Tahapan Dalam LMX (skripsi dan tesis)

Sparrowe dan Liden (1997) menjelaskan bahwa terdapat beberapa tahap dalam proses hubungan antara atasan dan bawahan, yaitu :

a. Menilai Bawahan (Testing and Assessment)
 Pada tahap ini masih belum ada hubungan diantara pemimpin dan bawahannya. Pemimpin masih menimbang mana yang dapat masuk ke dalam kategori ingroup maupun out-group berdasarkan pada kriteria subjektif maupun objektif.
 b. Pengembangan Kepercayaan (Development of Trust)
Tahapan ini pemimpin memberikan kesempatan dan tantangan yang baru untuk menumbuhkan rasa percaya diantara mereka. Sebagai timbal baliknya, maka para bawahan yang termasuk ke dalam kategori in-group akan memperlihatkan loyalitas kepada pemimpinnya.
 c. Tercipta Ikatan Emosional (Creation of Emotional Bond)
Seorang bawahan yang memiliki hubungan yang baik dengan pemimpinnya dapat masuk ke dalam tahapan ini, dimana hubungan dan juga ikatan diantara keduanya menjadi kuat secara emosional. Pada tahap ini, seorang bawahan memiliki komitmen yang tinggi terhadap atasan.

Teori-teori LMX (skripsi dan tesis)

Sebelum LMX berkembang dan implikasinya dibahas luas, Schneider (1987) dan Zaleznik (1984) yang dikutip oleh Polly (2002) mengatakan, pentingnya untuk memperhatikan adanya perbedaan makna dan gambaran dalam literatur kepemimpinan antara pemimpin dan manajer. Menurut Schneider, seorang manajer bertanggung jawab untuk memastikan bahwa operasi sehari-hari berjalan dengan lancar, sementara para pemimpin bertanggung jawab untuk memastikan bahwa organisasi ini menuju ke arah yang benar. Dengan kata lain, para pemimpin biasanya dianggap sebagai para visioner dalam sebuah organisasi. Individu pemimpin biasanya beroperasi di tingkat tinggi, berani mengambil risiko, bekerja ke arah pengembangan ide-ide baru dan arah baru bagi organisasi. Selanjutnya Zaleznik menyatakan bahwa manajer di sisi lain biasanya terlibat dalam hari-hari kegiatan koordinasi yang memungkinkan organisasi untuk beroperasi sebagaimana mestinya. Pengertian Leader Member Exchange (LMX) sebagaimana pendapat Morrow, et al (2005, p. 682) bahwa Leader Member Exchange merupakan peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dengan karyawan akan mampu meningkatkan kerja keduanya. Namun realitasnya, hubungan antara karyawan dan supervisi dapat dikelompokkan pada dua hubungan yaitu hubungan yang baik dan hubungan yang buruk. Hubungan yang baik akan menciptakan kepercayaan karyawan, sikap positif, dan loyalitas, namun hubungan yang buruk berpengaruh sebaliknya. Pengertian Leader Member Exchange menurut Organ (1998) sebagaimana dikutip oleh Bhal (2006, p. 107) bahwa perilaku karyawan terhadap perusahaan mempunyai peran penting terhadap keberhasilan sebuah organisasi. Perlakuan yang baik terhadap karyawan akan mampu menciptakan perasaan sukarela pada diri karyawan untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu, melalui perlakuan khusus yang positif akan mampu meningkatkan kontribusi karyawan pada perusahaan dimana karyawan bekerja. Truckenbrodt (2000, p. 233) menyatakan bahwa Leader Member Exchange difokuskan pada penilaian terhadap hubungan dan interaksi antara supervisor (atasan) dan bawahan. Tingkat kedekatan dari hubungan antara pimpinan dan bawahan ini yang menunjukkan adanya indikasi dari Leader Member Exchange di perusahaan.” Dalam sebuah organisasi, dimungkinkan terdapat hubungan yang berbeda antara pimpinan dengan karyawan yang menjadi anak buahnya. Tingkat kedekatan hubungan ini biasa disebut dengan leader member exchange. Menurut Welliam (2003, p. 1), teori leader member exchange menempatkan konsep hubungan sebagai dasar penilaian terjadinya leader member exchange. Dalam lingkungan organisasi, maka leader member exchange ini mengarah pada hubungan antara pimpinan dengan karyawan yang menjadi pengikut pimpinan. Graen and Scandura (1987) sebagaimana dikutip oleh Truckenbrodt (2000, p. 234) menyatakan bahwa dalam sebuah organisasi dilihat dari hubungan dan interaksi antara atasan dan bawahan, dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu in group dan out group. Perbedaan antara dua kelompok ini adalah tingkat kedekatan hubungan dan interaksi antara pimpinan dan bawahan. Karyawan yang memiliki hubungan dan interaksi yang tinggi antara pimpinan dan bawahan masuk dalam kelompok in group dan di luar kelompok in group adalah kelompok out group. Menurut Graen and Cashman (1975) sebagaimana dikutip oleh Truckenbrodt (2000, p. 234), tingkat interaksi antara pimpinan dan bawahan dalam sebuah organisasi tidak bisa terstandarisasi untuk semua karyawan karena keterbatasan waktu pimpinan bersama karyawan dan keterbatasan sumberdaya perusahaan. Keterbatasan sumberdaya ini lebih mengarah pada keterbatasan kapabilitas (kemampuan) setiap karyawan dalam bekerja sehingga apresasi yang diberikan pimpinan kepada karyawan juga dimungkinkan berbeda. Menurut Leonard (2002, p.1), bahwa pemahaman terhadap leader member exchange tidak hanya pada ikatan fisik, dimana bawahan harus selalu mengikuti instruksi atasan, namun lebih dalam lagi yaitu ikatan interaksi antara karyawan dan pimpinan. Ikatan interaksi ini menyangkut pada ikatan emosional antara karyawan dan pimpinan.

LMX didefinisikan sebagai kualitas hubungan pertukaran interpersonal antara leader dan anggotanya. Hubungan LMX yang tinggi ditandai dengan adanya persahabatan, kesetiaan, rasa hormat profesional dan adanya kontribusi, sedangkan hubungan LMX yang rendah ditandai kurang adanya persahabatan, kesetiaan, rasa hormat profesional dan kontribusi (Setiadi, N.J, 2007) Hasil dari studi penelitian-penelitian terdahulu yang dikutip oleh Nahrgang & Morgeson (2002) dari para peneliti seperti Gester & Day (1997), Judge et al. (2004) dan Lowe et al. (1996) mengatakan bahwa, kepemimpinan dapat mempengaruhi kinerja individu dan kelompok. Dansereau et al. (1975) menambahkan, sebuah alternatif pendekatan untuk memahami pengaruh kepemimpinan dalam mengefektifkan karyawan adalah berfokus pada hubungan kelompok (dyad) antara pemimpin dan tiap-tiap karyawan. Lebih lanjut, Gesterner & Day (1997), Graen & Uhl-Bien (1995) dan Liden et al. (1997) menjelaskan 16 bahwa, teori LMX berbeda dari teori kepemimpinan lainya, ini secara explisit berfokus pada hubungan dyadic dan hubungan yang unik dalam mengembangkan kepimimpinan dengan tiap-tiap karyawan. Truckenbordt (in press) mengatakan, menurut pendapat Dansereau, et al (1975) serta Graen & Cashman (1975) teori LMX berkaitan dengan sifat antara pemimpin dan bawahan, bentuk dalil dasar teori ini adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan yang terlibat dalam proses-proses perundingan bersama dan akhirnya mereka telah menentukan peran yang harus diisi oleh masingmasing pihak dan terus berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan ini, lebih lanjut dikatakan oleh Gerstner & Day (1998), Klein & Kim (1998) dan Nystrom (1990) pada gilirannya ke depan, jenis hubungan yang berkembang antara pemimpin dan karyawan akan berpengaruh terhadap berbagai faktor-faktor penting untuk individu dan organisasi (misalnya, komitmen tujuan karyawan, komitmen organisasi, kinerja karyawan, dll). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kualitas LMX terkait dengan kinerja Karyawan. Sebagai contoh, Graen, et al. (1982) serta Scandura dan Graen (1984) memeriksa kualitas dan kinerja LMX dalam konteks program pelatihan kepemimpinan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas LMX. Mereka menemukan bahwa kinerja karyawan meningkat karena kualitas LMX ditingkatkan selama program pelatihan. Dalam pemeriksaan yang lebih lanjut terhadap kualitas dan kinerja LMX, Settoon et al. (1996) menemukan bahwa kualitas LMX berhubungan positif baik terhadap prilaku in-role and extra-role.

Demikian pula, Wayne et al. (1997) menemukan juga bahwa pengukuran kualitas LMX karyawan berhubungan signifikan antara evaluasi pemimpin dengan kinerja bawahan. Akhirnya, dalam analisis meta oleh Gerstner dan Day (1997) menemukan adanya kualitas pertukaran yang diukur dari para pemimpin dan perspektif karyawan adalah hubungan kepemimpinan yang signifikan terkait dengan penilaian kinerja karyawan. Teori Leader-Member Exchange (LMX) pertama kali diperkenalkan oleh Dansereau, Graen dan Cahsman pada tahun 1975 dan kemudian diperkenalkan kembali oleh Graen melalui penelitiannya pada tahun 1976 (Anggraeni, 2007). 17 Dansereau, Graen dan Casman menjelaskan bahwa teori Leader-Member Exchange (LMX) merupakan teori yang menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal berkembang diantara atasan dan bawahan (Yukl, 2012). LeaderMember Exchange (LMX) merupakan suatu proses interaksi yang terjadi pada dua individu dan secara berkesinambungan akan mengalami perkembangan. Cakupan isi dari Leader-Member Exchange (LMX) terdiri atas tiga hal yakni, Leader (pimpinan atau atasan), Follower (Bawahan) dan Relationship (Hubungan Interpersonal) (Graen dan Bien, 1995). Pada akhirnya, pendekatan melalui hubungan (Relationship) antara atasan dan bawahan akan menjelaskan mengenai bagaimana hubungan interpersonal yang terjadi

Kepemimpinan Stuasional (skripsi dan tesis)

Hersey dan Blanchard dalam Robbin (1996), telah menggembangkan suatu model Kepemimpinan yang telah memperoleh pengikut yang kuat di kalangan spesialis pengembangan manajemen. Model ini disebut teori kepemimpinan situasional. Kepemimpinan situasional adalah Kebutuhan untuk memahami kepemimpinan yang bertautkan dengan situasi tertentu dan memfokuskan pada para pengikut, kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memiliki gaya kepemimpinan yang tepat.

Efektifitas Kepemimpinan Situasional (skripsi dan tesis)

Hersey dan Blanchard dalam Robbin (1996), telah menggembangkan suatu model Kepemimpinan yang telah memperoleh pengikut yang kuat di kalangan spesialis pengembangan manajemen. Model ini disebut teori kepemimpinan situasional. Kepemimpinan situasional adalah Kebutuhan untuk memahami kepemimpinan yang bertautkan dengan situasi tertentu dan memfokuskan pada para pengikut, kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memiliki gaya kepemimpinan yang tepat.

Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi orang lain seperti yang ia lihat (Thoha, 1993). Kebanyakan orang menganggap gaya kepemimpinan merupakan tipe kepemimpinan. Hal ini antara lain dinyatakan oleh Siagian (2003) bahwa gaya kepemimpinan seseorang adalah identik dengan tipe kepemimpinan orang yang bersangkutan. Artinya uuntuk kepentingan pembahasan, istilah tipe dan gaya kepemimpinan dipandang sebagai sinonim. Secara relatif ada tiga macam gaya kepemimpinan yang berbeda, yaitu otokratis, demokratis dan laissezfaire, yang semuanya mempunyai kelemahan-kelemahan dan kelebihan. Adapun tiga macam gaya kepemimpinan (Handoko, 2001) adalah sebagai berikut :
 a. Otokratis Gaya otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan diputuskan oleh pmpinan semata-mata. Kepemimpinan gaya otokratis antara lain berciri:
(1) Semua penentu kebijaksanaan dilakukan oleh pimpinan.
(2) Teknik-teknik dan langkahlangkah kegiatan didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkat yang luas.
 (3) Pemimpin biasanya mendikte tugas kerja bersama setiap anggota. Penerapan gaya kepemimpinan otokratis dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan keputusan dan bertindak sehingga untuk sementara mungkin kinerja dapat naik.
b. Demokratis Gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah tetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan 9 dan bawahan. Kepemimpinan gaya otokratis antara lain berciri:
 (1) Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pimpinan.
(2) Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum uuntuk tujuan kelompok dibuat, dan bila butuhkan petunjuk-petunjuk teknis, pemimpin menyarankandua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih. (3) Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. Penerapan gaya demokratis dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa keputusan serta tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki serta terbinanya moral yang tinggi.
c. Laissez-Faire Gaya laissez-faire adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan lebih banyak diserahkan kepada bawahan. Kepemimpinan gaya laissez-faire antara lain berciri:
(1) Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu, dengan partisipasi dari pimpinan.
 (2) Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pimpinan yang membuat orang selalu siap bila dia kan memberikan informasi pada saat ditanya. Dia tidak mengambil bagian dalam diskusi kerja.
 (3) Sama sekali tidak ada partisipasi dari pimpinan dalam penentuan tugas.
Penerapan gaya kepemimpinan laissez-faire dapat mendatangkan keuntungan antara lain para anggota atau bawahan akan dapat menggembangkan kemampuan dirinya.
1. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang untuk mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang dilihat (Miftah, 2007).
2. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan baik secara langsung maupun tidak langsung tentang keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perlaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, ketrampilan sifat, sikap yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya (Rivai, 2009).

Pengaruh LMX Terhadap Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)

Dienesch dan Liden (1986) dalam Surdijo dan Toryanto (2013) mengatakan teori LMX didapatkan pada konsep pembentukan peran dan social exchange. Kinerja bawahan merupakan bagian penting dalam proses tersebut. Surdijo dan Toryanto (2013) pimpinan akan menguji dan mengevaluasi kinerja bawahan. Bila kinerja karyawan dianggap memuaskan pada tahap tertentu, maka hal tersebut akan meningkatkan kualitas interaksi atasan-bawahannya selanjutnya. Proses penilaian peran juga dilakukan oleh bawahan, dimana seorang bawahan yang menilai positif atasannya akan memengaruhi interaksi vertikal dan menjadi lebih baik pula. Wibowo (2016: 70) mengatakan bahwa kepemimpinan dan gaya kepemimpinan dalam organisasi sangat berperan dalam memengaruhi kinerja karyawan. Penelitian yang dilakukan Alikasari dan Suharnomo (2017) menemukan bahwa LMX berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Namun berbeda dengan Kartika dan Suharnomo (2016) dalam peneliannya mengatakan LMX tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja karyawan, LMX akan berpengaruh terhadap kinerja jika dimediasi oleh kepuasan kerja dan keterlibatan karyawan

Pengaruh LMX Terhadap Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Arsintadiani dan Harsono (2002) mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan bagaimana mereka memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, terlihat dari sikap positif karyawan melihat pekerjaannya dan segala sesuatu pekerjaan yang dihadapi di lingkungan pekerjaan. Luthan (1998) dalam Arsintadiani dan Harsono (2002) mengungkapkan ada tiga dimensi kepuasan kerja. Pertama, kepuasan kerja adalah suatu emosi yang merupakan respon terhadap situasi kerja. Kedua, kepuasan kerja dinyatakan dengan perolehan hasil yang sesuai atau bahkan melebihi apa yang diharapkan, misalnya ia mendapatkan gaji yang sesuai diharapkan dan oleh atasannya dia mendapat pujian karena prestasi, maka karyawan akan merasa puas dalam bekerja. Ketiga, kepuasan kerja biasanya dinyatakan dalam sikap seseorang yang tercermin dalam tingkah lakunya. Penelitian lain yang dilakukan Kartika dan Suharnomo (2016) melakukan penelitian adanya pengaruh positif dan signifikan LMX terhadap kepuasan karyawan. Satyawati dan Suartana (2014) menemukan adanya pengaruh positif antara gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan. 25 Wijanto dan Sutanto (2013) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan pengaruh signifikan antara variabel LMX dengan kepuasan kerja

Pengaruh Komitmen Afektif Terhadap Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)

Komitmen organisasi didefinisikan sebagai sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan (Kaswan, 2012:293). Komitmen afektif menunjukkan keinginan emosional karyawan untuk beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada agar tujuan dan keinginannya untuk tetap di organisasi dapat terwujud (Kaswan, 2012:293). Jika seseorang jiwanya sudah terikat dengan nilai-nilai organisasional, maka ia akan merasa senang dan kinerjanya akan terus meningkat. Pekerja yang memiliki komitmen organisasional biasanya akan mempunyai catatan kehadiran baik, menunjukkan keinginan kesetiaan pada kebijakan perusahaan dan mempunyai turnover rate lebih rendah (Wibowo, 2016: 435). Penelitian yang dilakukan Nurjanah (2008) menemukan adanya komitmen organisasi mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Hasil pengujian diketahui bahwa indikator rasa bangga menjadi bagian dari organisasi merupakan indikator yang paling dominan dari komitmen organisasi. Parinding (2017) menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan pada komitmen afektif, komitmen berkelanjutan dan komitmen normatif terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Komitmen Afektif Terhadap Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Komitmen organisasi merupakan sebuah kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan dan nilai-nilai dari organisasi, sebuah kemauan untuk menggunakan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi ataupun sebuah kepentingan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Greggson (1992) dalam Tranggono dan Kartika (2008) mengatakan bahwa kepuasan kerja merupakan pertanda awal suatu komitmen organisasional. Opini tersebut bertolak belakang dengan Batemann dan Strasser (1984) dalam Tranggono dan Kartika (2008) yang mengatakan bahwa komitmen mendahului kepuasan kerja. Komitmen organisasi yang bersifat afektif berhubungan dengan satu pandangan profesionalisme yaitu pengabdian pada profesi. Tobing (2009) menyatakan bahwa komitmen afektif, komitmen kontinuan dan komitmen normatif menunjukkan arah positif dan signifikan terhadap kepuasan kinerja karyawan; dan kepuasan kerja menunjukka arah positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh LMX Terhadap Komitmen Afektif (skripsi dan tesis)

Gerstner dan Day (1997) menjelaskan beberapa pengaruh LMX terhadap organisasi, salah satu dari pengaruh tersebut adalah terbentuknya komitmen afektif. Semakin baik hubungan antara atasan dengan bawahan yang terbentuk maka semakin besar pula komitmen afektif yang dimiliki karyawan. Karyawan yang memiliki hubungan kerja timbal balik dengan atasannya akan memiliki rasa nyaman dan aman di lingkungan organisasi tempat mereka bekerja, sehingga akan memengarungi komitmen arganisasi afektif karyawan. Ariani (2010) karyawan dengan komitmen organisasional afektif yang kuat bekerja dalam organisasi karena “mereka ingin” dan individu dengan komitmen organisasional afektif yang tinggi akan tinggal dalam organisasi.  Harthantyo dan Rahardjo (2017) menyatakan bahwa LMX berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen afektif.

Komitmen Afektif (skripsi dan tesis)

 Komitmen afektif merupakan salah satu kategori komitmen, yang mana komitmen ini merupakan ikatan secara emosional yang melekat pada seorang karyawan untuk mengidentifikasikan dan melibatkan dirinya dengan organisasi (Allen dan Meyer, 1990). Affective commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi (Umam, 2012: 259). 20 Seperti yang dikatakan oleh Allen dan Meyer bahwa yang merupakan komitmen afektif itu mengarah pada “The employee’s emotional attachment to, identification with, and invovement in the organization”. Dari pengertian diatas komitmen berkaitan langsung dengan keterikatan emosional karyawan, identifikasi karyawan dan keterlibatan karyawan pada organisasi (Allen dan Meyer, 1990).
 a. Emosional
 Komitmen afektif menyatakan bahwa organisasi akan membuat karyawan memiliki keyakinan yang kuat untuk mengikuti segala nilai-nilai organisasi dan berusaha untuk mewujudkan tujuan organisasi sebagai prioritas utama.
b. Identifikasi
Komitmen afektif muncul karena kebutuhan dan memandang bahwa komitmen terjadi karena adanya ketergantungan terhadap aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan dalam organisasi pada masa lalu dan hal ini tidak dapat ditinggalkan karena akan merugikan.
c. Keterlibatan karyawan pada organisasi
 Karyawan yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja dalam organisasi karena mereka memang ingin (want to) melakukan hal tersebut. Kecenderungan komitmen yang tinggi pada seorang karyawan, yakni memiliki keinginan untuk dapat tetap bertahan dalam organisasi, keinginan untuk mencapai tujuan organisasi, meningkatnya keterlibatan karyawan dalam aktivitas organisasi dan sapat menunjukkan rasa saling memiliki terhadap perusahaannya (Rhoades,Eisenbeger dan Armeli, 2001). Karyawan yang telah bekerja cukup lama dalam organisasi yang selalu konsisten dalam ekspektasi yang diharapkan serta pemuasan kebutuhan dasarnya akan cenderung untuk membentuk ikatan afektif yang lebih kuat terhadap organisasi daripada karyawan yang memiliki pengalaman lebih sedikit atau kurang terpuaskan kebutuhannya (Allen, Meyer dan Smith) dalam (Han et. al, 2012).

Faktor Kinerja (skripsi dan tesis)

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja (Riyadi, 2011), antara lain sebagai berikut:

a. Faktor internal Merupakan faktor yang berhubungan dengan sifat-sifat seseorang meliputi sikap. Sifat-sifat kepribadian, sifat fisik. Keinginan atau motivasi, umur, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman kerja, latar belakang budaya dan variabel-variabel personal lainnya.
b. Faktor eksternal Merupakan faktor yang berasal dari lingkungan, kepemimpinan, tindakan-tindakan rekan kerja, jenis latihan dan pengawasan, sistem upah dan lingkungan kerja

Kinerja (skripsi dan tesis)

Hasibuan (2007: 43) mengatakan bahwa kinerja adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan dengan kecakapan, pengalaman dan kesungguhan. Setiap perusahaan yang berhasil mencapai tujuannya dengan baik tidak luput dari peranan karyawannya yang memiliki kinerja yang baik pula. Selain itu, untuk meningkatkan kinerja karyawan, pemimpin perusahaan memiliki peran aktif dalam menggerakkan dan mengkoordinasi dalam memengaruhi kinerja karyawannya. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2005: 67). Kinerja karyawan merupakan tolak ukur untuk menentukan sejauh mana para karyawan dapat mengemban tugas yang diberikan kepadanya, namun tidak semua karyawan memiliki kemampuan dan kualitas kerja yang sama

Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual dan setiap individual memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya (Rivai, 2003). Semakin banyak aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan. Kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristiknya (Robbins dan Judge, 2016: 40). 17 Kepuasan kerja juga merupakan sikap yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja. Penilaian dilakukan sebagai penghargaan dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting dalam pekerjaan. Karyawan yang merasa puas jauh lebih produktif daripada dengan karyawan yang tidak puas. Sedangkan menurut Mangkunegara (2005) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaan, sikap dan moral kerja, kedisiplinan serta prestasi kerja. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas sikap senang atau tidak senang, merasa puas atau tidak puas.
Farrel (1989) dalam Zakiy (2015) menjelaskan empat respon karyawan terhadap pekerjaan mereka. Pertama, keluar, perilaku yang ditujukan untuk meninggalkan organisasi, termasuk mencari posisi baru dan mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang. Kedua, memberikan aspirasi, secara aktif dan konstruktif berusaha memperbaiki kondisi, termasuk memberikan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan, serta membentuk serikay pekerja. Ketiga, kesetiaan, secara pasif tetapi optimis menunggu membaiknya kondisi, termasuk membela organisasi ketika terdapat perlawanan eksternal dan mempercayai organisasi dan manajemennya melakukan hal yang benar. Dan keempat, pengabaian, secara pasif membiarkan kondisi menjadi lebih buruk, termasuk ketidakhadiran atau keterlambatan secara terus-menerus, kurangnya usaha dan meningkatnya kesalahan dalam pekerjaan

Leader Member Exchange (LMX) (skripsi dan tesis)

Leader member exchange (LMX) atau pertukaran pemimpin anggota merupakan sebuah dimensi yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi agar dapat tercipta komunikasi yang baik, sehingga hubungan personal antar pemimpin dan bawahannya dapat harmonis (Zakiy, 2015). Teori leader member exchange berfokus pada hubungan dyadic, yakni hubungan antara seorang pemimpin dengan setiap personal bawahannya dan setiap hubungan antara sepasang leader-member ini memiliki kualitas yang berbeda (Putri dan Nurul, 2010). LMX merupakan sebuah teori yang mendukung pemimpin menciptakan adanya in-group dan out-group; bawahan dengan status in-group akan mendapatkan tingkat kinerja yang tinggi; less turnover; dan kepuasan kerja yang lebih besar (Robbins dan Judge, 2013: 377). Kualitas hubungan ini akan membentuk in group dan out group. Dimana para bawahan yang menjadi anggota in-group akan diberikan tanggung jawab, penghargaan dan perhatian yang lebih banyak daripada bawahan yang berada di out group. Sebaliknya, anggota out group akan memiliki hubungan yang lebih formal dengan pemimpinnya. Sehingga, adanya perbedaan antara in group dan out group ini akan menentukan kualitas dalam sebuah organisasi. Leader member exchange terbagi menjadi empat dimensi (Liden dan Maslyn, 1998), yaitu:
a. Affect (Afeksi)
Afeksi mengacu pada keakraban antara satu individu dengan individu lainnya. Keakraban ini sendiri tidak memandang stasus sosial. Interaksi dapat terbentuk oleh hubungan karyawan dan pimpinan, pimpinan dengan pimpinan maupun karyawan dengan karyawan. Aspek afeksi dapat menjadi unsur paling dominan maupun tidaknya dapat bergantung kepada jenis hubungan yang ada di tempat kerja.
 Waktu yang diperlukan oleh pemimpin dengan bawahan untuk menjalin hubungan cenderung berbeda dari satu dengan yang lainnya, ada yang bisa menjalin hubungan baik dalam waktu yang singkat, namun ada juga yang tidak. Hubungan saling menyukai antara pimpinan dan karyawan sendiri sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan LMX.
b. Contribution (Kontribusi)
Dimensi kontribusi adalah persepsi tentang kegiatan yang berorientasi pada tugas ditingkat tertentu antara pemimpin dan karyawan untuk mencapai tujuan bersama. Level kontribusi dari seseorang dapat dilihat dari seberapa banyak pekerjaan dan informasi yang didapat. Adanya kualitas kontribusi yang tinggi menyebabkan karyawan rela berkorban demi pemimpin, rekan kerja dan perusahaan. Semakin tingginya level kontribusi karyawan maka kualitas hubungan LMX juga semakin baik.
c. Loyalty (Loyalitas)
Loyalitas adalah bagaimana pemimpin maupun karyawan saling mendukung aksi dan karakter satu sama lainnya dalam segala situasi. Pemimpin akan lebih menyukai untuk memberikan tugas kepada karyawan loyal. Loyalitas karyawan maupun pemimpin disebuah perusahaan sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan LMX yang nantinya berdampak terhadap kinerja perusahaan.
 d. Professional Respect (Respek/Hormat)
Professional respect mengacu pada rasa hormat atau kagum pada pekerjaan yang dilakukan orang lain. Rasa kagum dapat didasarkan berbagai hal keinginan untuk bisa menjadi orang tersebut atau karena pencapaian yang dicapai oleh orang yang dikagumi. Rasa kagum seseorang karyawan dapat disebabkan karena reputasi yang dimilik oleh pemimpinnya. Reputasi dapat dibentuk melalui data sejarah mengenai seorang pribadi, seperti pengalaman pribadi, komentar yang didapat melalui perseorangan maupun dari luar organisasi dan penghargaan yang diberikan terhadapnya. Karyawan yang menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap performa maupun interaksi dari pemimpin diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai baik tersebut dalam kesehariannya bekerja. Seorang karyawan yang mampu menerapkan sesuai dengan yang dilakukan oleh pemimpin dapat mewujudkan transisi yang baik di organisasi

Social Exchange (Pertukaran Sosial) (skripsi dan tesis)

Teori pertukaran sosial adalah teori yang membahas pertukaran sumber daya, material maupun simbolik antara dua orang atau lebih. Zafirovski (2005) menjelaskan teori pertukaran sosial didasarkan pada premis bahwa perilaku manusia atau interaksi sosial adalah pertukaran aktivis, baik berwujud maupun tidak berwujud, khususnya imbalan dan biaya. Hal ini memberikan pertukaran manfaat, terutama memberi orang lain sesuatu yang lebih berharga bagi mereka daripada yang mahal untuk memberi dan sebaliknya, sebagai hal yang mendasari atau membuka rahasia tentang perilaku manusia dan jadi fenomena dalam kehidupan sosial. Wayne, Bommer dan Tetrick (2002) menyatakan bahwa teori pertukaran sosial telah diterapkan dalam pengelolaan organisasi yang memberikan dasar untuk memahami peran organisasi dan manajer dalam menciptakan perasaan kewajiban imbalan dan perilaku pro-organisasi. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa pertukaran sosial memiliki persamaan dengan LMX, yaitu untuk menganalisis adanya kualitas hubungan antara seorang pemimpin dan karyawannya

Pengaruh Kepercayaan Terhadap Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Ketika konsumen percaya terhadap suatu layanan atau produk, maka kepuasan konsumen akan meningkat dan akan terus menerus menggunakan layanan atau produk tersebut bahkan akan merekomendasikan kepada orang lain. Sebaliknya jika konsumen sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu layanan atau produk karena pengalaman yang didapat saat menggunakan suatu layanan atau produk maka konsumen akan merasa tidak puas terhadap layanan atau produk tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Deng, Lu dan Zhang (2010) didapatkan bahwa kepercayaan memiliki pengaruh terhadap kepuasan konsumen. Ketika  konsumen memiliki kepercayaan terhadap suatu produk maka konsumen puas akan cenderung puas dan akan meningkatkan kepuasannya untuk waktu selanjutnya. Demikian halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Soegoto (2013) yang meneliti tentang pengaruh persepsi nilai dan kepercayaan terhadap kepuasan dan dampaknya terhadap loyalitas konsumen. Hasil penelitian Soegoto tersebut menemukan bahwa persepsi nilai, kepercayaan dan kepuasan konsumen berpengaruh signifikan secara simultan terhadap loyalitas konsumen. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga membuktikan bahwa kepercayaan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen

Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Tjiptono (2008, p.349) berpendapat bahwa kepuasan konsumen merupakan suatu tanggapan emosional yang dirasakan oleh konsumen pada evaluasi suatu produk yang dikonsumsi. Konsumen yang merasa puas, akan merespon layanan atau produk dengan baik dan bersedia untuk membeli produk lain yang ditawarkan oleh perusahaan serta konsumen tersebut secara tidak langsung akan membantu proses pemasaran melalui Word of mouth dengan mengatakan hal-hal yang positif (Kotler dan Keller, 2009, p.140). Menurut Kotler dan Keller (2009, p.138) kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil dari sebuah produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan. Jika kinerja berada dibawah harapan, konsumen tidak puas. Jika kinerja melebihi harapan maka konsumen akan sangat senang atau puas. Kepuasan itu terjadi saat terpenuhinya kebutuhan atau harapan yang dicapai melalui interaksi yang dilakukan oleh perusahaan dan pembeli (Tjiptono, 2011, p.435)

dimensi kepercayaan konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut McKnight et.al (2002), kepercayaan dibangun antara pihak-pihak yang belum saling mengenal baik dalam interaksi maupun proses transkasi. McKnight et.al menyatakan bahwa ada dua dimensi kepercayaan konsumen, yaitu:

a. Trusting Belief
 Trusting belief adalah sejauh mana seseorang percaya dan merasa yakin terhadap orang lain dalam suatu situasi. Trusting belief adalah persepsi pihak yang percaya (konsumen) terhadap pihak yang dipercaya yang mana perusahaan memiliki karakteristik yang akan menguntungkan konsumen. McKnight et.al (2002) menyatakan bahwa ada tiga elemen yang membangun trusting belief, yaitu benevolence, integrity, competence.

1) Benevolence Benevolence (niat baik) berarti seberapa besar seseorang percaya kepada perusahaan untuk berperilaku baik kepada konsumen. Benevolence merupakan kesediaan perusahaan untuk melayani kepentingan konsumen.
 2) Integrity Integrity (integritas) adalah seberapa besar keyakinan seseorang terhadap kejujuran perusahaan untuk menjaga dan memenuhi kesepakatan yang telah dibuat kepada konsumen. 3
) Competence Competence (kompetensi) adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk membantu konsumen dalam melakukan sesuatu sesuai dengan yang dibutuhkan konsumen tersebut. Esensi dari kompetensi adalah seberapa besar keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan hal yang diinginkan oleh konsumen. Inti dari kompetensi adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
 b. Trusting Intention Trusting intention adalah suatu hal yang disengaja dimana seseorang siap bergantung pada orang lain dalam suatu situasi. Ini terjadi secara pribadi dan mengarah langsung kepada orang lain. Trusting intention didasarkan pada kepercayaan kognitif seseorang kepada orang lain. McKnight et.al (2002) menyatakan bahwa ada dua elemen yang 329 membangun trusting intention yaitu kesediaan konsumen untuk bergantung kepada perusahaan dan kesediaan konsumen secara subyektif.
1) Willingness to depend
Willingness to depend adalah kesediaan konsumen untuk bergantung kepada perusahaan berupa penerimaan resiko atau konsekuensi negatif yang mungkin terjadi.
2) Subjective probability of depending
Subjective probability of depending adalah kesediaan konsumen secara subyektif berupa pemberian informasi pribadi kepada perusahaan, melakukan transaksi, serta bersedia untuk mengikuti saran atau permintaan dari perusahaan

Kepercayaan (skripsi dan tesis)

Menurut Sam dan Tahir (2010, p.21) kepercayaan (trust) adalah sebuah karakteristik yang ditentukan oleh faktor ketidakpastian, kelabilan, dan ketergantungan. Trust didefinisikan sebagai dimensi dari sebuah hubungan yang menentukan suatu tingkat di mana sebuah pihak merasa dapat mempercayai integritas dari janji yang ditawarkan oleh pihak yang lainnya. Kepercayaan (trust) dalam hal ini merupakan sebuah perasaan untuk bisa mempercayai pihak lainnya atas semua janji yang telah diberikan. Morgan dan Hunt (2008) memaparkan bahwa hubungan yang terjadi antara perusahaan dengan konsumen banyak ditentukan oleh kepercayaan dan komitmen. Zikmund (Soegoto, 2013, p.1274) menyatakan kepercayaan berkaitan dengan emotional bonding yaitu kemampuan seseorang untuk mempercayakan perusahaan atau sebuah merek untuk menjalankan sebuah fungsi, sehingga dapat diperkirakan bahwa kepercayaan akan mempunyai hubungan yang positif dengan minat beli ulang dan loyalitas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Lau dan Lee yang menyatakan bahwa faktor trust terhadap sebuah merek merupakan aspek krusial dalam pembentukan loyalitas. Kesediaan konsumen untuk mempercayai atau mengandalkan produk/jasa berkaitan dengan harapan konsumen bahwa produk/jasa yang bersangkutan akan memberikan hasil yang positif (Soegoto, 2013, p.1274). Kepercayaan dan komitmen adalah perantara kunci dalam membangun hubungan jangka panjang bagi konsumen yang memiliki orientasi hubungan yang tinggi terhadap perusahaan.

komponen customer experience (skripsi dan tesis)

Kemudian Schmitt (1999) juga mengelompokkan komponen customer experience kedalam 5 dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur pengalaman konsumen yang terdiri dari:

 1. Sense, yaitu indra yang dimiliki oleh manusia sebagai alat untuk merasakan produk dan jasa yang ditawarkan.
 2. Feel, yaitu rasa yang ditampilkan melalui ide, kesenangan, dan reputasi akan pelayanan konsumen.
 3. Think, yaitu pengalaman menuntut kecerdasan dengan tujuan menciptakan pengalaman kognitif dan pemecahan masalah dengan melibatkan konsumen secara kreatif.
 4. Act, yaitu didesain untuk menciptakan pengalaman konsumen yang berhubungan dengan tubuh secara fisik
 5. Relate, yaitu adanya hubungan dengan orang lain, kelompok sosial lain (seperti pekerjaan, gaya hidup) atau identitas sosial yang lebih luas.

kategori customer experience (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa kategori pada customer experience, seperti halnya Robinnete dan Brand (2008, p.64) yang membagi experience kedalam beberapa kategori, yaitu:

1. Experience in Product
Experience poduct merupakan pengalaman yang dirasakan konsumen terhadap produk atau jasa. Pengalaman merupakan salah satu kekuatan dari produk. Hal ini mengindikasikan bahwa jika perusahaan memberikan produk atau layanan yang maksimal kepada konsumen, maka konsumen akan memperoleh pengalaman yang baik terhadap produk atau jasa yang dikonsumsi.
2. Experience in Environmen
 Experience in environment merupakan kemampuan perusahaan dalam memberikan pengalaman keseluruhan kepada konsumen. Lingkungan usaha merupakan faktor penting dalam menciptakan pengalaman konsumen. Hal ini disebabkan karena lingkungan/ tempat usaha adalah sebuah alat untuk memperkenalkan konsumen kepada keseluruhan pengalaman yang akan dirasakan, dan juga merupakan pertukaran yang paling mudah untuk dilihat (visible) serta pertukaran yang interaktif.
3. Experience in Loyalty Communication
Menyenangkan konsumen merupakan salah satu faktor penentu dalam memberikan pengalaman kepada konsumen. Kesempatan terbaik untuk menyenangkan hati konsumen adalah setelah konsumen memperoleh pelayanan. Sebagian besar perusahaan memberikan suatu pengalaman kepada konsumen hanya sampai pada titik perusahaanan, padahal konsumen terkadang menginginkan sesuatu yang lebih sehingga dapat membuat konsumen percaya pada suatu layanan dan akan menciptakan loyalitas konsumen yang tinggi.
 4. Experience in Customer Service and Social Exchanged
Experience merupakan gabungan antara pelayanan yang diberikan perusahaan dengan harapan konsumen. Karyawan merupakan faktor penting dalam menentukan pengalaman konsumen, karena karyawan merupakan salah satu faktor pendorong konsumen untuk dapat mempercayai sebuah merek atau yang akan membuat konsumen menerima atau menolak merek perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan karyawan dalam memberikan layanan kepada konsumen. 5. Experience in Events Acara-acara yang diadakan perusahaan dapat memberikan pengalaman pada konsumen. Dengan banyaknya acara yang diadakan perusahaan, maka perusahaan mampu mengajak konsumen untuk berpartisipsi dalam acara tersebut. Dengan demikian konsumen akan memperoleh informasi yang jelas tentang produk atau jasa sehingga konsumen mendapatkan pengalaman atas produk atau jasa tersebu

Customer Experience (skripsi dan tesis)

(Ahmad, 2011) mengemukakan bahwa bisnis yang sukses dipengaruhi oleh ketertarikan konsumen pada produk, jasa ataupun perusahaan itu sendiri, pengalaman otentik yang membuat nilai pribadi. Dalam hal ini pengalaman konsumen merupakan prioritas yang berkembang dalam riset pemasaran, karena pengalaman konsumen menentukan kualitas yang dirasakan konsumen dalam persaingan yang kompetitif. Pengalaman konsumen memiliki konsep yang berbeda dengan kualitas layanan karena memerlukan pengukuran yang sesuai. Rini (2009, p.16) mengemukakan bahwa pengalaman konsumen melibatkan panca indera, hati, pikiran, yang dapat menempatkan pembelian produk atau jasa di antara konteks yang lebih besar dalam kehidupan. Irawan (2006) mengatakan bahwa pengalaman konsumen (customer experience) secara sederhana adalah suatu proses, strategi dan implementasi dari suatu perusahaan untuk mengelola konsumen terhadap pengalamannya dengan sebuah produk atau layanan. Pada dasarnya, customer experience adalah penciptaan kepuasaan konsumen melalui pengalaman. Jadi, titik bertumpu kepada produk akhir dari suatu produk atau pelayanan. Oleh karena itu, customer experience adalah soal memahami gaya hidup konsumen dan melebarkan pandangan pemasar dari produk ke proses konsumsi. Evaluasi pengalaman konsumen tergantung pada perbandingan antara harapan konsumen dan kinerja perusahaan. Sedangkan Frow dan Payne (2007) mengartikan customer experience sebagai interpretasi seorang konsumen terhadap interaksi total konsumen tersebut dengan sebuah merek. Kemudian tujuan akhir dari penerapan konsep customer experience ini adalah agar dapat menciptakan hubungan baik dengan konsumen yang selanjutnya akan dapat membangun loyalitas konsumen

Customer Satisfaction (skripsi dan tesis)

Kepuasan merupakan perasaan seseorang yang timbul dari perbandingan kinerja produk yang diterima dengan harapannya. Kotler dan Keller (2008), kepuasan pelanggan (customer satisfaction) diartikan sebagai fungsi dari seberapa sesuainya harapan pembeli produk dengan kinerja yang dipikirkan pembeli atas produk tersebut Sedangkan menurut Zeithaml, et.al. (2006), bahwa yang dimaksud dengan kepuasan pelanggan merupakan respon pemenuhan dari konsumen. Hal ini merupakan penilaian mengenai bentuk dari produk dan layanan, atau mengenai produk atau layanan itu sendiri, dalam menyediakan tingkat kepuasan dari konsumsi yang terpenuhi. Jadi untuk memenuhi kepuasan konsumen maka dapat diukur dari sisi kognitif pembeli yang merasa dihargai setara atau tidak setara dengan pengorbanan yang dilakukannya. Menurut Tjiptono & Gregorius, (2005) membedakan tiga tipe kepuasan dan dua tipe ketidakpuasan, yaitu :

a. Demanding customer satisfaction,
Tipe ini merupakan tipe kepuasan yang aktif. Adanya pengalaman positif dari konsumen, yakni optimisme dan kepercayaan.
 b. Stable customer satisfaction,
Konsumen dengan tipe ini memiliki tingkat aspirasi pasif dan perilaku yang menuntut. Emosi positifnya terhadap penyedia jasa bercirikan steadiness dan trust dalam relasi yang terbina saat ini. Konsumen menginginkan segala sesuatunya tetap sama.
 c. Resigned customer satisfaction,
Konsumen dalam tipe ini juga merasa puas. Namun, kepuasannya bukan disebabkan oleh pemenuhan harapan, namun lebih didasarkan pada kesan bahwa tidak realistis untuk berharap lebih.
 d. Stable customer dissatisfaction,
 Konsumen dalam tipe ini tidak puas terhadap kinerjanya, namun mereka cenderung tidak melakukan apa-apa.
e. Demanding dissatisfaction,
Tipe ini bercirikan tingkat aspirasi aktif dan perilaku menuntut. Pada tingkat emosi, ketidakpuasannya menimbulkan protes dan oposisi

Customer Experience (skripsi dan tesis)

Model customer experience adalah suatu model dalam pemasaran yang mengikuti customer equity. Model ini dikembangkan oleh Bern Schmitt dalam bukunya Customer Experience Management, yang merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya, yaitu Experiential Marketing. Experience adalah peristiwa pribadi yang terjadi sebagai jawaban atas beberapa rangsangan. Pengalaman atau experience melibatkan seluruh dalam setiap peristiwa kehidupan. Dengan kata lain, sebagai pemasar harus menata lingkungan yang benar untuk pelanggan dan apa sebenarnya yang diinginkan pelanggan .Melalui pengalaman yang tepat diberikan maka dapat membuat konsumen merasakan sensasi atau hal yang berbeda dalam produk dan jasa . Menurut Gentile. (2007), pengertian customer experience adalah “The customer experience originates from a set of interactions between a customer and a product, a company, or part of its organization, which provoke a reaction. This experience is strictly personal and implies the customer’s involvement at different levels (rational, emotional, sensorial, physical, and spiritual)”.
Artinya, customer experience didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara pelanggan dan produk, perusahaan, atau bagian dari organisasi, yang menimbulkan reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan keterlibatan pelanggan pada tingkat yang berbeda (baik secara rasional, emosional, sensorik, fisik, dan spiritual). Menurut Meyer & Schwager (2007), customer experience adalah tanggapan pelanggan secara internal dan subjektif sebagai akibat dari interaksi secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Hubungan secara langsung ini biasanya dikarenakan adanya inisiatif dari konsumen. Hal ini biasanya terjadi pada bagian pembelian dan pelayanan. Sedangkan hubungan tidak langsung sering melibatkan perjumpaan yang tidak direncanakan, seperti penampilan produk dan merek, iklan, dan event promosi lainnya. Sementara menurut Chen & Lin (2014), customer experience didefinisikan sebagai pengakuan kognitif atau persepsi menstimulasi motivasi pelanggan. Pengakuan atau persepsi tersebut dapat meningkatkan nilai produk dan jasa. Customer experience merupakan hasil interaksi konsumen dengan perusahaan secara fisik dan emosional. Hasil interaksi ini dapat membekas di benak konsumen dan mempengaruhi penilaian konsumen terhadap perusahaan. Schmitt (1999) menyarankan ada lima tipe customer experience sebagai dasar untuk analisis pemasaran pengalaman keseluruhan, yakni: sense, feel, think, act, dan relate

CETSCALE (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa alat yang dapat digunakan untuk mengukur Etnosentrisme Konsumen dan Consumer Ethnocentric Tendencies Scale ( CETSCALE ) adalah instrument yang paling sering digunakan ( Chryssochidis et al, 2006 ). Skala pengukuran ini dikembangkan oleh Shimp dan Sharma (1987). Pada tahap awal, CETSCALE terdiri dari 117 pernyataan tapi seiring dengan proses penyempurnaan yang melibatkan data dari empat studi di Amerika Serikat, 117 pernyataan tersebut dikurangi menjadi 25 pernyataan dan dan pada akhirnya menjadi 17 perrnyataan. CETSCALE terdiri dari 17 pernyataan yang mengukur tendensi konsumen untuk bertindak konsisten terhadap produk lokal dan produk non lokal. CETSCALE dikembangkan untuk merepresentasikan kepercayaan yang dimiliki oleh konsumen Amerika mengenai kepantasan untuk membeli produk luar negeri. Mereka menemukan bahwa CETSACLE memprediksi keyakinan, sikap, niat, pembelian serta pilihan konsumen. Meraka mengkatagorisasikan skala ini sebagai pengkuran untuk ‘’kecendrungan’’ bukan sikap

Anteseden Etnsentrisme Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Sharmankresh 2004, terdapat 4 katagori anteseden yaitu sosiopsokilogis,ekonomi,politik dan demografis. 4 anteseden ini didapatkan melalui penelitian-penelitian terdahulu.

 1) Anteseden Sosio-psikologis
 Culture Openness
keterbukaan budaya ditentukan oleh kemauan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari budaya lain dan mencoba beberapa hasil kebudayaan ( Sharma,et all1995). Pada awalnya keterbukaan budaya seringkali berpengaruh pada tingkat etnosentrisme konsumen seseorang, namun berdasarkan hasil penelitian harus terdapat perantara yang menghubungkan antara keterbukaan budaya dan etnosentrisme konsumen.

 Worldmindedness
Konsep dari worldmindedness berbeda dengan “cultural openness”. Cultural openness mengacu pada kesempatan untuk berinteraksi dengan kebudayaan selain milik sendiri sedangkan, worldmindedness berarti sebuah perspektif memandang dunia. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan antara bahwa seorang dapat “worldminded” bahkan tanpa berinteraksi dengan kebudayaan lain. Menurut Gomberg (1994; Sharmankresh 2004), beberapa karakteristik dari worldminded consumers yaitu termasuk minat terhadap pengetahuan mengenai masalah international, menghormati semangat dunia dan peningkatan kesepakatan.

  Conservatism
 Orang yang Orang yang konservatif adalah yang memperlihatkan kecenderungan untuk menghargai tradisi dan institusi sosial yang tetap bertahan tak lekang dimakan waktu dan mereka juga sangat enggan dalam hal melakukan perubahan ( Shimp & Sharma, 1987), Penelitian yang dilakukan oleh Balabanis et all ( 2002) menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara konservatisme dan etnosentrisme konsumen
 Collectivism- individual
 Orang dengan dengan tujuan kolektif cenderung lebih memiliki rasa etnosentris dibandingkan dengan yang memiliki tujuan individual ( Sharmankresh, 2004). Bukti empiris mengenai hubungan positif antara kolektivisme dengaetnosentrisme konsumen terdapat pada beberapa penelitian salah satunya Strutton(1994).
  Animosity
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Klein et all (1998) didapatkan definisi dari Animosity yaitu “ Sisa-sisa antipati yang didasarkan oleh peristiwa ekonomi, politik ataupun militer yang berakibat pada perilaku konsumen di pasar internasional”. Contoh yang paling nyata adalah Animosity yang dimiliki oleh masyarakat China terhadap negara Jepang yang dikarenakan dendam politik pada masa lalu.

  Materialism
Orang – orang yang materialistis cenderung bergantung pada kepemilikan akan harta dan materi dalam memuaskan hubungan inter personal mereka (Rindfleisch et all, 1997) dan juga untuk meningkatkan “ sense of  belonging” mereka. Bukti empiris mengenai hubungan positif antara materialism dengan etnosentrisme konsumen ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Clarke et all ( 2000)
  Dogmatism
Dogmatism didefiniskan sebagai sebuah karakteristik kepribadian yang melihat dunia dalam hitam dan putih ( Caruna,1996; Sharmankresh,2004) menemukan konsumen yang dogmatismenya rendah memiliki sikap yang lebih tinggi terhadap produk luar negeri dibandingkan mereka yang lebih dogmatis. Shimp dan Sharma (1987) melaporkan adanya hubungan positif antara etnosentrisme konsumen dengan dogmatisme.
2) Anteseden Politik
Menurut Rosenbalt (1964) propaganda politik adalah salah satu anteseden dari etnosentrisme.propaganda yang dilakukan oleh pemerintah disuatu negara akan mempengaruhi entnosentrisme konsumen dinegara tersebut, seperti yang dilakukan oleh presiden Indonesia pertama Republik Indonesia, bapak Soekarno yang melakukan propaganda politik yaitu anti produk-produk Amerika Serikat 3) Anteseden Demografis Anteseden demografis juga turut mempengaruhi etnosentrisme konsumen, menurut Sharmankresh (2004) terdapatfaktor anteseden yaitu :
 Umur
Adanya argumentasi mengenai hubungan yang positif antara umur dan etnosentrisme konsumen didasari pada peningkatan kosmopolitianisme beberapa tahun belakangan ini dan adanya pengaruh sosio-budaya pada kepercayaan di kalangan remaja. Di beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat etnosentrisme antara orang yang lebih tua dengan orang yang lebih muda.  Gender
Terdapat bukti yang menunjukan perempuan memiliki angka etnosentrisme konsumen yang lebih tinggi daripada laki-laki ( Sharma et all,1995). Pokok logika dari pemikiran ini adalah perempuan lebih kosnervatif,konformis dan kolektivisme tinggi mengenai perasaan positif terhadap barang yang berasal dari negeri sendiri ( Triandis et all 1985 dalam Sharmankresh, 2004)
 Pendidikan
Hubungan tingakat pendidikan dengan etnosentrisme konsumen hampir semuanya hasilnya negatif ( Klein & Etterson, 1999 dalam Sharmankresh, 2004) . Namun penelitian yang dilakukan oleh Watson & Johnson (1972; Sharmakresh 2004) menunjukkan bahwa orang-orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi akan lebih sedikit memiliki rasa etnosentrisme konsumen.

  Pendapatan
Kebanyakan penelitian menemukan bahwa adanya hubungan negatif antara tingkat pendapatan dengan etnosentrisme konsumen. Peningkatan tingkat pendapatan seseorang membuat semakin banyaknya kesempatan untuk berwisata dan membeli barang ke negara lain, hal ini dapat menimbulkan adanya peningkatan perspektif cosmopolitan.
 Ras
Penelitian yang dilakukan oleh Piron & Klein (1999; Sharmankresh, 2004) tidak menemukan ras berpengaruh signifikan terhadap etnosentrisme konsumen. Namun, Cottingham & Morris (1991; Sharmankresh, 2004) menemukan fakta bahwa ras minoritas menaruh minat yang lebih besar terhadap produk luar negeri dibandingkan ras mayoritas.

 Kelas sosial.
Kelas social sosial berkorelasi dengan pendapatan, artinya semakin tinggi pendapatan seseorang akan semakin tinggi kelas sosial seseorang yang akhirnya membuat tingkat etnosentrisme konsumennya semakin rendah (Sharmankresh, 2004).
4) Anteseden Ekonomi
Penelitian – penelitian sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh dari lingkungan ekonomi terhadap tingkat etnosentrisme, Rosenblatt (1964; Sharmankresh, berpendapat bahwa kapitalisme dapat berpengaruh negative terhadap etnosentrisme. selain itu, Schuh ( 1994 dalam Sharmankresh 2004) menemukan adanyahubungan antara perbedaan perkembangan tingkat ekonomi dengan preferensi konsumen terhadap produkasing

Pengertian Etnosentrisme Konsumen (skripsi dan tesis)

Seiring dengan berkembangnya waktu, terdapat perkembangan mengenai etnosentrisme, Shimp dan Sharma menghubungkan etnosentrisme dengan bidang ekonomi. Mereka mendefinisikan entnosentrisme konsumen sebagai : ‘’The beliefs held by (America) consumer about approprlateness, indeed morality, of purchasing foreign-made product’’ Konsep mereka mewakili kepercayaan yang dianut oleh konsumen tentang kelayakan dan moralitas pembelian produk impor, dan loyalitas terhadap orangorang dalam negeri. (shimp dan Sharma, 1987) juga menyatakan bahwa Etnosentrisme Streotyped imagery Positive in Group imagery Negative in Group imagery Sociological influences konsumen ethnocentrism adalah pola perilaku yang terbentuk pada masa kanak – kanak dan bersifat tidak elastis terhadap atribut – atribut produk seperti harga dan kualitas produk. Tingkat ethnocentrism yang tinggi dapat menghambat pembelian produk – produk asing dan meningkatkan kecenderungan akan evaluasi yang negative terhadap produk – produk asing (Auruskeviciene, Vianelly, Reardon, 2012) Menurut konsep tersebut, konsumen yang etnosentris mungkin berfikir bahwa membeli produk buatan luar negeri melukai ekonomi negara mereka, menyebabkan pengangguran dan lain-lain. Sebaliknya mereka yang tidak memiliki kecendrungan etnosentris, membeli produk tidak harus didasarkan memandang produk itu berasal, namun yang terpenting secara fungsional produk tersebut.
Pada beberapa teori, consumer etnosentrisme seringkali disamakan dengan ‘’Country Of Origin’’ meskipun kedua topic ini berbeda dan tidak saling ketergantungan. Dalam penelitian Herche (1992; Sharmankresh,2004) dijelaskan perbedaannya, COO mempersentasikan aspek kognitif dan apektif dari proses keputusan konsumen dimana konsumen etnosentrisme adalah aspek normative dan kognitif dari prilaku pembeli. Konsumen akan lebih bergantung apada isarat COO ketika informasi produk sangatlah sedikit (Olsen et al,1993; Sharmankresh 2004). Kedua hal ini juga bisa dipengaruhi respon afektif yang konsumen miliki terhadap negara-negra tertentu

Etnosentrisme (skripsi dan tesis)

Etnosenrisme pada awalnya merupakan istilah antropologi dan sosiologi. Berasal dari bahasa Yunani terdiri dari kata Ethnos yang brarti negara Centros yang berarti pusat. Secara harfiah berarti bahwa negara adalah pusat dimana semuanya dimulai dan berakhir (Siamagka, 2010). Etnosentrisme pertama kali diperkenalkan oleh summer (1906; Shimp&Sharma,1987) yang definisikan etnosentrisme sebagai berikut : “ The view of thing in which one’s own group is the center of everything ang all others are scaled and rated with reference to it.. Each group nourishes its own pride and vanity,boast it self superior, exalts its own divinities and looks with contempt on outsiders”. Hal ini berarti etnosentrisme merujuk pada sikap,kepercayaan, standar dan prilaku seseorang yang berlebihan terhadap suatu lingkungan. Individu yang menunjuk etnosentrisme memandang bahwa nilai-nilai atau norma-norma yang dimiliki oleh budaya masyarakatnya lebih superior disbanding dengan budaya masyarakat lain (Barfield 1997; Kosim,2006)

Pengaruh Kualitas Komunikasi OrganisasiTerhadap Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Melalui Kepuasan Nasabah Sebagai Variabel intervening Berdasarkan dari beberapa penelitian, mengajukan teori bahwa kepuasan pelanggan dijelaskan sebagai variabel intervening. Sehingga dalam peta pelayanan perbankan yang baru, posisi Kualitas Komunikasi Organisasidiyakini semakin kuat menciptakan loyalitas nasabah, sedangkan kepuasan nasabah menjadi faktor yang dapat mempengaruhi Kualitas Komunikasi Organisasi terhadap loyalitas nasabah. Seorang nasabah akan loyal kepada bank apabila pelayanan yang diberikan oleh pihak bank tersebut baik, seperti karyawan yang ramah, cepat tanggap dsb. Sehingga nasabah merasakan kepuasan dan akan loyal kepada bank tersebut. Lueget al, (dalam Musriha, 2012) bahwa Kualitas Komunikasi Organisasi juga mempengaruhi loyalitas pelanggan. Komunikasi diterima dengan baik oleh pelangganakanmendapatkan respon yang baik daripelanggan juga. Respon ini dapat berupa pembelian ulang dan berbelanja lagi. Jika hal ini terjadi maka Kualitas Komunikasi Organisasi dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan melalui kepuasan. Kepuasan adalah salah satu penyebab terbentuknya loyalitas nasabah. Dalam prosesnya, loyalitas ditimbulkan oleh kepuasan tetapi bukan kepuasan pada tingkat ”cukup puas” melainkan kepuasan pada tingkat tertentu yaitu ”sangat puas” dimana hal itu dapat menciptakan loyalitas nasabah

Pengaruh Kepuasan Nasabah Terhadap Loyalitas Nasabah (skriipsi dan tesis)

Hubungan kepuasan pelanggan dengan loyalitas pelanggan sangat sederhana. Apabila kepuasan meningkat maka loyalitas akan meningkat pula. Menurut Lovelock(dalamChristopher.H dan Wright,Lauren.K. 2005:102) menjelaskan bahwa kepuasan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan,kejengkelan, netralitas, kegembiraan atau kesenangan.Tidak mengherankan bahwa perusahaan telah menjadi terosebsi dengan kepuasan pelanggan, mengingat hubungannya yang langsung dengan kesetiaan pelanggan, pangsa pasar dan keuntungan. Sehingga Pelanggan yang sangat puas akan loyal terhadap produk yang dipakainya dengan membeli lebih banyak, merekomendasikan produk kepada kerabat dan teman – temannya, kurang peka terhadap harga dan memberi ide – ide tentang pelayanan yang lebih baik

Pengaruh Kualitas Komunikasi Organisasi Terhadap Kepuasan Nasabah

Menurut Kotler (2003:138)Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesan terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya.  Berdasarkan peneliti terdahulu Kualitas Komunikasi Organisasi berpengaruh terhadap kepuasan nasabah. Jadi, kepuasan merupakan fungsi dari persepsi atau kesan atas kinerja dan harapan. Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan maka pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan amat puas atau senang.Kunci untuk menghasikan kesetian pelanggan adalah memberikan nilai pelanggan yang tinggi.

Pengaruh Kualitas Komunikasi Organisasi Terhadap Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Secara Langsung Berdasarkan dari beberapa penelitian, menjelaskan bahwa secara signifikan pengaruh Kualitas Komunikasi Organisasi dapat secara langsung menciptakan loyalitas nasabah. Sehingga apabila komunikasikaryawan dilakukan secara baik, maka loyalitas nasabah semakin tinggi. Lueget al, (dalam Musriha, 2012) mengungkapkan bahwa komunikasi juga mempengaruhi perilaku pelanggan untuk pembelian ulang.Komunikasi karyawan diterima dengan baik oleh pelanggan akan mendapatkan respon yang baik dari pelanggan juga. Respon ini dapat berupa perilaku untuk pembelian ulang lagi.Jika hal ini terjadi, maka Kualitas Komunikasi Organisasi dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan

Dimensi Kualitas Komunikasi Organisasi (skripsi dan tesis)

Keunggulan suatu produk atau pelayanan tergantung pada kelebihan dariKualitas Komunikasi Organisasi.MenurutMusriha(2012) kualitas komunikasi termasukdalamduadimensi,yaitu:

1. Komunikasi Impersonal adalah komunikasi yang ditujukan kepada audience yang luas dan tersebar, tanpa komunikasi langsung antara sumber dan penerima. Juga dikenal sebagai komunikasi massa. Yang dapat diukur melalui kualitas gambar, penampilan tulisan, Brosur-brosur, Pamflet, X-Banner dan spanduk yang menarik dan yang mudah dipahami oleh nasabah dan masyarkat.

2. Komunikasi Interpersonal, adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap dan menanggapi 26 reaksi orang lain secara langsung, atau secara verbal. Komunikasi interpersonal terdiri dari lima indikator :

a. Komunikasi yang baik
 b. Pemberian komunikasi dengan informasiyang superior
c. Akurasi d. Mudah

Kualitas Komunikasi (skripsi dan tesis)

Organisasi Kualitas Komunikasi OrganisasimenurutSengupta&Pusateri(dalam Musriha, 2012)secara operasional didefinisikan sebagai sejauh manaisi komunikasi yang dapat diterima dan dipahami oleh orang lain yang terlibat dalam proses komunikasi. Hal ini jugadiperkuatolehpendapatHeadley&Choi(dalam Musriha, 2012)bahwasarana yang terbaikbagi konsumen untukmencapai kualitasadalah melaluikomunikasi karyawan antarapenyedia layanandan penerimalayanan.Artinya,semakin tinggiKualitas Komunikasi Organisasi antaraperusahaandan pelanggan, semakin tinggikualitasjasa yang diberikan. Kualitas Komunikasi Organisasimenjadi sangatpenting karenaKualitas Komunikasi Organisasimerupakan cerminandarikualitaskomunikasi perusahaankepada para pelanggannya

Teori Elemen Komunikasi (skripsi dan tesis)

Menurut Joseph Dominickdalam Morissan& Andy Corry Wardhani (2009), Setiap peristiwa komunikasi akan melibatkan delapan elemen komunikasi, yang meliputi:

 1. Komunikator
Proses komunikasi dimulai atau berawal dari sumber(source) atau pengirim pesan, yaitu dimana gagasan, ide, atau pikiran berasal, yang kemudian akan disampaikan kepada pihak lainnya, yaitu penerima pesan. Sumber atau pengirim pesan sering pula disebut dengan „komunikator‟. Sumber atau  komunikator bisa jadi adalah individu, kelompok, atau bahkan organisasi. Komunikator mungkin mengetahui atau tidak mengetahui pihak yang akan menerima pesannya.
2. Enkoding
Enkoding (Encoding) dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran dan ide-idenya kedalam suatu bentuk yang dapat diterima oleh indra pihak penerima. Jika anda akan mengatakan sesuatu, maka otak dan lidah akan bekerja bersama untuk menyusun kata-kata dan membentuk kalimat. Enkoding dalam proses komunikasi dapat berlangsung satu kali, namun dapat terjadi berkali-kali.

 3. Pesan
Jika anda tengah menonton televisi, maka program yang tengah anda saksikan atau dengar adalah pesan. Pesan memiliki wujud (physical) yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra.Joseph Dominick dalam Morissan& Andy Corry Wardhani(2009)mendifinisikan pesan sebagai the actual physical product that the source encodes(produk fisik aktual yang telah di enkoding sumber).
4. Saluran
Saluran atau channel adalah jalan yang dilalui pesan untuk sampai kepada penerima. Gelombang radio membawa kata-kata yang diucapkan penyiar distudio atau membuat pesan visual yang ditampilkan di layar kaca televise, aliran udara dapat juga berfungsi sebagai saluran.
 5. Dekoding
 Dekoding adalah kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik kedalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima. Ketuka anda membaca kalimat pada buku ini, maka anda melakukan dekoding terhadap pesan yang ada di buku ini.
6. Komunikasi Penerima atau Receiver
atau disebut juga audiens adalah sasaran atau target dari pesan. Penerima sering disebut dengan „komunikan‟. Penerima dapat berupa satu individu, satu kelompok, lembaga, atau bahkan suatu kumpulan besar manusia yang tidak saling mengenal. Misalnya dalam komunikasi melalui telepon.
7. Umpan Balik
 Umpan balik atau feedback adalah tanggapan atau respons dari penerima pesan yang membentuk dan mengubah pesan. umpan balik menjadi tempat perputaran arah dari arus komunikasi. Artinya, sumber pertama, kemudian menjadi penerima, sementara penerima pertama menjadi sumber baru.
 8. Gangguan
 Gangguan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengintervensi proses pengiriman pesan. Gangguan yang sangat kecil mungkin dapat diabaikan, namun terlalu banyak gangguan dapat menghambat pesan untuk mencapai tujuannya. Setidaknya, terdapat 3 jenis gangguan yaitu ganguan semantik, gangguan mekanik, dan gangguan lingkungan

Teori Komunikasi (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Jenis Pembagian berdasarkan cara ini dapat membantu kita melihat persamaan dan perbedaan diantara berbagai teori komunikasi. Menurut James Anderson dalam Morissan& Andy Corry Wardhani (2009) menyebutkan pembagian teori berdasarkan jenis ini dengan nama wilayah teori konvensional yang terdiri atas:
 a. Teori Struktural dan Fungsional
Teori ini lebih menekankan pada akibat dari tindakan yang tidak disengaja daripada hasil atau akibat yang disengaja. Kalangan strukturalis tidak percaya pada konsep-konsep seperti subyektivitas dan kesadaran serta berupaya mencari faktor-faktor yang berada diluar kontrol dan kesadaran dari orang yang terlibat. Karena alasan inilah, teori struktural dan fungsional sering disebut sebagai antihumanis. b. Teori Kognitif dan Tingkah Laku
Teori ini cenderung untuk memusatkan perhatiannya pada individu dan karenanya, ilmu psikologi menjadi sumber utama teori ini. Menurut pendukung teori kognitif, psikologi tingkah laku memiliki fokus perhatian pada hubungan antara stimuli(input) dan respon(output)yang terwujud dalam bentuk tingkah laku. Dengan demikian, teori kognitif mengakui hubungan yang kuat antara stimuli dan respons namun teori ini lebih menekankan pada terjadinya proses penyampaian informasi di antara keduanya.
c. Teori Interaksi
Teori komunikasi yang masuk dalam kelompok teori interaksi memandang kehidupan sosial sebagai suatu proses interaksi. Dengan demikian, Komunikasi merupakan bentuk interaksi. Komunikasi adalah kendaraan atau alat yang digunakan untuk bertingkah laku dan untuk memahami serta memberi makna terhadap segala sesuatu disekitar kita.
d. Teori Interpretasi
Teori ini cenderung menghindari penilaian yang bersifat menentukan terhadap gejala yang diamati. Interpretasi terhadap suatu gejala berdasarkan ketentuan yang bersifat sementara dan relatif
 e. Teori Kritis
Teori kritis atau critical theory merupakan sekumpulan gagasan yang disatukan oleh kepentingan bersama untuk memajukan atau meningkatkan kualitas komunitas dan kualitas kehidupan manusia. Teori ini memberikan fokus perhatian pada isu-isu seputar ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di masyarakat

Kualitas (skripsi dan tesis)

Pengertian atau definisi kualitas mempunyai cakupan yang sangat luas, relatif, berbeda-beda dan berubah-ubah, sehingga definisi dari kualitas memiliki banyak sudut pandang dan sangat bergantung pada konteksnya. Terutama jika dilihat dari sisi penilaian akhir konsumen dan definisi yang diberikan oleh berbagai ahli serta dari sudut pandang produsen sebagai pihak yang menciptakan kualitas. Konsumen dan produsen itu berbeda dan akan merasakan kualitas secara berbeda pula sesuai dengan standar kualitas yang dimiliki masing-masing. Begitu pula para ahli dalam memberikan definisi dari kualitas juga akan berbeda satu sama lain karena mereka membentuknya dalam dimensi yang berbeda. 19 Upaya mendifinisikan kualitas dalam organisasi jasa tertentu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan.Meski demikian, dari berbagai literatur dijumpai beberapa definisi kualitas yang banyak dikutip dan diadaptasi.
Adapun beberapa definisi kualitas yang dikemukakan oleh beberapa ahli (dalam ZulianYamit, 2001:7).
 1.Josep M. Juran
Mendefinisikan kualitas sebagai kecocokan untuk pemakaian (fitness for use). Definisi ini menekankan orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan.
 2. Philip B. Crosby
Pendekatan Crosby menaruh perhatian besar pada transformasi budaya kualitas. Ia mengemukakan pentingnya melibatkan setiap orang dalam organisasi pada proses, yaitu dengan jalan menekankan kesesuaian individual terhadap persyaratan/ tuntutan .
3. W. Edwards Deming
Strategi Deming didasarkan pada alat-alat statistik. Strategi ini tidak memperhitungkan biaya ketidakpuasan pelanggan, karena menurutnya, itu tidak mungkin diukur. Strategi Deming berfokus pada proses untuk mengeliminasi variasi karena sebagian besar dapat dikendalikan manajemen. Deming sangat yakin bahwa bila karyawan diberdayakan untuk memecahkan masalah (dengan catatan manajemen menyediakan alat-alat yang cocok), maka kualitas dapat disempurnakan terus-menerus.
Pengukuran dimensi kualitas yang dikemukakan oleh Zeithaml, Berry dan Parasuraman (dalam ZulianYamit, 2001:19) adalah sangat tepat digunakan untuk mengukur kualitas jasa pelayanan, yaitu ditentukan oleh variabel harapan konsumen dan kinerja yang dirasakan. Pengukuran kualitas dapat dilakukan melalui perhitungan biaya kualitas dan melalui penelitian pasar mengenai persepsi konsumen terhadap kualitas, seperti: menemui konsumen, survey, sistem pengaduan

Dimensi Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

 Gerson menyatakan dalam (Amin, 2007:113) terdapat lima dimensi yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu :
 1. Kecepatan pelayanan yaitu dapat dilihat dari kecepatan memberikan tanggapan
2. Keramahan karyawan yaitu dapat dilihat dari perilaku sopan santun, tutur kata, penampilan menarik.
 3. Pengetahuan karyawan yaitukemampuan untuk menjelaskan dengan memuaskan, memberikan advokasi dan alternative solusi.
4. Jumlah pelayanan yang tersedia yaitu rasio – rasio tempat layanan dengan yang dilayani atau rasio jumlah aparat dengan yang dilayani.
5. Tampilan formalitas yaitu dapat dilihat dari ketersediaan sarana pendukung, kerapian dan kenyamanan lingkungan.

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (dalam Tjiptono 2004) yang dikutip dari Buku Total Quality Management ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran kepuasan pelanggan, diantaranya :
a. Sistem keluhan dan saran
 Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered) memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak saran, kartu komentar, customer hot lines, dll.Informasi-informasi ini dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan memungkinkannya untuk bereaksi secaratanggap dan cepat untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
b. Ghost shopping
Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan.
c. Lost customer analysis (analisis kehilangan pelanggan) P
erusahaan sebaiknya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting, peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
 d. Survey kepuasan pelanggan
 Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan penelitian survey, baik melalui pos, telepon, maupun wawancara langsung.Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya. Metode survey kepuasan pelanggan dapat menggunakan pengukuran dengan berbagai cara, yaitu :
1) Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan seperti ”Ungkapkan seberapa puas Saudara terhadap pelayanan X pada skala berikut : sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, sangat puas”(directly reported satisfaction).
 2) Responden juga dapat diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang mereka rasakan (derived satisfaction).
3) Metode lain adalah dengan meminta responden untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka miliki dengan penawaran dari perusahaan dan untuk menuliskan perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan (problem analysis).
4) Selain itu responden juga dapat diminta untuk meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemendan seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen (importance/performance ratings)

Kepuasan Nasabah (skripsi dan tesis)

Kepuasan nasabah adalah tingkat perasaan dimana seseorang menyatakan hasil perbandingan antara kinerja produk (jasa) yang diterima dengan yang diharapkan (Kotler; dalam Dibyo Iskandar 2007). Faktor utama penentu kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan terhadap kualitas jasa (Zeithaml dan Bitner; dalam Dibyo Iskandar 2007). Pencapaian, kepuasan pelanggan melalui kualitas pelayanan dapat ditingkatkan dengan beberapa pendekatan (Lupiyoadi; dalam Dibyo Iskandar 2007) yaitu :

a. Memperkecil kesenjangan yang terjadi antara pihak manajemen dan pelanggan.
b. Perusahaan harus mampu membangun komitmen bersama untuk menciptakan visi di dalam perbaikan proses pelayanan.
 c. Memberi kesempatan kepada pelanggan untuk menyampaikan keluhan lewat saran dan kritik dengan sarana yang disediakan perusahaan.
 d. Mengembangkan dan menerapkan accountable, proactive, dan partnership marketing sesuai dengan situasi pemasaran.
Kepuasan pelanggan adalah perasaan (feeling) yang dirasakan pembeli dari kinerja perusahaan yangmemenuhi harapan mereka. Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller(2007:177) yang dikutip dari buku Manajemen Pemasaran mengatakan bahwa ”Kepuasan Pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan”. Sedangkan menurut ZulianYamit (2001:77) yang dikutip dari buku Manajemen Kualitas mengatakan bahwa “Seorang pelanggan, jika merasa puas dengan nilai yang diberikan oleh produk atau jasa, sangat besar kemungkinannya menjadi pelanggan dalam waktu yang lama.Kepuasan pelanggan merupakan faktor kunci bagi pelanggan dalam melakukan pembelian ulang.Memberikan kepuasan kepada pelanggan hanya dapat diperoleh kalau perusahaan memperhatikan apa yang diinginkan pelanggan”.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan kepuasan nasabah adalah perasaan pelanggan saat menerima dan setelah merasakan pelayanan bank

Dimensi Loyalitas Pelanggan (skripsi dan tesis)

Sementara itu HermawanKartajaya (2003:126) menyatakan bahwa pelanggan yang sudah setia (loyal) bersedia membeli walaupun dengan harga yang sedikit mahal dan senantiasa melakukan repeat purchase serta merekomendasikan  produk atau jasa tersebut pada orang lain. Ada beberapa dimensi loyalitas pelanggan antara lain :
1. Repeatation(Kesetiaan terhadap pembelian produk, melakukan pembelian ulang secara teratur)
2. Purchase accros product line (Membeli di luar lini produk atau jasa)
3. Retention(Tidak terpengaruh daya tarik pesaing atau menolak produk pesaing)
4. Recommendation (Mereferensikan produk atau jasa kepada orang lain)
Mereka yang dikategorikan sebagai pelanggan yang setia ialah mereka yang sangat puas dan produk tertentu sehingga mereka mempunyai antusiasme untuk memperkenalkan kepada siapapun yang mereka kenal.Pada tahap berikutnya pelanggan yang loyal tersebut akan memperluas kesetiaan mereka dengan produk-produk buatan produsen yang sama yang pada akhirnya akan membentuk sebagai pelanggan yang setia kepada suatu produsen tertentu.

Pengukuran Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

 Adapun untuk mengukur loyalitas nasabah dalam penelitian ini mengacu pada Zeithaml(dalam Musriha, 2012) mengukur loyalitas pelangganmelalui :
1. Intensi perilaku positif yang tercermin dalam kemampuan penyedia layanan untuk memiliki pelanggan.
2. Mengungkapkan hal-hal positif tentang mereka.
3. Merekomendasikan mereka kepada pelanggan lain.
4. Tetap setia kepada mereka.
 5. Menghabiskan lebih banyak uang dengan mereka.
6. Membayar harga premium

Loyalitas pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2011:18) menyebutkan bahwa “customer loyalty adalah suatu pembelian ulang yang dilakukan oleh seseorang pelanggan karena komitmen pada suatu merek atau perusahaan”. Pada awal perkembangannnya kesetiaan pelanggan 12 lebih dikaitkan dengan perilaku.Ini dapat dilihat dari teori belajar tradisional (Classical and Instrumental Conditioning) yang cenderung melihat kesetiaan dari aspek perilaku. Nasabah dianggap mempunyai kesetiaan terhadap suatu merek tertentu jika ia telah membeli merek yang sama tersebut sebanyak tiga kali berturut-turut. Loyalitas pelanggan bersifat dinamis dan bisa berubah dikarenakan berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan, perubahan tahapan dalam siklus hidup, aktivitas promosi perusahaan, perubahan pendapatan, norma subyektif (Tjiptono, 2012:84). Menurut Dick &Basu (dalam kotler 2011:393)
Ada empat jenis loyalitas pelanggan sebagai berikut:
 1. No Loyalty Pelanggan yang seperti ini jarang berbelanja ke tempat yang sama untuk yang ke dua kalinya. Umumnya mereka selalu berganti-ganti tempat.
2. Spurious Loyalty Pelanggan jenis ini membeli sesuatu karena faktor kebiasaan. Biasanya mengunakan produk tertentu atau sudah merasa cocok. Pelanggan tidak mau pindah membeli di tempat lain.
 3. Latent Loyality Pelanggan seperti ini mempunyai tingkat pembelian ulang yang rendah. Faktor situasi menyebabkan seseorang akan melakukan pembelian atau tidak sama sekali.
 4. Loyality Pelanggan sangat bangga terhadap produk yang digunakan. Bahkan mereka mereferensikan kepada teman dan keluarganya. Tingkat loyalitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Dari berbagai teori diatas, dapat disimpulkan bahwa loyalitas nasabah adalah kesetiaan nasabah setelah mengalami pelayanan yang dinyatakan dalam perilaku untuk menggunakan jasa bank tersebut dan mencerminkan adanya ikatan jangka panjang antara bank dan nasabah

Pengaruh Komitmen Nasabah terhadap Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Menurut Luh Kadek (2013 : 14) terbentuknya komitmen pada diri konsumen, merupakan kondisi yang diharapkan perusahaan karena komitmen mengindikasikan totalitas sumber daya yang dimiliki akan diinvestasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Kondisi ini merupakan cerminan loyalitas konsumen terhadap perusahaan. Persepsi konsumen terhadap nilai (value) akan menyebabkan meningkatnya komitmen dan loyalitas pada perusahaan dan menemukan hubungan positif antara nilai yang diterima oleh konsumen dan loyalitas pada perusahaan. Menurut Morgan and Hurt (1994) (dalam Ika Riskiyati, 2012 : 243)) komitmen merupakan komponen penting dari hubungan pemasaran, salah satu komitmen hubungan hasilnya yang sering disebut dalam literatur adalah perilaku loyalitas. Menurut Dimitriades (2006 : 791) (dalam Ika Riskiyati, 2012 : 244)) pelanggan yang mempunyai komitmen terhadap perusahaan akan mempunyai perasaan yang positif terhadap perusahaan, serta memperlihatkan adanya keinginan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam perusahaan.

Pengaruh Kepercayaan terhadap Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Timbulnya kepercayaan karena hasil dari keandalan yang ditunjukkan melalui sikap seperti konsistensi, kompeten, adil, tanggung jawab, suka menolong dan memiliki kepedulian. Dalam konteks hubungan perusahaan dan terhadap loyalitas, kepercayaan timbul ketika perusahaan dapat menunjukkan kemampuan, keahlian, dan kehandalannya. Menurut Rahmani-Nejad, L., et.,al (2014 : 263) seperti dengan kesetiaan, kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis khusus yang hanya dapat terjadi dalam hubungan tertentu. Ketika seorang pelanggan percayaan, pelanggan memiliki keyakinan dalam kualitas layanan dan kualitas produk organisasi. Pelanggan yang mempercayai sebuah produk jasa lebih cenderung menjadi setia kepada perusahaan menunjukkan bahwa prasyarat kepercayaan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan. Menurut Adi Wahyu et.,al (2013 : 3) kesetiaan konsumen akan timbul bila ada kepercayaan dari konsumen terhadap merek produk sehingga ada komunikasi dan interaksi diantaranya konsumennya yaitu membicarakan produk tersebut.
 Hubungan antara kepercayaan dengan loyalitas pelanggan yaitu, semakin tinggi kepercayaan konsumen terhadap produk, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesetiaan konsumen pada suatu merek. Pernyataan tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Fadjar (2008) (dalam Adi Wahyu et.,al (2013 : 3) bahwa kepercayaan produk berpengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen dalam menggunakan merek. Menurut Moh. Muzahid et.,al (2009 : 28) sejumlah peneliti telah menganjurkan kepercayaan adalah mendasar dalam membangun kesetian konsumen. Pentingnya kepercayaan dalam menjelaskan kesetiaan juga didukung oleh penulis seperti Lim dan Razzaque (1997), Garbarino dan Johnson (1999) (dalam Moh. Muzahid et.,al (2009 : 28)) bahwa di pasar dengan alternatif cocok kurangnya kepercayaan mungkin menyebabkan negatif kesetiaan konsumen

Indikator Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Menurut Hatane Semuel (2012 : 35) memiliki indikator yaitu setia terhadap satu perusahaan, melakukan pembelian secara teratur atau berulang – ulang, merekomendasikan produk perusahaan ke orang lain, merekomendasikan layanan perusahaan kepada orang lain, tidak tertarik beralih ke perusahaan lain. Dalam penelitian ini dikatakan bahwa diperlukan responden untuk mengevaluasi tentang loyalitas nasabah yaitu nasabah tetap setia terhadap satu perusahaan saja, nasabah melakukan pembelian secara berulang – ulang, nasabah merekomendasikan produk – produk perusahaan kepada orang lain, nasabah merekomendasikan pelayan perusahaan kepada orang lain, nasabah tidak tertarik beralih ke perusahaan lain.

Loyalitas Nasabah (skripsi dan tesis)

Definisi loyalitas nasabah menurut Tatik Suryani (2013 : 109) Kesetiaan pelanggan akan menjadi kunci sukses, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Adapun faktor – faktor yang merupakan komponen dari sikap yang berpengaruh dalam pembentukan kesetiaan nasabah ini adalah sebagai berikut :

a. Anteseden Kognitif
 Unsur – unsur dari aspek kognitif yang berupa pikiran dan segala proses yang terjadi seperti kemampuan mengingat, kemampuan memusatkan pikiran, dan kejelasan mengenai sikap terhadap suatu produk berpengaruh pada kesetiaan nasabah.

b. Anteseden Afektif
Kondisi emosional (perasaan) pelanggan yang merupakan komponen dari sikap akan membentuk kesetiaan pelanggan. Aspek dari perasaan ini meliputi emosi  suasana hati setelah menggunakan produk atau mendapatkan layanan merupakan konsisi penting yang dapat membentuk kesetiaan nasabah.

c. Anteseden Konatif
Konatif adalah kecenderungan yang ada pada pelanggan untuk melakukan tindakan tertentu. Ada tiga faktor mempengaruhi kecenderungan yang ada pada nasabah berperilaku setia terhadap pada suatu merek, yaitu biaya peralihan, harapan, sunk cost. Konsep kesetiaan nasabah yang mengaitkan antara sikap dan perilaku ini hingga sekarang dianggap lebih komprehensif dan lebih bermanfaat bagi pemasar. Menurut Mozhgan et.,al (2013 : 37) kesetiaan kepada struktur lainnya menyajikan konsep-konsep yang berbeda dan ada definisi yang berbeda kesetiaan. Konsep Layanan kesetiaan lebih rumit daripada loyalitas merek yang biasanya digunakan untuk barang. Disajikan sebuah model untuk perilaku dan sikap kesetiaan di mana dua pendekatan yang agak arah yang sama. Loyalitas ditampilkan dalam situasi di mana konsumen menunjukkan begitu banyak ketergantungan pada satu pemasok dan membeli kembali tingkat tinggi pada waktu itu, namun situasi itu tidak ada dalam setiap negara lain. Misalnya, dalam kasus loyalitas, palsu membeli kembali suku bunga yang tinggi meskipun ada tingkat rendah sikap postif. Di sini, penyedia tidak memiliki preferensi atau keuntungan untuk partikular. Loyalitas berdasarkan fakta bahwa mungkin ada dalam lampiran untuk sebuah merek dagang tetapi hal ini tidak terkait dengan tingkat tinggi dari pembelian. Itu berarti bahwa konsumen dapat berhak ke suatu proporsi dari penyedia tapi karena berbagai alasan, seperti atau waktu, sumber daya terbatas atau keuangan alasan, atau mental ia tidak mampu membeli dari pemasok. Tentu saja, alasan lain mungkin menjadi kendala dalam cara konsumen yang dia tidak tertarik membeli dari pemasok setiap. Dalam ketidak setiaan modus tidak ada juga sikap yang menguntungkan ke pemasok dan pembelian rate yang rendah. Menurut Musanto (2004 : 128) (dalam Media Febrianingtyas et.,al (2014 : 5)) salah satu tujuan puncak implementasi strategi pemasaran adalah untuk mencapai loyalitas pelanggan. Loyalitas adalah dorongan perilaku untuk melakukan pembelian secara berulang-ulang dan untuk membangun kesetiaan pelanggan terhadap suatu produk/jasa yang dihasilkan oleh badan usaha.

 Senada dengan Musanto, Shet dan Mittal (2004: 155) (dalam Media Febrianingtyas et.,al (2014 : 5)) mengemukakan bahwa loyalitas adalah komitmen pelanggan atas suatu merk, toko atau pemasok berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten. Loyalitas pelanggan merupakan tujuan pokok dari implementasi strategi pemasaran. Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat di simpulkan bahwa loyalitas adalah hasil positif dan dapat membawa efek positif pula bagi perusahaan. Dengan tercapainya loyalitas pelanggan, diharapkan pelanggan dapat melakukan pembelian berulang. Terlebih lagi jika tingkat loyalitas tinggi, pelanggan akan dengan senang hati merekomendasikan produk perusahaan dengan melakukan penyebaran informasi produk perusahaan yang positif. Menurut Luh Kadek (2013 : 12) loyalitas adalah respon perilaku/ pembelian yang yang bersifat bisa dan terungkap secara terus-menerus oleh 27 pengambil keputusan dengan memperhatikan satu atau lebih merek alternatif dari sejumlah merek sejenis dan merupakan fungsi proses psikologis. Namun perlu ditekankan bahwa hal tersebut berbeda dengan perilaku beli ulang, loyalitas pelanggan menyertakan aspek perasaan didalamnya. Orientasi perusahaan masa depan mengalami pergeseran dari pendekatan konvensional ke arah pendekatan kontemporer. Pendekatan konvensional menekankan kepuasan pelanggan sedangkan pendekatan kontemporer berfokus pada loyalitas pelanggan, retensi pelanggan, zero defections, dan lifelong customer.

 Menurut Graffin (2005) dalam Hatane Semuel (2012 : 35) loyalitas pelanggan disini dapat diartikan sebagai loyalitas seorang kepada suatu perusahaan. Oleh karena itu, loyalitas pelanggan akan menjadi tujuan akhir setiap perusahaan, karena dengan adanya loyalitas dari pelanggan akan menjamin kontinuitas sebuah perusahaan dalam jangka panjang. Pelanggan yang loyal dapat dilihat dari karakteristik seperti melakukan pembelian secara teratur (makeregular repeat purchases), membeli diluar lini produk atau jasa (refers other), menunjukkan kekebalan dari produk sejenis yang ditawarkan pesaing (demonstates immunity to the full of the competition). Menurut Yunita (2011 : 120) loyalitas nasabah adalah komitmen nasabah terhadap suatu merek, toko, atau pemasok berdasarkan sikap yang positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten (Fandy Tjiptono, 2005:387). Konsep loyalitas nasabah lebih banyak dikaitkan dengan perilaku daripada dengan sikap. Loyalitas nasabah biasanya cenderung ditunjukan dengan niat melakukanpembelian ulang serta kesediaan nasabah untuk merekomendasikan 28 jasa tersebut kepada orang lain bahkan nasabah cenderung menghilangkan niatnya untuk berpindah ke perusahaan jasa lainnya.

Indikator Komitmen Nasabah (skripsi dan tesis)

Menurut Bilal Afsar et.,al (2010) dan Luh Kadek Budi (2013) memiliki indikator yaitu tidak mudah berpengaruh pada rayuan atau bujukan dari pihak pesaing, komitmen mempunyai ikatan emosional pada merek tertentu atau perusahaan tertentu, kedua pihak terlibat dalam komitmen mementingkan untuk melanjutkan hubungan dalam waktu yang lama, mempunyai keinginan konsumen untuk melanjutkan hubungan dimasa yang akan datang, pelanggan berkomitmen untuk perusahaan maka tingkat kesetiaan terhadap bank akan meningkat. Dalam penelitian ini di katakan bahwa diperlukan responden untuk mengevaluasi tentang komitmen nasabah tidak mudah berpengaruh pada rayuan atau bujukan dari pihak pesaing, nasabah berkomitmen mempunyai ikatan emosional pada merek yang ada di perusahaan, kedua pihak yaitu nasabah dan perusahaan memiliki komitmen mementingkan untuk melanjutkan hubungan waktu yang lama, nasabah mempunyai keinginan untuk melanjutkan hubungan di masa akan datang dengan perusahaan, nasabah berkomitmen maka tingkat kesetiaan terhadap perusahaan akan meningkat.

Komitmen Nasabah (skripsi dan tesis)

Menurut J. Supranto dan Limakrisna (2011 : 243) pelanggan yang berkomitmen kemungkinan besar tidak memerlukan lagi tambahan informasi sewaktu melakukan pembelian. Pelanggan juga tidak mudah terpengaruh pada rayuan atau bujukan dari pihak pesaing seperti pemberian kupon. Pelanggan yang berkomitmen akan lebih menguntungkan dari pada pelanggan yang hanya membeli berulang – ulang, dan yang terakhir ini masih lebih menguntungkan dari pada konsumen yang membeli hanya kadang – kadang. Pelanggan yang loyal kepada suatu merek (toko/jasa) atau pelanggan yang komitmen mempunyai ikatan  emosional pada merek atau perusahaan. Akhirnya, pelanggan yang berkomitmen merupakan sumber komunikasi dari mulut kemulut yang efektif, hal ini merupakan promosi yang gratis bagi perusahaan dan sangat efektif, oleh karena apa yang dikatakan oleh kawan akan lebih dipercaya dari pada jenis iklan lainnya.
Menurut Geykens et.,al 1996 (dalam Luh Kadek (2013 : 12)) secara general konsumen bisa membedakan antara calculative commitment, affective commitment, dan normative commitment adalah sebagai berikut: pertama, Calculative commitment, Individu akan menjadi komitmen dalam hal relationship karena nilai-nilai yang bersumber dari investasi dalam relationship dan memilki potensi penurunan jika individu tersebut memilih untuk mengakhiri hubungan dan memulainya dengan orang lain. Kedua, Affective commitment, kondisi ini muncul karena perasaan emosional dan akan keluar sebagai bagian yang sudah terbentuk. Ketiga, Normative Commitment adalah komitmen yang timbul karena konsumen merasa bahwa ia wajib menjalankan suatu bisnis usaha dengan perasaan tertentu. Berkomitmen dengan nasabahnya merupakan awal dari terbentuknya hubungan yang baik dengan nasabah yang lain.
Menurut Stern 1997 (dalam Luh Kadek (2013 : 12)) affective commitment dikembangkan sepanjang waktu, karena faktanya konsumen dapat menggunakan respon emosionalnya secara positif dan dampaknya, sehingga lebih banyak melahirkan rasa aman dalalm hal relationship. Menurut Buttle 2004 (dalam Ika Riskiyati (2012 : 242)) komitmen pelanggan merupakan modal yang amat penting dalam membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan. Komitmen dalam konsep long term 22 relationship memegang peranan sangat penting karena pengaruh jangka panjang paling banyak didasarkan pada komitmen kedua belah pihak. Dengan kata lain didalam komitmen terdapat suatu pengaruh yang berharga yang mampu membuat pelanggan tetap loyal dan hal tersebut perlu dipertahankan terus di mana masing – masing pihak bersedia berkerja sama untuk mempertahankan pengaruh ini. Menurut Jasfar (2005 : 179) (dalam Media Febrianingtyas et.,al (2014 : 4)) komitmen adalah rasa saling percaya diantara pihak-pihak yang menjalin hubungan, baik secara tersirat (implisit) maupun yang tidak tersirat (eksplisit) bahwa hubungan mereka akan berlangsung terus-menerus dan masing-masing menjaga agar janji di antara mereka tetap terpelihara. Salah satu janji yang dijaga oleh perusahaan adalah kesungguhan bank untuk memberikan kualitas yang terbaik pada perusahaan misalnya kualitas pelayanan. Komitmen adalah salah satu hal yang penting dalam mewujudkan hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pelanggannya. Dengan tidak adanya komitmen yang tercipta akan sulit bagi kedua belah pihak tersebut untuk menjalin hubungan jangka panjang. Menurut Morgan dan Hunt (1994) dalam Hatene Semuel (2012 : 34), menjelaskan bahwa komitmen pelanggan pada dasarnya adalah keinginan yang berlangsung lama dalam diri pelanggan untuk mempertahankan hubungan yang berharga atau hubungan yang memberikan manfaat (valued relationship), bahwa pelanggan akan memiliki komitmen yang kuat atau tinggi jika hubungan yang dilakukan dianggap penting. Menurut Bilal Afsar et.,al (2010) faktor komitmen lebih berkolerasi dari faktor lainnya berarti bahwa nasabah berkomitmen untuk bank maka kepercayaan nasabah terhadap bank akan meningkat. Ini berarti bahwa komitmen nasabah terhadap loyalitas nasabah mempunyai pengaruh terhadap loyalitas nasabah. Komitmen dapat digambarkan sebagai orientasi nasabah yang jangka panjang terhadap hubungan bisnis yang didasarkan pada keterikatan emosional. Menurut Yunita (2011 : 119) komitmen merupakan faktor yang penting dalam pemasaran hubungan dan variabel yang berguna untuk mengukur kecenderungan pelanggan yang akan loyal dan memprediksi frekuensi pembelian yang akan terjadi di masa depan. Moorman (1995) dalam Yunita (2011 : 119) dalam konteks pemasaran mendefinisikan komitmen sebagai keinginan untuk mempertahankan hubungan yang bernilai. Komitmen akan menjadi lebih tinggi bagi individu yang percaya bahwa mereka menerima nilai lebih dari adanya sebuah hubungan. Ndubisi (2007 : 100) dalam Yunita (2011 : 119) menyebutkan bahwa pelanggan yang memiliki komitmen tinggi akan secara terus menerus dapat menikmati keuntungan dari hubungan yang terjalin.

Indikator Kepercayaan (skripsi dan tesis)

Menurut Hatane Semuel (2012) kepercayaan memiliki indikator yaitu menjaga hubungan jangka panjang, menciptakan hubungan yang saling menguntungkan  dengan pelanggan. Dalam rangka membuat pelanggan mempercayai layanan yang diberikan, maka pelanggan harus merasakan kualitas layanan sebagai hal yang positif antar pelanggan dengan perusahaan, percaya terhadap layanan yang diberikan. Dalam penelitian ini dikatakan bahwa survei memerlukan responden untuk mengevaluasi perilaku relasional terhadap perusahaan atas dasar pengalaman nasabah sendiri. Kepercayaan terhadap perusahaan dikatakan menjadi tolak ukur untuk dalam perolehan data untuk observasi. Kepercayaan terhadap perusahaan memiliki hubungan yang jangka panjang, dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan perusahaan, nasabah dapat merasakan kualitas layanan yang positif di berikan perusahaan, nasabah percaya terhadap layanan yang di berikan perusahaan

Kepercayaan (skripsi dan tesis)

 Definisi kepercayaan menurut Rahmani-Nejad, L., et.,al (2014 : 263) salah satu pihak kepercayaan bahwa pihak lain dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam hal layanan, kepercayaan adalah kepercayaan pelanggan yang diselenggarakan oleh penyedia jasa akan memberikan layanan pelanggan yang memenuhi kebutuhan. Definisi yang lebih umum dari kepercayaan adalah bahwa pihaknya telah memiliki kepercayaan, kejujuran dan keandalan, dalam partner. Definisi lainnya adalah dapat diterapkan dalam konteks yang berbeda, termasuk pertukaran dari barang dan jasa. Ada dua tingkat kepercayaan, tingkat pertama, pelanggan percaya satu perwakilan penjualan tertentu sementara pada tingkat kedua, pelanggan percaya produk atau lembaga. Kepercayaan merupakan faktor penting antara perilaku pelanggan sebelum dan setelah membeli sebuah produk yang dapat menyebabkan kesetiaan jangka panjang dan memperkuat hubungan antara kedua belah pihak. Menurut Morgan dan Hunt (1994) (dalam Muzahid et.,al (2009 : 26))  menyatakan bahwa kepercayaan ada hanya ketika salah satu pihak memiliki kepercayaan mitra asing keandalan. Sedangkan menentukan kepercayaan disebut kesediaan untuk mengandalkan mitra asing yang satu memiliki kepercayaan. Jika salah satu pihak percaya pihak lain yang akhirnya menimbulkan niat perilaku positif terhadap pihak kedua. Menurut Singh dan Sirdeshmukh (2000) (dalam Hatane Semuel (2012 : 35 )) kepercayaan (trust) dipandang sebagai salah satu hal mendasar dan penting dalam dunia bisnis.
Kepercayaan adalah dasar dalam membangun dan memelihara hubungan jangka panjang. Kepercayaan dalam teori pemasaran merupakan dasar kebijakan mengembangkan serta menjaga hubungan jangka panjang dan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan dan dapat meningkatkan daya saing. Keyakinan atau kepercayaan merupakan suatu faktor penting yang dapat mengatasi krisis dan kesulitan antara rekan bisnis, selain itu juga merupakan aset penting dalam mengembangkan hubungan jangka panjang antar organisasi (Karsono, 2008) (dalam dalam Hatane Semuel (2012 : 35)). Organisasi yang mampu mengenali dan mengendalikan faktor-faktor pembentuk kepercayaan, dapat menciptakan dan mengefektifkan tingkat hubungan dengan pelanggan (Barney dan Hansen, 1994) (dalam Hatane Semuel (2012 : 35)). Dalam rangka membuat pelanggan mempercayai layanan yang diberikan, maka pelanggan harus merasakan kualitas layanan sebagai hal yang positif. Menurut Anderson dan Narus (1990) dalam Hatene Semuel (2012 : 33)) menekankan bahwa kepercayaan terjadi ketika salah satu pihak percaya bahwa tindakan pihak 19 yang lain akan memberikan hasil positif untuk dirinya. Hal ini menyiratkan bahwa kualitas pelayanan dapat memiliki efek positif pada kepercayaan, selanjutnya kepercayaan telah diakui memiliki peran penting dalam mempengaruhi loyalitas pelanggan (Gundlach and Murphy, (1993) dalam Hatane Semuel (2012 : 34)). Menurut Morgan dan Hunt, 2004 dalam Bilal Afsar et.,al (2010 : 1042) kepercayaan telah didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengandalkan mitra asing yang satu memiliki kepercayaan atau keyakinan dalam pertukaran mitra keandalan dan integritas. Menurut Chaudhuri dan Holbrook (2002) dalam Bilal Afsar et.,al (2010 : 1042) mendefinisikan kepercayaan pelanggan kesediaan untuk mengandalkan kemampuan merek untuk melakukan fungsi yang dinyatakan. Percayaan dedikasi penyebab karena mengurangi biaya negosiasi perjanjian dan mengurangi rasa takut pelanggan atas kecurangan perilaku oleh penyedia layanan (Bendapudi dan Berry, 1997 dalam Bilal Afsar (2010 : 1042). Menurut Ndubisi (2007 : 99) dalam Yunita (2011 : 119) definisi kepercayaan adalah keyakinan bahwa sebuah pihak akan memenuhi janjinya dalam hubungan tersebut. Akibat dari ingkar janji maka akan membuat pelanggan beralih ke perusahaan lain. Timbulnya kepercayaan karena hasil keandalan dan intergritas mitra yang ditunjukkan melalui sikap seperti konsistensi, kompeten, adil, tanggung jawab, suka menolong dan memiliki kepedulian.

Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Pelanggan akan merasa puas jika mereka mendapatkan pelayanan yang maksimal dan sesuai harapan mereka. Pelanggan yang memiliki pengalaman baik dan merasakan pelayanan yang baik tentu akan merasa puas, dan pelanggan seperti itu mampu menjaga stabilitas pemasukan perusahaan setiap bulan nya, karena dengan terpenuhinya semua harapan pelanggan atas pelayanan yang di harapkan akan berpotensi untuk kembali lagi dan mencoba untuk melakukan pembelian yang berkelanjutan di waktu yang akan datang. Menurut Budiartya, Etty (2008) konsumen yang memperoleh kualitas layanan yang baik lebih merasakan kepuasan menikmati hidangan dibandingkan dengan konsumen yang menerima kualitas layanan yang buruk.

 Layanan (service) adalah sebuah kegiatan, manfaat, atau kepuasan untuk diberikan yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler dan Amstrong, 2012). Kualitas pelayanan adalah ukuran dari seberapa baik tingkat pelayanan yang disampaikan sesuai dengan harapan pelanggan A. Parasuraman et al., 2001). Pelayanan yang berkualitas akan menghasilkan sebuah kepuasan yang tinggi serta pembelian ulang yang lebih sering. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi dari pelanggan atas pelayanan yang mereka terima dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan.

Menurut (A. Parasuraman et al. 2001) kulaitas pelayanan memiliki beberapa dimensi, diantaranya:

 a. Reliability Reliability adalaha konsistensi kerja dan keandalan kerja untuk memberikan pelayanan. b. Responsiveness Responsiveness adalah kesediaan untuk membantu pelanggan dan kesiapan untuk menyediakan pelayanan.

 c. Assurance Assurance adalah pengetahuan dan keahlian serta kemampuan untuk menyampaikan pelayanan.
d. Empathy Empathy adalah kepedulian dan perhatian kepada pelanggan.
e. Tangibility Tangibility adalah fasilitas fisik, penampilan pekerja, peralatan yang digunakan untuk memberikan pelayanan, peralatan yang digunakan untuk menyampaikan pelayanan.

Lokasi (skripsi dan tesis)

Penentuan lokasi bisnis sangat penting dan menentukan bagi kesuksesan, bahkan menurut Triyono (2006), mengatakan bahwa tiga kunci bisnis rumah makan , yaitu pertama lokasi, kedua lokasi dan ketiga lokasi. Menurut Tjiptono (1996) pemilihan tempat lokasi memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap beberapa faktor berikut :

 a. Akses, misalnya lokasi yang dilalui atau mudah dijangkau sarana transportasi umum.
 b. Visibilitas, misalnya lokasi yang dapat dilihat dengan jelas dari tepi jalan.
c. Lalu lintas (traffics), di mana ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
1) Banyaknya orang yang lalu lalang bisa memberikan peluang besar terjadinya impulse buying
 2) Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa pula menjadi hambatan, misalnya terhadap pelayanan kepolisian, pemadam kebakaran / ambulans.
d. Tempat parkir yang luas dan aman.
e. Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha dikemudian hari.
 f. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung usaha yang ditawarkan. g. Persaingan, yaitu lokasi pesaing
. h. Peraturan Pemerintah.
Menurut Triyono (2006), ada empat faktor yang mempengaruhi kepadatan pengunjung untuk membeli, yaitu:
a. Kemudahan transportasi untuk mencapai lokasi Ada banyak bukti bahwa pebisnis ritel yang tidak memperhatikan aspek kemudahan untuk mencapai lokasi akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kita bisa melihat bahwa hanya karena perubahan arus lalu lintas dari dua arah menjadi satu arah, jumlah pelanggan yang datang menjadi turun drastis. Di samping aspek kendaraan umum, kemudahan jalan (tidak berbelitbelit) menuju lokasi juga harus diperhatikan. Bisa dibayangkan kalau lokasi ritel sama sekali asing dan orang jarang mengenal lokasi tersebut, tentu akan sulit untuk sampai di sana. Apabila penentuan lokasi kurang diperhatikan, di samping bisa membatalkan kunjungan pelanggan, juga akan menjadi masalah bagi kelangsungan pengiriman barang dari pemasok. Pemasok akan menghitung ulang aspek biaya, apabila lokasi terlalu sulit dijangkau (baik dengan kendaraan umum maupun dengan kendaraan pribadi). Kesulitan ini dapat menaikkan harga barang sehingga dapat menurunkan marginn pebisnis ritel. Oleh karena bisnis ritel sangat bergantung pada pelanggan dan pemasok. Kedua pihak ini harus selalu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi.
b. Kenyamanan dan keamanan parkir kendaraan Kendaraan (roda dua atau empat) merupakan bagian tak terpisahkan dari pelanggan, aspek kenyamanan dan keamanan parkir kendaraan di lokasi toko juga harus diperhatikan.
 c. Kelengkapan mal, plaza atau pusat perbelanjaan Konsep one stop shopping yang secara sederhana dapat diperhatikan “menyediakan segala kebutuhan pelanggan secara lengkap”, telah banyak dipenuhi oleh mal, plaza dan pusat-pusat perbelanjaan. Dengan kelengkapan ini, pelanggan akan sangat terbantu khususnya dalam hal kemudahan dan efisiensi berbelanja.
 d. Daur hidup lokasi Daur hidup setiap lokasi dalam bentuk mal, plaza, atau pusat perbelanjaan sama seperti tahapan hidup manusia dan produk. Daur hidup lokasi secara sederhana mempengaruhi daur hidup pada umumnya yang terdiri atas tahap-tahap lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, uzur dan mati. Kotler dan Armstrong (2002), menegaskan bahwa para pengecer hendaknya mempertimbangkan enam keputusan dalam membuat strategi pemasarannya, keputusan tersebut salah satunya adalah keputusan tempat. Lokasi pengecer merupakan kunci bagaimana kemampuannya menarik konsumen. Konsumen dapat memilih lokasi apakah di wilayah pusat bisnis, pusat perbelanjaan daerah, pusat perbelanjaan komunitas atau jalur-jalur perbelanjaan. Namun yang paling penting pengecer harus memutuskan bagi tokonya dengan mempertimbangkan lalu lintas, biaya sewa parkir dan masalah komunitas.

Atmosphere (Suasana) (skripsi dan tesis)

Atmosphere merupakan salah satu faktor penting yang dapat digunakan untuk menarik konsumen. Setiap suasana toko ataupun rumahmakan mempunyai tata letak fisik yang memudahkan atau menyulitkan pembeli untuk berputar-putar di dalamnya. Setiap rumah makan mempunyai penampilan yang harus membentuk suasana terencana yang sesuai dengan pasar sasarannya dan yang dapat menarik konsumen untuk membeli. Penampilan rumah makan yang unik memposisikan  bahwa rumah makan tersebut merupakan rumah makan yang unik dalam benak konsumen. Menurut Berman dan Evans (2001), mendefenisikan atmosphere sebagai bentuk komunikasi kepada pelanggan melalui karakteristik fisik yang di bangun untuk membentuk suatu kesan tertentu pada benak konsumen. Sedangkan pengertian Store atmosphere menurut Lamb, dkk (2001) adalah suatu keseluruhan yang disampaikan oleh tata letak fisik, dekorasi dan lingkungan sekitarnya. Gilbert (2003) menjelaskan bahwa store atmosphere merupakan kombinasi dari pesan secara fisik yang telah direncanakan. Store atmosphere dapat digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian.

Citra Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2009), citra merek adalah seperangkat keyakinan ide dan kesan yang terbentuk oleh seseorang terhadap suatu objek. Image atau citra sendiri adalah suatu gambaran, penyerupaan kesan utama atau garis besar bahkan bayangan yang dimiliki oleh seseorang tentang sesuatu. Oleh karena itu citra atau image dapat dipertahankan, adapun indikator citra merek diantaranya citra merek yang lebih unggul, prestige, citra merek yang terpercaya.  Menurut Hossain (2000) yakni persepsi konsumen (bagaimana mereka memandangnya) tentang suatu merek, yang tidak serupa dengan identitas merek. Pada saat ini persaingan semakin kompetitif, selain harga dan kualitas produk citra merek juga menjadi faktor penting yang dapat di jadikan sebagai senjata untuk memenangkan persaingan. Bukan sekedar logo, nama dan simbol melainkan sebuah karakter nilai yang di tawarkan melalui sebuah produk atau jasa kepada konsumen (Kertajaya, 2004). Menurut Sciffman dan Kanuk (2004) terdapat beberapa faktor pembentuk citra merek, yaitu kualitas dan mutu, dapat dipercaya dan diandalkan, kegunaan atau manfaat suatu produk, pelayanan untuk konsumen, besar kecil risiko yang mungkin dialami, persepsi harga, dan citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri. Reputasi juga di jadikan sebagai tolak ukur seorang pelanggan melakukan penilaian terhadap sebuah produk yang akan di belinya (Brock dan Donald, 1997). Merek merupakan atribut yang memberikan manfaat non materiil, yaitu kepuasan emosional, terdiri dari variabel : mempertimbangkan merek sebelum membeli produk, memilih merk produk tertentu, hingga memilih produk yang terkenal.

Harga (skripsi dan tesis)

Zeithaml (1998) mengatakan bahwa menurut sudut pandang konsumen, harga adalah sesuatu yang dikorbankan untuk memperoleh suatu produk. Kumar (2005) menyatakan bahwa konsumen mempunyai anggapan adanya hubungan yang positif antara harga dan kualitas suatu produk, maka mereka akan membandingkan antara produk yang satu dengan yang lainnya dan barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk. Menurut Ferdinand (2000), harga merupakan salah satu variabel penting dalam pemasaran, di mana harga dapat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk, karena berbagai alasan. Alasan ekonomis akan menunjukkan bahwa harga yang rendah atau harga yang selalu berkompetisi merupakan salah satu pemicu penting untuk memikat pelanggan. Menurut Stanton (1994), harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang lainnya ditetapkan oleh pembeli atau penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Fandy Tjiptono mengatakan bahwa, harga memiliki dua peranan utama dalam mempengaruhi keputusan beli, yaitu :

 a. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa. Pembeli membandingkan  harga dari beberapa alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
 b. Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya secara obyektif. Harga merupakan satuan moneter atau suatu ukuran yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang dan jasa jika ditinjau dari sudut pandang pemasaran namun dari sudut pandang konsumen, harga seringkali digunakan sebagai indikator value bilamana harga tersebut dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu barang dan jasa. Value dapat didefinisikan antara manfaat yang dirasakan terhadap harga.

Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Produk yang berkualitas adalah produk yang mampu memberikan nilai kepuasan yang lebih dari ekspektasi pelanggan. Produk didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat di tawarkan ke dalam pasar untuk di perhatikan, dimiliki, dipakai, atau di konsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan seorang konsumen (Kotler, 1996). Produk yang berkualitas tentu memiliki nilai lebih bagi pelanggan. Kualitas merupakan hal penting dan paling mendasar dari kepuasan konsumen dan kesuksesan dalam bersaing (Mulyono, 2008). Kiat yang dilakukan pelaku usaha dalam bersaing salah satunya yaitu dengan menjaga kualitas produknya. Kotler (2005), kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk atau jasa yang berpengaruh pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Kinerja, ciri khas, estetika, kualitas produk yang di sajikan, kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, dan kemudahan perbaikan merupakan dimensi dari kualitas produk menurut (Tjiptono, 2008). Pelanggan akan menilai sebuah produk bisa memenuhi kebutuhan nya dan seberapa manfaat yang bisa di dapat. Menurut Sciffman dan Kanuk (2004) konsumen percaya bahwa berdasarkan evaluasi mereka terhadap kualitas produk akan dapat membantu mereka untuk mempertimbangkan produk mana yang akan mereka beli.

Loyalitas Pelanggan (skripsi dan tesis)

Loyalitas konsumen adalah kesetiaan konsumen terhadap suatu produk. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Tjahyadi (2006) bahwa loyalitas merupakan kesetiaan pelanggan/konsumen pada objek tertentu, seperti, merek, produk, jasa, atau toko. Selain itu, dikatakan bahwa umumnya merek seringkali dijadikan sebagai objek loyalitas. Menurut Fajrianthi dan Farrah (2005), kesetiaan dapat dilihat dari frekuensi pembelian konsumen. Apabila konsumen melakukan pembelian secara berulang-ulang terhadap suatu produk atau merek yang sama maka akan menunjukkan loyalitas konsumen. Jika dikaitkan dengan pernyataan beberapa peneliti terdahulu mengenai pengertian loyalitas konsumen, secara keseluruhan mengatakan bahwa loyalitas konsumen adalah kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau produk yang ditunjukkan dengan frekuensi pembelian secara berulang. Frekuensi pembelian ulang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen untuk setia atau loyal terhdap suatu produk atau merek, sehingga hal ini dianggap penting bagi perusahaan. Loyalitas konsumen memberikan banyak manfaat bagi perusahaan seperti mempertahankan perusahaan, meningkatkan penjualan dan pendapatan serta memperluas jaringan perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Tjahyadi (2006) bahwa pentingnya loyalitas konsumen menjadi tujuan utama bagi setiap perusahaan. Karena dianggap penting, maka perlu diketahui faktor apa saja yang membentuk loyalitas konsumen.
 Konsumen yang dianggap loyal jika konsumen tersebut setia terhadap merek atau produk dari perusahaan. Selain itu, frekuensi pembelian konsumen juga menjadi perhatian khusus untuk menentukkan loyalitas. Namun, frekuensi pembelian konsumen akan semakin meningkat jika konsumen merasa puas terhadap produk atau merek perusahaan. Ukuran kepuasan konsumen adalah dengan membandingkan antara kinerja dengan ekspektasi atau harapan, sesuai dengan pernyataan (Tjahyadi, 2006). Seperti yang di katakan oleh Dharmmesta (1999), Loyalitas berkembang mengikuti tiga tahap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Pelanggan setia lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian aspek afektif, dan akhirnya aspek konatif.
Tahap pertama: Loyalitas Kognitif Pelanggan yang mempunyai loyalitas tahap pertama ini menggunakan informasi keunggulan suatu produk atas produk lainnya. Loyalitas kognitif lebih didasarkan pada karakteristik fungsional, seperti biaya, manfaat dan kualitas. Jika ketiga faktor tersebut tidak baik, pelanggan akan mudah pindah ke produk lain. Jika Pelanggan termasuk dalam kategori ini maka dapat di asumsikan sebagai pelanggan yang paling rentan terhadap perpindahan karena adanya rangsangan pemasaran (Dharmmesta, 1999). Tahap kedua: Loyalitas Afektif Sikap merupakan fungsi dari kognisi pada periode awal pembelian (masa sebelum konsumsi) dan merupakan fungsi dari sikap sebelumnya ditambah dengan kepuasan di periode berikutnya (masa setelah konsumsi). Munculnya loyalitas afektif ini didorong oleh faktor kepuasan yang menimbulkan kesukaan dan menjadikan objek sebagai preferensi. Kepuasan pelanggan berkorelasi tinggi dengan niat pembelian ulang di waktu mendatang.  Pada loyalitas afektif, kerentanan pelanggan lebih banyak terfokus pada tiga faktor, yaitu ketidakpuasan dengan merek yang ada, persuasi dari pemasar maupun pelanggan merek lain, dan upaya mencoba produk lain (Dharmmesta, 1999). Tahap ketiga: Loyalitas Konatif Konasi menunjukkan suatu niat atau komitmen untuk melakukan sesuatu. Niat merupakan fungsi dari niat sebelumnya (pada masa sebelum konsumsi) dan sikap pada masa setelah konsumsi. Maka loyalitas konatif merupakan suatu loyalitas yang mencakup komitmen mendalam untuk melakukan pembelian.

 Tahap keempat: Loyalitas Tindakan Aspek konatif atau niat untuk melakukan berkembang menjadi perilaku dan tindakan. Niat yang diikuti oleh motivasi, merupakan kondisi yang mengarah pada kesiapan bertindak dan keinginan untuk mengatasi hambatan dalam melakukan tindakan tersebut. Jadi loyalitas itu dapat menjadi kenyataan melalui beberapa tahapan, yaitu pertama sebagai loyalitas kognitif, kemudian loyalitas afektif, dan loyalitas konatif, dan akhirnya sebagai loyalitas tindakan. Pelanggan yang terintegrasi penuh pada tahap loyalitas tindakan dapat dihipotesiskan sebagai pelanggan yang kuat untuk tetap setia daripada tahap loyal sebelumnya yang masih rentan berpindah ke produk lain. Dengan kata lain, loyalitas tindakan ini hanya sedikit bahkan sama sekali tidak memberi peluang pada pelanggan untuk berpindah ke produk lain. Pada loyalitas konasi dan tindakan, kerentanan pelanggan lebih terfokus pada faktor persuasi dan keinginan untuk mencoba produk lain.

Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)

 Oliver dan Hurriyati (2005: 19), menjelaskan pengertian loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secara konsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku. Griffin (2003:49), dalam pendapatnya menyatakan bahwa pelanggan harus dianggap sebagai individu dan diperlakukan sedemikian rupa agar tetap loyal dan membantu perusahaan tetap tumbuh dan terus berkembang. Indikator loyalitas menurut Kotler (2002:57) dapat diukur dengan 3 (tiga) indikator sebagai berikut: a. Kesetiaan terhadap produk
b. Ketahanan terhadap pengaruh yang mengenai negatif mengenai produk
 c. Merefersikan secara total eksistensi perusahaan.

Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Kepuasan pelanggan merupakan tujuan dari suatu konsep pemasaran.Kepuasan pelanggan adalah rasa puas yang dirasakan konsumen setelah menggunakan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen (Chahal dan Bala, 2012). Kepuasan pelanggan 5 sangat tergantung pada perasaan atau kesan terhadap suatu produk, setelah membandingkan dingkan dengan produk lain (Kotler, 2000:36). Menurut Tjiptono (2006:349), kepuasan pelanggan merupakan evaluasi punabeli di mana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan penggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan.

Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Kualitas pelayanan merupakan hal yang dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan layanan pada konsumen.Definisi kualitas pelayanan adalah agar pelanggan puas dan setia, sehingga terus menerus menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan (Gerson, 2002).Kualitas pelayanan tentu bertujuan untuk memenuhi keinginan pelanggan sehingga mereka merasa terpuaskan dan terpenuhi keinginannya.Tjiptono (2006:59), menjelaskan bahwa kualitas pelayanan berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Terdapat pendapat lain tertang kualiatas pelayanan, yaitu tingkat keunggulan yang diharapkan pelanggan sehingga dengan dapat memenuhi keinginannya atau harapan mereka (Wyckof and Lovelock, 1988). Namun pelanggan tetap melihat kualitas dari apa yang mereka peroleh. Apabila sesuai dengan harapan mereka disebut baik dan memuaskan, tetapi bila tidak sesuai dengan harapan mereka, maka jasa tersebut dipandang buruk (Parasuraman dan Berry, 1985) Terdapat berbagai segi dan sudut pandang dalam kualitas pelayanan. Lupiyoadi (2008:182), terdapat lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu: berwujud, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati. Serta terdapat pengertian dari Arokiasamy (2013) yang menyebut bahwa dimensi-dimensi kualitas layanan (emphaty, responsiveness, assurance, tangibles and reliability) berpengaruh positif terhadap kepuasan konsumen

Loyalitas Pelanggan (skripsi dan tesis)

Griffin dalam Manap (2016:374) A loyal customer has a specific bias about what to buy and from whom. Two important conditions associated with loyalty and total share of customer. Many companies operate under the false impression that a retained customer is automatically a loyal customer. Lebih lanjut Griffin menyatakan bahwa Loyalty is defined as non-random purchase expressed over time by some decision-making unit. Karakteristik dari loyalitas ini ialah konsumen melakukan pembelian ulang secara teratur/regular. Griffin dalam Hurriyati (2008:130) juga menjelaskan karakteristik pelanggan yang loyal sebagai berikut :
1) Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat purchases)
2) Membeli diluar lini produk/jasa (purchases across product and service lines)
3) Merekomendasikan produk lain (refers other)
4) Menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing (demonstrates an immunity to the full of the competition)

Kepercayaan Merek (skripsi dan tesis)

Dalam riset Costabile dalam Ferrinadewi (2008:147) kepercayaan atau trust didefinisikan sebagai persepsi akan kehandalan dari sudut pandang konsumen didasarkan pada pengalaman, atau lebih pada urutan-urutan transaksi atau interaksi yang dicirikan oleh terpenuhinya harapan akan kinerja produk dan kepuasan. Gurviez & Korchia dalam Ferrinadewi (2008:147) berpendapat dari sudut pandang konsumen kepercayaan merek merupakan variabel psikologis yang mencerminkan sejumlah akumulasi asumsi awal yang melibatkan krediblitas, integritas dan benevolence, yang dilekatkan pada merek tertentu. Indikator Kepercayaan Merek sebagai berikut:
1. Karakteristik Merek (Brand Characteristic)
2. Karakteristik Perusahaan (Company Characteristics)
3. Karakteristik Konsumen Merek (Consumer Brand Characteristics)

Biaya Beralih (skripsi dan tesis)

Menurut Porter dalam Tjiptono (2014:383) Biaya Beralih (Switching Costs) lebih merupakan one-time costs dan bukan ongoing costs. Berdasarkan perspektif ini, Burnham et al, dalam Tjiptono (2014:383) mendefinisikan Biaya Beralih sebagai one-time costs yang dipersepsikan atau diasosiasikan pelanggan dengan proses beralih dari penyedia jasa/produk yang satu ke penyedia jasa/produk yang lain. Pemahaman mengenai Biaya Beralih sangat penting dikarenakan dampak signifikannya pada perilaku pembelian ulang, strategi pemasaran yang harus diterapkan, struktur industri dan persaingan. Murray dalam Lupiyoadi dan Hamdani (2006:198) juga mendefinisikan Biaya Beralih sebagai risiko yang diterima (perceived risk), yaitu kerugian potensial yang dipersepsikan oleh pelanggan ketika pindah, seperti kerugian financial, social, psikologis, keamanan. Indikator Biaya Beralih menurut Burnham et al., dalam Tjiptono (2014:385) adalah :
1. Biaya Beralih Prosedural (Procedural Switching Cost)
2. Biaya Beralih Keuangan (Financial Switching Cost)
3. Biaya Beralih Relasional (Relational Switching Cost)

Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dalam Sangadji dan Sopiah (2013:181) Kepuasan adalah sejauh mana suatu tingkatan produk dipersepsikan sesuai dengan harapan pembeli. Menurut Zeithaml et al. dalam Haryono (2016:89) Kepuasan Pelanggan adalah tanggapan pemenuhan konsumen, yaitu suatu pertimbangan bahwa fitur barang atau jasa, atau barang atau jasa itu sendiri, memberikan suatu tingkat pemenuhan terkait konsumsi yang menyenangkan. Konsumen akan merasakan kepuasannya apabila barang atau jasa yang dikonsumsi tersebut dapat memenuhi kesenangannya. Tingkat kepuasan pelanggan tergantung pada kinerja yang dirasakan/diterima dari produk dan jasa atau servis pendukung serta standard yang digunakan pelanggan untuk mengevaluasi kinerja itu (Assauri, 2012:11) Menurut Kotler, Ang, leong dan tan (2000:36) Indikator Kepuasan Pelanggan terdiri dari: 1. Kinerja (Perceived Performance) 2. Harapan (Expectations) 3. Kepuasan Menyeluruh (Overall Satisfaction) Menurut Zeithaml et al dalam Haryono (2016:90) Kepuasan Pelanggan akan ditentukan oleh lima faktor, yaitu fitur produk dan layanan, emosi pelanggan, atribut dari keberhasilan/kegagalan layanan, persepsi akan kewajaran dan keadilan, serta pelanggan yang lain, anggota keluarga, dan rekan.

Membangun loyalitas pada perusahaan (skripsi dan tesis)

Dengan bergabungnya konsumen ke dalam program loyalitas, pelanggan menjadi bagian dari kelompok yang bisa dikatakan pelanggan eksklusif dengan perlakuan yang istimewa dari perusahaan (Muniz & O’Guinn, 2001). Pelanggan yang loyal terhadap program loyalitas cenderung akan menguatkan ikatan dengan perusahaan tersebut (Ahearne et al., 2005). Karena interaksi yang sering dilakukan dapat meningkatkan persepsi pelanggan menjadi “orang dalam (insider)” dan dapat menghidupkan kembali identitas sosial mereka (Bhattacharya et al., 1995). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa partisipasi yang lebih besar menyebabkan pelanggan lebih setia kepada program dan perusahaan (misalnya, Bolton et al., 2000; Dowling & Uncles, 1997). Dalam hal ini, program loyalitas merupakan tahap dalam proses dimana pelanggan mengembangkan loyalitasnya pada perusahaan (Kimcet al., 2013). Pelanggan yang mengembangkan loyalitasnya pada perusahaan umumnya tertarik dengan program loyalitas dan manfaat dari program loyalitas (Hu et al., 2010). Yi dan Jeon (2003) menegaskan bahwa kesetiaan pada perusahaan yang merupakan hasil dari loyalitas program, merupakan pelanggan dalam kondisi keterlibatan yang tinggi. Hubungan positif antara program loyalitas dan loyalitas pada perusahaan konsisten (Suh & Yi, 2012)

Manfaat Symbolic (skripsi dan tesis)

Manfaat simbolik merupakan manfaat ekstrinsik yang dapat dirasakan oleh pelanggan, bahwa produk atau jasa dapat memberikan kebutuhan untuk mengekspresikan diri, menunjukkan status konsumen dan pengakuan secara sosial (Keller, 1993). Karena perusahaan membangun pengetahuan pelanggan, melalui penawaran program loyalitas sebagai kesempatan untuk membedakan atau mendapat perlakuan khusus antara pelanggan yang menganggap penyesuaian penawaran merupakan tanda penghormatan atau kekhususan (Gordon et al., 1998). Akibatnya konsumen merasakan manfaat pengakuan yang perusahaan berikan (Csikszentmmihalyi, 2000); pelanggan merasa karyawan perusahaan dan manajer memperlakukan mereka lebih baik daripada perusahaan memperlakukan pelanggan lain yang bukan anggota dari program loyalitas (Beatty et a.l, 1996;. Gwinner et al., 1998)

Membangun program loyalitas (skripsi dan tesis)

Perusahaan menerapkan program loyalitas untuk mempengaruhi persepsi pelanggan dari status mereka, kebiasaan membeli dan hubungan pelanggan dengan perusahaan dengan demikian mendorong loyalitas pelanggan yang lebih besar (Henderson et al., 2011). Dengan demikian program loyalitas memiliki keuntungan finansial (Bolton et al., 2004), seperti diskon pelanggan khusus untuk anggota loyalitas program, menawarkan cash-back, dan kupon (Mimouni-Chaabane & Volle, 2010). Pelanggan juga akan merasakan manfaat sosial, seperti pertemanan, persahabatan, dan pengakuan pribadi (aktualisasi diri) dari ikut berpartisipasi dalam loyalitas program (Gwinner et al., 1998). Perasaan kekeluargaan yang diciptakan oleh program loyalitas pelanggan memberikan perasaan memiliki antara pelanggan dan perusahaan, perasaan penting dan terintegrasi ini merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan emosional (McMillan & Chavis, 1986). Ikatan sosial ini sulit untuk dihilangkan dan kemungkinan pelanggan akan mempertahankan hubungan mereka dengan perusahaan. Selain itu, persepsi pelanggan terhadap nilai dapat meningkatkan loyalitas untuk perubahan hubungan (Sirdeshmukh et al., 2002;. Yi & Jeon, 2003). Kegunaan yang dirasakan dari program loyalitas, baik secara finansial dan sosial, harus meningkatkan loyalitas pelanggan ke program (Meyer-Waarden, 2007).

Program Loyalitas (skripsi dan tesis)

Salah satu penerapan strategi mempertahakankan pelanggan (customer retention) adalah melalui program loyalitas (Kang et al., 2015). Berhubungan dengan hal tersebut, perusahaan dapat mendesain program loyalitas yang sesuai untuk pelanggannya. Program loyalitas ini akan sangat membantu perusahaan dalam mempertahankan pelanggan, meningkatkan kepuasan, dan menjaga agar pelanggan tidak tergiur oleh berbagai tawaran yang diberikan oleh kompetitor lain. Program loyalitas menurut Palmatier (2007) adalah program yang ditawarkan kepada pelanggan untuk membangun ikatan emosional pelanggan terhadap sebuah merek. Dengan demikian dalam hal ini, program loyalitas bukan semata-mata bertujuan untuk meningkatkan pembelian ulang pelanggan. Program loyalitas bertujuan untuk membangun hubungan dengan pelanggan sehingga akan menjadikan pelanggan tersebut loyal di mana akan selalu melakukan pembelian atas produk dan jasa kepada perusahaan yang menerapkan program loyalitas tersebut. Terdapat dua jenis program loyalitas, yaitu terbatas dan terbuka. Program loyalitas terbatas tidak dapat diikuti oleh setiap pelanggan karena untuk mengikuti program loyalitas ini maka pelanggan harus memenuhi prosedur yang diterapkan oleh perusahaan seperti membayar biaya kesertaan dan kadang-kadang terdapat kriteria tertentu yang harus dipenuhi seperti volume pembelian tertentu dan pendapatan minimum yang dimiliki pelanggan. Sementara itu, program loyalitas terbuka merupakan jenis program loyalitas yang dapat diikuti oleh setiap pelanggan tanpa ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi

Customer Retention (skripsi dan tesis)

Menjaga dan mengelola pelanggan dengan baik merupakan tujuan strategis untuk mengupayakan pemeliharaan hubungan jangka panjang dengan pelanggan (Kivetz dan Simonson, 2002). Program customer retention menjadi salah satu inti utama dari aktivitas relationship marketing. Paradigma dan cara berpikir perusahaan tidak lagi didominasi pada bagaimana cara mendapatkan pelanggan baru, tetapi lebih ke arah bagaimana mempertahankan pelanggan lama. Menurut Kivetz dan Simonson (2002), proses menarik dan mempertahankan pelanggan memiliki beberapa tahapan. Tahap awal adalah suspects, seseorang atau perusahaan yang memiliki kecenderungan untuk membeli produk atau pelayanan. Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi suspects tersebut menjadi prospek dengan kemungkinan untuk membeli yang tinggi dan rendah. Tugas marketing disini adalah untuk menjadikan prospek-prospek yang sudah diidentifikasi menjadi pelanggan pertama kemudian pelanggan berulang dan pada tahap selanjutnya menjadikan sebagai klien. Yang dimaksud klien disini adalah pelanggan dengan perlakuan yang spesial dan berpengetahuan. Program selanjutnya adalah mengubah klien menjadi member, dengan melalui program keanggotaan yang menawarkan keuntungankeuntungan bagi klien yang bersedia ikut dalam keanggotaan. Tahap setelah itu adalah mengubah klien menjadi advocates yaitu pelanggan yang secara antusias merekomendasikan perusahaan penjual produk serta jasa kepada prospek pelanggan yang lain. Level paling tinggi dari proses pengembangan pelanggan adalah menjadikan pelanggan sebagai partner. Pada tingkatan ini pelanggan memiliki kepuasan yang paling tinggi terhadap produk dan jasa yang dijual.

Relationship Marketing (skripsi dan tesis)

Perusahaan membutuhkan relationship yang baik dengan konsumen. Relationship marketing berarti terjadi perubahan dari sekedar berorientasi pada penjualan menjadi berorientasi pada pelanggan. Relationship marketing menitik beratkan kepada membangun dan mengembangkan hubungan dengan konsumen, Ini terkait dengan definisi marketing itu sendiri yaitu antara lain menciptakan, menjaga, dan meningkatkan hubungan dengan konsumen dan para stakeholder, dengan memberikan keuntungan kepada masing-masing pihak. Menurut Pi et al., 2010, relationship marketing adalah pengenalan setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan. Hu et al., (2010), menyatakan bahwa untuk membangun dan mengembangkan relationship marketing maka perusahaan harus memperhatikan Mutual benefit (keuntungan bersama), commitment (kesetiaan atau kepastian), comunication (komunikasi atau hubungan), dan authencity (kebenaran). Sedangkan menurut McIlroy dan Barnett (2000), beberapa manfaat spesifik dari penggunaan relationship marketing antara lain adalah memperoleh profitabilitas dari pelanggan yang loyal, adanya peluang yang besar untuk menjual produk baru kepada pelanggan yang sudah loyal, memungkinkan promosi tanpa biaya (word of mouth), memperoleh informasi umpan balik dari pelanggan yang sudah loyal.

Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Ketidakpastian lingkungan adalah perubahan yang cepat dan sulit untuk diprediksi secara akurat dari faktor sosial maupun fisik seperti, ketersediaan sumber daya, sistem informasi, teknologi, ekonomi, dan faktor lingkungan lainnya yang mempengaruhi organisasi dalam pengambilan keputusan. Glueck dalam Lena Ellitan (2008) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan ini harus dimonitor oleh perusahaan karena pengaruh lingkungan seperti kekuatan ekonomi dapat membatasi tindakan manajemen. Manajemen tidak dapat menentukan sendiri bisnis apa yang akan dikembangkan, tetapi harus melibatkan kekuatan lingkungan, sehingga sangat penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor lingkungan dan beradaptasi dengan kekuatan lingkungan yang ada.
 Gul dan Chia dalam Dwirandra (2007:42) menyatakan bahwa ketika persepsi ketidakpastian lingkungan tinggi, organisasi mungkin membutuhkan tambahan informasi untuk mengantisipasi kompleksitas lingkungan. Semakin canggih laporan yang dihasilkan dari informasi sistem akuntansi manajemen akan dapat lebih membantu mengurangi ketidakpastian dan memperbaiki kualitas keputusan yang dibuat. Hal ini selanjutnya akan memperbaiki kinerja manajerial. Porter (Lena dkk, 2008:51) mendeskripsikan lingkungan sebagai suatu institusi atau kekuatan (seperti pemasok, konsumen, pesaing, peraturan pemerintah, dan tekanan publik) diluar organisasi, tetapi perusahaan memiliki kontrol yang kecil dan faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh potensial terhadap kinerja manajerial. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nindhy Frestilia (2013) mengemukakan bahwa ketidakpastian lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

Pengaruh Penetapan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Anggaran merupakan perencanaan aktivitas jangka pendek secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter dan nonmoneter sebagai alat manajemen untuk perencanaan dan pengendalian dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Proses penetapan anggaran yang baik memerlukan partisipasi dari anggota organisasi. Anggaran disusun oleh manajemen untuk jangka waktu satu tahun, membawa perusahaan ke kondisi tertentu yang diinginkan dengan sumber daya tertentu yang diperhitungkan. Partisipasi penganggaran merupakan proses di mana individu-individu terlibat dan mempunyai pengaruh dalam menentukan target anggaran. Dalam menyusun anggaran, manajer cenderung membuat. Tujuan anggaran cenderung menjadi tujuan manajer ketika menyusun anggaran. Govindarajan (2005:251) menyebutkan bahwa dalam penetapan anggaran yang terlalu ketat merupakan tantangan bagi manajer yang agresif, kreatif dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. Dengan demikian penetapan anggaran yang baik dapat memotivasi manajer untuk berkinerja lebih baik. Penetapan anggaran akan bermanfaat untuk membantu manajemen dalam meneliti dan mempelajari masalah yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan. Serta hubungan anggaran dengan fungsi manajemen adalah fungsi perencanaan, fungsi koordinasi dan fungsi pengendalian, sehingga menjadi fokus perhatian bagi para manajer untuk menetapkan anggaran yang efisien dan efektif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ni Putu Mia dan I Nyoman Wijana (2015), Dewa Ayu Made dan I Wayan Pradnyantha (2015) mengemukakan bahwa penyusunan anggaran berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja manajerial menurut Amstrong dan Baron (Nanda, 2010) antara lain:
1. Faktor pribadi (keahlian, kepercayaan diri, motivasi dan komitmen)
 2. Faktor kepemimpinan (kualitas, keberanian/semangat, pedoman, pemberian semangat pada manajer dan pemimpin kelompok organisasi)
3. Faktor tim/ kelompok (sistem pekerjaan dan fasilitas yang disediakan oleh organisasi)
 4. Faktor situasional (perubahan dan tekanan dari lingkungan internal dan eksternal)
Menurut Mahoney et al. (1963) dalam Gemelly (2014) indikator pengukuran kinerja manajerial sebagai berikut:
1. Perencanaan merupakan penentuan kebijakan dan sekumpulan kegiatan untuk selanjutnya dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi waktu sekarang dan yang akan datang. Perencanaan bertujuan untuk memberikan pedoman dan tata cara pelaksanaan tujuan, kebijakan, prosedur, penganggaran, dan program kerja sehingga terlaksana sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.
2. Investigasi merupakan kegiatan untuk melakukan pemeriksaan melalui pengumpulan dan penyampaian informasi sebagai bahan pencatatan, pembuatan laporan, sehingga mempermudah dilaksanakannya pengukuran hasil dan analisis terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.
3. Koordinasi merupakan proses jalinan kerjasama dengan bagian-bagian lain dalam organisasi melalui tukar-menukar informasi yang dikaitkan dengan penyesuaian program-program kerja.
4. Evaluasi merupakan penilaian yang dilakukan oleh manajer terhadap rencana yang telah dibuat, dan ditujukan untuk menilai pegawai dan catatan hasil kerja sehingga dari hasil penilaian tersebut dapat diambil keputusan yang diperlukan.
 5. Pengawasan merupakan penilaian untuk mendapatkan keyakinan bahwa perencanaan, pengkoordinasian, penyusunan, dan pengarahan telah berjalan secara efektif.
 6. Staffing (pemilihan staf) yang sering disebut sebagai penyusunan personalia merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan perekrutan, penarikan, penempatan, pemberian latihan kepada pegawai, mempromosikan pegawai, dan melakukan mutasi terhadap pegawai yang sudah tentu memperhatikan keterampilan pegawai dan kebutuhan perusahaan. Proses ini dipandang sebagai suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus untuk menjaga pemenuhan kebutuhan personalia perusahaan agar setiap bagian ditempatkan personil yang tepat dan pada saat yang tepat.
7. Negosiasi, dalam hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan, baik dalam satu bagian maupun secara keseluruhan dalam perusahaan dengan menyelaraskan antara kebutuhan perusahaan dengan kebutuhan karywan terlebih khusus dalam proses penyusunan anggaran dan pencapaian target anggaran.
8. Perwakilan dimaksudkan dengan kegiatan manajer dalam hal menghadiri pertemuan-pertemuan dengan perusahaan lain, perkumpulan bisnis, acara kemasyarakatan, dan pendekatan-pendekatan ke masyarakat untuk mempromosikan tujuan umum perusahaan

Manfaat Penilaian Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerja menurut Mulyadi (2001:416) dimanfaatkan oleh manajemen untuk 5 hal, yaitu:
1. Untuk mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui permotivasian karyawan secara maksimum.
2. Untuk membantu pengambilan keputusan yang terkait dengan karyawan, seperti: promosi, transfer dan pemberhentian.
 3. Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan, pengembangan karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.
5. Untuk menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan

Pengertian Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Pengertian kinerja manajerial menurut Robbins (2002:272) adalah “kinerja merupakan faktor penting yang digunakan untuk mengukur efektivitas dan efisien organisasi”. Henry Simamora (2004:339) berpendapat bahwa kinerja (performance) mengacu kepada kadar pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan.

Dalam Moh Pabundu (2006:121) pengertian kinerja telah dirumuskan oleh beberapa ahli manajemen antara lain sebagai berikut:

1. Stoner, 1978 mengemukakan bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, kecakapan dan persepsi peranan.

2. Bernardin dan Russel 1993 mendefinisikan kinerja sebagai pencatatan hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu
. 3. Handoko mendefinisikan kinerja sebagai proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.
4. Prawiro Suntoro 1999 mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu 29 organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu. Dari empat definisi kinerja di atas, dapat diketahui bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam kinerja terdiri dari:

1. Hasil-hasil fungsi pekerjaan.
2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi karyawan/pegawai seperti: motivator, kecakapan, persepsi peranan dan sebagainya.
 3. Pencapaian tujuan organisasi.
4. Periode waktu tertentu.
Menurut Anwar (2005:13) pencapaian kinerja dipengaruhi oleh faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation).
1. Kemampuan (ability) Secara psikologis, kemampuan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill) artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal.
 2. Motivasi (motivation) Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif (pro) terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.
 Menurut Henry Simamora (1995) dalam Anwar (2005:14) kinerja (performance) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Faktor individual yang terdiri dari:
  Kemampuan dan keahlian
  Latar belakang  Demografi
 2. Faktor psikologis yang terdiri dari:
  Persepsi
 Attitude
  Personality
 Pembelajaran
  Motivasi
3. Faktor organisasi yang terdiri dari:
  Sumber daya
  Kepemimpinan
  Penghargaan
  Struktur
 Job design

Tipe-tipe Ketidakpastian Lingkungan (skripsi dan tesis)Menurut Miliken (Astuti, 2007) ada tiga tipe ketidakpastian lingkungan: 1. Ketidakpastian keadaan (state uncertainty) 2. Ketidakpastian pengaruh (effect uncertainty) 3. Ketidakpastian respon Berikut penjelasan tipe ketidakpastian lingkungan yaitu: 1. Ketidakpastian keadaan (state uncertainty) Jika seseorang merasa bahwa lingkungan organisasi tidak dapat diprediksi, artinya seseorang tidak paham bagaimana komponen lingkungan akan mengalami perubahan. Seorang manajer dapat merasa tidak pasti terhadap tindakan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi dinamika perubahan lingkungan yang relevan, seperti perubahan teknologi, budaya dan lain sebagainya. 2. Ketidakpastian pengaruh (effect uncertainty) Ketidakpastian pengaruh berkaitan dengan ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi pengaruh lingkungan terhadap organisasi. Ketidakpastian pengaruh ini meliputi sifat, kedalam dan waktu. Seorang manajer berada dalam ketidakpastian pengaruh ini bila merasa tidak pasti terhadap bagaimana suatu peristiwa tersebut berpengaruh (kedalam) dan kapan pengaruh tersebut akan sampai pada perusahaan (waktu). Ketidakpastian pengaruh atas peristiwa yang terjadi pada masa mendatang akan menjadi lebih menonjol jika ketidakpastian lingkungan sangat tinggi di masa yang akan datang. 3. Ketidakpastian respon Adalah usaha untuk memahami pilihan respon apa yang tersedia bagi manfaat organisasi dari tiap-tiap respon yang akan dilakukan. Dengan demikian, ketidakpastian respon didefinisikan sebagai ketiadaan pengetahuan tentang pilihan respon dan ketidakmampuan untuk memprediksi konsekuensi yang mungkin timbul sebagai akibat pilihan respon.

Menurut Miliken (Astuti, 2007) ada tiga tipe ketidakpastian lingkungan:
1. Ketidakpastian keadaan (state uncertainty)
 2. Ketidakpastian pengaruh (effect uncertainty)
3. Ketidakpastian respon
 Berikut penjelasan tipe ketidakpastian lingkungan yaitu:
1. Ketidakpastian keadaan (state uncertainty)
 Jika seseorang merasa bahwa lingkungan organisasi tidak dapat diprediksi, artinya seseorang tidak paham bagaimana komponen lingkungan akan mengalami perubahan. Seorang manajer dapat merasa tidak pasti terhadap tindakan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi dinamika perubahan lingkungan yang relevan, seperti perubahan teknologi, budaya dan lain sebagainya.
 2. Ketidakpastian pengaruh (effect uncertainty)
Ketidakpastian pengaruh berkaitan dengan ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi pengaruh lingkungan terhadap organisasi. Ketidakpastian pengaruh ini meliputi sifat, kedalam dan waktu. Seorang manajer berada dalam ketidakpastian pengaruh ini bila merasa tidak pasti terhadap bagaimana suatu peristiwa tersebut berpengaruh (kedalam) dan kapan pengaruh tersebut akan sampai pada perusahaan (waktu). Ketidakpastian pengaruh atas peristiwa yang terjadi pada masa mendatang akan menjadi lebih menonjol jika ketidakpastian lingkungan sangat tinggi di masa yang akan datang. 3. Ketidakpastian respon
Adalah usaha untuk memahami pilihan respon apa yang tersedia bagi manfaat organisasi dari tiap-tiap respon yang akan dilakukan. Dengan demikian, ketidakpastian respon didefinisikan sebagai ketiadaan  pengetahuan tentang pilihan respon dan ketidakmampuan untuk memprediksi konsekuensi yang mungkin timbul sebagai akibat pilihan respon.

Faktor-faktor Ketidakpastian Lingkungan (skripsi dan tesis)

Dess dan Beard (Lena dkk, 2008:151) menyatakan bahwa literatur konseptual tentang faktor-faktor lingkungan telah dikembangkan dalam literatur manajemen. Dimensi-dimensi tersebut meliputi:

1. Environmental munificence
2. Environmental dynamism
3. Environmental complexity
Berikut penjelasannya:
1. Environmental munificence merupakan tingkat dukungan lingkungan terhadap pertumbuhan organisasi yang ada didalamnya dan diukur melalui tiga hal yaitu biaya bisnis, ketersediaan tenaga kerja, dan tingkat persaingan. Biaya bisnis mewakili semua biaya produksi yang dibutuhkan  perusahaan dalam kegiatan operasional. Ketersediaan tenaga kerja mewakili fokus pada pengurangan teknisi, clerical, dan pekerja produksi. Tingkat persaingan mencakup fokus pada penurunan permintaan baik dalam pasar lokal maupun pasar asing dan fokus pada profit margin yang rendah dan standar kualitas.

2. Environmental dynamism (lingkungan dinamisme) menunjukkan kondisi perubaha lingkungan yang tidak dapat diprediksi. Kondisi ini mengukur tingkat produk dan jasa dalam proses, dan tingkat perubahan selera, serta preferensi konsumen. Lingkungan yang dinamis mengindikasikan suatu lingkungan yang berubah cepat dan diskontinu dalam hal permintaan, pesaing, teknologi, dan perarturan seperti informasi yang tidak akurat, tidak tersedia, dan ketinggalan jaman.
 3. Environmental complexity (kompleksitas lingkungan) mewakili heterogenitas dalam aktivitas organisasi. Kompleksitas lingkungan merupakan fokus yang lebih relevan untuk strategi perusahaan daripada pada level analisis unit bisnis. Penyebab ketidakpastian dan turbulensi lingkungan bisnis terkait dengan kebutuhan, selera konsumen, peningkatan kompetisi, perubahan teknologi, dan isu sosial

Pengertian Ketidakpastian Lingkungan (skripsi dan tesis)

Porter dalam Lena dkk (2008:51), mendeskripsikan lingkungan sebagai suatu institusi atau kekuatan (seperti pemasok, konsumen, pesaing, peraturan pemerintah, dan tekanan publik) diluar organisasi, tetapi perusahaan memiliki kontrol yang kecil dan faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh potensial terhadap kinerja organisasi. Glueck mengemukakan bahwa faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan ini harus dimonitor oleh perusahaan karena  pengaruh lingkungan seperti kekuatan ekonomi dapat membatasi tindakan manajemen. Manajemen tidak dapat menentukan sendiri bisnis apa yang akan dikembangkan, tetapi harus melibatkan kekuatan lingkungan, sehingga penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengelola faktor-faktor lingkungan dan beradaptasi dengan kekuatan lingkungan yang ada.
Gul dan Chia dalam Dwirandra (2007:42) menyatakan bahwa ketika persepsi ketidakpastian lingkungan tinggi, organisasi mungkin membutuhkan tambahan informasi untuk mengantisipasi kompleksitas lingkungan. Semakin canggih laporan yang dihasilkan dari informasi sistem akuntansi manajemen akan dapat lebih membantu mengurangi ketidakpastian dan memperbaiki kualitas keputusan yang dibuat. Pfeffer dan Salancik (Lena dkk, 2008:52) menyatakan bahwa perubahan dalam cara perusahaan untuk berkomunikasi dan mempelajari sesuatu dari konsumen, pesaing dan partner dalam rantai pemasok merupakan salah satu sumber utama ketidakpastian. Dess dan Beard (Lena dkk, 2008:52) menyatakan bahwa ketidakpastian merupakan suatu fungsi ketersediaan dan aliran sumber daya.
Menurut Ducan (Singgih, 2012) ketidakpastian lingkungan merupakan: “1) ketiadaan informasi tentang faktor-faktor lingkungan yang berhubungan dengan situasi pengambilan keputusan, 2) tidak diketahui outcome dari keputusan tertentu tentang seberapa besar kerusakan atau kerugian jika keputusan yang diambil salah, 3) ketidakmampuan untuk menilai kemungkinan pada berbagai tingkat keyakinan tentang bagaimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya keputusan.” Miliken (Astuti, 2007) mengemukakan ketidakpastian lingkungan adalah rasa ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi sesuatu secara akurat dari 25 seluruh faktor social dan fisik yang secara langsung mempengaruhi perilaku pembuatan keputusan orang-orang dalam organisasi. Lena dkk. (2008:52) mengemukakan ketidakpastian lingkungan dikarakterisasikan dengan perubahan yang cepat dan diskontinu, ketersediaan sumber daya atau teknologi yang membawa dampak pada kontingensi yang sulit atau tidak mungkin diantisipasi tetapi harus dipertimbangkan dalam memformulasikan dan mengimplementasikan strategi. Dari beberapa pengertian ketidakpastian lingkungan di atas, dapat diartikan bahwa ketidakpastian lingkungan adalah perubahan yang cepat dan sulit untuk diprediksi secara akurat dari faktor ketersediaan sumber daya, sistem informasi, teknologi, ekonomi, dan faktor lingkungan lainnya yang mempengaruhi organisasi dalam pengambilan keputusan

Kelemahan Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Hansen & Mowen (Fitriasari & Kwary, 2004:377) terdapat kelemahan dan tiga permasalahan yang akan timbul dalam anggaran partisipatif yaitu:

 1. Penetapan standar yang terlalu rendah atau tinggi
Penetapan target anggaran cenderung akan menjadi tujuan individual manajer dalam situasi penganggaran partisipatif, sehingga penetapan target anggaran yang terlalu mudah ataupun terlalu sulit akan dapat menyebabkan turunnya kinerja manajer. Bila target terlalu mudah untuk dicapai, maka manajer mungkin akan kehilangan semangat dan kinerjanya akan menurun. Sedangkan bila target anggaran terlalu sulit untuk dicapai, kegagalan pencapaian target tersebut akan menyebabkan frustasi dan mendorong manajer ke arah prestasi kerja yang buruk.

2. Masuknya slack (senjangan) anggaran
Anggaran partisipatif menimbulkan kesempatan bagi manajer untuk menciptakan slack anggaran. Slack anggaran merupakan perbedaan antara jumlah sumber daya yang sebenarnya diperlukan untuk menyelesaikan tugas secara efisien, dengan jumlah yang diajukan oleh manajer yang bersangkutan untuk mengerjakan tugas yang sama. Slack anggaran dalam jumlah besar dapat merugikan perusahaan, sebab sumber daya yang ada mungkin tidak dapat merugikan perusahaan, sebab sumber daya yang ada mungkin tidak dapat digunakan secara produktif karena telah terikat di tempat yang sebenarnya tidak membutuhkannya.
 3. Partisipasi semu (pseudoparticipation)
Hal ini terjadi bila manajer puncak memegang kendali total atas proses penganggaran dan pada saat yang sama juga mencari dukungan partisipasi dari bawahannya. Manajer puncak hanya berusaha untuk mendapatkan penerimaan formal dari bawahannya atas anggaran yang disusun, bukan mencari masukan bagi penyusun anggaran. Pseudoparticipation ini menyebabkan tidak diperolehnya efek-efek positif perilaku manajer yang diharapkan dari adanya penerapan anggaran partisipatif dalam. Dalam hal ini bawahan terpaksa menyatakan persetujuannya terhadap keputusan yang akan ditetapkan karena manajer puncak membutuhkan persetujuan mereka

Keunggulan Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

 Garrison (Nuri Hinduan, 2006:381) menyatakan keunggulan anggaran partisipatif adalah sebagai berikut:
 1. Individuals at all levels of the organization are recognized as members of the team whose views and judgements are valued by top management.
2. Budget estimates prepared by front-line managers are often more accurate and reliable than estimates prepared by top-managers who have less intimate knowledge of markets and day-to-day operation.
3. Motivation is generaly higher when individuals participate in setting their own goals than when the goals are imposed from above. Self-imposed budgets create commitment. 4. A manager who is not able to meet a budget that has been imposed from above can always say the budget was unrealistic and impossible to meet. With a self-imposed budget, this excuse is not available.
 Pendapat diatas tersebut dapat diartikan sebagai berikut: 1. Setiap orang pada semua tingkatan organisasi diakui sebagai anggota tim yang pandangan dan penilaiannya dihargai oleh manajemen puncak. 2. Perkiraan anggaran disiapkan oleh manajer level bawah yang lebih akurat dan dapat diandalkan dari perkiraan yang disiapkan oleh manajer level atas yang memiliki pengetahuan kurang detail mengenai pasar dan operasi sehari-hari. 3. Motivasi pada umumnya lebih tinggi ketika individu berpartisipasi dalam menetapkan tujuan mereka sendiri dari pada ketika tujuan yang disiapkan dari atasan. 4. Manajer yang tidak mampu memenuhi anggaran yang dipaksakan oleh atasan akan selalu mengatakan bahwa anggaran tidak realistis dan mustahil untuk dicapai. Menurut Anthony dan Govindarajan (Kurniawan & Krista, 2005:93), anggaran partisipatif memiliki keunggulan yaitu: 1. Tujuan anggaran akan dapat lebih mudah diterima apabila anggaran tersebut berada dibawah pengawasan manajer. 2. Anggaran partisipatif menghasilkan pertukaran informasi yang efektif antara pembuat anggaran dan pelaksana anggaran yang dekat dengan produk dan pasar

Pengertian Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Robbins (2003:179) partisipasi merupakan suatu konsep dimana bawahan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan sampai tingkat tertentu bersama atasannya. Menurut Mulyadi (2001:513) definisi partisipasi adalah suatu proses pengambilan keputusan bersama oleh dua pihak atau lebih yang mempunyai dampak masa depan bagi pembuat keputusan tersebut. Garrison (Nuri Hinduan, 2006:408) mendefinisikan anggaran parsitipatif adalah anggaran yang disisipkan dengan kerjasama serta partisipasi penuh dari manajer pada semua tingkatan. Menurut Anthony dan Govindarajan (Kurniawan & Krista, 2005:87), pendekatan partisipatif ini juga sangat menguntungkan untuk pusat tanggung jawab yang beroperasi dalam lingkungan yang dinamis dan tidak pasti karena manajer yang bertanggung jawab semacam itu kemungkinan besar memiliki informasi terbaik mengenai variabel yang memengaruhi pendapatan dan beban mereka.

Pendekatan dalam Penyusunan Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Sofyan (2001:83) bahwa pendekatan dalam penyusunan anggaran dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Top-Down Approach
2. Bottom-Up Approach
3. Top-Down dan Bottom-Up Approach
Berikut penjelasan pendekatan dalam penyusunan anggaran yaitu:
1. Top-Down Approach
Yaitu prosedur penyusunan dan penetapan anggaran yang dilakukan oleh manager tingkat atas atau pimpinan tertinggi perusahaan dengan sedikit atau bahkan tidak adanya konsultasi atau keterlibatan manajer tingkat bawah dalam penyusunan dan penetapan anggaran tersebut. Keuntungannya adalah waktu penyusunan yang singkat dan terkoordinasinya antar bagian. Kelemahannya adalah tidak memperhitungkan kebutuhan tiap bagian dengan tepat karena semuanya merupakan keputusan sepihak dari manajemen puncak
. 2. Bottom-Up Approach
Yaitu prosedur penyusunan dan penetapan anggaran yang disiapkan oleh pihak-pihak yang melaksanakan anggaran tersebut, kemudian anggaran diberikan kepada pihak yang lebih tinggi untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan. Keuntungannya adalah tingkat keakuratan dari kebutuhan tiap-tiap bagian dalam perusahaan yang tinggi. Kelemahannya adalah waktu penyusunan yang lama dan kurangnya koordinasi antar bagian.
3. Top-Down dan Bottom-Up Approach
Top-Down dan Bottom-up Approach sering disebut participative budget adalah prosedur penyusunan dan penetapan anggaran dengan memulainya dari manajer atas kemudian dilengkapi dan dilanjutkan oleh manajer level 21 bawah. Jadi terdapat pedoman dari atasan atau pimpinan dan dijabarkan oleh bawahan sesuai dengan pengarahan atasan

Keunggulan dan Kelemahan Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Ellen dkk (2001:18) anggaran memiliki keunggulan yaitu:

1. Hasil yang diharapkan dari suatu rencana tertentu dapat diproyeksikan sebelum rencana tersebut dilaksanakan. Bagi manajemen, hasil proyeksi ini menciptakan peluang untuk memilih rencana yang paling menguntungkan untuk dilaksanakan.
 2. Dalam menyusun anggaran, diperlukan analisis yang sangat teliti terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan. Analisis ini sangat bermanfaat bagi manajemen sekalipun ada pilihan untuk tidak melanjutkan keputusan tersebut.
 3. Anggaran merupakan penelitian unjuk kerja sehingga dapat dijadikan patokan untuk menilai baik buruknya suatu hasil yang diperoleh.

 4. Anggaran memerlukan adanya dukungan organisasi yang baik sehingga setiap manajer mengetahui kekuasaan, kewenangan, dan kewajibannya. Anggaran sekaligus berfungsi sebagai alat pengendalian pola kerja karyawan dalam melakukan suatu kegiatan
. 5. Mengingat setiap manajer dan atau penyedia dilibatkan dalam penyusunan anggaran, maka memungkinkan terciptanya perasaan ikut berperan serta (sense of participation). Menurut Ellen dkk (2001:18) anggaran memiliki kelemahan yaitu:

 1. Dalam menyusun anggaran, penaksiran yang dipakai belum tentu tepat dengan keadaan yang sebenarnya.
 2. Seringkali keadaan yang digunakan sebagai dasar penyusunan anggaran mengalami perkembangan yang jauh berbeda daripada yang direncanakan. Hal ini berarti diperlukan pemikiran untuk penyesuaian. Kemungkinan ini menghendaki agar disesuaikan secara berkesinambungan dengan kondisi yang berubah-ubah agar data dan informasi yang diperoleh akurat.
 3. Karena penyusunan anggaran melibatkan banyak pihak, maka secara potensial dapat menimbulkan persoalan-persoalan hubungan kerja (human relation) yang dapat menghambat proses pelaksanaan anggaran.
4. Penganggaran tidak dapat terlepas dari penialaian subjektif pembuat kebijakan (decision maker) terutama pada saat data dan informasi tidak lengkap/cukup.

Fungsi dan Manfaat Anggaran (skripsi dan tesis)

Garrison (A. Totok Budisantoso, 2000:404) menyatakan bahwa:  “Fungsi anggaran adalah pengendalian dan perencanaan. Perencanaan mencakup pengembangan tujuan untuk masa depan, sedangkan pengendalian digunakan untuk menjamin bahwa seluruh fungsi manajemen dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.”

Menurut Mulyadi (2001:502) anggaran memiliki beberapa fungsi yaitu:

1. Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja.

 2. Anggaran merupakan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan perusahaan di masa yang akan datang.
3. Anggaran berfungsi sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan manajer bawah dengan manajer atas.
4. Anggaran berfungsi sebagai tolak ukur yang dipakai sebagai pembanding hasil operasi sesungguhnya.

5. Anggaran berfungsi sebagai alat pengendali yang memungkinkan manajemen menunjuk bidang yang kuat dan lemah bagi perusahaan.
6. Anggaran berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi dan memotivasi manajer dan karyawan agar senantiasa bertindak secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan organisasi. Menurut Munandar (2001:10) anggaran memiliki kegunaan atau manfaat sebagai berikut:

 1. Sebagai pedoman kerja.
 Anggaran sebagai pedoman kerja dan memberikan arah serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan di waktu yang akan datang.

2. Sebagai alat pengkoordinasian kerja.
Anggaran sebagai alat pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat di dalam perusahaan dapat saling bekerja sama dengan baik untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan, dengan demikian kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

3. Sebagai pengawasan kerja.
Anggaran juga sebagai tolak ukur dan sebagai alat pembanding untuk menilai realisasi kegiatan perusahaan nanti. Dengan cara membandingkan antara apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan maka dapatlah dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja. Dari perbandingan antara anggaran dengan realisasinya sehingga dapat pula diketahui kelemahankelemahan dan kekuatan-kekuatan yang dimiliki perusahaan. Hal ini dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan yang sangat berguna untuk menyusun rencana-rencana selanjutnya secara lebih matang dan lebih akurat.

Karakteristik Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyadi (2011:490) terdapat 6 karakteristik anggaran yaitu

: 1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan.

 2. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu satu tahun.

3. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen yang berarti bahwa para manajer setuju untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam anggaran.

4. Usulan anggaran di-review dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusunan anggaran.
 5. Sekali disetujui, anggaran hanya dapat diubah dibawah kondisi tertentu.
 6. Secara berkala, kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran selisihnya dianalisis dan dijelaskan.
Menurut Anthony dan Govindarajan (Kurniawan & Krista, 2005:73) karakteristik anggaran yaitu:
1. Anggaran mengestimasi potensi laba dari unit bisnis tersebut.
2. Dinyatakan dalam istilah moneter, walaupun jumlah moneter mungkin didukung dengan jumlah nonmoneter.
3. Biasanya meliputi waktu selama satu tahun. Dalam bisnis-bisnis yang sangat dipengaruhi faktor-faktor musiman, mungkin ada dua anggaran pertahun.
 4. Merupakan komitmen manajemen, yang berarti manajer setuju untuk menerima tanggung jawab atas pencapaian tujuan-tujuan anggaran.
 5. Usulan anggaran disetujui dan ditinjau oleh pejabat yang lebih tinggi wewenangnya dari pembuat anggaran.
6. Setelah disetujui, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi-kondisi tertentu.
7. Setelah berkala, kinerja keuangan aktual dibandingkan dengan anggaran, dan varians dianalisis serta dijelaskan.

Jenis-jenis Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Ellen dkk (2001:12) anggaran dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Berdasarkan ruang lingkup atau intensitas penyusunannya anggaran dibedakan menjadi:

 Anggaran komprehensif (comprehensive budget) yaitu anggaran dengan ruang lingkup menyeluruh, karena jenis kegiatannya meliputi seluruh aktifitas perusahaan di bidang marketing, produksi, keuangan, personalian dan administrasi.

  Anggaran parsial (partial budget) yaitu anggaran yang ruang lingkupnya terbatas, misalnya anggaran untuk bidang produksi atau bidang keuangan saja.
2. Berdasarkan fleksibilitasnya, anggaran dibedakan menjadi:
  Anggaran tetap (fixed budget) yaitu anggaran yang disusun untuk periode waktu tertentu dengan volume yang sudah ditentutakan dan berdasarkan volume tersebut disusun rencana mengenai revenue, cost, dan expense.
  Anggaran kontinyu (continuous budget) yaitu anggaran yang disusun untuk periode waktu tertentu, dengan volume tertentu dan berdasarkan volume tersebut diperkirakan besarnya revenue, cost dan expenses, namun secara periodik dilakukan penilaian kembali.
3. Berdasarkan periode waktu, anggaran dibedakan menjadi:
  Anggaran jangka pendek yaitu rencana kegiatan perusahaan secara rinci dalam satu tahun anggaran.
  Anggaran jangka panjang yaitu rencana kegiatan perusahaan dengan cakupan waktu yang panjang dengan penekanan pada pengembangan profil perusahaan pada masa yang akan datang.
Menurut M. Nafarin (2004:22) anggaran dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
1. Menurut dasar penyusunan, anggaran terdiri dari:
  Anggaran variabel, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval (kisar) kapasitas (aktivitas) tertentu dan pada intinya merupakan suatu seri anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat-tingkat aktivitas (kegiatan) yang berbeda
  Anggaran tetap, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat kapasitas tertentu.
2. Menurut cara penyusunannya, anggaran terdiri dari:
  Anggaran periodik adalah anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu, umumnya satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran.
  Anggaran kontinu adalah anggaran yang dibuat untuk memperbaiki anggaran yang telah dibuat.
 3. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari:

 Anggaran jangka pendek (anggaran taktis) adalah anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun.
  Anggaran jangka panjang (anggaran strategis) adalah anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun.
 Menurut Kamarudin (2011:187) anggaran dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
1. Appropriation Budget
Anggaran ini memberikan batas daripada pengeluaran yang boleh dilakukan. Batas ini merupakan jumlah maksimum yang boleh dikeluarkan untuk suatu hal tertentu. Misalnya anggaran dalam pemerintah.
2. Performance Budget
 Anggaran yang didasarkan atas fungsi, aktivitas dan proyek. Karena ditujukan pada fungsi dan kegiatan yang harus dilakukan, maka memungkinkan dibuatnya penialaian daripada biaya-biaya yang dihadapkan pada hasil-hasil yang dicapai, dan kemungkinan pula kita membuat penilaian prestasi (efisiensi). Sebaliknya dalam appropriation budget pengawasan hanya terbatas pada apakah pengeluaran tidak melampaui jumlah yang telah ditetapkan, sedangkan mengenai prestasi memuaskan atau tidak, tidak menjadi persoalan.
3. Fixed Budget
Anggaran tetap adalah anggaran yang dibuat untuk satu tingkat kegiatan (one level of activity) selama jangka waktu tertentu. Misalnya presentase dari kapasitas, jumlah produk yang dihasilkan selama jangka waktu tertentu.
 4. Fleksibel Budget
 Suatu anggaran yang dibuat dalam rentang aktivitas, artinya beberapa aktivitas dipecah-pecah dari suatu rentang yang relevan. Dengan demikian anggaran fleksibel terdiri dari serangkaian anggaran tetap, dengan masingmasing tingkatan yang berlainan

Pengertian Anggaran (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyadi (2001:488) anggaran merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif, yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran yang lain, yang mencakup jangka waktu satu tahun. Hansen dan Mowen (Fitriasari & Kwary, 2004;354) mendefinisikan anggaran sebagai suatu rencana kuantitatif dalam bentuk moneter maupun nonmoneter yang digunakan untuk menerjemahkan tujuan dan strategi perusahaan dalam satuan operasional. Menurut Anthony dan Govindarajan (Kurniawan & Krista, 2005:90) pengertian anggaran sebagai sebuah rencana keuangan, biasanya mencakup periode satu tahun dan merupakan alat-alat untuk perencanaan jangka pendek dan pengendalian dalam organisasi. Menurut Supriyono (1990) penganggaran merupakan perencanaan keuangan perusahaan yang dipakai sebagai dasar pengendalian (pengawasan) keuangan perusahaan untuk periode yang akan datang. Govindarajan (2005:251) menyebutkan bahwa dalam penetapan anggaran yang terlalu ketat merupakan tantangan bagi manajer yang agresif, kreatif dan 15 bertanggungjawab atas pekerjaannya. Dengan demikian penetapan anggaran yang baik dapat memotivasi manajer untuk berkinerja lebih baik Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa anggaran merupakan perencanaan aktivitas jangka pendek secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter dan nonmoneter sebagai alat manajemen untuk perencanaan dan pengendalian dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Hubungan Partisipasi Anggaran dengan Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Anggaran disusun oleh manajemen dalam jangka waktu satu tahun
membawa perusahaan ke kondisi tertentu yang diinginkan dengan sumber daya
tertentu yang diperhitungkan (Mulyadi, 2001:489). Karena sangat pentingnya
anggaran bagi organisasi maka dibutuhkan penyusunan anggaran yang baik.
Anggaran dapat tersusun dengan baik apabaila suatu organisasi menerapkan
partisipasi di dalam penyusunan anggarannya. Partisipasi dalam penyusunan
anggaran umumnya dinilai sebagai pendekatan manajerial yang dapat
meningkatkan kinerja anggota organisasi. Para bawahan yang merasa aspirasinya
dihargai dan mempunyai pengaruh pada anggaran yang disusun akan lebih
mempunyai tanggung jawab dan konsekuensi moral yang akan meningkatkan
kinerja sesuai yang ditargetkan dalam anggaran (Supomo 1998).
Penelitian mengenai partisipasi anggaran dan pengaruhnya terhadap kinerja
manajerial merupakan salah satu bidang penelitian yang mengalami
ketidakkonsistenan. Frisilia Wihasfina Hafiz (2007) melakukan penelitian
mengenai Pengaruh partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial pada PT Cakra
Compact Alumunium Industries Medan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
partisipasi anggaran memberikan pengaruh positif terhadap kinerja manajerial.
Sedangkan Ekha Yunora Sinaga (2009) melakukan penelitian mengenai Pengaruh
partisipasi Anggaran dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Manajerial pada
PTPN III Sei Sikambing Medan. Hasil penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh
antara partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Setiap manajer dalam menjalankan pekerjaannya dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang selalu menyertai. Mulyadi ( 2001:78) menyebutkan kinerja manajerial
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Kemampuan
2. Minat menjalankan pekerjaan
3. Peluang untuk tumbuh dan maju
4. Tujuan terdefinisikan dnegan jelas
5. Kepastian tentang apa yang diharapkan
6. Umpan balik mengenai seberapa baik mereka menjalankan tugasnya
7. Imbalan bagi mereka yang berkinerja baik
8. Hukuman bagi mereka yang berkinerja buruk
Faktor-faktor yang digunakan dalam kinerja menurut Mangkunegara
(2009:67) antara lain :
1. Kualitas kerja, adalah menunjukan hasil kerja yang dicapai dari segi
ketepatan, ketelitian dan keterampilan.
2. Kuantitas kerja, adlaah menunjukan hasil kerja yang dicapai dari segi
keluaran atau hasil tugas-tugas rutinitas dan kecepatan dalam
menyelesaikan tugas itu sendiri.
3. Kerjasama, adalah menyatakan kemampuan karyawan dalam
berpartisipasi dan bekerja sama dengan orang lain dalam menyelesaikan
tugas.
4. Tanggung jawab, adalah menyatakan seberapa besar karyawan dalam
menerima dan melaksanakanpekerjaannya.
5. Inisiatif, yakni bersemangat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, serta
kemampuan dalam membuat suatu keputusan yang baik tanpa adanya
pengarahan terlebih dahulu.
Anthony dan Govindarajan (2005) menyatakan hasil penelitian tentang
partisipasi dalam penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial memiliki
pengaruh karena :
1. Kemungkinan ada penerimaan yang lebih besar atas cita-cita anggaran jika
annggaran dipandang berada dalam kendali pribadi manajer, dibandingkan
jika dipaksakan secara eksternal, hal ini mengarah kepada komitmen pribadi
yang meningkat untuk mencapai cita-cita tersebut.
2. Hasil partisipasi penyusunan anggaran adalah pertukaran informasi yang
efektif. Besaran anggaran yang telah disetujui merupakan hasil dari keahlian
dan pengetahuan pribadi dari pembuatan anggaran yang paling dekat
dengan lingkungan produk atau pasar. Lebih lanjut lagi, pembuatan
anggaran mempunyai pemahaman yang lebih jelas mengenai pekerjaan
mereka melalui interaksi dengan atasan selama fase peninjauan dan
persetujuan.
Kesimpualan dari penjelasan-penjelasan tersebut, pada umumnya faktor
yang mempengaruhi kinerja manajerial merupakan kemampuan seseorang dalam berpartisipasi untuk melaksanakan pekerjaannya sehingga akan terciptanya pencapaian prestasi kerja

Pengertian Kinerja Manajerial (skripsi dan tesis)

Mahoney, et al dalam Handoko (1996:34) mendefinisikan kinerja
manajerial sebagai kinerja para individu dalam kegiatan manajerial. Kinerja
personel meliputi delapan dimensi yaitu: Perencanaan, Investigasi,
Pengkoordinasian, Evaluasi, Pengawasan (supervisi), Pengaturan staf (staffing), Negosiasi, dan Perwakilan (representatif).
Menurut Mulyadi dan Johny dalam Mardiyah dan Listiyaningsih (2005)
kinerja manajerial adalah kinerja individu anggota organisasi dalam kegiatan-kegiatan manajerial. Kinerja manajerial merupakan hasil dari proses aktivitas manajerial yang efektif mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, laporan pertanggung jawaban, pembinaan, dan pengawasan. Stoner (1992) berpendapat bahwa kinerja manajerial adalah seberapa efektif dan efisien manajer telah bekerja untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Mulyadi dan Johny dalam Mertina (2009) seseorang yang
memegang posisi manajerial diharapkan mampu menghasilkan suatu kinerja
manajerial. Berbeda dengan kinerja karyawan umumnya bersifat konkrit, kinerja manajerial bersifat abstark dan kompleks.
Kinerja manajerial merupakan seberapa jauh manajer melaksanakan fungsifungsi
manajemen, Kinerja manajerial dalam penelitian ini diukur dengan
mempergunakan instrumen self rating yang dikembangkan oleh Mahoney (1963) yaitu:
1. Perencanaan
Menentukan tujuan, kebijakan dan tindakan/pelaksanaan, penjadwalan kerja,
penganggaran, merancang prosedur, dan pemrograman.
2. Investigasi
Mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan, dan
rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, dan analisis pekerjaan.
3. Pengkoordinasian
Kemampuan melakukan tukar menukar binformasi dengan orang lain
dibagian organisasi yang lain untuk mengkaitkan dan meyesuaikan
problem, memberitahukan bagian lain, dan hubungan dengan manajer lain.
4. Evaluasi
Menilai dan mengukur proposal, kinerja yang diamati atau dilaporkan, penilaian
pegawai, penilaian catatan hasil, penilaian laporan keuangan, pemeriksaan
produk.
5. Pengawasan
Mengarahkan, memimpin, dan mengembangkan bawahan, membimbing,
melatih, dan menjelaskan peraturan kerja pada bawahan, memberikan tugas
pekerjaan dan menangani bawahan.
6. Pemilihan staf
Mempertahankan angkatan kerja dibagian anda, merekrut, mewawancarai, dan memilih pegawai baru, menempatkan, mempromosikan, dan mutasi pegawai.
7. Negosiasi
Melakukan pembelian, penjualan atau melakukan kontrak untuk barang
dan jasa, menghubungi pemasok, tawar menawar dengan wakil penjual,
tawar menawar secara kelompok
8. Perwakilan
Menghidari pertemuan-pertemuan dengan perusahaan lain, pertemuan
perkumpulan bisnis, pidato untuk acara-acara kemasyarakatan, pendekatan
kemasyarakatan, mempromosikan tujuan umum perusahaan.

Tingkat Manajer (skripsi dan tesis)

Salah satu cara untuk memahami kompleksitas manajemen adalah
memandang bahwa manajer dapat berada diberbagai tingkatan dan cakupan
berbagai macam manajer. Griffin dan Ronald (2007:169) mengemukakan tingkatan
manajer adalah sebagai berikut:
1) Manajer Puncak (Top Manager)
2) Manajer Menengah (Middle Manager)
3) Manajer Lini Pertama (Low Manager)
Menurut Griffin dan Ronald (2007) yang dialihbahasakan oleh Sita
Wardhani, manajer puncak bertanggung jawab atas keseluruhan kinerja dan
efektivitas yang berada diperusahaan. Jabatan manajer puncak meliputi presiden, wakil presiden, treasurer, CEO (Chief Excecutive Officer), CFO (Chief Financial Officer). Manajer menengah bertugas memecahkan masalah dan mencari metode-metode baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Manajer tingkat menengah meliputi posisi-posisi seperti manajer regional dan manajer pabrik (Madur, 2007). Menururt Umar (2000), manajer lini pertama ini tidak membawahi manajer lain, hanya membawahi pekerja operasioal. Manajer ini biasanya disebut supervisor.

Pengertian Manajer (skripsi dan tesis)

Stonner, Gilbert dan Freeman (1996:7) yang dialihbahasakan oleh
Alexander Sindoro mendefinisikan manajer sebagai berikut:
“Manajer adalah orang yang bertanggungjawab mengarahkan usaha yang
bertujuan membantu organisasi dalam mencapai sasarannya.”
Menurut Robbins (2001:2):
“Manager get things done through other people, they make decisions,
allocate resource, and direct the activities of other attain goals. Managers
do their work in an organization.”
Penulis dapat menjelaskan dari beberapa pengertian diatas bahwa manajer
adalah seseorang yang bekerja mengelola dan menata usahakan perusahaan melalui
sumber daya manusia yang ada pada perusahaan tersebut untuk mencapai tujuan
organisasi. Mereka mempunyai tanggungjawab dan wewenang sebagai pengambil
keputusan.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Arti performance atau kinerja menurut Prawirosentono (1999:2) adalah
sebagai berikut:
“Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan
organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai
dengan moral maupun etika”.
Menurut Mangkunegara (2000:67), istilah kinerja berasal dari kata Job
Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi sesugguhnya) yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah sebagai berikut:
“Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas seseorang dalam
melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
padanya.”
Hal ini seiring dengan pendapat dengan Simamora (2004:327) yang
mengatakan bahwa:
“Kinerja merupakan suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang
akhirnya secara nyata dapat tercermin keluaran yang dihasilkan.”
Kinerja secara sederhana adalah apa yang dikerjakan atau tidak dikerjakan
oleh karyawan. Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Kinerja merupakan
gabungan dari tiga faktor penting yaitu, kemampuan dan minat seseorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas dan peran serta tingkat motivasi seorang pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor tersebut, maka semakin besarlah kinerja karyawan yang bersangkutan (Hasibuan, 2004).

Kelemahan Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Dalam partisipasi penyusunan anggaran, dalam pengambilan keputusan
biasanya selalu terjadi konflik permasalahan atasan dan bawahan. Hansen dan
Mowen (2009:48) menjabarkan permasalahan yang timbul dari partisipasi
anggaran, antara lain :
1. Menetapkan standar yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
Target yang dicapai pada anggaran cenderung menjadi tujuan manajer saat
ikut berpartisipasi dalam pembuatan anggaran. Penetapan tujuan yang
terlalu rendah bisa mengakibatkan penurunan tingkat kinerja manajer,
namun penetapan tujuan anggaran yang terlalu tinggi bisa menyebabkan
kegagalan untuk mencapai standar dan membuat frustasi manajer yang bisa
mengarah pula pada penurunan tingkat manajer.
2. Membuat kelonggaran dalam anggaran ( sering disebut sebagai menutupi
anggaran)
Partisipasi anggaran dapat menciptakan kesempatan bagi para manajer
untuk membuat kelonggaran dalam anggaran (budgetery slack) atau
senjangan anggaran. Senjangan anggaran dalam jumlah yang cukup besar
dapat merugikan perusahaan, karena sumber daya yang seharusnya bisa
dimanfaatkan secara produktif tidak dapat dilakukan karena telah terikat
pada bagian lain yang sebenarnya tidak membutuhkan sumber daya
tersebut.
3. Partisipasi semu
Partisipasi semu akan terjadi apabila manajemen puncak menerapkan
pengendalian total atas proses penganggaran, sehingga hanya mencari
partisipasi semu dari manajer tingkat bawah. Partisipasi semacam ini tidak
akan mendatangkan mafaat dari anggaran partisipasif sesungguhnya karena
manajemen puncak hanya mendapatkan persetujuan formal dari manajer
tingkat bawah, bukan untuk mencari input yang sebenarnya.
Kelemahan-kelemahan tersebut harus menjadi perhatian bagi manajemen di
dalam organisasi agar kemungkinan untuk terjadi dapat di minimalisir sejak dini.
Penetapan standar yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat di atasi dengan
mengajak manajer untuk berpartisipasi dalam menentukan target anggaran yang
tinggi atau rendah tersebut sehingga realistis untuk dicapai. Manajer puncak harus
memeriksa kembali dengan seksama anggaran yang telah disusun tersebut sehingga
tidak terdapat slack anggaran. Partisipasi semu sedapat mungkin harus dihindarkan
oleh organisasi karena akan berdampak negatif bagi organisasi.

Keunggulan Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Anthony dan Govindarajan (2005:93) menyatakan bahwa penganggaran
partisipasi memiliki dua keunggulan yaitu:
1. Tujuan anggaran akan dapat lebih mudah diterima apabila anggaran tersebut
berada di bawah pengawasan manajer.
2. Penganggaran partisipasi menghasilkan pertukaran informasi yang efektif
antara pembuat anggaran dan pelaksana anggaran yang dekat dengan
produk dan pasar.
Garrison (2000:381) menyatakan keunggulan anggaran partisipatif sebagai berikut:
1. Setiap orang pada semua tingkatan organisasi diakui sebagai anggota tim
yang pandangan dan penilaiannya dihargai oleh manajemen puncak.
2. Perkiraan anggaran disiapkan oleh manajer level bawah yang lebih akurat
dan dapat diandalkan dari perkiraan yang disiapkan oleh manajer level atas
yang memiliki pengetahuan kurang detail mengenai pasar dan operasi
sehari-hari.
3. Motivasi pada umumnya lebih tinggi ketika individu berpartisipasi dalam
menetapkan tujuan mereka sendiri dari pada ketika tujuan yang dipakai
dipaksakan dari atasan.
4. Manajer yang tidak mampu memenuhi anggaran yang dipaksakan oleh
atasan akan selalu mengatakan bahwa anggaran tidak realistis dan mustahil
untuk dicapai.
Partisipasi anggaran memiliki peran yang sangat penting untuk menaikkan
kinerja perusahaan serta dapat menghasilkan keputusan dengan kualitas yang
tinggi. Setiap anggota dalam sebuah organisasi diberikan tanggungjawab terhadap
keputusan yang dihasilkan bersama. Keputusan yang dihasilkan bersama tersebut
akan menimbulkan komitmen yang kuat bagi manajer terhadap pencapaian tujuan
perusahaan dan akhirnya mampu menaikkan kinerja

Manfaat Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Salah satu aspek penting dari penganggaran adalah dimasukkannya
pertimbangan perilaku. Bagaimana wujud dan gambaran manusia dalam suatu
organisasi bisnis merupakan inti dari proses penganggaran. Anggaran adalah suatu rencana tertulis, karenanya selintas anggran tidak memiliki unsur manusia dan sedikit otomatis. Hal itu jauh berbeda dari kenyataan, anggaran adalah alat utama yang digunakan manajer untuk menilai bawahannya. Anggaran digunakan sebagai suatu standar untuk mengukur kinerja seseorang (Sadeli dan Siswanto, 2010:136).
A.Ikhsan dan M. Ishak (2005:175), menguraikan manfaat partisipasi
anggaran, sebagai berikut:
1. Partisipasi dapat meningkatkan moral dan mendorong inisiatif yang
lebihbesar pada semua tingkat manajemen.
2. Meningkatkan rasa kesatuan kelompok, yang pada gilirannya cenderung
untuk meningkatkan kerjasama antaranggota kelompok dalam penetapan
tujuan.
3. Menurunkan tekanan dan kegelisahan yang berkaitan dengan anggaran.
4. Menurunkan ketidakadilan yang dipandang ada dalam alokasi sumber daya
organisasi antar subunit organisasi, serta reaksi negatif yang dihasilkan dari
persepsi semacam itu.
Sedangkan berkaitan dengan penilaian kinerja, Schiff dan Lewin (1970)
menyatakan beberapa peranan partisipasi anggaran antara lain :
1. Sebagai perencanaan, yaitu bahwa anggaran tersebut berisi tentang
ringkasan rencana-rencana keuangan organisasi masa yang akan datang.
2. Sebagai kriteria kinerja, yaitu anggaran dipakai sebagai sistem untuk
mengukur kinerja manajerial.
Partisipasi penyusunan anggaran sangat menguntungkan untuk pusat
tanggung jawab yang beroperasi dalam lingkungan yang dinamis dan tidak pasti
karena manajer yang bertanggung jawab atas pusat tanggung jawab semacam itu
kemungkinan besar memiliki informasi terbaik mengenai variabel yang
mempengaruhi pendapatan dan beban.

Partisipasi Anggaran (skripsi dan tesis)

Partisipasi dalam proses penyusunan anggaran merupakan keterlibatan yang
meliputi pemberian pendapat dan usulan dari bawahan kepada pimpinan pada saat
penyusunan anggaran. Pengertian partisipasi menurut Mulyadi (2010:513) :
“Partisipasi adalah suatu proses pengambilan keputusan bersama oleh dua
pihak atau lebih yang mempunyai dampak masa depan bagi pembuat
keputusan tersebut. Partisipasi dalam penyusunan anggaran berarti
keikutsertaan operating managers dalam memutuskan bersama dengan
komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan di masa yang datang yang
akan ditempuh oleh operating managers tersebut dalam pencapaian sasaran
anggaran.”
Dharmanegara (2010:19) menjelaskan partisipasi adalah suatu proses
pengambilan keputusan bersama oleh dua bagian atau lebih pihak dimana
keputusan tersebut akan memiliki dampak masa depan terhadap mereka yang
membuatnya.
Partisipasi anggaran menurut Kenis (1979) adalah tingkat keterlibatan dan
pengaruh manajer dalam proses penganggaran. Manfaat yang diperoleh dari
partisipasi anggaran adalah membuat para pelaksana anggaran diharapkan
menimbulkan efisiensi. Brownell (1982) menjelaskan partisipasi anggaran adalah
suatu proses dimana individu terlibat didalamnya dan mempunyai pengaruh pada
penyusunan anggaran yang kinerjanya akan dievaluasi dan kemungkinan akan
dihargai atas dasar pencapaian target anggaran mereka.
Adapun karakteristik pengganggaran partisipatif menurut Milani dalam
Supriyono (2005:46) terdiri dari:
1. Keikutsertaan dalam penyusunan anggaran.
2. Kepuasan dalam penyusunan anggaran.
3. Kebutuhan memberikan pendapat.
4. Kerelaan dalam memberikan pendapat.
5. Besarnya pengaruh terhadap penetapan anggaran akhir.
6. Seringnya atasan meminta pendapat atau usulan saat anggaran sedang
disusun.
Kesimpulan dari uraian tersebut adalah partisipasi dalam penyusunan
anggaran merupakan pendekatan yang secara umum dapat menigkatkan kinerja
yang pada akhirnya dapat menigkatkan efektifitas organisasi. Partisipasi dalam
penyusunan anggaran diperlukan untuk menyelaraskan tujuan setiap bagian dalam
organisasi secara keseluruhan, dengan harapan kinerja yang diperoleh sesuai
dengan yang diharapkan oleh organisasi.

Pendekatan dalam Penyusunan Anggaran (skripsi dan tesis)

Harahap (2001) menjelaskan proses penyusunan anggaran dilakukan
dengan cara :
1. Top-down Approach (Pendekatan dari Atas ke Bawah)
Dalam top-down approach, penyusunan dan penetapan angaran dilakukan oleh
pemimpin tertinggi perusahaan, dengan sedikit bahkan tanpa
keterlibatanbawahan dalam penyusunannya. Keuntungannya adalah waktu
penyusunan yang singkat dan terkoordinasinya antar bagian. Kelemahannya
adalah tidak memperhitungkan kebutuhan bagian dengan tepat karena
semuanya merupakan keputusan sepihak dari manajemen puncak.
2. Bottom-up Approach (Pendekatan dari Bawah ke Atas)
Dalam bottom-up approach, prosedur penyusunan anggaran disiapkan oleh
pihak yang melaksanakn anggaran tersebut, kemudian anggaran akan diberikan
pada pihak yang lebih tinggi untuk mendapat persetujuan dan pengesahan.
Keuntungannya adalah tingkat keakuratan dari kebutuhan tiap-tiap bagian
dalam perusahaan yang tinggi. Kelemahannya adalah waktu penyusunan yang
lama dan kurangnya koordinasi antar bagian.
3. Participative Budget (Gabungan dari Top-down Approach dan Bottom-up
Approach)
Participative budget merupakan pendekatan penganggaran yang melibatkan
manajer level bawah dalam proses penyusunan anggaran. Keterlibatan yang
dimaksud meliputi partisipasi dalam pemberian pendapat, pertimbangan, dan
usulan dari bawah kepada pimpinan dalam mempersiapkan dan merevisi
anggaran. Partisipasi dalam proses penyusunan anggaran merupakan suatu
proses kerja sama dalam pembuatan keputusan yang melibatkan dua kelompok
atau lebih yang berpengaruh dalam pembuatan keputusan dimasa yang akan
datang. Di sini partisipasi menjadi unsur yang sangat penting yang menekankan
pada proses kerja sama dari berbagai pihak, baik manajer level bawah maupun
manajer level atas. Penyusunan anggaran partisipatif merupakan pendekatan
bottom-up yang melibatkan bawahan secara penuh untuk bertanggung jawab
memenuhi target yang telah ditentukan anggaran. Adanya rasa tanggung jawab
manajer level bawah dapat memperkuat kreativitas manajer yang bersangkutan.
Apabila manajer level bawah diberi kesempatan untuk menyusun anggaran
maka tujuan anggaran dapat menjadi tujuan personal dan akan menghasilkan
goal congruence yang lebih besar.
Partisipasi anggaran memerlukan kerjasama dari berbagai tingkat
manajemen untuk mengembangkan rencana anggaran. Garrison dan Nooren (2000)
menyebutkan bahwa setiap tingkatan tanggungjawab dalam suatu organisasi harus
memberikan masukan terbaik sesuai dengan bidangnya dalam suatu sistem
kerjasama penyusunan anggaran. Hal ini karena manajer puncak biasanya tidak
mengetahui mengenai kegiatan sehari-hari pada level bawah, sehingga
membutuhkan informasi yang lebih handal dari bawahannya.
Adanya partisipasi anggaran, akan meningkatkan tanggung jawab serta
kinerja dari manajer level bawah dan menengah. Manajer dapat menyampaikan ideide
kreatif yang dimilikinya kepada manajer atas, yang mana ide tersebut
mempunyai tujuan untuk mencapai tujuan perusahaan. Keikutsertaaan para manajer
level menengah dan bawah dalam penentuan anggaran akan mendapatkan
keputusan yang lebih realistis sehingga tercipta kesesuaian tujuan perusahaan yang
lebih besar (Octavia, 2009)