpeneliti secara langsung seperti hasil wawancara dan hasul pengisian angket (kuesioner)
  2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua.Purwanto (2001; 1995) mengartikan data sekunder sebagai data yang dikumpulkan oleh orang atau lembagalain. Soeratno dan Arsyad (2003; 76) mengartikan data sekunder sebagai data yang diterbitkan atau yang digunakan oleh oragnisasi yang bukan pengolahnya. Dengan demikian data sekunder mempunyai dua makna. Pertama, data yang diolah lebih lanjut, misalnya dalam bentuk tabel atau diagram. Kedua, data yang dikumpulkan oleh orang taau lembaga lan, dengan kata lain bukan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti.

Widoyoko, 2015,

SIFAT DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan sifatnya, data dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu data dikotomi, diskrit atau kontinum.

  1. Data dikotomi merupakan data yang bersifat pilah atau satu sama lain seperti jenis kelamin, suku, agama dan lain sebagainya. Pengumpulan data dikotomi dilakukan dengan memberikan angka label
  2. Data diskrit merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menghitung atau membilang
  3. Data kontinum merupakan data yang pengumpulan datanya dilakukan dengan cara mengukur dengan alat ukur yang menggunakan skala tertentu

Widoyoko, 2015,

JENIS DATA (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan data dibedakan menjadi dua macam yaitu data kaulutatif dan kuantitatif.

  1. Data kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada baik keadaan, proses, perisitiwa/kejadian dan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata. Penentan kualitas itu menuntut menilai tentang bagaimana mutu sesuatu itu. Contohnya: wanita itu cantik, pria itu tampan, baik, buruk dan sebagainya. Data ini biasanya diperoleh  dari hasil wawancara dan bersifat subjketif sebab data tersebut dapat ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. Data kualitatif yang diangkakan (kuantifikasi) dalam bentuk ordinal atau rangking.

Nawawi dan Hadari (2006; 49-51) membedakan data kualitatif dilihat dari jenisnya sebagai berikut:

  • Data kategori yang dinyatakan dengan perkataan untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan, proses atau persitiwa termasuk dalam salah stau golongan atau suatu pihak tertentu
  • Data yang menunjukkan porsi dari setiap keadaan yang dinyatakan dengan perkataan yang merupakan perbandingan dengan yang ideal atau keseluruhan.
  • Data berjenjang atau meningkat yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian perstiwa termasuk pada suatu tingkatan mutu/kualitas tertentu di atas atau di bawah rata-rata.
  • Data yang bersifat relatif yang dinyatakan dengan kata-kata untuk menunjukkan bahwa suatu keadaan atau kejadian/persitiwa merupakan sesuau yang adanya dapat berubah-ubah.
  • Data yang bertentangan yang menyatakan jika yang satu ada maka yang lain tidak aa tentang suatu keadaan, kejadian atau proses tertentu yang diungkapkan dalam suatu penelitian
  1. Data kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data yang berwujud angka-angka sebagai hasil observasi atau pengukuran. Data ini diperoleh dari hasil pengukuran langsung maupun dari angka-angka yang diperoleh dengan mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif. Data kuantitatif bersifat objektif dan bisa ditafsirkan sama oleh semua orang

Widoyoko, 2015

PERAN DATA DALAM PENELITIAN (skripsi dan tesis)

 

  1. Data berfungsi sebagai alat hipotesis atau alat bukti atas pertanyaan penelitian
  2. Kualitas data sanga menentukan kualitas hasil penelitian. Artinya hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang berhasil belum tentu hasil penelitian juga baik. Hasil penelitian selain dipengaruhi oleh kualitas data yang berhasil dikumpulkan juga dipengaruhi oleh ketepatan dan keakuratan analisis data yang dilakukan. Kualitas data tergantung pada kualitas dari instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen pengumpulan data berkaitan dengan validitas dan reabilitas instrumen

 

Widoyoko, 2015,